
Malam ini akan ada acara pesta yang di adakan di hotel yang baru di resmikan milik Lakeswara Group.
"Kak dari mana aja sih! aku cariin dari tadi juga!"
Morisa berdiri di hadapan Jasson dan gita, sambil berdecak pinggang.
"Jalan jalan.. Emang harus izin dulu kalau pergi?" tanya Jasson sambil berdecak pinggang balik.
"Ya. em." Gugup
"Bukannya kita akan ke pesta? Kakak yang bilang harus wajib hadir."
"Hem, kami ingat kok." Jasaon menarik pinggang Gita mendekat.
"Iya kan sayang.."
senyum Jasson bertannya pada Gita.
"ah, iya..."
Angguk Gita.
"Kakak di paksa ya!"
Tuduh Moris menatap tidak suka pad Gita.
"Sa, ini masih jam lima. lebih baik kamu dandan sana biar cantik. Siapa tau nemu pria yang hansome, biar gak jomblo." Ejek Jasson sambil mengajak Gita pergi meninggalkan Morisa.
"Apa bagus nya sih dia, kenapa kak Jasson bisa berubah sedarastis itu sih! Apa jangan jangan kak Jasson di pelet lagi? omo kalau gak di kasih guna guna atau jangan jangan di, di
... aaaaahhh. Aku harus lapor sama kak Yol, jangan sampai Kak Jasson ku Gila karenanya!"
Segera Morisa berlari menuju kamar Yolanda.
..
Kini di pesta yang sangat megah dan meriah..
Banyak para pengusaha sukses dalam bidang masing masing.
"Sayang aku akan kesana dulu. Kamu pasti akan bertemu dengan banyak pengusaha lainnya. Aku takut akan menggangu nantinya." Ucap Gita masih memeluk lengan Jasson.
"Hem, terserah mu, yang penting jangan dekat dengan pria lain. and jangan jauh jauh dari ku. okeh!"
"Hem, aku disekitar mu kok." Gita melepaskan pelukannya dan berlalu meninggalkan Jasson, yang tak lama teman sekerjanya datang dan mengobrol tentang pekerjaan.
"Gita!!" Panggil seorang perempuan yang tak lain adalah Yolanda.
"Kemarilah!"
"Kak yol," rengek Morisa tak setuju Gita bergabung dengan mereka.
"Mor, ada apa? santai aja kali!
Gita, ayo kemari!"
Berjalan mendekat.
"Ada apa kak?" tanya Gita langsung.
"Gak ada, gabung dengan kita aja. kaum hawa. kamu suka wine?" tanya Yolan hendak menuangkan wine.
"No, thanks kak. Aku lebih suka ini." Gita menggakat segelas jus jeruk sambil tersenyum.
"ini non alkohol Gi!"
Menggeleng.
"Ini milik siapa? kamu dapat dari mana?" Tanya Moris antusias melihat Bros yang digunakan Gita sangat pamilar di matanya.
"Milikku, kenapa Mor?"
"Jangan bercanda, kamu nemu itu dimana? Ini bukan bros sembarangan. Ini milik kakak baik. Kenapa ada pada mu?"
"Ini milikku Mor, jika bukan milikku, aku tidak akan menggunakan nya dan mengaku ngaku."
Tidak mungkin kan kakak penolong itu dirinya? kakak yang menyelamatkan diriku dan kak Jasson. kakak yang selalu ku cari dan akan ku jadikan jadi kakak milikku! Mana mungkin perempuan matre seperti nya.
"Mungkin ini barang tiruan! Tidak mungkin juga orang yang ku maksud dirimu!"
"maksud kamu Sa?" tanya Yolan.
"Gak ada kak, gak ada apa apa! Hem.."
Aku yakin kamu pasti bertanya-tanya siapa diriku. aku sengaja menggunakan ini. Agar kau bisa mengingatku. Aku tau walau kau bicara seolah tidak percaya namun hatimu mengatakan ya.
"Kak, aku ke toilet dulu!" Dengan cepat Morisa beranjak pergi ke toilet.
Ditengah jalan dia tidak sengaja bertemu dengan Kevin.
"Eh, Kamu..
Masih ingat kan, ini aku Morisa."
__ADS_1
"Oh, iya. Masih ingat."
"Bagaiman kondisi Orangtuanya?"
"Sudah lebih baik. kamu sala satu pengusaha juga? Di bidang mana? dan nama perusahaannya?"
"Hem, aku bukan sala satu diantara kalian. aku hanya saudara dari sala satu pengusaha disini."
"oh.."
Kevin hanya mengangguk kepalanya.
"Kesini bareng siapa? kok Kursi nya sepi?"
Melihat Kevin yang duduk sendiri tanpa teman satu pun.
"Hem, sebenarnya hanya sekedar datang aja sih, rasa hormat." Ucapnya terseyum.
"Apa aku boleh duduk?"
"Ya, tentu!" Kevin menepuk bagian kursi yang kosong.
dengan Senang hati Morisa langsung duduk di dekat Kevin.
"Hem, sepertinya ada yang aneh. Kamu umur berapa?"
"Hem??" binggung Morisa, kenapa tiba tiba nanya soal umur?
"Nanya doang, sepertinya ada yang salah aja!"
"23, emang kenapa?"
"Hem, kan seharusnya kamu memanggil ku dengan sebutan Kak! aku lebih tua darimu! aku 26."
"Benarkah.. Maafkan aku, aku pikir usia kita sama, gimana dong? udah nyaman bicara santai." Senyum Morisa.
"Tidak masalah mana yang lebih baik aja." ucap Kevin sambil meneguk minumannya.
Morisa terseyum.
Baik Banget sih, perhatian.
"Kenapa? mau minum?" Tanya Kevin. Aneh aja liat Morisa tersenyum senyum. ada apa gerangan pikir Kevin.
"Gak, Terimakasih aku gak minum yang gituan. he he he."
"Kenapa gak gabung sama yang lain Morisa?"
Kevin hanya ber oh ria.
"Kamu? kenapa gak gabung sama yang lain. Bukannya kamu itu salah satu pengusaha juga? pasti teman temannya banyak disini."
"Lagi gak mood," lanjutnya meneguk minuman.
"Udah, jangan minum lagi. Liat ini minuman beralkohol kamu bisa pening dibuatnya."
Ucap Morisa menahan gelas milik Kevin.
"Kamu tau? Aku memiliki kekasih dia sangat baik. Dia adalah salah satu orang yang bisa membuat aku merasa kuat."
Duarr... Kata kata itu tiba tiba aja membuat Morisa merasa denyut yang sangat sakit di dada. Kenapa sih harus di ceritain masalah beginian. Sakit pikir Morisa.
"Jadi sekarang Kekasih mu ada dimana? Apa karena itu kamu sampai seperti ini?"
Tanya Morisa.
"Sayangnya sekarang dia bukan lagi kekasihku. Dia sudah jadi milik orang lain."
Meneguk kembali minuman di depannya.
"Dia meninggalkan mu? Tega sekali." Wanita seperti itu dasar gila, meninggalkan laki laki sesempurna ini? Dimana otaknya?
"Tidak! Dia direbut. Dia tersiksa disana. Aku tau dia tidak senang dengan Pernikahan nya."
Astaga di tinggal nikah?
"Maksud kamu, direbut?"
"Hem, Kakaknya yang jahat menjual adik sendiri demi karier. Kau tau betapa baiknya kekasih ku. Dia harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang sangat kejam."
"Kenapa harus dijual? kenapa kekasih mu mau?"
Itu artinya dia tidak setia padamu.
"Dia sangat mencintai ku. Siapapun yang ada di posisi nya akan melakukan yang sama, tidak ada pilihan. Dia Perempuan yang kuat dan tangguh namun entahlah semenjak ketemu lagi dengannya dia terlihat sangat lemah. Aku ingin sekali ada disampingnya setiap dia sedih, tapi dia menolak."Jelas saja itu bukan lagi tugas Kevin. Itu tugas Jasson. Sebagai suami yang baik dan bertanggung jawab. Suami harus selalu ada di sisi isterinya, menjaga, menghibur, dan membahagiakan adalah tugasnya.
"Kakaknya tega sekali, melakukan itu pada Saudara sendiri."
"Sejak kepergian kedua orangtuanya apalagi saat aku pergi meninggalkan nya. Dia hidup sendiri selam 5 tahun ini, kesusahan dia hadapi sendiri."
"Meniggalkan? kalian bertengkar?"
"Aku terpaksa meninggalkan nya karena Papa. Aku melanjutkan studi di luar negeri. Kau tau dia bahkan menasihati ku agar selalu mematuhi Papa, tidak masalah di tinggalkan. Baginya mana yang terbaik bagiku, adalah ucapan orang tua. " Dan hasilnya Kevin memang berhasil disana.
__ADS_1
Besar sekali cinta nya pada wanita itu. Aku jadi penasaran wanita sepertinya apa kekasihnya.
"Jadi kalian sudah lama punya hubungan? Atau jangan jangan dia cinta pertama mu?"
"Hem, benar..
Dia cintaku. Sejak kecil kami sudah bersama.
Ha ha, kau tau dulu yang menjaga ku dari orang orang berotot ya dia. Lucu aja jika mengingatnya aku sangat Cemen."
"Tapi sekarang sepertinya orang berotot itu dirimu."
"Ini untuknya. Aku berjanji akan menjaganya dan selalu menemaninya. Aku tersiksa jika melihatnya sedih. Aku tidak bisa jauh darinya."
Sebesar itu kah cintanya? siapa dia sebenarnya?
"Apa kalian masih saling kontak an? masih sering bertemu?"
"Tidak lagi. Dia serasa pergi jauh dariku. aku sangat merindukannya. Tadi aku melihat dia disini bersama suaminya, terlihat bahagia. Aku rasa mereka sudah akrab. Aku bahagia melihatnya tersenyum bahagia."
"Kau sudah merelakan nya?"
"Sejujurnya belum. Tapi apa boleh buat, aku tidak mungkin merebut kebahagiaan orang lain. Aku menyayangi nya, dan akan selalu walaupun tak dapat memilikinya."
Sangat setia. aku menyukainya, bagaimana mungkin aku bisa melepaskan mu. Aku akan menggantikannya. mengobati luka yang ada di hatimu.
"Sepertinya aku sudah kelamaan disini. kakak ku pasti nyariin. Kalau mau curhat lagi bisa hubungi aku, okeh! ini kartu nama ku. Dan saran dari ku jangan banyak minum lihat kondisi mu. jangan lupa pada diri sendiri okeh!"
Morisa meletakkan kartu namanya dan berlalu pergi.
"Imut." Ucap Kevin tersenyum dan kembali meneguk minumannya.
"Hei, dari mana aja? katanya ke toilet kok lama!" Ucap Yolan.
"Biasa ketemu pangeran dulu."
"Ilih, pageran yang mana sih yang buat hati adek kakak bergetek.."
"Ada deh. Nanti akan Moris kenalin. tapi tunggu sampai hatinya luluh sama Morisa okeh!"
"Oh, tipe nakkin nih, gak tipe di kejar?"
"Sekarang Perempuan juga bisa kak kejar cowok dan nuklukin nya. gak cuman cowok aja yang bisa!"
"Oh, berapi api nih! semangat bangat jadi pengen liat cowok mana yang buat kamu menggebu seperti ini.
Iya kan Gita?"
"Ha? iya.." jawab Gita yang asik dengan acara di depannya.
"Iya apa coba! ayo, pasti tadi gak dengar kita ngomong kan?"
"Hem, maaf kak Yol."
"Gak perlu juga dia tau kak Yol. Biarin aja! Kak gimana kalo kita kesana?" Tunjuk morisa pada sebuah kursi besar yang sekelilingnya penuh dengan lampu.
"Yes, Gi ayo!"
"Kak aku disini aja!"
"Gak boleh nolak yok! Aku yang ngajak!"
Gita menatap Morisa.
"Baiklah, ayo!" ucap Gita berdiri dari duduknya.
berjalan ke arah tempat yang di tujuk morisa.
"Vin!!"
Terkejut plush syok...
Gita tidak sengaja menabrak Kevin yang sedang berjalan.
"Bi, kau tidak apa apa?"
"Eits eits... kenapa jadi peluk peluk sih." Morisa menarik tangan Gita agar menjauh dari Kevin.
"Aduh, kamu tidak apa apa kan?" Tanya Morisa sambil membersihkan jas kevin.
"Aku baik baik saja!"
"Mor, Gita, kalian kenal sama Kevin?"
Tanya Yolan yang sedari tadi jadi penonton.
Bingung plus bertannya tanya.
Apa yang akan terjadi?
To be continued π·
π Semangatin Author dengan Vote dan like oke Beste π₯°ππ’ π
__ADS_1