
"kamu mau bicara apa Vin? Presentase yang mana yang ingin kau tanyakan?" Gita menatap Kevin serius, sambil membuka laptopnya.
"Kamu serius bangat sih, itu tadi aku asal ngomong aja Bi." Kevin menutup laptop itu.
"Kan, tau gini aku gak akan mau." Ucap Gita pelan.
"Ye, gitu amat si! Aku manggil kamu hanya mau ngasih ini!" Kevin memberikan kotak kecil berbentuk love dengan warna Blue.
"Apaan Vin?" Tanya gita masih hanya menatap.
"Buka aja!"
Gita mengambil kotak kecil dan membukanya.
"Berlebihan Vin. Aku gak mau, pasti harganya gak ketulungan." gita menutup kotak itu dan mengembalikan.
"Apanya yang berlebihan? Aku udah lama nyimpan ini Bi setelah aku lulus kuliah dulu." Kevin berencana pulang dari tempatnya kuliah, dia sudah bersiap dia juga membeli sebuah kalung berlian yang cantik dari negara itu. Namun saat tiba di bandara Aditya melarang keras agar Kevin tak jadi pulang, disana dia harus mengembangkan kemampuannya dengan bekerja di salah satu perusahaan besar.
Hingga ia menjadi seorang yang ahli dalam bisnis barulah ia pulang.
"Lulus kuliah?"
Tanya Gita aneh.
"Iya, Brigitta sayang.." senyum Kevin.
"Apaan sih." Ucap Gita memerah. Jujur saja sikap Kevin yang imut tidak pernah luntur.
"Terima ya Bi, Sayang bangat kan kalau di buang." Ucap Kevin.
"Ya, gak dibuang juga kali Vin, Kamu kan bisa kasih sama orang yang kamu sukai."
"Ya, ini.Aku udah coba kasih tapi dianya nolak."
"Vin, kenapa sih masih berharap sama aku? Aku udah jadi milik orang lain Vin."
"Kamu bukan miliknya Gi, jika ia kenapa dia tidak membahagiakan mu! Bukannya kau bilang kau selalu menderita disana?"
"Tapi akhir akhir ini, dia baik kok Vin, dia sudah jarang menyakitiku!"
"Itu karena dia bekerja di negara lain selama 2 Minggu lebih Gi!"
"Tidak juga Vin, tapi menurutku dia memang sudah berubah!"
"Jangan bilang kamu menyukainya Bi?"
Gita menggeleng.
"Aku tidak menyukainya." Sedikit lega namun belum merasa puas. pikir kevin.
"Apa kau masih menyukai ku?"
Tanya kevin serius.
"Aku gak tau!" Ucap Gita menunduk.
Kevin menarik dagu Gita pelan untuk menatap wajahnya. Kevin harus bisa buat Gita jatuh hati lagi, tekad kevin.
" Aku pasang ya!" Ucap Kevin mengeluarkan kalung itu.
"Tapi Vin.."
" Sebagai tanda keakraban kita." Senyum Kevin namun sangat sulit untuk mengatakan itu.
Memasang Kalung itu dari arah depan Gita.
"Cantik." Ucap Kevin terseyum.
" Terimakasih Vin." Ucap Gita menatap kalung itu sebentar.
" Eh, BTW bukannya kamu akan pergi?" Tatap Gita ke arah Kevin.
"Hem." Jawab singkat Kevin.
"Berapa lama kau akan disana?"
Tanya Gita sembari merapikan rambutnya yang sedikit menutup matanya.
" Dua hari atau tiga hari."
Gita hanya ber oh ria.
"Kamu akan segara pergi kan Vin? Aku mau balik!" Ucap Gita terseyum.
"Cepat bangat Bi!"
"Cepat Gimana nya Vin? Kau aja mempercepat waktu meeting karena kau buru buru ingin pergi."
" Tadi presentasi nya cepat, jadi masih ada sisa waktu sekitar 20 menit Bi."lirik ke arah arlojinya.
"Vin aku boleh tanya?"
"Tentu saja. Kau boleh menayangkan apapun."
Senyum kevin.
"Kamu memilihku bukan karena aku teman mu kan?" Tanya Gita sedikit menyelidik.
"Kenapa kau mengatakan itu? Kau tidak percaya pada usahamu sendiri?"
"Bukannya tidak percaya, tapi tadi saat presentasi semuanya hebat Vin."
"Tidak juga, menurutku presentasi mu jauh lebih baik dari yang lainnya. Aku saja tadi sampai heran dibuat mu! Gak nyangka Seorang Brigitta yang terkenal sebagai Badgrill di sekolah bisa presentasi sehebat itu."
"Vin, kenapa membahas masa lalu!"
"Aku tidak membahas hanya menyinggung sediki saja."
"Sama aja! Lagian aku bukan Badgrill kali, tapi lebih mengarah pada ketos cantik dan baik hati."
Ucap Gita muji diri sambil tersenyum.
__ADS_1
"Idih.. lupa diri. Kamu aja terkenal dengan sebutan Ketos kejam. Pacar sendiri aja di hukum." Ucap Kevin judas.
"Salah sendiri, kenapa hampir tiap hari buat masalah, main keroyokan pula! Jika terjadi suatu gimana!!" Ucap Gita ngegas.
"Kan, kan, udah kambuh lagi." Ucap kevin tertawa.
"Iiih, vin. Bisa gak! Jangan becanda muluh!"
"Gak becanda emang kenyataan kok!"
Gita hanya bisa diam menatap Kevin yang semakin menjadi.
Kangen bangat situasi seperti ini! Pengen bangat Waktu bisa diputar lagi. Aku ingin lebih bersikap manis dengan Kevin.
"Bi.." panggil Kevin entah sudah berapa kali.
"Eh, iya? Kamu tadi ngomong apa?"
"Kamu kangen gak sama kisah kisah dulu?" Tanya Kevin.
Tok tok tok..
Gita dan kevin bersama menatap arah pintu.
"Vin, siapa?" Tanya Gita khwatir dan hendak berdiri.
"Masuk!!" Teriak Kevin.
"Tuan, sudah waktunya untuk berangkat!"
"Baiklah! Aku akan segera kesana." Ucap kevin.
Orang tersebut langsung menutup pintu dan berlalu pergi.
Sedangkan Gita yang memunggungi arah pintu dan menatap arah lain.
"Kenapa?" Tanya Kevin.
"Udah pergi gak?"
"Udah!"
Gita berbalik menatap pintu dan kembali menatap Kevin.
"Ya udah , aku balik dulu ya Vin!" Ucap Gita.
"Kita barengan aja, aku juga ingin ke bawah!"
"Tapi jika ada yang liat dan pikir macam macam Gimana?"
"Santai aja, di Perusahaan ini, gak ada yang seperti itu." Ya, jika kedapatan membahas atau membicarakan kevin, siap siap saja keluar dari perusahaan.
"Ayo Bi!" Ajak Kevin yang melihat Gita masih mematung.
"Vin,,, benaran gak papah!"
"Iya, lagian mereka akan berpikir kamu itu rekan kerja aku. Sans aja!" Kevin menarik lengan Gita keluar dari ruangannya.
Kevin hanya menghela nafas.
Berjalan beriringan menuju lift.
"Vin, aku duluan. Kamu hati hati ya, jaga kesehatan. Jangan sampai kamu lupain kesehatan demi Bisnis!" Ucap Gita pelan.
"Terimakasih Bi." Ucap Kevin senang bisa dapat perhatian dari Gita.
Gita berlalu menuju tempat dimana mobil itu terparkir.
"Kembali ke kantor ya Pak!" Ucap Gita sambil melepaskan tas yang bergelantung di bahu.
"Baik Nyonya." Ucapnya dan melajukan mobil ke tempat tujuan.
Gita memegang benda yang menempel di lehernya.
Biasanya aku akan menatap pemberian dari bunda, sekarang malah pemberian dari Kevin. Gita mengelus mata kalung yang sedikit bercahaya itu.
*Tiba di kantor.
"Gi, Gimana tadi.. Si tampan ngomong apa sama kamu!" Tanya Jeni yang antusias saat tau Gita sudah Kembali.
"Si tampan? Yang mana maksud kamu?"
"Yang tadi Tuan Kevin Gi, dia tampan sekali, dengar dengar dia itu aslinya baik Bi."
"Aslinya? Maksud kamu!"
"Rumornya dia itu pria dingin dan sangat kejam. Tapi kenyataannya dia itu pria super baik dan sangat tampan luar biasa."
"Berlebihan Jen," ucap Gita duduk di kursi khusus untuknya."
"Berlebihan apanya, emang benar kok!"
"Jen, aku capek! Bisa gak jangan bahas cowok?"
"Tidak bisa? Karena cowok itu adalah separuh nafas kita." Ucap Jeni melebay.
"Jen.." Ucap Gita menatap Jeni.
"Ah, ia Gi. Aku sampai lupa, tadi kata Pak Efendi jika kau udah nyampe, temuin dia di ruangannya."
"Untuk apa?"
"Yang jelas pasti dia akan membahas soal tadi!" Ucap Jeni.
"Oh, yaudah aku duluan. Jangan mikirin cowok terus. Langsung nikah aja, biar gak ngelirik sana sono!" Ucap Gita sedikit berbisik di dekat Jeni dan dengan cepat berlalu sambil tersenyum.
"Dasar!! Karena udah nikah malah rendahin yang jomblo akut ini!" Ucap Jeni mengerutkan bibirnya dan berlalu keluar dari ruangan itu.
...
" Tuan aku dapat berita terbaru mengenai Nyonya Gita."
__ADS_1
"Masalah morisa lagi?" Tanya Jasson sambil menatap layar monitor.
"Bukan Tuan." Jasson menghentikan kerjanya, menatap Lico yang berdiri di depannya.
"Masalah apa lagi?"
"Nyonya Brigitta memenangkan presentasi yang di ajukan oleh Yudayana Group. Sekarang Perusaahan Tempat Nyonya bekerja sudah bekerja sama dengan Yudayana Group."
"Masalahnya apa? Mungkin saja kan beda departemen. Lagian cabang Yudayana banyak di negara ini."
"Masalahnya Nyonya Brigitta, bagian dimana akan selalu dekat dengan Kevin. Itu perusahan utama Yudayana di negara ini Tuan. Saya juga tidak mengerti Surya Group adalah perusahan yang tidak begitu besar. Namun bisa direkrut untuk proyek besar Tuan."
"Huh, Gila! Pasti karena dia menyukai Isteri ku." Sedikit panas di kuping Lico. Tumben sekali mengatakan Isteri ku!
"Apa aku perlu menghentikan Nyonya Tuan?"
" Tidak perlu, biarkan saja. Lagian itu tidak akan bertahan lama. Bisa bisanya mereka merekrut seorang yang tidak berpengalaman. Dia kan hanya karyawan Biasa!" Mengingat di lembaran identitas Gita dulu tertera Gita hanya seorang karyawan Tetap di Surya Grop.
"Tapi tuan."
" Aku tau maksud mu, tapi kita lihat saja seberapa lama mereka akan bekerja. Biarkan isteri ku yang membuat perusahan itu jatuh. Aku yakin sepertinya dia akan membantu dengan sedikit kesalahan."
"Jika Nyonya Gita kena masalah?"
" Pria itu mencintai nya lebih dari apapun. Kita lihat bagaimana dia menghancurkan bisnisnya sendiri."
Tapi tuan yang kumaksud bukan itu. Nyonya Brigitta bukan orang bodoh yang mungkin terlintas dalam benak anda. Dia itu sangat ahli juga dalam Bisnis. Sepertinya dia sudah mempersiapkan semuanya jauh dari sebelum sebelumnya.
"Kenapa masih berdiri disana?"
"Aku akan segera pergi Tuan!" Ucapnya seraya menghormat dan berlalu.
"Lihat saja kau!" Ucap Jasson yang entah kemana tujuan pembicaraannya.
..
Tumben sekali, malam ini semua keluarga bisa berkumpul untuk menyantap makanan.
Disana ada Janes, Monika, Jasson, Gita, Morisa dan juga Yolanda.
Makan malam yang hening tanpa ada yang bersuara hingga kini beralih pada ruang santai.
"Jas, mau kemana?" Tanya Yolan. Gita sedikit melirik saat yolan memanggil suaminya itu. Namun ia bersikap tidak peduli saat Jasson sedikit melirik.
"Ke atas yol."
"Gak nyantai dulu?" Tanyanya.
"Ia, kak Jas sini nyantai dulu. Jarang jarang kan bisa seperti ini." Ucap Morisa yang duduk di kursi yang berbentuk sangkar itu.
Jasaon melirik Gita yang hanya diam saja menatap acara Tv.
Cih, bahkan dia tidak memperdulikan ku?
Gita mengambil kripik kentang dan mengunyah sambil fokus pada layar sambil memegang bantal kecil.
"Tadi, kamu jadi ke rumah sakit J?" Sala satu rumah Sakit milik Jasaon.
"Hem, Semua orang menyambut ku dengan hangat."
"Bagus jika kau senang. Jika ada masalah kau bisa cerita sama aku!" Ucap Jasaon.
"Kamu memang yang terbaik."
Jasaon terseyum, sekali lagi dia menatap Gita. Namun sungguh tidak terlihat wajah wajah tidak senang atau rasa cemburu Gitu? Pikir Jasson.
Apa dia tidak terganggu? Isteri macam apa dia? Jasson memurung kan sedikit wajahnya.
"Kenapa Jas?" Tanya Yolan yang melihat sikap Aneh Jasson.
"Tidak ada, aku ke atas." Ucap Jasson dan berlalu menaiki tangga.
Yolan hanya mengerutkan kening berbalik dan menatap apa yang di tatap Jasson tadi.
Gita? Apa mereka ada masalah?
Yolan berjalan mendekat ke arah Gita.
"Kak Yol," panggil Morisa.
"Yah?" Ucap Yolan yang hampir duduk di sofa dekat Gita.
"Kita disini aja!" Ajak Morisa sambil menunjuk nunjuk Novel yang berada di tanggannya.
"Kamu aja! Kakak lagi gak Mood baca!"
"Yah kakak, ini novel baru loh!" Yolan hanya tersenyum. Dan lanjut dengan duduknya di samping Brigitta.
Namun Gita sama sekali tidak merasa terganggu malah dia tetap asik dengan TV itu.
" Suka ya sama filim nya?" Tanya Yolan menatap Gita.
Gita menatap sebentar.
"Film Mama sama Papa. Aku hanya ikutin akurnya aja." Ucap Gita sambil melirik pasangan yang duduk tenang menatap layar.
"Bisa bicara sebentar?" Tanya Yolan.
Berpikir sebentar.
"Bisa." Ucap Gita.
"Kita ke kamar aku atau ke lantai atas?" Tanya Yolanda.
"Ke atas, bagaimana?" Tanya Gita, soalnya dari kemarin Gita belum ke atas sana.
"Baiklah." Yolanda berdiri dan diikuti oleh Gita .
"Ma, Pa. Aku sama Kak Yolan ke atas ya!" Ucap Gita pada Sepang Suami isteri yang masih nyantai.
"Okeh sayang!" Ucap Monik menatap sebentar.
__ADS_1
To be continued 🌷