
"Terimakasih.."
Gita menutup mata menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang yang hangat itu.
...
Aku akan berusaha untuk mu, meski ini sulit apalagi Bisma yang tidak tau diri itu menghilang serasa ditelan Bumi. Brengsek!!
ποΈποΈποΈ
"Aku ingin bertemu kak Yolan, aku mau bantu kak Yol, supaya ingat aku!" Setelah Jasson menceritakan semua kisah Yolan dari awal bertemu hingga kejadian kemarin, Brigitta memutuskan untuk menemui saudara kandungnya dalam kamar rawat itu.
"Apa kau yakin? Jika Yolan histeris lagi? Kamu ingat kan saat awal perkenalan kalian? Yolan aja sampai gak sengaja lukain kamu."
"Aku yakin. Aku akan bicara pelan pelan. But jika kak Yolan gak bisa ingat em, aku."
"Gak boleh nyerah sayang. Kamu harus bisa jangan pikirin hal yang merusak pertahan kamu?" Jasson mengelus kepala Gita.
"Kalau begitu, aku akan masuk kedalam."
"Ku temani, jika ada apa apa aku bisa bantu!"
Gita menggaguk. Dan bersama menuju ruangan Yolan.
Yolan yang mendengar langkah kaki mendekat membuka mata yang dipaksa untuk terpejam.
"Kak Yo Yolan, bagaimana keadaan kakak sekarang?" Gita gak tau kenapa setelah melihat mata yolan bisa Segugup ini, rasanya dia ingin menagis dan memeluk Yolan erat. Sangat rindu dan sangat sakit melihat kenyataan saudara yang lama pergi ternyata di depan mata dan terbaring merasakan sakit yang tak bisa dijelaskan.
"Gita, kamu kenapa? Aku baik baik saja." Alhasil ternyata Gita gak kuat menahan air mata. Mengalir begitu saja membasahi pipi, Ingin terisak namun sangat sesak.
"Hei, jangan menagis." Yolan memegang pipi itu lembut.
"Kak, Yol.." gita memegang tangan Yolan yang masih diam di pipi itu.
Melirik ke arah jasson. seolah berkata
Apa aku harus katakan sekarang?
"Jika kamu belum siap, jangan. Tapi jika kamu baik baik saja, terserah kamu." bisik Jasson yang mengerti akan tatapan Gita.
"Kenapa Jas?" Tanya Yolan yang mendengar Jasson berbisik.
Jasson hanya menggeleng.
Gita mengeluarkan syall dari dalam tasnya.
"Kak Yol pernah lihat syall ini?"
Tunjuk Gita.
"Ini bukannya syall punya ku?" Yolan memegang syall itu.
"Bukan. Ini milik Gita, lihat ada tulisan namanya."
"Kenapa bisa sama, Padahal Bunda merajutnya sendiri dengan pilihan warna sendiri motif dan bentuknya kok bisa sama begini?"
Ucap Yolan pelan yang masih dapat didengar makluk di ruangan itu.
"Kakak Yolan ingat Bunda?"
Mendengar pertanyaan itu Yolan menatap Gita intens.
"Hem?" Yolan mengerutkan keningnya apa maksud gita?
"Bunda Yelsin? Wanita yang selalu jadi inspirasi dalam hidup kita. Menyayangi Kita.
Menghibur kita saat sedih yang selalu menelerai kita jika berantam. Memberi nasihat. Dan kakak masih ingat mengenai bunga Daisy? Bunda memberikan rangkaian bunga dasiy untuk ulang tahun kakak yang ke -6 tahun?"
Yolan terdiam. Apa maksud dari omongan orang ini. Kenapa rasanya dekat dan pernah terjadi dalam hidup Yolan.
"Bunda yelsin, iya aku ingat sekarang. Dia Bunda ku. Dia menyangiku." Ah ternyata Yolan hanya menangkap nama bundanya saja. tang lainnya serasa ia tuli. Ternyata dari tadi dia masuk dalam kenangan lampau bersama Bunda Yelsin.
"Iya, bunda kita, aku, kak Yol, dan kak Bisma."
"Bunda kita? Apa maksud mu Gita?"
Tanya Yolan binggung.
"Kakak saudara kandung Gita yang hilang. Aku Brigitta Yarzar kak. Masih ingat tentang kecelakan dulu. Mengenai bunga Daisy. Itu terakhir pertemuan kita kak. Kakak masih ingat kan?"
Yolan mencoba mengingat. Brigitta Yarzar? Yarzar....
Tergiang di telinganya.
"Aku gak ingat." Yolan menggelengkan kepalanya.
"Aku benar benar gak bisa ingat kamu. Aku gak punya saudara. Tapi kenapa rasanya dekat." Aku merasa nyaman ketika melihat Gita. Apa mungkin benar dia saudaraku.
"Ini kak syall untuk kita. Lihat hanya Bunda yelsin yang buat ini. Dirajut sendiri dengan cinta. Kak, tolong ingat diriku. Kakak pasti bisa."
Yolan memegang Keningnya.
Menekan perlahan.
__ADS_1
"Aku gak bisa Gi. Aku gak ingat. Maafkan aku."
Gita menahan sesak. Hingga bulir air mata itu membasahi pipinya lagi.
Dari arah samping Jasson mengelus pundak Gita.
"Jangan dipaksa,"menghapus jejak air mata itu dengan jemari yang lembut.
Gita menggeleng.
"Gita, aku benar benar gak bisa mengingat dirimu. Kosong. Aku hanya ingat Bunda Yelsin. Apa kamu tau dimana Bunda ku berada? Aku ingin bertemu. Tolong beritahu aku dimana bunda Yelsin."
Gita menatap Lekat Yolan. Tidak tega jika ia beritahu kalau Kenyataan bunda Yelsin sudah meninggal.
"Kak coba ingat lagi. Bunda memberikan syall ini jadi kado natal saat di rumah Oma dulu. Kakak ingat kan sama Oma dan Oppa orang yang merawat kakak?"
"Kado natal. Ah.." Yolan sangat ingat saat bunda nya memberikan kado itu tapi disisi kanan kiri depan. Kenapa buram. Tapi ada suara yang memanggil namanya.
Yolanda mencoba memperjelas panggilan itu dan pandangan byangan yang buram.
"Ah, em, sissstti, sakit.." Yolan menekan kepalanya.
"Kak Yol, kak.." Gita mulai panik.
"Kak Yolan, kakak kenapa?"
"Aku, mendengar nama aneh. Itu bu- bukan na- nama ku. Kenapa mereka memanggilku dengan sebutan Bis.. bisaka?" Yolan mengiang menakan kepalanya yang berdenyut.
"Sa sakit.."
Meringgis menekan kepalanya.
"Kak Yol, iya benar nama kak Yolan. Biska Yolanda. Jangan putuskan kak. Coba lihat lagi."
"Gi.." Jasaon menahan tangan gita yang seraya membatu Yolan mengingat sesuatu.
Gita menatap Jasson. Jasson menggeleng.
"Jangan sampai terjadi yang tidak tidak. Kita pelan pelan saja."
Gita memelas.
Dan mengangguk.
"Kak Yol, jika benar gak bisa jangan dipaksakan. Kita pelan pelan saja."
Yolan melepaskan tangganya dari kepala.
Terdiam sesat.
Gita melebarkan mata. Menatap Jasson.
Kembali menatap Yolan.
Gita mengangguk. Dan mengusap air matanya.
"Kakak ingat? Yah, itu saudara kak Yolan. Kak Bisma-"
"BISMA YERIKO! " ujar yolan menyambung.
Gita tersenyum.
"Terimakasih God, kau baik.
Bagaimana dengan ku, Ayah, dan yang lainnya?"
"Aku gak ingat Gita. Aku gak bisa lihat. Ini sungguh sulit, dan sangat sakit. " Yolan menagis dan menarik rambut kuat kuat.
"Kak Yol, kak, jangan dipaksa. Stop. Itu menyakiti kakak."
"Dimana Bunda dan saudaraku? Apa kamu tau dia dimana? Dimana mereka? Aku ingin bertemu! Aku merindukan nya!!"
"Aku juga merindukanmu kak. Mereka juga sangat merindukanmu."
Yolan tiba tiba merasa sangat kesakitan, kepalanya resasa di tekan kuat kuat.
"Aaaaaaaaaaa.....
Kepalaku ingin pecah! Tolong. Jangan katakan apa apa sekarang! Sakit!!!!"
"Kak Yol.
Sayang." tatap gita pada jasson.
" kak Yol, Tolong panggilkan dokter.."
Jasson mendekat ke arah Yolanda.
"Yolan.. yolan.. dengarkan aku!" Ucap Jasaon menahan tangan Yolan yang semakin menjadi.
"Aaaahhhh, lepaskan.... Aku ingin Bunda Yelsin.... Lepaskan!!!!"
"Tahan Gi, aku akan Panggilkan Dokter."
__ADS_1
Jasson dengan cepat berlari untuk menemui dokter.
ποΈποΈποΈ
"Bi, kak Gita dimana?" Tanya Morisa sambil menyantap sarapan paginya.
Tumben sekali Morisa berucap sopan untuk menyebut Gita.
"Nyonya Gita sudah pergi subu tadi nya."
"Hu? Kemana dia?"
"Saya tidak tau nya."
"Perempuan gila, Karena kak jasson gak disini, jadi seenak jinat dia keluyuran. Dasar perempuan kurang ajar. Awas saja nanti aku akn beritahu kak Jasson."
Setelah sarapannya Morisa pergi menuju Rs J.
Setiba disana dia sungguh terkejut.
Ngapain dia kesini? Oh jangan jangan tadi pagi dia kesini untuk cari muka kali ya! Supaya dikira punya simpati.
"Kak Jas, kenapa kalian diluar? Dan wajah kalian kenapa tegang begitu?"
"Em, m itu tadi." Gita tak bisa berucap.
"Kak mor gak papah kan kak Jas?" Morisa menggoyangkan lengan Jasson.
Jasson menatap Gita.
"Yolan histeris lagi."
"Apa??" Morisa beralih menatap Gita.
Menatap intens wajah itu mengertak giginya dan bejalan mendekat.
"Ini semua pasti gara gara kamu kan? Pasti kamu yang buat Kak Yolan sampai histeris kan?" Morisa menarik rambut Gita kasar.
"Morisa!!!" Jasson menarik Morisa menjauh dari Gita.
"Apa yang kau lakukan? Sudah gila ya!! Ini rumah sakit jangan membuat keributan. Jangan menuduh sembarangan, dan satu lagi dimana sopan santun mu?"
"Apa? Sopan santun? Kak aku tau pasti ini semua gara gara ini orang yang selalu kakak bela. Kemarin kak Yol sudah lebih baik. Kenapa sekarang tambah menjadi? Dasar wanita *#+Β₯@#;!("!#Β₯Β£Β₯"
Segala umpatan Morisa lontarkan.
Dengan cepat Jasson membekap mulut itu.
"Jika kamu ingin membuat keributan disini, lebih baik kamu pulang saja Sa!"
Morisa akhirnya diam menatap Geram pada Gita. Dalam hati semua makian dia lontarkan.
"Maafkan aku, ini semua memang salahku, tidak seharusnya aku memaksa kak Yolan untuk mengingat ulang memori otak nya."
"Kan, apa aku bilang kak Jas, dia ngaku sendiri! Dasar Gila. Udah tau salah malah sok jadi jagoan. Emang kamu siapa mau bantu kak yol ingan masa lampau? Keluarga? Tidak kan! Jadi kenapa harus buat ulah Segala!!"
"Morisa cukup!! Jika kamu gak tau apa apa lebih baik jangan bicara sembarangan! Lebih baik kamu pergi! Sekarang!! Jangan sampai aku berbuat kasar Mor!"
"Kak Jas-"
"Morisa!!"
Morisa menghentakkan kakinya dan berlalu pergi dengan bisikan kecil yang terdengar oleh mereka.
"Sayang, ini bukan salah mu! Jangan menangis! Jangan masukin ucapan morisa dalam hati. Kamu tau kan dia memang seperti anak kecil. So, agap saja angin lewat."
"Tapi yang dikatan Morisa benar, aku yang buat kak Yol seperti itu. Jika aku tidak terlalu bersemangat untuk menceritakan semuanya mungkin kak Yol gak akan histeris lagi!"
"Kamu lakukan hal yang benar kok. Coba tadi kamu gak cerita pastinya ingatan Yolan hanya Bunda. Tapi setelah cerita bukan hanya bunda namun namanya dan kembarannya. Bukan kah itu peningkatan? Jadi jangan merasa kamu itu penyebab semua ini. Tapi kamu sebagai pembantu penyembuhan Yolan."
"Tadi kamu gak dengat yang dikatakan dokter? Analisis dari memori yang di rangkap. Ingatannya sangat kacau. Memorinya sedang berbelit. Itu memungkinkan kak Yolan akan tidak sadarkan diri Beberapa hari. Bukankah itu sangat parah? Bagaiman jika kak Yol-"
"Sssttt, jangan pikir macam macam. Yolan akan segera sadar. Percaya saja!" Jasson menarik Gita dalam pelukannya.
ποΈποΈποΈ
"Ah, gila! Kenapa jadi aku yang diusir harusnya perempuan gila itu. Dia yang menyebabkan kak Yol tersiksa begitu."
Yolan menghentakkan tumit kakinya di dekat trotoar jalan.
"Ah, aku sampai lupa tujuanku. Aku ingin bertemu kak Yolan. Eh jadi gak sempat kan. Ini semua gara gara konflik yang tidak jelas itu."
Morisa berjalan meninggalkan area RS berjalan diatas trotoar jalan. Meninggalkan supir pribadi yang mungkin masih berdiam di dalam mobil ataupun mungkin sedang meneguk minuman di kantin RS.
Morisa yang lalai di jalan tanpa sadar sedari tadi ada orang yang mengikuti nya dari belakang.
Jalan yang sepi itu jadi saksi. Seketika Mulut Morisa di bekap dengan sapu tangan yang sudah di tetesi bius. Hingga Morisa tak sadarkan diri.
Awalnya mencoba melawan, memukul mukul lengan yang membekap namun alhasil bius itu sungguh cepat bereaksi.
Dengan cepat Morisa di seret dimasukkan kedalam Mobil.
Hah, tanpa disadari orang orang itu, diujung sana ada satu sosok yang juga mengikuti dari arah belakang.
__ADS_1
To be continued π·
Jangan lupa like and vote ya Beste π₯°