
Apa kau tidak suka? Apa kau lebih menyukai aku marah marah?"
"Bukan itu. Tapi aneh saja!"
"Tidak ada yang aneh sayang.
Aku mencintaimu." Ucap Jasson memegang kedua tangan Gita.
Gita terperangah seketika Jasson memegang tangan itu. Ucapan Jasson juga menghentakkan hatinya.
"Aku tidak tahu, sejak kapan rasa ini muncul." Jasaon menarik tangan Gita dan menempelkannya pada dadanya.
"Kau merasakannya kan? Detak nya tidak beraturan. Aku seperti punya penyakit jantung jika berada di dekat mu!"
Benarlah itu, ini seraya mustahil bagi Gita, kenapa bisa? Gita merasakan dadanya, kenapa tidak berdegup secepat detakan pada Jasson?
Bahkan Jasson seperti berubah 180Β° dari sifat sebelumnya.
"Aku senang kau berubah. Aku mohon jangan berubah lagi setelah ini. Aku sangat menyukai mu jika kau bersikap lembut seperti ini." Ucap Gita dengan replex memeluk tubuh Jasson.
Dan benar saja perlakuan Gita yang seperti ini membuat jantung Jasson kembali berdegup kencang dari sebelumnya.
"Apa kita tidak akan ke kantor?" Tanya Jasson yang sudah tak tahan dengan tubuh Gita yang membuat nya salah tingkah.
"Ah, iya." Gita melepaskan pelukan itu.
"Nyaman ya? Nanti kita lanjutkan!" Ucap Jasson tersenyum seolah mengejek tingkah spontan Gita.
Gita hanya kikuk dan segera berlalu ke ruang pakaian. Merasa malu? jelas itu sudah pasti.
..
"Kak Yol? Baru pulang?" Tanya Morisa yang berpapasan dengan Yolanda.
"Hem," ucapnya sedikit menguap.
"Kakak terlihat letih. Istirahatlah!" Ucap Morisa dan berlalu pergi. menuju ruang makan.
"Pagi kak Jasaon." Sapa morisa terseyum dan ikut duduk di kursi makan. Disana hanya ada Gita Jasson dan tentunya Morisa.
"Pagi Sa." Ucap Jasson terseyum.
Tumben sekalai ia menjawab, dan terseyum? Pasti ada sesuatu nih! Moris menatap Gita yang tengah memberikan sarapan untuk Jasson.
"Papa sama mama, dimana?" Tanya Jasson binggung seolah mencari sosok, dia tak melihat Janes dan monik berada di sana.
"Mama dan Papa lagi pergi Jalan jalan sekalian berobat kak." Ucap Morisa menyendok makanan ke dalam mulut. Jasson hanya ber oh ria.
Setelah sarapan selsai. Morisa hendak pergi. Malas juga berada di zona yang tidak mengenakkan.
"Mor, papa barusan Kirim pesan. Besok malam akan ada pesta di hotel yang baru di resmikan, jadi besok jangan kemana mana. Semua wajib hadir!" Ucap Jasson.
"Baiklah," singkat dan langsung berlalu.
"Besok, apa semua wajib ikut?" Tanya Gita sambil mengusap mulut menggunakan tisu.
"Iya, ada masalah?"
Tanya Jasson menatap Gita.
"Aku takut saja besok aku banyak kerjaan." Ucapnya sambil menatap.
"Sebaiknya kau izin tidak masuk besok. Soalnya aku akan membawa mu ke suatu tempat, besok pagi."
"Kemana?"
"Kau akan tau. Tapi kau harus izin dulu. Jika kau tidak mau. Aku akan membuat surat pengunduran diri untuk mu," itu masih dalam kata lembutnya, jika dalam kata kasarnya yang pasti jasson akan mengaitkan langsung pada perusahan itu yang dalam hitungan menit pasti bangkrut.
"Jangan lakukan itu, aku masih ingin bekerja disana! Baiklah aku akan ikut denganmu besok."
"Bagus, jadilah isteri yang penurut." senyum Jasson sambil mengelus kepala itu.
Selama ini juga gita nurut, Jasson saja yang tidak pernah perhatian.
Waktu serasa cepat berlalu hingga kini pagi telah berubah jadi siang yang terik. Terlihat Yolanda baru memasuki rumah sakit kembali.
"Siang Dok!" Sapa beberapa orang yang melewati Yolan. Yolanda memang dokter ahli beda, dia sala satu dokter yang di segani disana. Walau demikian dia tetap menutupi identitasnya, karena bekerja disana juga karena campur tangan dari Jasson. Jasson hanya ingin Yolanda bisa teringat akan negara ini. Dia ingin yolan lebih mudah bertemu suatu saat dengan keluarganya. Karena melihat Yolanda sudah lebih baik dari sebelumnya Jasson percaya Yolanda akan baik baik saja.
"Bagaimana dengan Ibu Gresya, apa sudah sadar?" Tanyanya pada salah seorang suster.
"Belum dok, sepertinya pasien sangat sulit menerima alat bantu yang di pasang. Saya baru periksa kondisi pasien sepertinya sedikit melemah."
"Kenapa tidak memberitahuku! Jika terjadi sesuatu bagaimana?" Yolan segera mengenakan pakaian dokternya menuju ruangan Gresya.
Mulai mencek ke adaan.
__ADS_1
Disana dia juga bersama suster yang menulis keadaan pasien dan apa yang harus dilakukan. Yolan juga menyuruh nya unyuk menyuntikkan cairan pada infus yang terpasang.
Mengatur alat bantu dengan sangat ahlinya.
Yolan memeriksa daftar tulisan suster itu mulai dari catatan tadi malam dan pagi ini.
" Jika belum ada perubahan, beritahu aku! Untung saja pasien tidak mengalami sesuatu yang membahayakan!" Ucap Yolan merasa legah. Dia sangat takut tadi, apalahi operasi yang di lakukan cukup lama, apalagi ke adaan cukup memprihatinkan.
"Kenapa mamaku, tak kunjung bangun? Apa ada masalah?" Tanya Kevin yang baru memasuki ruangan itu.
"Bersabarlah ini baru hari kedua, aku yakin pasien akan segera siuman."
Kevin menghelah nafas.
"Semua baik baik saja kan? Tidak ada sesuatu yang kalian sembunyikan?"
"Semua aman."
Sedikit gusar untuk kevin percaya. Dia sangat ingin memindahkan mamanya ke rumah sakit miliknya. Namum, karena operasi telah berjalan disini, tidak mungkin dia pindah tangankan, akan jadi berbeda nantinya dan mungkin akan membahayakan kesehatan Gresya.
Kevin berjalan mendekat ke arah Gresya (mamanya).
"Kevin, merindukan mama. Tolong bangun untuk kevin! Mama tidak merindukanku?"
Kevin mencium kening itu.
"Hanya mama yang ada saat Kevin butuh. Mama yang paling tau isi hati ini. Mama tak pernah menampakan wajah sedih, agar kevin tak kwhatir, ayo!! Mama bangun. Aku ingin makan makanan yang dibuatkan mama. Kevin janji akan selalu makan dirumah." Kevin mengelus punggung tangan itu.
Serasa sesak didada, melihat pemandangan di depan mata. Entahlah padahal Yolan sering melihat adengan seperti ini, apalagi cerita kevin yang terus berlanjut mengisahkan hubungannya dengan Mamanya. Kenapa rasanya aneh, sebuah bayangan yang tak pernah ia inginkan hadir sekarang.
"Bundah." Satu ucapan itu. Yolan menekan pelepis nya yang mulai berdenyut bayangan cepat dan berkaburan dimana mana.
"Dok, anda kenapa?" Tanya Suster yang memperhatikan Yolanda. memegang kepalanya seolah menahan sakit.
"Aku tidak papah. Ayo, kita akan lanjut periksa pasien di sebelah!" Ucapnya masih memegang pelepis dengan sebelah tangan sedangkan susuter itu memutar daun pintu namun belum beberapa detik Yolan malah terjatuh ke lantai.
Brukkkk
"Dok. Bangun dok, anda kenapa?"
Mendengar suara itu Kevin menatap ke arah pintu di ujung sana seorang tergeletak dengan susster yang menepuk nepuk pipinya pelan.
"Tolong bantu tuan!" Ucap Suster yang menatap kevin yang sudah berjongkok.
"Saya tidak tahu, tiba tiba dokter Yolan pingsan."
Dengan Cepat kevin membawa yolan keluar, mengikuti langkah susuter yang menuju ruangan Yolan.
"Ambilkan sesuatu untuk membangunkan nya!" Kevin meletakkan Yolan di sofa yang lumayan besar. Membuka jas Yolan dengan hati hati.
Membuka satu kancing kemeja bagian leher supaya memudahkan untuk bernafas.
Suster itu berjongkok di sebelah Kevin. Memegang tangan Yolan lalu mengosok minyak oles pada bagian lehernya dan seraya membuat Yolan menghirup bau dari minyak tersebut.
Tak berapa lama akhirnya Yolan tersadar.
Menatap keberadaan nya. Mata itu melebar saat yang pertama ia pandang adalah sosok Kevin yang tengah berjongkok di sebelahnya besama dengan suster yang sepertinya baru saja berdiri.
"Dokter Yolan, anda sudah sadar. Sekarang saya lega." Ucap Suster meletakkan botol kecil minyak di atas meja.
Dan berlalu pergi, mengingat masih banyak tugas yang belum terselesaikan. Dia yakin mungkin Yolan hanya kecapean akibat jadwal operasi yang sangat banyak kemarin. Lagian sudah Ada Kevin yang menemaninya pikir suster itu.
"Kau baik baik saja?" Tanya Kevin datar.
"Aku baik baik saja. Yolan merapikan posisinya Kevin dengan sigap membantu tubuh itu untuk duduk dan bersandar di kepala sofa.
"Kenapa Kau ada disini?" Tanya Yolan. Seingatnya dia pingsan setelah keluar. Padahal dia belum sempat keluar dari ruangan itu.
"Kau tergeletak di lantai, mana mungkin aku mengabaikan orang yang jelas jelas sudah hilang kesadaran."
"Terimakasih."
Ucap Yolan.
"Kalau begitu aku akan pergi. Istirahatlah, itu dapat membantu." Kevin berlalu dengan santainya.
"Tadi apa yang kulihat? Kenapa aku sangat sulit untuk mengingat siapa diriku! Kenapa aku seperti tidak berguna."
Yolan memukul kepalanya. Meratapi kehidupannya, bertahan dengan tidak mengetahui asal usul dirinya, hidup untuk siapa? Terngiang ngian dalam pikirannya kenapa keluarga tidak mencarinya.
"Bunda, aku hanya ingat bunda." Tapi nama, tentu tidak. Jika ia tau nama bundanya dia akan lebih mudah menemukan keluarga nya, namun sayang hanya wajah dan sebutan itu yang dia ingat.
"Apa aku memiliki saudara? Kenapa aku menyebut seseorang tadi." Ucapnya kembali mengingat bayangan kecil yang terlintas.
"Ya, Tuhan bantu aku. Agar secepatnya aku bisa bertemu kembali dengan mereka!" Ucapnya, memegangi liontin, disana jelas tertulis nama Yolan.
__ADS_1
..
"Vin, besok malam akan ada acara,
Lakeswara Group mengundang beberapa Perusahaan untuk menghadiri nya. Apa kau akan Ikut?"
"Aku akan menjaga mama, aku tidak bisa Pa."
"Jika salah satu diantara kita tidak datang kita akan kena cap merah Vin. Kau tau kan maksud papa?"
"Pa, lebih baik papa yang pergi!"
"Papa tidak bisa meninggalkan mama sendiri dirumah sakit."
"Kevin juga Pa. Lagian Kan ada Kevin papa boleh pergi."
"Vin, lebih baik Papa yang jaga mama, kau yang pergi. Lagian Papa juga tidak terlalu menyukai acara pesta seperti itu, lebih baik kau yang pergi!"
"Bagaimana mungkin mama sakit dan aku malah berpesta!"
"Hanya sebatas rasa hormat Vin. Kau datang hanya sebatas hadir dari Yudayana Group. Papa tidak meminta mu untuk berpesta pora atau berdim disana sampai acara selsai."
"Baiklah. Aku akan pergi." Lebih baik mengiyakan daripada masalah tidak akan kunjung selsai. Sebenarnya Kevin tidak berselera keluar dari rumah sakit ini. Mulai dari malam tadi hingga sekarang Kevin tidak keluar dari pekarangan Rumah Sakit. Paling paling hanya ke taman rumah sakit saja.
Pukul 19.00 malam. Yolan dan suster masuk kembali memeriksa perkembangan pada pasien yang di tanganinya. Yolan sudah sangat fresh lagi sekarang.
"Kondisi sudah normal, dari perkiraan saya, Sepertinya ibu Gres akan segera siuman." Ucapnya memegang tangan nya memeriksa denyut nadi.
Menatap layar yang tepat di samping pasien. Menatap alat alat medis disana yang bekerja dengan sangat baik.
"Syukurlah!" Ucap Suster tersebut.
Kasihan sekali. Sepertinya mulai dari Kemarin dia hanya disini saja. Tatap Yolan saduh, melihat Kevin yang tertidur dengan kepala berada di samping tangan Gresya.
Sedangkan tubuhnya tertahan di kursi.
Merasakan ada yang bersuara Kevin membuka matanya perlahan merapikan posisinya.
"Sejak kapan kalian disini?"
"Baru saja, kami hanya memeriksa Ibu Gresya. Keadaannya semakin membaik." Jelas Yolan.
Kevin terseyum menatap mamanya yang masih menutup mata itu.
"Apa kamu tidak gerah?" Tanya yolan.
Kevin menatap Bingung pada Dokter yang tengah berdiri di sebrang sana.
"Kenapa?"
"Juka tidak salah Kemarin kau mengenakan pakaian itu sampai saat ini." Kenapa juga Yolan peduli? Kan jika dibiarkan bisa penyakit juga, lagian disini ada pasien, jika ada kuman atau bakteri pasti sangat sensitif sekali.
Bukan masalah Yolan perhatian tapi lebih ke arah memberi tahu hal yang baik dan benar.
"Sebaiknya anda membersihkan diri anda, itu pasti menggagu anda, tidak hanya itu orangtua anda, jika terjadi sesuatu bagaimana?"
Kevin hanya diam saja, dia memang benar sangat gerah dan merasa lengket namun dia sangat malas untuk mandi di rumah sakit. Apalagi harus merepotkan para asistennya.
Pintu kamar itu tiba tiba terbuka.
Aditya menenteng pastik yang berisi makanan tentunya.
"Ada dokter yolan, bagaimana dengan isteri saya?" Tanyanya sambil tersenyum berjalan ke arah sofa ruangan itu.
"Semua sudah normal tuan, Ibu Gresya sudah lebih baik sekarang." Yolan tersenyum sambil melirik Gresya yang terbaring di sampingnya.
"Terimakasih, untuk bantuan Dokter." Ucapnya berjalan mendekat ke arah kevin. Menatap Gresya sambil mengelus rambut itu lembut.
"Sudah jadi kewajiban kami untuk memberikan yang tebaik untuk pasien. Kalau begitu kami Pamit. Jika ibu Gresya sudah sadar, segera panggil saya atau suster."
Ucapnya terseyum. Yang dibalas anggukan dari Aditya. Belum beberapa langkah dia melangkah, yolan berhenti saat mendengar ucapan Aditya.
......
To be continued π·
π Jangan lupa like and vote ya Beste π€©π
.
.
.
Sampai jumpa π
__ADS_1