
Sekitar jam duaan pagi masih subu cuaca terasa dingin bahkan tidur pun terganggu karena suara bisik dari atas langit. Yang benar saja sedang datang hujan petir akibatnya mati lampu dan udara luar menguap melalu kaca hingga merasakan suhu yang dingin.
Jujur Yolan sangat takut dengan suara sit duarrrk huuurkk darrr (he he angap aja suara petir).
"Dingin.." akhirnya Yolan terjaga merasa selimut yang ia gunakan hanya menyelimuti sebagai tubuhnya saja. Yolanda menerjap nerjapkan matanya berkali kali..
"Astaga gelap sekali. Aku gak lagi buta kan! Mati lampu?" Yolan menatap sekeliling dari celah kaca terlihat cahaya dari sana walau agak buram juga sih karena kondisi luar juga gelap. Terang karena pancaran petir garis saja yang tiba tiba menyambar.
Yolan menatap arah jendela lagi sambil bereaksi menarik selimut yang sudah tak ada pada tubuhnya. Tenang bangat nih anak bisa tidur hangat tanpa tergagu? Jelas saja karena dia punya selimut.
Yolan tidak takut gelap jika berada bersama orang laun hal jika sendiri baru takut.
Tapi urusan petir mau sendiri atau ada yang nemani tetap aja buat syok dan takut.
Sekaki lagi Yolan menatap Kaca jendela yang terlihat kilat kilat cahaya. Jika sudah seperti itu pasti hitungan detik akan muncul suara gemuruh. Namun belum sempat yolan menutup telinga suara besar itu langsung menghantam membuat Yolan refleks merapat kan diri pada Kevin.
"Vinn!!! Woi bangunn..." Teriak Yolan persis pada telinga Kevin sembari mengimbangi suara petir yang terdengar di telinganya. Dia sampai memeluk tubh Kevin yang samar samar terlihat karena lampu padam tapi dia masih bisa meraba dia tau kevin sedang tidur membelakangi buktinya selimut sudah di ujung tangan Yolan.
Karena tepat pada telinga, Kevin pun terbangun.
"Kamu gila!!"
"Please jangan tidur lagi. Aku takut petir Vin.. Kamu tau kan banyak orang yang meninggal di sambar petir!"
"Oon, kamu dalam rumah gak pegang alat berbahaya. Mana mungkin di sambar, Kam-"
Duarrrmrm
"Vin!!!!!" Teriak Yolan yang sampai memeluk Kevin ala koala. Kakinya sudah naik ketubuh Kevin menghimpit kevin seeratnya.
"Uhmm.." Kevin sulit bernafas.
"Yol, kamu-"
"Ssttt jangan bicara lagi! Please jangan marah. Sampai petir nya selsai aja okey!"
"Tapi kamu-"
"Vin.." ucap Yolan. Yang bicara di sela leher kevin karena ia memang meneggelamkan kepalanya disana.
Kevin benar benar tersiksa luar dalam.
Bahkan tangan kanannya tidak bisa bergerak di tindi tubuh Gita. Dia benar benar tersiksa luar dalam, ditengah gelapnya ruangan juga menbuat ia susah melihat kondisi apa yang kini terjadi.
"Yol.. tangan akau mau patah"
"Apa? Kamu bicara apa?"
"Tanganku!"
Yolan terdiam sejenak menelusuri ucapan kevin sambil teriakan petir yang sepertinya sedang istirahat.
Dia merasakan tangan kekar itu berada di bagin paha kirinya karena kaki sebelah kanan terangkat ke badan Kevin alhasil berati benda yang terasa menganjel itu tangan kevin? Yolan buru buru merapikan posisinya dia kembali terlentang tidak lagi memeluk Kevin.
"Tapi kalau ada petir lagi. Izinin ya untuk meluk!" Ucao Yolan merasa malu. Jika lampu menyala maka wajah blus itu akan terpampang sangat lucu.
"Terserah! Sekarang juga gak Papah!" Ucap kevin mengan tawa.
"Apaan sih!"
Yolan memasang wajah bete padahal jika di pasang wajah senang pun kan tidak ada yang lihat.
"Vin di kamar ini gak ada lampu LED atau lilin ? Risih tau gelap gini?"
"Takut?"
"Enggak cuman aneh aja!"
"Jujur aja kali!" Kevin mulai beraksi dengan memposisikan badannya duduk dan menyosor pinsel di atas nakas. Setelah menyalakan senter ponsel ia berdiri dan membuka laci nakas mengambil lilin putih besar dan korek api. Setelah lilin di nyalakan susana sudah mulai membaik. Walau masih remang tapi lumayan bisa lihat face to face.
__ADS_1
Baru saja Kevin berbaring Yolan langsung memeluknya karena cahaya kikat yang ia lihat dari kaca jendela.
"Kenapa? Gak ada pe-" duarrrrrrrm
"Kamu peramal, tau aja mau ada petir!"
"Vin bisa gak aku tidur nya begini aja?"
"Aku sih gak masalah tapi tubuh ku tersiksa!" Ucap Kevin di akhir kalimat yang semakin memelan.
"Apa? Kamu ngomong apa?"
"Boleh!"
", Terimakasih.." Yolan menarik selimut hingga menyelimuti tubuh mereka posisinya kini sudah lumayan baik dia menaruh kepala di bagain dada atas kanan Kevin sebelah tangan memeluk tubuh kevin yang terlentang dan kaki kanan nya naik memeluk tubuh tepat bagian paha Kevin.
"Kakimu jangan gerak gerak Yol!"
"Gak ada mau rapiin posisinya saja vin!"
Jika kaki yolan bergerak sedikit lagi ke atas maka benda itu yang kemarin kena tendang maka..
Bahkan tubuh yolan bagian dada aja sudah menempel raoat di bagaian tubuhnya sentuhan Yolan dan hembusan yolan astaga. yolan lupa apa gimana? Kevin laki laki normal.
Gerakan kaki gita yang mulus tanpa kain itu dangat terasa di celana piyama Kevin untung saja piyama Kevin celana panjang hanya baju saja yang lengan pendek.
"Vin kalau aku udah tidur kamu bisa lepas tubuh aku ya kakau kamu risih!"
Hem kevin menghela nafas.
"Vin, kamu marah yah? Gini gini juga kan udah sah. Aju juga isteri kamu! Jadi jangan marah "
"Vin kamu dengar gak sih?"
"Kamu kapan tidur kalau ngomong Terus??"
"Okeh aku tidur ...
"Kalau marah juga gak ada gunanya kan? Kamu juga akan tetap seperti ini!"
"Jadi kesimpulannya kamu gak terima aku giniin?"
"Kamu pikir sendiri aja! Siapa orang yang malah senang jika di siksa begini?"
"Ha? Disiksa? Kamu ngaco deh! Orang orang juka adegan begini itu dinikmati! Katanya ya ini bantu kimisri dalam hubungan semakin baik. Jadi nikmati aja!"
"Kamu yang nikmati aku yang tersiksa."
Yolan membuka mata nya memutar kepala menatap ke atas. Sedikit mengimbangi badannya.
"Yol, kakimu!" Tapi Yolan tidak peduli ia semakin menaikkan tubuhnya hingga ia bisa menatap Kevin jelas dengan pancaran cahaya lilin.
"Kamu bilang aku nikmati? Aku sedang di uji Vin. Aku ketakutan, bukan main main!"
"Aku juga kau uji yol!"
"Apanya? Kecekik? Susah nafas? Badan aku berat? Atau aku peluk terlalu erat ya?"
Kevin menggeleng.
"Kaki mu lebih baik turun Yol!" Jangan samoai saudara Kevin bangun itu kena ule ules kaki mulus.
"Dingin, udah nyaman begini." Yolan menatap bawah. Namun petir kembali bergerumuh hingga ...
Bukkk ...
"Auuu..." Teriak kedua insan. Kening Yolan membentur Hidung seta bagian mulut kevin. Sama sama sakit namun Yolan tak peduli ia lebih memilih bersembunyi di keher kevin.
"Maaf Vin, aku benar benar tidak sengaja!"
__ADS_1
"Udah aku bilang tidur ya tidur makanya!"
"Ia ia."
"Posisi kamu. Ubah!"
",Ha... Tapi petir nya?"
"Udah habis.."
"Vin tapi aku masih takut.." ucao Yolan tanpa sadae mengelus leher itu menggunakan hidungnya.
Karena sedang bergerak lebih merapat.
"Yol, benaran seperti ini membuatku tak bisa bergerak!"
"Vinn.." ucap yolan manja sambik menggerakkan badannya.
"Yol.. please jangan sampai aku.." hela Kevin kasar.
"Aku juga pria dewasa yang normal Yolan.."
Mendengar kata kata itu Yolan meneguk ludah. Astaga benaran sangkiin takut dia tidak ada sedikit pun berpikir kesana.
"Jadi.."
"Jadi kepaskan pekukan kaki mu dan kepalamu dari leger." Nafas dan sentuhan leher disana membuat Kevin merasa panas di tengah kedinginan begini.
Pantasan bagian bawah tadi aku merasa ada sesuatu yang bengkak ternyata...
"Yol ... Lepaskan.." ucap Kevin. Tapi Sekali lagi Yolan menatap jendela yang menbuat cahaya kilat.
"Tapi petir nya Vin bekum selsai."
"Terserah, asalkan jangan bergerak! Jika ia. Jangan salahkan aku jika tak bisa menahan lagi!"
"Em.." ucao Yolan serius.
Kumohon jangan datang tiba tiba. Namun nihil karena menunggu membuat ia tak siap akan ketiba tibaaan itu. Membuat Yolan berteriak dan semakin bergerak dan bergesar merapat.
Dengan Gesit Kevin membalikkan tubuhnya kini ia menimpah tubuh Yolan.
"Sudah ku peringatan bukan?"
"Vin, vin, kumohon jangan gila! Aku takut sama petir nya. Jangan semakin menakutiku!"
"Jika aku biarkan akan bertahan juga sampai pagi aku gak bisa tidur. Lebih baik kita ganti suara petir jadi suara teriakan syahdu.."
"Vin vin vin..." Ucap Yolan saat sekita Kevin mendekat dan hap.. Kevin menyambar Bibir ranum itu.
Mmmppp karena syokk Yolan tak bisa melakukan apaoun dan hanya bisa brontak. Namun usaha gagal saat Kevin menekan tengguk itu. Dan memaksa yolan membuka mulut.
Setelah pintu akses masuk terbuka Kevin dengan lemuasa menjelajahi disana.
buk buk.. pukukan Yolan pada punggung Kevin menyuruh untuk berhenti. Melihat itu kevin melepas ******* itu.
"Hu hu hu ha......" Nafas yolan.
"Dasar bodoh! Makanya jangan nahan nafas kayak gak pernah ciuman aja!"
"Ka ka kamu gila memang benar benar gila!" Yolan memukuk lengan kanan Kevin yang menahan tubuh kekarnya.
"Kamu mau bunuh aku hah? Turun kamu!"
Pukulnya lagi.
"Sudah terlambat!" Kevin kembali melahap bibir itu ketika Yolan membuka mulut ingin bicara nanun terhenti.
To be continued 🌷
__ADS_1
Update nya ini duku ya kita sambung xet. again on