Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
71. Untukmu


__ADS_3

Alam berbunyi, namun tak membuat keduanya terusik. Gita masih merasa lelah hingga tidurnya masih sangat lelap.


Tak berapa lama Jasson terbangun. Menatap indahnya wanita cantik di hadapannya.


Sangat jarang dia menatap Gita yang masih tertidur seperti ini. Biasanya gita yang akan lebih dulu membangunkan nya.


"Kau pasti sangat lelah." Jasaon terhenti saat menatap bibir yang sangat seksi menurut Jasson. Pagi pagi begini membuat otaknya sudah mesum saja.


Dia mendekat. Mencium sekilas. Dan terseyum.


"Morning." Ucapnya tak henti dan bosannya menatap Gita yang tidur indah.


Jasson tak tega dan tak berniat membangunkannya.


Dia menyibak selimut dan turun dari atas ranjang. Dia membenarkan selimut Gita. Dan segera berlalu ke arah kamar mandi.


Hingga Jasson keluar kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang masih melihat Gita dengan lelapnya masih tertidur disana.


Jasson menggunakan pakaian setelah Selsai dengan pakaian rumahan dia mendekat ke arah Gita.


Menatap tenang wajah itu.


Sesekali memainkan hidung mancung gita. Mencubit pipi itu pelan.


Jahil sekali. Tapi entahlah dia sangat menyukai itu. Dia hanya ingin membangunkan Gita.


Karena hari ini sesuai rencana mereka akan pergi ke suatu tempat.


Gita yang merasa terganggu mulai bergerak.


Mengucek mata dan sedikit menguap Jasson diam saja memperhatikan semua tindakan pagi Gita.


Gita mulai membuka mata namun, tepat pandangan itu langsung melihat Jasson yang tengah berada pada pandangannya. Karena Jasson duduk di pinggiran kasur dan menatap lurus wajah gita tepat di hadapan depan Gita.


"Astaga, kau seperti apa saja." Ucap Gita sedikit terkejut pagi pagi sudah menatap kepala seperti bergelantung di depannya.


"Kau sudah bangun? Kau sangat imut." Ucapnya terseyum.


Kenapa malah memuji sih. Dan lagi tumben sekali Jasson sudah bangun dan sangat terlihat fress seperti baru selsai mandi.


"Tumben sekali kau bangun secepat ini." Ucap Gita seraya menyibak selimut yang langsung dihentikan Oleh Jasson.


"Jangan dibuka. Kau akan membangunkan nya nanti." Ucap Jasson yang tak dapat di mengerti oleh Gita.


"Maksudmu? Mem bangunkan siapa?" Ucapnya sambil merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.


"Astaga, aku telanjang!" Ucapnya spontan.


Baru sadar.


"Kau tidak ingat? Semalam kau dan aku-"


"Jangan lanjutkan aku ingat." Ucap Gita geli mengingat semalam dia dengan panasnya menikmati gerakan Jasaon.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Gita yang menatap jendela yang sudah terbuka dengan gorden yang sudah tersibak.


"Jam 07.30."


Gita terdiam. Kenap bisa aku ketiduran hingga jam tujuh lewat.


"Aku akan mandi." Ucap Gita sembari ingin turun.


"Tunggu. Aku belum puas menatap wajahmu. Kau sangat imut jika memerah seperti ini." Ucap Jasson mengejek.


Jasson mendekatkan tubuhnya dan hendak mencium bibir itu dengan cepat gita menutup dengan tangganya dan alhasil jasson mencium telapak tangan itu.


"Kenapa menutup nya."


"Aku belum gosok gigi." Nafasku pasti bau pikir Gita.


Padahal nafas gita tidak bau kali hanya perasaan nya saja.


"Apa masalahnya? Bibirmu tetap manis walau pagi sekalipun." Ucapnya melepas tangan gita dan mengecup bibir itu beberapa kali.


"Sudah sayang, aku ingin mandi."


Kenapa jadi se minat ini sih sama bibir aku. Dulu saja dia selalu merasa jijik berada di dekat ku. Kenapa sekarang malah menikmatinya.


Jasson kembali mengecup bibir itu sedikit menggigit bibir bawahnya dan berlalu pergi.


"Sayang.. sakit.." ucap Gita memegang bibir nya.


"Salah sendiri kenapa terlalu berisik." Ucap Jasson terus berjalan tanpa berbalik. Dia sengaja karena tidak ingin menunjukkan ekspresi nya saat ini. Dia tersenyum dan sedikit memerah juga.


Dasar Jasson.


Gita turun dari atas ranjang. Sedikit nyeri namun tidak sesakit yang ia rasakan sebelumnya. Dia hanya berjalan sedikit janggal saja dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Awas saja nanti." Ucap Gita memegang bibir bawahnya yang sedikit bekak karena ulah Jasson.


"Astaga lihatlah dia sangat ganas!!"terlihat jelas ulah Jasaon semalam meninggalkan cap merah dimana mana. Gita yang bercermin di kaca besar itu beegelidik ngeri melihatnya.


..


"Wah, kak Yol udah rapi aja." Ucap Morisa berjalan dan langsung menggandeng tangan itu.


"Ada satu jadwal operasi pagi ini, lagian nanti malam kan harus ikut. Jadi tuntasin tugas pagi ini." Senyum Yolan.


"Uh, andai saja aku laki laki aku akan menggebet ka Yol. Sangat pekerja keras. Udah baik cantik lagi." Senyum Morisa sambil ikut duduk di kursi makan di ruangan tersebut.


"Pagi." Suara Jasson yang baru menduduki kursinya.


"Tumben sendiri." Sindir Morisa.


"Gak pergi kerja Jas?" Tanya Yolan menatap Jasson menggunakan pakaian santai, morisa yang tadi tidak terlalu peduli, menatap Jasson kembali.


"Kakak gak kerja?" Tanya Morisa.

__ADS_1


"Tidak. Aku ada acara nanti."


"Bagaimana dengan Brigitta? Dia dimana?" Tanya Yolan.


"Beres beres di atas. Bentar lagi juga akan turun." Karena sebelum Jasson ke meja makan dia lebih dulu ke lantai 3.


"Lama. Morisa sudah lapar." Erang Moris, malas bangat menunggu Gita turun. Emang dia siapa harus di tunggu?


"Mor." Ucap Yolan


"Morisa memang sudah lapar kak Yol."


"Tapi tunggulah sebentar-"


"Pagi semua, maaf kalian jadi menungguku!" Ucap Gita yang melihat orang disana belum memulai Makanannya.


"Lama! Membuat selera makan hilang tau gak!" Morisa menggeser kursinya kebelakang yang mengeluarkan bunyi tidak enak.


"Morisa kau mau kemana?" Tanya Yolan.


"Keluar! Aku tidak berselera."


"Jika kau tidak duduk kembali jangan harap kau baik baik saja!" Tegas Jasaon.


Langkah morisa seketika berhenti.


Menghela nafas dan berbalik.


Sekeras apapun dia, akan segera mencair jika mendengar suara Jasson.


"Maafkan aku Mor." Ucap Gita.


"Kamu tidak salah sayang. Morisa saja yang bersikap beelebihan. Kami baru saja disini."


Morisa menatap Gita. Sekarang kau puas? Bahkan Kak Jas membelamu.


Makanan pagi itu berubah jadi tegang tidak ada yang bicara seperti biasanya namun kali ini seperti janggal saja.


Akhirnya sarapan pagi itu selseai juga, disana tinggal lah dua insan yang belum berniat untuk pergi.


"Aku akan ke atas lebih dulu." Ucap Gita hendak berdiri.


"Kamu ganti pakaian saja, kita akan pergi."


"Kemana?"


"Kamu akan tau nanti."


Ucap Jasson tersenyum.


Gita hanya memanggut dan berlalu menuju lantai atas, sedangkan Jasson pergi ke ruang utama. Menemui Lico yang memang dia suruh menunggu disana.


"Bagaimana semua sudah kau siapkan?"


"Sudah Tuan, tenang saja."


"Sudah Tuan, tinggal jalan saja."


"Kau urus semua tugas di kantor, cancle semua jadwalku hari ini."


Lico yang mengerti segera pamit undur diri.


Ceklek


Jasson membuka pintu itu berjalan masuk menatap ruang rias disana jelas Gita yang sedang mengoles wajah dengan bedak.


Gita yang menatap dari cermin di depannya segera berdiri.


"Kamu gak ganti pakaian?"


"Bentar, aku ingin melihat mu dulu." Jasson mengelus bibir itu.


"Kenapa di hapus." Ucap Gita.


"Terlalu merah. Bibirmu sudah indah tanpa Lip itu."


Jasson segera berlalu memasuki Ruang pakaian. Gita berbalik dan bercermin.


Jasson memang berubah sekarang dia bahkan memperhatikan semua yang ada pada Gita.


"Apa kau sudah selsai?" Tanya Jasson keluar dari ruang pakaian. Pakaian itu sungguh cocok untuk tubuh itu jarang jarang juga Jasson menggunakan pakaian kasual jasson terlihat jauh lebih muda.


"Sayang.." panggil Jasson mendekat melihat Gita diam saja memandangi dirinya.


"Ah, iya. A aku sudah selsai." Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari Jasson.


Kenapa dia tampan sekali.


"Kenapa? Kau terpesona. Aku tau aku tampan tapi jangan memandangi ku seperti itu." Jasson merasa aneh saja menerima tatapan itu dari Gita.


Mulai deh.


"Ayo!" Jasson menarik tangan Gita keluar kamar.


"Sebenarnya kita mau kemana?" Kenapa Jasson yang mengemudi tumben sekali dia mengemudi sendiri.


"Ke tempat yang sangat indah." Ucapnya sambil menarik sebelah tangan Gita.


"Kau kenapa?" Aneh saja jasson bersikap sangat romantis.


"Fokuslah menyetir sayang." Gita menatap Jalan. Melihat Jasson menatapnya.


Rasanya aneh juga entah kenapa Jasson tidak ingin melewatkan waktu nya tanpa menatap Gita.


"Bagaimana jika aku yang menyetir. Bisa bisa kita akan kecelakaan jika kau terus menatapku!"


"Emangnya kau bisa?"

__ADS_1


"Kau meremehkan ku? Apa sih yang tidak bisa ku lakukan?" Tegas gita merasa hebat.


Jasaon menatap.


"Semakin hari sepertinya kau sudah berbicara seenaknya ya dengan ku?" Tanya Jasson bersikap Dingin. Gita yang tadinya masih berbangga diri segera mengambil posisi diam menatap Jasson sejenak.


"Maafkan aku, aku tidak akan .."


"Tidak akan apa?" Hentak Jasson.


Gita semakin terpojok dibuatnya.


"maaf.."


"Ha ah aha haha ha." Tawa an Jasson lepas.


Gita menaikkan kepalanya menatap Jasson.


"Kau seserius itu? Aku hanya bercanda sayang. Kenapa kau langsung tegang?"


Gita merasa di permainkan. Baiklah kita lihat balasan yang akan jasaon dapat.


"Sayang?"


Tak ada jawaban.


"Gi?" Acuh.


"Kau marah? Aku hanya bercanda.."


"Tapi itu tidak lucu. "


Kau tau aku tadi ingin menangis aku berpikir salah. Tadi kupikir kau tidak benar berubah kau masih tetap pria kejam.


"Jangan cemberut seperti itu. Kamu tambah gemas." Senyum Jasson.


"Jangan di ulangi lagi sayang.."


"Iya, ini yang terakhir. Tadi aku melihat tanganmu gemetar? Kau setakut itu?"


Udah tau malah nanya.


"Maafkan aku." Jasson mengelus pipi itu dengan sebelah tangannya.


Gita tersenyum.


"Kita kapan sampainya sayang? Sepertinya ini sudah keluar dari kota?"


Jasson hanya tersenyum.


Lama di mobil hingga kini mobil itu memasuki halaman yang luas di penuhi dengan bunga yang bermekaran dan pohon pohon rindang.


Indah satu kata itu menggambarkan tempat itu.


"Wah, indah sekali. Bahkan aku tidak pernah melihat taman seindah ini."


"Kau suka? Ini untukmu. Dan jadi milikmu."


"Kau bercanda. Mana bisa kau mengatakan ini milikku."


"Kenapa tidak?"


"Kau pasti sudah sakit ya. Taman seluas ini, kenapa tidak ada orang yang datang. Harusnya ini dijadikan menjadi taman wisata tempat rekreasi pasti sangat cocok."


"Kau lupa siapa suamimu? Ini milikku yang dalam artinya milikmu juga." Jasson menarik pinggang Gita agar lebih dekat padanya.


Entahlah Gita menjadi panas pipi dibuatnya.


"Dari mana kau tau aku menyukai bunga. Dan dari yang kulihat sangat banyak bunga daisy."


Gita melepaskan pelukan jasson dan berlari mendekat ke arah bunga kesukaannya itu.


"Kau tau aku sanngat menyukainya." Gita memegang bunga itu.


"Aku tau." Gita berbalik menatap Jasson.


"Kamu tau? Dari mana?"


"Karena aku tau. Lagian aku heran kenap bisa kamu menyukai bunga itu, apa cantik nya. kebanyakan wanita bukannya menyukai bunga mawar? Tapi kau menyukai bunga yang sangat sederhana ini."


"Bagiku dia sangat cantik. Kau tau apa maknanya?"


Jasson menggangkat bahu mengatakan tidak.


"Kemarilah biar kutunjukkan padamu." Gita menarik tangan Jasaon menunjuk nunjuk beberap bunga dan menjelaskan nya.


"Bunga daisy warna putih bermakna cinta yang setia dan kepolosan.


Bunga daisy warna merah memiliki makna perasaan cinta dan kagum yang tersembunyi, kecantikan terselubung, ketulusan, dan kesederhanaan.


Bunga daisy oranye memiliki makna semangat, kehangatan, dan suka cita. Dan aku menyukai ketiganya."


Jasson menatap Gita.


"kau tau dari mana?"


"Bunda, Dulu Bunda menanam banyak sekali bunga daisy di taman belakang. Bunda menceritakan makna bunga ini."


"Apa kau masih ingat tentang ini?" Jasson menunjukkan sebuah benda kecil yang tak asing bagi Gita.


"ini, bukannya.." Gita mengerutkan keningnya.


"Ini milikmu, apa kau masih ingat kejadian dimana kau menolong seorang yang menyebabkan dirimu terluka?"


"Kenapa benda ini ada padamu? dan apa kamu bilang tadi?"


To be continued 🌷

__ADS_1


__ADS_2