Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
35. Mata Rabun


__ADS_3

"Uh, Papa.." ucap Gita memegangi dadanya.


"Kau terkejut?"


Jelas saja gita terkejut sangat terlihat dari sikap dan mimik wajahnya, kenapa bertannya lagi?


Gita mengangguk.


" Dia morisa, apa kau masih ingat? Saya sudah pernah menceritakan dia padamu."


" Iya, Gita masih ingat Pa."


" Jika dia mengatakan sesuatu yang aneh padamu, jangan masukkan kehati ya, Dia gadis yang sedikit bar bar. wajahnya saja terlihat dewasa namun sifatnya masih belum."


Gita bingung apa maksud dari perkataan itu, tapi dia hanya mengangguk saja supaya lebih cepat.


Jelas saja Morisa memang terkenal dengan gadis bermulut pedas, salah sedikit saja orang itu akan mati kutu dibuatnya. Dan jangan ditanyakan jika ada pertandingan Debat saat sekolah dulu dia selalu menjuarai nya, baik debat bahasa Indonesia ataupun ingris dia yang akan menjadi ratunya.


"Pa, aku ke atas dulu!" Gita permisi dengan sopan Janes hanya mengangguk saja.


Menaikki satu persatu anak tangga. Hatinya saat ini sudah tak baik lagi.


Menggenggam handle pintu itu sambil menarik nafas dalam dalam.


Ceklek.. terlihat disana Jasson bersandar dikepala kasur sambil membaca buku.


" Darimana saja kau? Kenapa lama sekali? Aku sudah Gerah sedari tadi menunggumu!"


Gita berjalan mendekat.


"Maafkan saya."


"Cepatlah Ganti bajuku sekarang!"


Gita berpikir sejenak.


Uh, ide bagus.


" Apa sebaiknya anda mandi saja? Anda sudah lebih baik sekarang, sudah boleh mandi bukan? Lagian selama ini anda hanya di lap menggunakan handuk basa oleh dokter Arya. Mungkin anda Gerah karena tidak mandi, Apa tidak sebaiknya anda mandi saja?"


Gita sedikit tersenyum, mungkin cara ini bisa melepaskannya supaya tidak menganti pakaian Jasson.


" Uh, ide yang bagus!" Ucap Jasson tersenyum sambil meletakkan buku di nakas.


Gita terseyum akhirnya bebas juga pikir nya.


" Kenapa kau masih berdiri di situ? Ayo bantu aku ke kamar mandi!"


" Apa anda masih tidak bisa berjalan?" Tanya Gita menaikkan alisnya.


"Jika aku jatuh! Apa kau mau tanggung jawab?"


"Ah, iya iya, saya akan membantu." Gita mendekat dan membantu Jasson.


Padahal Jasson bisa sendiri tapi dia sangat senang jika menyusahkan Gita sepertinya!


"Suamiku anda berjalan biasa. Kenapa saya harus memegang anda?" Tanya Gita saat mereka sudah di tengah jalan.


" Bukankah sudah kubilang, hanya mengawasi saja, siapa tau aku jatuh."


Gita hanya mengiakan saja seolah yang dikatan jasson benar adanya.


Gita menghantar Jasson sampai di depan kamar mandi.


Gita melepas ranggkulan Jasson di bahunya.


" Kalau begitu saya tunggu di luar, Silahkan Anda mandi." Ucap Gita berbalik dan melakahkan kakinya.


"Hei,,,." Panggil jasson dengan suara berat itu sambil menaikkan kedua alisnya.


"Ya, apa masih ada yang ingin anda katakan?"


Jasson mencentilkan jarinya di kening Gita.


Gita segera mengusap kening itu.


Kenapa dia melakukannya?


" Kau bodoh atau pura pura bodoh? Kenap kau menghantarku sampai disini?


" Apa saya harus menghantar anda sampai ke dalam?"


" Bukankah tadi kau yang menyarankan aku mandi?"


"Ya, sekarang anda bisa mandi kan? Silahkan.." Gita mengerakkan sebelah tangganya menunjukkan kamar mandi besar itu.


" Masuklah mandikan aku!"


" Apa!!!" Teriak Gita, spontan Jasson menutup kedua telinganya.

__ADS_1


"Gadis Gila!! kenapa kau berteriak. Tidak ada sopan santun nya!!"


" Maafkan aku!"


" Kenapa? Apa ada yang salah? Bukankah kau sendiri yang mengatakannya? Kau ingin membantu ku bukan?"


" Membantu mandi??"


" Apa ada yang aneh dengan itu?"


"Tapi saya tidak bisa membantu anda mandi.


Itu memalukan!" Gita memelankan suaranya diakhir kalimat.


" Masuklah! dalan hitungan ketiga jika kau tidak masuk aku akan menjatuhkanmu dari balkon kamar!" Jasson sudah lelah jika meladeni gadis seperti Gita. Bisa bisa dia akan jatuh kelantai jika berdiri terus.


" Satu, dua,..." Gita dengan cepat masuk kamar mandi itu menatap Jasson dengan wajah seperti itu berhasil membuat nya mendapat serangan jantung.


"Tutup pintu nya." Ucap Jasson dan berlalu lebih dulu mendekat pada bath tub yang ada disana.


Gita maaih diam menatap Jasson yang berjalan normal tanpa kesakitan.


Dia benar benar gila! Kenapa bisa dia melakukan hal bodoh seperti ini. Bahkan dia baik baik saja. Kenapa harus menyuruhku?


Gita berjalan me arah pintu dan menutup nya.


"Bukankah baju ku!" Gita menatap Jasson.


Astaga membuka baju saja harus aku?


Gita berjalan mendekat.


"Bisa kah anda menunduk? Saya tidak bisa melepas baju anda jika berdiri tegap seperti ini.


Jasson segera membungkukkan badannya.


Gita dengan hati hati membuka baju itu. Terlihat singlet putih tapi otot otot itu tampak dari sela sela.


Gita menarik singlet itu keatas. Sekarang terlihat jelas Badan Jasson yang polos..


Wah, indah sekali..


Aku pernah melihat ini dari kejauhan tapi tidak seindah ini.


Jasson menatap Gita yang masih mematung menatap bagian dada hingga perut yang seperti roti belah itu Gita terpaku melihatnya.


Gita segera mengangkat wajahnya memandang Jasson.


" Apa maksudmu!" Ucapnya menatap tajam Jasson.


"Kenapa? Kau sudah berani bicara tidak sopan dan menatap ku seperti itu?"


"Uh, maafkan saya!" Ucap Gita sedikit tersenyum kencut.


" Sudah berapa laki laki yang sudah kau pegang?" Tanya Jasson saat gita membuka tali ikatan pada celana training .


Gita mengangkat kepalanya lagi.


" Apa maksudmu suamiku?" Ucap Gita menghentikan tangganya.


" Bukankah kau wanita ******?"


"Maksud anda?"


" Kau pura-pura lupa atau pura pura tidak tahu?"


" Saya bukan wanita seperti yang anda pikirkan! Sa saya wanita baik baik."


" Benarkah?" Ucap Jasson tangganya di lingkari di pinggang ramping Gita.


" Apa yang anda lakukan?" Tanya Gita saat Jasson memeluknya secara tiba tiba.


"Tidak! Aku hanya mecoba memelukmu. Bagaimana rasanya memeluk isteri bertelanjang dada!" Ucap Jasson dan memperbaiki posisinya.


Jujur jantung Gita berdegup dengan irama yang aneh, bukan irama takut tapi entahlah apalagi melihat senyuman Jasson saat ini. Benar benar bukan Jasson yang dia kenal.


" Kenapa? Kau tidak mau mengakui nya? Kau masih pura pura lupa?"


"Tidak, saya tidak berbohong saya bukan wanita ******! Saya tidak seperti itu Su-amiku!"


" Kita akan buktikan nanti! Sekarang lanjutkan, buka pakaian ku!"


Kita? apa maksud nya mengatakan itu?


Dengan hati hati Gita membuka celana trening Putih itu.


Sekarang terlihat Jasson menggunakan boxser saja.


"Kenapa tidak kau lanjutkan?"

__ADS_1


"Apa saya harus buka itu juga?"


Tunjuk gita pada celana pendek Jasson, namun matanya menatap jasson.


"Jadi maksudmu aku mandi menggunakan ini?"


Gita dengan cepat menganguk.


" Aku tidak pernah melakukan nya, cepat buka!"


Dengan terpaksa Gita membuka celana pendek itu pelan dengan menatap arah lain.


"Sudah!"


"Apa matamu buta! Masih ada yang tersisa!"


Gita tau maksud jasaon pasti CD tapi dia tidak berani melihat ke arah itu.


"Apa anda tidak bisa menggunakannya mandi?"


"Tidak bisa." Ucapnya menatap Gita.


Perlahan Gita mengarahkan pandangan pada CD itu.


Astaga mataku benar benar rabun. Dari CD saja sudah kelihatan miliknya. Bagaimana mungkin aku membuka itu!


"Cepatlah aku sudah kedinginan telanjang seperti ini!"


Gita memegang Cd itu dan membukanya menggunakan mata teetup menatap samping.


Jasson memperhatikan Gita.


" Wanita aneh, jangan pura pura melakukan hal konyol seperti itu. Jangan pura pura polos!" Jasson masuk medalam Bath tub.


Gita membuka matanya. Menatap sampingannya disana ada cermin besar yang mekat sampai ke ujung sana.


Menatap punggung Jasson dari cermin.


" Kenapa kau masih berdiri ayo gosok badanku!"


Gita membalikkan badannya. Untung saja air yang ada di Bath tub air busa jadi bagian sensitif Jasson tidak kelihatan.


"Apa kau akan menggosok punggung terus??"


Gita segera menggeser badannya ke arah samping Jasson. Mengusap dada mulus itu perlahan.


Memegangi Dada yang dia kagumi tadi.


Sedikit tersenyum akhirnya dia menyentuh roti robek itu.


" Kenapa kau tersenyum seperti itu? Apa kau senang bisa menyentuh ku?" Tanya Jasson yang memang sedari tadi menatap Gita.


Dengan cepat Gita menormalkan ekspresi nya.


"Naiklah, agar kau lebih mudah membersihkan badanku!"


"Tidak!! Seperti ini saja suamiku." Ucap Gita kembali pelan saat mengatakan tidak tadi Jasson menatap nya dengan tajam.


" Naik!!"


Tidak bisa dibantah lagi. Gita dengan cepat naik. Untung saja Bath tub nya besar. Jadi, Gita tidak terlalu kesempitan masuk kesana.


" Dasar bodoh, seharusnya kau membuka pakaian mu! Lihatlah sudah basah kuyup begitu!"


Gita menatap Jasson.


"Tidak, saya tidak papah Suamiku!"


Gita mengosok gosok tangan Jasson bergantian, mengosok kakinya sampai pada lutut itu.


"Kenapa berhenti?"


" Ah, sepertinya saya melupakan sesuatu." Gita keluar dari Bath tub. Dengan celana penuh busa.


Gita mencuci tangan berbusah itu dengan air bersih.


"Apa yang kau lakukan?" Jasson menaikkan kedua alisnya dengan wajah tajam.


"Uh, itu aku melupakan sesuatu. Tolong anda mandi sendiri dulu. Sa saya ada yang harus ku kerjakan!" Gita berlari dengan cepat, menutup pintu kamar mandi perlahan.


Dengan hati hati Gita keluar kamar memasuki kamar di samping memasuki kamar mandi dan mengganti pakaiannya disana.


"Uh, maafkan aku. Tapi aku benar benar tidak bisa melakukan itu."


To be continued


...❤️❤️❤️...


🍁 Jangan lupa like dan vote ya guys 🍁

__ADS_1


__ADS_2