
Gita tidak menolak lagi. Dia berjalan mengikuti langkah pria itu menuju mobil yang terparkir di seberang jalan sana.
"Masuklah!" Pria itu membuka pintu depan untuk Gita.
"Terimakasih.." Ucap gita. Sekarang ketakutan yang dia rasa tidak lagi seperti sebelumnya.
"Mana tangan kamu!" Pria itu mengulurkan tangannya segera gita memberikan kedua tangan lebam yang membiru disana juga terdapat goresan kecil.
Pria itu segera membersihkan luka itu dan mengobati nya.
"Sudah. Apa sekarang kau jauh lebih baik?" Ucapnya menatap Gita.
"Em, terimakasih banyak. Kalau Tuan tidak datang aku tidak tau lagi seperti apa nasib ku sekarang." Gita menatap pria itu lekat. Dia masih penasaran seperti apa wajah pria yang menolongnya.
"Apa anda tidak mengobati luka anda? Tadi saya melihat preman itu memukul pipi anda bergantian."
Gita menatap Pipi yang tertutup masker itu terlihat jelas sedikit tampak bercak basa. Itu pasti darah.
"Tidak aku tidak apa apa!" Sepertinya pria itu tidak mau menunjukkan siapa dirinya sebenarnya pada Gita.
"Apa aku perlu membantu mu Tuan?"
Ucap Gita seraya ingin membuka masker itu. Namun tangan itu langsung di hentikan.
"Terimakasih tapi aku bisa sendiri. Sekarang Kamu mau kemana? Aku akan mengantar mu pulang."
Pria itu mengalihkan pandangan dan merubah posisi duduk nya sekarang ia tengah siap menjalankan mobil.
"Ah, astaga aku sampai lupa!" Ucap Gita sambil menepuk keningnya pelan lalu menatap jam di pergelangan tangan. Kini jam sudah menunjukkan pukul 18.40
"Kenapa? Apa kamu lupa ingatan hingga memukul jidat?"
Gita melirik pria di depannya karena sekarang posisi gita belum benar.
"Tidak. Aku hanya lupa waktu saja. Waktu cepat sekali berputar." Ucapnya sambil membenarkan posisi duduknya. Sedangkan pria itu hanya diam menatap Gita.
"Sekarang aku antar kamu kemana?" Gita segera menyebutkan jalan menuju halte yang tidak jauh dari mansion. Dia tidak mau ada orang yang tau siapa dirinya."
"Baiklah.."
Pria itu menjalankan mobilnya perlahan.
"Tadi, kenapa kamu bisa disana sendirian?" Tanya pria itu sambil fokus menyetir.
"Aku dari makam orang tua ku." Ucap Gita. Namun reaksi pria itu biasa saja.
"Kenapa sendirian?"
"Karena aku memang sendiri." Ucapnya pelan.
Pria itu langsung melirik ke samping.
"Kenapa? Apa pertanyaan ku menggagu?"
Gita menggeleng.
Tidak terasa akhirnya mobil itu berhenti di halte.
"Apa harus disini? Kenapa tidak sampai di depan rumahmu saja. Kalau nanti ada bahaya bagaimana?" Ucapnya menatap Gita yang hendak mau turun.
__ADS_1
"Tidak. Terimakasih banyak Tuan. Anda sangat baik. Aku mendoakan yang terbaik buat Anda. Sekali lagi terimakasih." Belum juga gita membuka pintu itu pria itu memegang tangannya.
"Jangan tinggal dalam kesedihan. Kamu harus bisa bangkit dan percaya kalau kamu kuat dan tangguh. Aku tau kamu adalah wanita pemberani dan kamu wanita yang ceria namun itu sangat jauh di dalam sana karena kamu menenggelamkannya dengan kesedihan. Jadi percaya saja suatu saat hidup mu pasti akan kembali bahagia. Tetap semangat." Pria itu melepaskan tangannya.
Gita tersenyum sedikit terharu.
Bagaimana bisa pria yang baru saja ia kenal seperti mengenalnya lebih yang dia pikirkan.
"Terimakasih." Gita tersenyum lebar dan keluar dari mobil itu.
Dengan segera mobil itu melaju dari pandangan Gita.
Pria di dalam mobil tadi langsung membuka masker.
Benar saja wajah nya memar. Dia dengan sebelah tangan membersihkan dan mengobati luka lukanya.
Setelah keluar mobil rasanya sangat dingin apalagi angin malam ini sangat berhembus kencang. Gita segera berlari dan terus. Dia sejenak melupakan rasa sakit di tangan dan bagian tubuhnya. Tak berapa lama akhirnya dia sampai di pintu gerbang yang sangat besar itu. Membuka perlahan karena tidak di kunci.
Gita berlari hingga sampai di pintu masuk Mansion.
"Nyonya anda dari mana? Dan Ini kenapa pakaian anda sangat kotor dan berantakan?"
"Aku tidak apa apa. Apa tuan Jasson sudah pulang?"
"Sudah Nyonya, dan sedari tadi Tuan sudah mencari Anda. Dan beberapa bodyguard tuan masih dalam masa pencarian." Gita menatap heran penjaga pintu itu.
"Untuk apa? Ini masih pukul 20.00. kenapa harus mencari?"
"Nyonya, apa anda lupa siapa Tuan Jasaon?"
"Ah lupakan. Yang jelas aku sudah sampai." Gita langsung menerobos masuk.
Gita
Menaiki tangga cepat menuju lantai kamarnya. Saat ini dia sangat takut. Bagaimana caranya nanti menghadapi Jasson.
Ceklek..
Pintu terbuka terlihat jelas pemandangan di depannya sekarang sungguh mengejutkan.
Gita menelan Saliva susah. Jantung berdetak luar biasa dan nafas nya sungguh
Tersengal seperti menghirup karbondioksida saja ha ha ha.
Pria dengan piyama tidur menyilang kan tangganya di dada sambil menatap Gita tajam.
"Jam berapa sekarang?" Tanyanya dengan suara datar. Namun mata itu memandang tajam dari atas sampai bawah menatap setiap sisi tubuh Gita.
Gita tertunduk sambil memegang tasnya.
Perasaan nya tambah tidak nyaman melihat tingkah Jasson yang aneh.
"Apa kau lupa dengan apa yang kukatakan tadi pagi?" Jasson berjalan mendekat ke arah Gita.
Gita masih diam tak berkutik dia tak mampu berbicara. Apalagi sedari tadi ia terus merasakan perasaan khawatir seperti ini.
"Apa sekarang kau sudah berani?" Kini tangan jasson sangat gatal untuk mencekram pipi itu.
"Apa yang kau lakukan di luar sana? Bahkan kau pergi tampa supir, dan pulang dengan keadaan luka dan berantakan seperti ini. Apa yang kau lakukan!!" Jasson menghempas pipi itu.
__ADS_1
Gita tak tahan lagi isakkan itu keluar dengan sendirinya.
" Kau sudah mulai berani bermain di luar sana ya?" Jasson mendekatkan badannya pada Gita hingga tidak ada jarak diantara keduanya. Gita yang sudah tegang sedari tadi tidak mampu bergerak sedikit pun.
Jasson melingkari sebelah tangannya di pinggang langsing Gita.
Gita bahkan tidak mampu bergerak kini tubuh itu gemetar dan menatap wajah jasson lekat.
Baru kali ini dia menatap wajah jasson sedekat itu.
"Lihatlah rambut ini berantakan, bahkan wajah mu tergores, dan pakaian ini berantakan. Sebenarnya kau melakukan apa?" Bahkan Gita sekarang merasa sesak karena Jasson memeluknya sangat erat.
"Apa kau tidak punya mulut? Tidak bisa kah kau menjawab?" Jasson menatap bibir itu.
"Maafkan saya Tuan. Maafkan saya." Gita menunduk lagi. Dengan cepat tangan jasson mengangkat wajah itu menatap dirinya.
"Tatap aku!" Jasson menatap tajam Gita.
"Aku sudah memperingatkan pada mu bukan? Untuk tidak mendekati laki laki di luar sana. Tapi kenapa kau tidak mendengarkan ku? Apa kau memang ingin merasakan kekerasan dari ku? Kau selalu membuat masalah!!"
"Tuan maafkan saya.." Gita kini hampir menagis kembali, dengan cepat Jasson melepaskan pelukannya.
"Sana bersihkan tubuhmu!!! Kau bahkan tidak bisa menjaga diri!" Jasson berlalu keluar dari kamar itu.
Aneh sekali! Apa dia pikir aku bermain gila dengan laki laki diluar sana? Apa dia pikir aku sebejat itu?Gita mengusap air matanya dan pergi membersihkan tubuhnya.
"Tuan ini semua data yang anda perlukan." Lico memberikan map kepada Jasson. Saat ini mereka berada di ruang utama masion itu.
"Pulanglah! "
"Apa Nyonya Gita baik baik saja Tuan?"
"Hem." Jasson segera berlalu dari sana menuju kamarnya.
Sedangkan Lico hanya menghela nafas sambil mengingat kejadian dua jam yang lalu.
...
Jasson membuka pintu kamarnya. Gita masih berada di dalam kamar mandi, terdengar jelas suara gemericik air dari ruangan itu.
Jasson masuk kedalam ruang kerjanya meletakkan map itu disana dan membaringkan punggungnya ke badan kursi besar itu. Dia memejamkan mata sambil meletakkan tangan di belakang leher. Entah apa yang dipikirkannya saat ini.
Dia benar benar ingin marah tapi ada rasa yang menghalangi tindakan itu.
Cekklek. Pintu kamar mandi terbuka....
To be continued
Up double 🥰
🍁 Follow Author ya Beste dan Juga Vote makasih 🤩 🍁
.
.
.
Beri hadiah sebanyak banyaknya Agar author bisa Up daubel tiap hari🍃
__ADS_1