
Apa? Jangan coba coba kau marah, kau yang menginginkannya! Umpat Gita dalam hati.
"Kenapa kau menjauh? Mendekatlah! Agar aku bisa melihat mu."
Dengan terpaksa Gita menggeser badannya mendekat kembali.
"Tuan tolong jangan marah!" Ucap Gita.
" Kau masih memanggil ku dengan sebutan Tuan?" Jasson menatap kesamping melihat wajah Gita yang ketakutan.
" Apa kau sebodoh itu? Mana ada orang sakit punya kekuatan untuk melukan kekerasan.
Kenapa kau setegang itu? Padahal saat aku menutup mata kau bebas bicara di depan wajahku ini."
" Maaf suamiku.."
Gita menatap Jasson. Tatapan mereka bertemu. Jasson tersenyum.
Astaga saat sakit seperti ini, bisa bisanya dia senyum semanis ini. Sangat berbeda dengan kondisinya yang normal pasti wajah itu seperti hantu yang sedang mencari mangsanya.
" Kenapa? Kau tidak ingin memelukku?"
Gita melototkan matanya.
Dia merasa sangat malu, sikapnya beberapa hari ini memang sangat memalukan.
" Apa anda tidak akan marah?" Gita tidak berani menyentuh tubuh itu. Melihat saja tidak, dia malah menatap arah lain supaya tidak menatap wajah Jasson.
Jasson tersenyum seringai.
"Semurah itu kah dirimu!"
Tanya jasson dengan suara aneh.
Gita yang tadinya sudah normal kembali membeku. Apa maksud jasson bicara seperti itu. Gita menatap Jasson tidak suka.
"Ya, aku memang sangat murahan. Tapi ini hanya berlaku untuk anda. Karena anda adalah suami saya." Gita dengan cepat memeluk tubuh itu. Entahlah tiba tiba ia berpikir untuk mengatakan itu. Lagian jika Jasson marah, Dia tidak mungkin bisa sekejam dulu. Melihat kondisinya saat ini sangat lemah.
"Akhirnya kau memelukku juga." Jasson menatap Wajah Gita dekat karena saat ini wajah Gita menempel pada lengan atas Jasson.
Dia tidak marah? Apa dia sedang menjebakku tadi? supaya memeluknya? Uh, pikiran Gita perlu di renovasi.
" Apa yang kau lakukan selama aku berbaring disini?" Gita menggakat wajahnya menatap Jasson. Dekat sangat dekat nafas Gita pasti bisa Jasson rasakan.
Gita segera mengambil jarak sementara tangganya masih berada di tubuh Jasson.
" Apa kau bebas bertemu dengan Kekasihmu?"
"Aku tidak memiliki kekasih, aku hanya memiliki suami."
" Apa saja yang kalian lakukan?"
Jasson melanjutkan ucapannya, tanpa memperdulikan ucapan Gita. Tatapan Jasson saat ini sedikit aneh.
"Aku, tidak melakukan apa-apa, Aku setiap hari selalu menemani anda."
"Apa selama aku terbaring kalian pernah bertemu?"
Gita mengaguk jujur. Dia tau maksud Jasson adalah Kevin.
Jasson memalingkan wajahnya dari Gita dan menatap langit langit kamarnya.
" Apa kau gila! Bisa bisaya kau menemui pria lain saat suami mu sedang sakit! Apa kau tidak punya pikiran? Isteri mana yang tega meninggalkan suaminya yang sekarat demi menemui kekasih simpanannya." Jasson Menutup matanya, merasakan denyutan di kepalanya.
Apa? Kekasih simpanan? Dia pasti sudah Gila. Kenapa Jasson seaneh ini! Aku hanya bertemu sebentar. Lagian selama dia sakit hanya dua kali aku bertemu dengan kevin.
satu saat dirumah sakit dan yang kedua itu, dua minggu yang lalu saat Jasson akan di pindahkan ke mansion. Saat perjalanan pulang, Gita mampir ke supermarket dan tidak sengaja bertemu Kevin disana. Itupun hanya sebentar karena Gita sedang buru buru.
Lagian kenapa dia aneh sekali, kenapa dia menekan kata katanya pada kata suami dan istri. Memang nya dia menggapku sebagai istrinya??
" Keluarlah! Jikau kau tidak ingin bicara lagi. Seharusnya aku tidak bangun, daripada menerima perlakuan tidak jelas seperti ini!"
Jasson memutar sedikit kepalanya menatap Gita yang masih bengong sedari tadi.
Gita segera duduk dan segera melangkah.
" Dasar wanita tidak peka! Bisa bisanya pergi, setelah di usir!" Suara Jasson sedikit dinaikkan.
Gita berhenti dan mencoba menganalisis kata kata yang baru saja di dengarnya.
"Apa maksudnya?" Gita hendak melangkah lagi karena dia tidak mengerti maksud Jasson.
"Jika kau berani melewati pintu itu! Maka bersiaplah untuk menggunakan kursi roda!" Mendengar itu Gita spontan membalikkan badannya.
Apa maksudnya, kenapa dia sangat sulit di mengerti? menaikkan kedua alis mata menatap Jasson.
"Cepat kemari!"
__ADS_1
Uh, sedang sakit begini aja, sangat menyebalkan apalagi dia sehat, lebih lebih menyebalkan dari ini! Gita berjalan malas mendekat pada Jasson.
"Naik!" Gita menghelah nafas dan menurut saja.
"Suamiku, apa anda tidak perlu dokter? Anda perlu diperiksa!" Gita mencoba tersenyum, untuk menghilangkan rasa khawatirnya.
"Tidak. Bukannya tadi aku sudah diperiksa?"
Gita menatap pada Jasson. Sebenarnya kapan dia sadar padahal dokter Arya memeriksanya Tiga jam yang lalu.
"Apa orang koma bisa merasakan dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya?"
Gita mengucapkannya pelan sambil menatap ke samping.
"Ya, aku tau apa yang terjadi." ucap Jasson mendengar bisikan Gita, dengan cepat Gita menatap Jasson.
Apa! Jadi yang...?
"Termasuk ucapan tidak sopanmu, aku mendengarnya!" Tambah Jasson, dia memperhatikan wajah Gita yang memerah. kelihatan lucu.
Gita menunduk.
"Maafkan saya. Saya melakukannya agar anda sadar!"
" Jasson sudah sadar tiga hari yang lalu!" Ucap seorang pria yang entah dari mana datangnya.
"Astaga, dokter Arya kau menggagetkanku!"
Ucap Gita menggakat wajah nya melihat pria yang berdiri di samping jasson. Gita mengelus dadanya.
"Maaf nona Gita."
Gita segera loading...
"Tadi dokter Arya bicara apa? Saya kurang jelas mendengar nya" Hanya memastikan apa yang di dengar gita itu benar, atau tidak.
"Dasar budek!" Ucap Jasson menatap Gita yang menunggu jawaban.
Gita menatap Jasson datar, padahal dalam hati sudah memaki maki.
"Jasson sudah bangun tiga hari yang lalu Nona!" Ucap Arya lagi dengan sedikit menaikkan volume suaranya agar Gita mendengar jelas.
Gita menutup wajahnya.
tak lama ia membukanya dan menatap Arya dengan penuh pertanyaan.
"Aku yang menyuruhnya!" Ucap Jasson yang masih bisa mendengar Ucapan Gita.
" Ha ha ha. Benarkah, bagus sekali." Gita mencoba ketawa sambil turun dari tempat tidur.
Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Jadi, sekarang anda tidak perlu saya lagi. Dokter Arya bisa menemani anda sekarang! Sa saya pergi dulu." Gita menatap Arya tajam. Bisa bisanya dia tidak memberitahu pada Gita.
Gita sedikit berjalan kesal dan menutup pintu sedikit kuat.
" Apa yang kamu katakan pada istri mu itu?"
" Tidak ada!"
" Apa kau senang sekarang?"
Jasson diam.
"Kau aneh sekali, kenapa bisa Kau membiarkan dia memelukmu. Apa kau merasa nyaman dipeluknya?"
" Kenapa kau bertanya kau yang memulainya lebih dulu."
" Benar, aku yang menyuruh nya, tapi kau terlihat janggal. Apa jangan jangan kau mulai menyukai nya? Jelas jelas kau tidak pernah menyukai jika seseorang memeluk mu sembarangan."
"Apa maksud mu, siapa juga yang menyukai wanita gila sepertinya. Lagian bukannya dia seorang istri? Apa salahnya memeluk suami? Itu hal yang wajar bukan?" Oh, Jasson sudah mulai mengakui Gita isterinya, ya!
"Ah, sudahlah. Aku tidak akan menang jika berdebat denganmu." Arya mendekat dan memeriksa kondisi Jasson.
"Selama kau koma, apa kau bisa mendengar suara di sekeliling mu?" Tanya Arya sembarin duduk di kursi dekat Jasson.
"Entahlah, aku sudah lupa. Tapi aku mendengar sayup sayup. Aku tidak ingat lagi."
" Bagaimana, dengan tiga hari ini, apa kau sudah mulai enakan? Apa kepalamu masih sering berdenyut? Dan apa yang kau rasakan?"
"Seperti yang kau lihat aku masih lemas, kepalaku juga terkadang masih berdenyut."
"Istirahatlah yang banyak, jangan banyak pikiran, dan jangan marah marah dulu. Kondisi mu belum sepenuhnya stabil."
Jasson hanya menatap datar pada Arya. Dan Dokter Arya segera keluar.
"Aaaaa gila gila..
__ADS_1
Sangat memalukan.." Gita guling guling di ranjang kamarnya. Kamar itu yang ia gunakan semenjak Jasson sakit. Tempatnya di samping kamar Jasson walaupun sangat jarang ia pake untuk tidur, karena terkadang ia ketiduran di ranjang Jasson.
" Dokter Arya awas kau! Aku akan mengerjai mu balik. Aaaa aku tidak tau lagi jika berhadapan dengan Jasson. Uh, memalukan. Astaga apa yang kukatakan selama tiga hari ini?"
Gita membenarkan posisinya dan duduk di atas ranjang itu. Mengingat semua yang ia katakan pada Jasson.
Gita memukul jidatnya. Dan sesekali menarik rambutnya.
" Astaga astaga, bahkan aku menjelek-jelekkan nya. Memarahinya, memanggilnya dengan sebutan suami dan.."
Gita kembali menjatuhkan dirinya di atas kasur.
"Aaa, aku memeluknya, mengelus dadanya, memegang pipinya,memegangi rambutnya, mencium keningnya,,,,," Gita menggulingkan badannya lagi.
"Aa, memalukan, sangat memalukan. Bagaimana mungkin aku melakukan itu padanya? Aku pasti sudah gila!" Gita terus mengingat tindakannya kepada Jasson.
" Tapi..
Kenapa dia tidak marah? Kenapa dia membiarkan aku melakukan semua itu padanya?" Gita berhenti menggulingkan badannya. Dia menatap langit langit kamar itu. Sambil berpikir, kenapa bisa?
" Apa dia ingin mendengarkan semua yang kukatakan, atau karena dia masih lemah dan tak mampu memarahiku, dan menyakiti ku?"
Yang pasti, jasson memang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tapi.. Jika dia sudah pulih, dan kekuatannya kembali lagi. Maka...
Tamatlah riwayatku..
Muda mudahan setelah dia pulih aku masih bisa bernafas.." Gita beranjak dari ranjang itu dan pergi keluar.
Melihat dokter Arya yang baru keluar dari ruangan Jasson.
Gita dengan cepat menghampirinya.
" Dokter Arya.." panggil Gita.
" Iya Nona Gita, ada apa?" Arya menatap Gita binggung.
" Kenapa anda menyembunyikan ini? Kenapa tidak memberitahu saya jika Jasson sudah sadar?"
"Bukankah nona sudah mendengar tadi?"
" Tapi seharusnya anda..."
"Nona, bukankah anda mengenal Jasson. Anda sudah tau bagaimana sifatnya yang keras kepala, jika anda di posisi saya, pasti anda juga akan menurutinya."
Iya juga sih! Pikir Gita mengingat sifat Jasson.
"Bagaimana dengan Papa Janes dan mama monik, apa mereka juga tidak tahu?"
"Mereka sudah tahu Nona."
"Apa?" Ini tidak adil kenapa hanya Gita yang tidak tahu.
" Kenapa hanya aku yang tidak tahu, jangan bilang pelayan yang menemani Jasson juga sudah tau?"
" Ya, mereka tau nona."
Sebenarnya saya juga tidak mengerti jalan pikiran Jasson, tapi apa peduliku, yang penting aku melakukan tugas dengan baik.
"Sudahlah, aku benar benar tidak dianggap disini." Gita berlalu pergi dengan wajah kesalnya.
Mereka semua tega sekali padaku. Untuk apa mereka melakukan ini? Ternyata mama Monik bisa senyum kemarin pasti karena Jasson sudah sadar. Tapi kenapa mama tidak memberitahuku? Kenapa diam saja?
Gita terus berjalan menaiki lantai atas.
Sampai disana rasanya aman dan tenang apalagi melihat benda itu. Benda yang sangat Ia sukai.
Gita duduk di depan Piano itu membukanya dan memainkan perlahan. Benda itu memang selalu bisa Gita andalkan saat hatinya tidak jelas.
" Apa yang akan terjadi selanjutnya..
Apa setelah dia pulih dia akan membalaskan semua perilaku ku selama ini padanya?" Gita menjatuhkan kepalanya di atas piano yang sudah dia tutup...
To be continued
...❤️❤️❤️...
🍁 Like, Vote dan beri Hadiah sebanyak banyaknya ya Guys 🍁
.
.
.
Sampai jumpa 🍃
__ADS_1