
Tapi saat ini yang jadi pertanyaan besar buat Morisa. Kenapa laki laki cabul ini ada disini. Padahal hukumannya belum selsai. Dan dia sudah bereaksi kembali? Jujur saja pertama kali matanya melihat pria itu dirinya sudah gemetar hebat. Serasa dirinya melayang di udara. Dia takut kejadian di masa lampau terulang kembali. Bayangan masa lalu
"Kau akan mati!" Ucap Pria itu.
Mengeluarkan pisau dan juga pistol.
"Kau mau yang mana sayang? Ini atau yang ini." Mengangkat tangan. Sebelah kanan pisau sebelah kiri pistol.
Morisa mulai terisak kembali.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan?"
"Yang kuinginkan? Keadilan! Aku bahkan tidak melakukan intinya malam itu. Tapi aku disiksa habis di dalam sel. Kau tidak tau apa yang kurasakan di dalam gelapnya kehidupan disana. Dan kau menayakan apa yang kuinginkan?"
"Aku ingin kau merasakan lebih dan lebih para dari yang aku rasakan!!"
"Jangan Gila!"
"Aku gila karen dirimu!"
Pria itu mendekat meletakkan pisau di tangan kirinya.
Mengusap usap pisau di pipi Morisa.
Tergores sedikit pipi itu hingga mengeluarkan darah segar.
"Aauuu, sssshhh". Peri itulah yang dirasakn Morisa.
"Mau lagi sayang?" Ini aku hanya menes apa pisaunya tajam atau masih tumpul. Ucapnya tersenyum.
Morisa menatap ke sudut jendela. Orang yang tadi menatapnya tak terlihat lagi.
Hah, kemana dia. Astaga apa dia tertangkap juga? Morisa tambah bergetar dan sangat ketakutan.
"Apa yang kau lihat?" Ucap pria itu menatap sudut. Berjalan ke arah jendela menatap luar yang sepi.
jujur Morisa tambah gemetaran.
Dia berjalan kembali. Menyisihkan jarak dua meter dari morisa.
"Lebih cepat lebih baik. Aku akan gunakan ini!" Pria itu melemparkan pisau itu hingga menancap Diinding papan di belakng morisa. Jantung morisa hampir saja akan Copot dibuatnya.
Pria itu mengagkat postol dengan kedua tangN memegang pistol mengarah tepat dada Morisa bagian jantung. morisa berada di hadapannya yang berjarak dua meter.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi aku ingin jika pun ini akhir dari segalanya aku ingin kakak akan selamat. Jangan sampai bajingan ini bebas dan berkeliaran di dunia dengan tenagnya.
Morisa menutup mata saat hitungan mulai terdengar.
"3... 2.. Selamat jalan gadis sombong. Bawa semua kesombonganmu pulang ke alam yang berbeda." Pria itu mulai mengerakkan jarinya.
"...1" pria itu menutup matanya dan suara tembakan melengking dengan kuatnya.
doooorrrr
"Morisa....
Aaaaaaa." Morisa membuka matanya mendengar teriakan dan merasakn tubuhnya tak merasakan sakit apapun.
__ADS_1
"Ka, ka , kakak Ipar?? Kak Gita!!" Ucap Morisa gemetar meneteskan air mata dia tidak menyangka semua ini akan terjadi.
"Apa yang kau lakukan?"ucap morisa Mulai menangis.
"Bodoh! Pertanyaanmu sangat bodoh!" Gita mencoba tersenyum padahal punggung kanannya sudah tertancap peluru. Sedikit berdiri mencabut picau yang menancap.
Membuka ikatan Morisa dengan susah payah menahan sakit.
"Morisa, cepat lari sekarang. Tinggalkan tempat ini."
"Ah? Kakak gila? Mana mungkin a-"
Gita dengan cepat menutup mulut morisa dan menggelengkan kepalanya.
morisa menatap Gita dengan berbinar merasa bersalah dan sangat cemas dan khawatir, dia memeluk gita setelah semua ikatan itu terlepas.
"Kakak, kita akan pergi bersama."
Menatap Wajah Gita yang penuh memar seperti dia juga dapat kekerasan dari beberapa preman di luar sebelum masuk ke dalm ruang ini.
Jelas kening gita berdarah. Sudut bibir juga dan luka bogem di pipinya.
"Morisa dengarkan aku. Pergi sekarang!"
Pria itu menjatuhkan pistolnya sedari tadi di terdiam dan tercengang melihat wanita yang di tembaknya adalah wanita yang salah. Darah itu bercucuran ke lantai.
Pria itu mendekat dengan gentir. Mendengar suara wanita yang di rindukan, suara khas dan sangat familiar.
"Kakak dia datang! Ayo kak ayo!!"
"Aah," Gita merasa punggung nya semakin sakit. Perutnya juga serasa panas dan tergoncang hebat.
"Tapi kak?"
"MORISA!!" Teriak Gita air matanya akhirnya terjatuh.
Morisa tercengang tak tau mau mengatakan apa apa lagi. Tidak mungkin dia meninggalkan Gita dengan kondisi seperti ini. Tanggan Morisa sudah berlumuran darah milik Gita, keadaan Gita semakin membuatnya ragu dan cemas.
"Kak.."
"Mor, aku menyagimu, aku juga menyangi Kak Yolan dan juga Jasson serta yang lainnya. Tolong! Cari bantuan. Aku akan bertahan. Jangan kahwatir padaku! Sekarang pergilah!"
"Kak!"
"Mor, Sekarang!"
"Ba ba baik. kak tolong bertahanlah!" Morisa dengan cepat berlari keluar. Menatap Pria itu sudah berjongkok Gita segera menahan tangan itu dan memelintirnya.
Morisa keluar menatap 3 pria terbaring di lantai.
"Kak Gita, apa dia sekuat itu? Dia ma mampu menghabisi 3 pria sekaligus?" Morisa tercengang dengan gentir melewati pria yang penuh luka Morisa dengan lari sekencang-kencangnya ke arah jalan. Dan untung saja ternyata disana ada mobil yang familiar di matanya. Dia dengan cepat masuk.
"Nyonya? An anda kenapa bisa disini?"
"Jangan banyak bicara ayo pergi jalankan mobilnya kita akan cari bantuan ke kota Sekarang!"
"Apa? Tidak bisa nya. Nyonya Gita ada di dalam saya tidak bisa meninggalkan nya."
__ADS_1
"Sinting!" Morisa menjelaskan semuanya pada supir serta rencananya. Akhirnya mereka dengan cepat meninggalkan tempat pendalaman itu menuju Kota.
Morisa merutuki, kenapa bisa dia meninggalkan Gita. Harusnya dia paksa saja Gita ikut dengannya. Dan juga kenapa Gita datang dengan tangan kosong. Ponsel tidak dibawa mau menghubungi siapa di tempat terpencil seperti ini. Supir juga tidak guna. Massa punya ponsel tapi tak punya baterai? Dasar Gila. Sekarang mereka harus menuju kota terdekat hingga menemukan Telpon umum.
🕊️🕊️
Tak lama Gita membalikkan wajahnya.
"Kris..."
Ucapnya lirih. Suaranya sudah mulai habis cekrama nya yang mengelintir tangan pria itu terlepas begitu saja.
"Brigitta.." Ucapnya sayu. Tangganya gemetar mengusap wajah itu.
"Ke kenapa kau mela kukannya Kris?" Tanya Gita melemah.
"A aku ti tidak sengaja. Ke kenapa kau tiba tiba datang?"
" Kau benar benar jahat Kris!"
"Gi..." Kris memeluk Gita dalam dekapannya.
"Maafkan aku. Kau harus bertahan."
Dengan cepat Kris membopong gita dengan bulir air mata. Dia meletakkan gita ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya dengan cepat ke klinik terdekat yang dia ketahui di tempat itu. Ia tidak peduli dengan teman yang tergeletak di lantai dan wanita yang melarikan diri. Kriss lebih berfokus dan khawatir pada kondisi Gita saat ini.
Gita sudah tak sadarkan diri ketika dia di masukkan ke dalam mobil. Kris dengan rasa bersalahnya merutuki kebodohannya. Wanita yang sangat dia cintai terluka oleh karena dirinya. Brigitta Cinta pertamanya. Dia sangat ingat kedekatan nya dengan Gita semasa Berstatus SMA dulu.
Walau tak pernah jadi milik Gita tapi cinta nya tidak akan pernah hilang untuk Gita.
Demi Gita ia rela babak belur, main kekerasan bersama Kevin. Hal itu sudah jadi santapannya semasa sekolah dulu. Dan dia sangat senag jika Gita memberi nasihat pada keduanya. Walaupun menerima hukuman dari sang ketos dan guru BK dia tidah hiraukan asalkan bisa mendapatkan perhatian dari Gita.
...
Akhirnya mereka tiba di klinik terdekat untung saja disana ada dokter yang bertugas harian.
Segera Gita ditangani disana.
Kris dengan hati tak tentu berjalan mondar mandir di depan pintu kamar tempat dokter beroperasi.
Andai saja ia tidak gunakan pistol. Maka itu tidak akan terjadi. Andai saja dia Tidak bersikap gegabah dia tidak mungkin membahayakan hidup Gita. Dan andai saja dia tidak berencana melakukan penculikan sekarang pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Namun saat ini Kris hanya Bisa berandai andai.
Pintu itu terbuka.
"Operasi sukses. Peluru sudah di keluarkan. Kondisinya juga akan segera baik Tapi.."
Dokter itu menyela ucapannya. Dan menatap intens wajah pria di hadapannya.
Kris jelas saja khawatir dan tambah mengerutkan keningnya.
"Kenapa dok?"
To be continued 🌷
Satu kalimat buat Gita " aaaaaahahaha Gita kenapa baik bangat cihhhh author jadi cinta❤️"
Beste jangan lupa beri dukungan agar Laura bisa segera up dengan cepat ogeih!!!
__ADS_1
bye bye 😘