Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
19. Preman Pasar


__ADS_3

Apa itu? Wajahnya tidak keberatan? Apa benar dia Jasson?


"Kenapa masih berdiri disana! Tidurlah!"


"Baik Tuan. Terimakasih banyak." Gita tersenyum girang dan segera menuju sofa. Tempat biasa ia tiduri.


Sebahagia itu??


Seperti biasa, kegiatan Gita setiap paginya bangun lebih dulu. Membersihkan diri. Siapkan air untuk jasson. Membuka horden jendela dan membereskan meja kerja Jasson.


Setelah jasson bangun segera gita menyiapkan pakaian dan kebutuhan lainnya untuk Jasson.


Saat jasson mandi Gita pergi ke kamar mama mertuanya untuk membantu pelayan yang mempersiapkan kebutuhan Nyonya besar.


Selsai dia rasa Jasson sudah berpakaian Gita naik ke atas menggunakan tangga supaya lebih bergerak dari pada menggunakan life terlalu santai. Hanya kebutuhan mendadak saja mereka menggunakan life itu.


Saat ini Gita tengah memakaikan sepatu untuk Jasson.


"Jam berapa kau akan pergi?"


Tanya Jasson.


"Setelah pekerjaan saya selsai Tuan." Jawab Gita sambil berdiri.


Diikuti Oleh Jasson yang juga berdiri sambil menyambar Jas yang bergelantung di kepala sofa itu.


Jasson melangkah menuruni anak tangga. Dia juga malas menggunakan life jika tidak perlu, lagian kamarnya berada di tingkat 1 untuk apa menggunakan life.


"Tuan apa anda tidak sarapan." Ucap Gita saat melihat Jasson yang mengarah ke pintu keluar.


"Tidak aku sarapan di kantor!" Ucap Jasson sambil terus berjalan. Gita hanya bisa diam dan mengikuti Jasson dari belakang sambil memegang tas kerja jasson.


Jasson meraih tas itu dari tangan Gita ketika dia akan segera masuk mobil...


"Pulanglah sebelum aku pulang! Jangan sampai aku berbuat kasar padamu." Ucap Jasson datar sambil memasuki mobil itu.


Gita hanya bisa menelan salivanya sambil tertunduk mengiakannya.


Setelah Gita selsai melakukan tugasnya dia melirik pergelangan tangan. Menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 11.00.


"Astaga sudah jam segini padahal makam Ayah Bunda sangat jauh dari tempat ini."


Gita keluar kamar. Langsung menuju pintu besar itu.


"Nyonya anda mau kemana?" Tanya penjaga itu sambil menatap Gita dari atas hingga bawah. Sangat rapi dan cantik.


"Aku ingin keluar sebentar. Jangan takut aku sudah izin pada Tuan Jasson."


"Nyonya ayo!" Ajak seorang supir mendekat ke arah Gita.


"Kemana?" Tanya Gita heran karena dia memang tidak menyuruhnya untuk mengantar.


"Saya di perintah Tuan Jasson menemani anda kemanapun anda pergi."


Ah, Baru saja aku merasa ketenangan. Dia malah menyuruh supir untuk mengawasi ku. Apa dia pikir aku akan kabur?


"Sudah dengar kan Pak! Tuan Jasson mengizinkan saya!" Ucap Gita kesal pada penjaga pintu besar itu.


"Nyonya masuk!!" Ucap Supir saat gita tidak mempedulikan mobil yang sudah terparkir di depan matanya.


Ah, merepotkan! Gita segera masuk dengan kesal.


"Nyonya anda mau kemana?" Ucap Supir saat mereka sudah keluar dari halaman besar mansion.

__ADS_1


"Kita ke Tempat ini pak." Gita menyodorkan Ponselnya pada si supir.


Aaa, aku ingin bebas sekali saja. Aku tidak ingin diawasi. Aku ingin melakukan sesuatu sendiri.


Tiba tiba mobil itu sedikit oleng.


"Ee, Pak hati hati. Aku tidak ingin mati sekarang!" Ucap Gita kaget sambil memegang tempat duduk di depannya.


Shitt


Mobil berhenti.


"Sebentar nyonya." Supir itu keluar dari mobil tak lama ia masuk.


"Nyonya Ban mobilnya bocor. Seperti nya kita tidak bisa lanjut nyonya."


Gita sedikit tersenyum.


"Tidak. Aku akan tetap pergi kita sudah jauh, mana mungkin berakhir seperti ini. Aku naik taxi saja." Ucap Gita keluar dari mobil.


"Nyonya. Lebih baik kita tunggu mobil dari mansion saja. Agar mereka bisa mengantar Nyonya."


Supir itu sedikit panik, jangan sampai Nyonya nya pergi sendiri bisa bisa akan kabur. Dan lagian Jasson sendiri yang memerintah nya ia akan mati ditangan manusia kejam itu, jika tidak bisa menjaga Gita. Pikir sang supir.


"Astaga apa bapak gila? Kalau menunggu mobil dari mansion, Jasson akan lebih dulu pulang, bisa bisa saya yang kena masalah!" Ucap Gita sedikit menaikkan suaranya.


"Sudah Pak, aku akan segera pergi. Tenaglah aku tidak akan kabur." Ucap Gita sambil mengulurkan tangannya untuk memberhentikan taxsi yang baru saja nongol.


"Tapi Nyonya." Ucap Supir itu.


Tapi gita tidak mempedulikan nya lagi dan malah segera menutup pintu taxsi.


"Ah, akhirnya aku bisa sendiri tampa pengawasan." Gita menutup mata terseyum.


"Nona, anda mau kemana?"


"Ke jalan xxx ya Pak!"


"Benarkah alamat yang Nyonya ucapkan?"


"Ya, apa ada yang salah Pak?"


"Tidak Nyonya hanya saja sangat jarang orang menggunakan Taxsi kesana."


Gita menggaguk pelan karena biasanya dia memang selalu menggunakan Ojek.


20 menit berlalu setelah gita memberikan ongkosnya dia turun dari taxsi itu.


Menatap sekeliling yang sepi. Terlihat di depan mata banyak makam yang tersusun rapi. Di sekelilingnya tumbu bunga-bunga dan beberapa pohon.


Gita melangkahkan kaki melewati beberapa makam dan akhirnya sampai pada tujuan nya.


"Halo, Ayah Bunda." Ucap Gita sambil berjongkok disana. Meletakkan bunga yang dia beli saat perjalan ke tempat itu.


"Hari ini tepat 6 tahun kalian meninggalkan Gita. Jujur saja aku sangat merindukan kalian. Sekarang aku sudah menikah. Putri kalian sudah tumbuh jadi wanita dewasa sekarang. Terbiasa hidup dengan kekerasan dan makian. Tapi Ayah, Bunda, aku juga menemukan kebahagian dari mertuaku. Saat bersama mereka aku jadi merasakan kehadiran kalian di sisiku........"


Brigitta mencurahkan semua isi hatinya hingga bulir bulir air mata menetes membasahi batu nisan itu.


Setelah merasa lega. Gita bangkit berdiri.


"Ayah, Bunda, Gita pamit pulang. Aku akan menyempatkan waktu untuk berkunjung kesini lagi." Ucap Gita sambil menghapus sisa air matanya.


"Kenapa waktu ini cepat sekali?" Gita menatap pergelangan tangannya. Saat gita tadi sampai di makam sudah jam 13.06 sekarang ia pulang sudah jam 15.50.

__ADS_1


Tidak terasa sebanyak itu waktu yang dia gunakan hanya untuk curhat dengan batu nisan.


"Aku lapar sekali." Gita memegang perutnya yang sudah meronta ronta ingin segera diisi.


"Ah, ada warung." Mata gita berbinar saat melihat warung sederhana yang tidak jauh dari tempat makam itu.


"Bu, pesan makan, lauknya ayam kecap ya Bu." Ucapnya saat melihat menu di poster yang melekat di atas pintu masuk.


"Baik non".


Gita masuk kedalam untuk mengambil tempat duduk. Lumayan rame. Dan anehnya banyak mata yang menatap Gita.


Aku kenapa? Kenapa mereka aneh sekali? Untuk apa memandangku setajam itu?


Ya, jelas saja mereka menatap Gita melongo. Gita saja menggunakan pakaian bermerek. Bahkan pakaian itu sangat bagus, sepatu serta tas yang gita kenakan juga sangat bagus.


Sangat berbeda dengan orang yang berada disana menggunakan pakaian sederhana.


Dalam pikiran mereka hanya bertanya mengapa wanita kaya makan di warung kecil seperti ini?


"Ah, aku tau pasti mereka merasa aneh karena penampilan ku ini." Gita juga sebenarnya tadi melongo melihat pakaian yang akan ia kenakan keluar mansion. Tapi ya gimana lagi. Semua pakaian yang berada dalam lemari Jasson adalah pakaian branded dan mungkin pakaian itu sangat jarang ada di toko pakaian.


Setelah pandangan itu berhenti barulah Gita merasa tenang.


Aku sudah biasa sekali makan di tempat seperti ini. Tapi baru kali ini aku ditatap seaneh ini.


Padahal banyak sekali diluar sana orang kaya yang makan di pinggir jalan. Tapi kenapa orang orang disini sangat aneh?


Gita menghabiskan makanannya, setelah membayar ia keluar dan berjalan kaki menuju jalan besar untuk mendapatkan taxsi pulang.


"Ah, rasanya sangat lelah untuk berjalan. Kenapa jauh sekali. Padahal tadi saat mau kesini jalannya dekat kenapa mau pulang jalannya jauh?"


Gita terus saja bicara tidak jelas. Ya, jelas saja jauh dia berjalan pelan sedangkan tadi sangking laparnya dia sedikit berlari menuju warung yang sedikit masuk ke plosok ini.


Sepi. Jalannya sangat sepi. Taxi juga tidak ada yang lewat.


"Kenapa jalan ini sepi sekali!" Ucap Gita memandang jalan besar itu. Rumah rumah yang ada di sekitar juga sederhana. Banyak pepohonan juga di pinggir jalan.


"Astaga kenapa taxsi ini? Kenapa tidak ada yang lewat? Kalau Jasson marah karena aku telat bagaimana?" Gita melangkah kan kakinya sambil menatap sekeliling yang sepi.


Setelah Gita sudah jauh dari makam mungkin sekitar 2 kilo sudah ia jalani dengan gontai dia beristirahat sebentar di pinggir jalan.


"Ah, aku haus. Kenapa sudah sejauh ini tapi taxsi tidak ada yang lewat. Supir taxi tadi benar. memang jalan ini sepi bahkan kendaraan tidak ada yang lewat."


Tanpa Gita sadari sekumpulan preman di ujung sana tengah menatap Gita sambil merancanakan rencana licik.


"Apa aku telpon supir saja ya?" Gita membuka ponselnya namun dia lupa kalau ia tidak memiliki no Handphone pelayan mansion di kontaknya.


"Apa aku telpon Lico saja?" Ucapnya sedikit berpikir masih menatap kontak di Handphonenya.


"Hai, cantik.." ucap seorang pria yang berpakaian selayaknya preman pasar.


Gita mengangkat kepalanya memandang wajah wajah pria yang sangat seram di matanya.


"Siapa kalian?" Gita secepat mungkin berdiri dan sedikit menjauh.


"Cantik kemarilah! Mari jalan bersama kami! Ngapain gadis cantik sendirian disini? Lebih baik ikut dengan kami!"


Sala satu pria itu berjalan mendekat ke arah Gita.


"Jangan mendekat atau aku akan berteriak!"


.....

__ADS_1


To be continued.


🍁 Jangan lupa beri like, komen, hadiah dan vote. Oke Beste🥰 🍁


__ADS_2