Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
85. Kisah lampau (2)


__ADS_3

"Aku tidak perduli siapa dirimu! Lepaskan tau siapa diriku? Aku bisa saja mencobloskan kau serta pasukan mu ke dalam kantor polisi! Atau akan membunuhmu dengan tragis dengan sangat mudah!"


...🌱🌱🌱...


"Wao kau sungguh sombong! Emang nya siapa dirimu? Kau berani?" Mencekram kuat pipi Morisa.


"Aah lepaskan!" Dengan sekuat tenaga akhirnya morisa terlepas.


Morisa geram dan langsung saja menampar kuat lawan bicaranya.


Plakkk


"Kurang ajr! Pria bajingan. Kau berani menyentuh ku? Jangan kurang ajar Kau!"


Laki laki itu terlonjak kaget. Memegang pipinya yang memanas. Dia yang Tadinya mabuk sepertinya dia langsung tersadar. Dengan kondisi normal.


"Kau mau mati gadis kecil?"


Laki laki itu mendekat menarik kasar morisa ke arah dinding pinggiran jalan. Jelas tembok besar yang dipenuhi coret coret dinding.


"Lepaskan... TOLONG!!!! TOLONG AKU!!! SIAPAPUN TOLONG!!!!"


"BERTERIAK!! Ayo teriak lagi! Tidak akan ada satu pun orang yang mendengarmu? Jalan ini kawasan mafia! Kau salah ambil jalan sayang!" Ucapnya mendekat kan wajah pada Morisa dan mulai mencium leher Morisa.


"Brengsek!! Lepaskan aku!" Morisa memukul mukul laki di hadapannya.


Baju nya yang memang minim sudah mulai tersibak hingga menampakkan dua benda miliknya.


Morisa mulai terisak dan masih terus berteriak.


"Ku kumohon. Jangan sentuh aku. Tolong lepaskan!" Morisa sudah kehabisan tenaga untuk memukul pria itu suaranya sudah serak.


Tak henti nya pria itu memeluk Morisa dan mencumbuinya hingga ke dadanya.


"Aaaaaaaaaaaa, LEPASKAN!!! JANGAN LAKUKAN ITU!!!" morisa yang merasakan dua miliknya diremas, dia berteriak sejadi-jadinya sambil di baur air mata yang tak henti mengalir.


Morisa yang masih ada tenaga langsung menggakat lutut dan menendang milik pria itu dengan kasar.


Buuukk


Berhasil!!! Pria melepaskan pelukannya dan beralih pada miliknya dan meringgis kesakitan.


Morisa berusah menutupi dadanya dengan lapisan baju yang robek. Mulai berlari dan meninggalkan Pria itu. Tapi jika sudah basah tetaplah basa. Pria itu ternyata benar benar memiliki pasukan. Dua pria datang menghadangnya dari depan.


Menatap nya seolah kelaparanz dan merasa puas menerawangi tubuh Gita dengan intens.


"Hei!! Jangan macam macam!!!" Morisa menunjuk nujuk pria di depannya.


Morisa menatap kebelakang menatap pria tadi berjalan santai sambil tersenyum seringai.


"Sudah kubilang, kau salah jalan cantik! Ini kawasan mafia. Dan kau sendiri yang menyerahkan diri kedalam lubang buaya. Dan kau harus siap untuk dijadikan santapan." Ucapnya terseyum menang.


Morisa bergetar hebat. Harusnya dia lebih baik menunggu supir di bandara walaupun sampai pagi hari daripada terjebak dalam bahaya yang mematikan.


Morisa berjongkok.


Terisak dan berteriak. Tidak ada guna lagi untuk kabur.


"Tolong jangan sakiti aku. Kumohon. Apapun yang kalian inginkan aku akan berikan asalkan jangan diriku! Jangan menyentuh ku. Jangan melukaiku! Aku akan melupakan semua ini dan tidak akan melaporkan kalian. Asalkan kalian melepaskan ku. Kumohon!!! Berhenti mengukungku! Aku tidak mengenal kalian. Maaf jika aku salah jalan."


"TERLAMBAT!!" Ucap Pria itu.

__ADS_1


"Berdiri!" Ucapnya lirih.


"Tidak, kumohon. Jangan sentuh aku!" Terisak.


"Angkat dia. Pengang tangannya!"


Kedua pria itu mendekat dan menarik paksa Moris hingga berdiri. Morisa berdiri dengan cekalan kedua tangan pria itu di kedua sisi.


Pria didepannya semakin mendekat.


God, hanya kau yang aku harapkan sekarang. Kumohon bantu aku. Tolong aku. Selamatkan anakMu ini.


Morisa menunduk dan menangis berharap dan berharap pada yang maha kuasa.


Pakaian atas morisa sobek sepenuhnya. Tinggal tentokp hitamnya.


Morisa tidak bisa bergerak melawan akibat tangannya di cekal.


"Bajingan... Kau akan menyesali ini!" Umpat Morisa. Morisa mengangkat wajahnya menatap tajam pria di depannya.


Pria itu tidak peduli semakin mendekatkan wajahnya, menekan tengkuk morisa dan mencium bibir itu dengan kasarnya.


Tanganya menjelajahi tubuh morisa.


Menangis ya, hanya itu yang bisa ia lakukan isakkan yang sungguh malang tidak dihiraukan. Dasar pria brengsek! Tidak punya hati sedikit pun.


"Kami ikut!" Ucap seorang yang mencekal tangan sebelah kanannya. mereka juga sangat mengairah menatap tubuh morisa yang sangat montok.


Pria di depan menghentikan sebentar aksinya.


"No problem!" Ucapnya tersenyum.


Sungguh nasib sial.


Pelecehan seksual.


"Tolong jangan lakukan itu! Tolong ber akh...


berhenti..." Ucap Morisa.


Rok mininya sudah tersobek sebelah tinggal sedikit lagi maka rok itu akan terlepas dari posisi.


Namun Tuhan itu memang baik. Suara yang dinantikan Morisa akhirnya datang.


Beberapa polisi bergerak ke arah mereka dengan mengangkat senjatanya.


"Angkat tangan kalian!! Jangan bergerak tetap di tempat. Atau saya akan menembakkan peluru ini!" Ucap sala seorang polisi.


dengan syok ketiga pria itu mengangkat tangan dan sedikit mundur.


Morisa menjatuhkan dirinya setelah terlepas dari genggaman para pria brengsek.


Ada rasa legah tapi ada rasa hancur.


Dirinya kotor dan sangat menjijikkan.


Terlihat ada 6 orang polisi mengintari tempat itu.


Dengan senjata di tangan masing masing.


3 laki laki itu tak dapat berkutik. Tak ada senjata yang mereka pegang saat ini.

__ADS_1


Hanya bisa diam dan berdiri sambil mengangkat tangan menatap polisi yang mengintari.


"Kenapa bisa ada polisi? Dan kenapa tidak ada sedikit pun suara deru mesin mobil atau pun alunan suara mobil polisi?"


Ucap pria itu pada temannya pelan.


Sala seorang pria menggakat kepalanya mengarah pada seorang pria paru baya di sebrang yang menatap mereka sambil berjalan mendekat ke arah gadis malang.


3 pria tadi sudah di borgol dan di seret menuju mobil di ujung sana yang disengaja tanpa bunyi dan diletakkan agak jauh.


Saat memasuki mobil mata pria tadi menatap kebelakang, menatap Morisa intens dan juga pria paru baya itu.


Morisa yang tidak sengaja menagkap mata itu langsung tertunduk ketakutan.


"Nak, apa kau baik baik saja?" Pria paru baya itu melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Morisa.


Jaket dengan simbol nama tukang ojek online itu. Sepertinya pria paru baya itu tidak sengaja melihat aksi pelecehan di tengah jalan yang sepi. Menelpon polisi dengan sembunyi-sembunyi. Karena dia yakin jika dia yang akan melawan akan berakhir sia sia.


Morisa terisak.


"Terimakasih God." Ucapnya pelan dan tertunduk menangisi hidupnya.


"Ayo, berdiri. Bapak akan antar kamu pulang!"


Morisa bergetar.


"To. tolong, jangan sakiti aku!" Ucapnya masih berjongkok dan memeluk erat jaket itu.


"Aku tidak melukaimu nak. Aku membantu mu. Ayo aku akan mengantar mu! Jalan ini berbahaya. Ayo! Jangan sampai temannya datang kesini!" Morisa memberanikan diri menatap pria itu.


Tidak ada kebohongan dimatanya yang ada rasa kasihan dan sedih, menatap Morisa.


Morisa menganguk. Berjalan mengikuti pria paru baya dan naik ke ojeknya.


Dengan duduk menyamping. Tidak mungkin lagi baginya duduk mengangkang dengan rok robek sebelah.


Singkat cerita Morisa berterima kasih sekali pada tukang Ojek. Dan kini dirinya sudah jauh lebih baik. Kasus pelecehan itu sudah di tangani Oleh Janes papanya.


Mama Monik yang saat itu lagi terbaring sakit tidak dapat merasakan sakit yang dirasakan Morisa . Tidak dapat jadi tempat mengadu putri cantiknya. Janes dan Jassonlah yang menghibur nya. Apalagi saat itu ada Yolanda yang selalu Menyemangati Morisa.


Janes menuntut keras para bajingan itu untuk dihukum keras. Dan di sel sesuai hukum. Namun Jasson dengan sangat amarahnya untuk memenjarakan seumur hidup dan disiksa habis di dalam sel. tapi apa daya, hukum akan berjalan sesuai aturannya.


Dalam UU TPKS mengatur pelecehan seksual fisik sebagai salah satu tindak pidana kekerasan seksual. Menurut Pasal 6 UU, pelaku pelecehan seksual fisik dapat dipidana hingga 12 tahun penjara.


Walau Morisa sudah mendapatkn ketenangan dan keadilan namun dirinya tetap tak mampu menerima kenyataan. Walau kehormatan nya belum dirampas malam itu namun tetap sama saja itu kekerasan seksual mereka menjamahi tubuhnya memaksanya dan menyakiti dirinya.


Morisa mengalami trauma saat itu. Dia tidak berani keluar dalam satu tahun penuh. Terkurung dalam mansion takut akn dunia luar.


Namun seiring waktu berjalan dengan motivasi dan pengobatan khusus yang di jalani bersama dengan orang orang yang sangat ia sayangi mendukungnya membuat ia jadi lebih besar harapan agar kembali keduania luas. Untuk menjalani hidup sebagai mana biasanya.


Flash off.


To be continued 🌷


Sampai jumpa πŸ˜ƒβ€οΈ


jangan lupa seperti biasanya Like dan juga vote


menambah semangat dan energi untuk LAURA.


bye bye 😘

__ADS_1


__ADS_2