
Bukan sakit yang kurasa namun hati ini hanya rindu. Sudah berapa lama kita tidak berjumpa. Apa kau masih mengingatku?
Aku masih ingat betapa damainya jika bersamamu. Hidup yang sedih pasti terlihat bahagia. Gita
"Coba saja aku tidak memainkan piano itu pasti aku tidak merasakan perasaan seperti ini. Uh, perasaan ini sungguh mengganggu."
"Nyonya."
"Bibi... Sejak kapan bibi disini?" Mengagetkan Gita yang sedang duduk di taman belakang.
"Baru saja Nya." Sepertinya pelayan itu tidak mendengar perkataan Gita.
"Ada apa Bi?"
"Tuan muda sudah dalam perjalanan pulang Nyonya."
Gita melirik pergelangan tangannya.
Kenapa dia pulang secepatnya ini?
"Nyonya, Kalau begitu saya permisi."
"Hum, Terimakasih Bi infonya."
Pelayan tersebut segera berlalu.
Kini mobil hitam berhenti di halaman depan mansion. Segera pelayan itu membukakan pintu untuk Jasson.
Kali ini ada dua Insan yang keluar dari mobil itu. Laki laki Tampan bersetel jas nevy dan Gadis cantik dengan Gaun maron selutut.
Setelah mereka makan siang di apartemen mereka langsung meluncur kesini. Semua itu permintaan dari Yolan. Lagian juga tampa yolan minta Jasson juga pasti akan mengajak karena dia sudah Janji akan membawanya ke mansion.
Gadis cantik itu? Bukankah itu yang kemarin?
Jasson berjalan masuk di ikuti oleh Gadis cantik itu. Dengan kasar Jasson memberikan tas nya pada Gita yang masih bengong menatap wajah gadis cantik di depannya.
Gita tersadar dan langsung memeluk tas itu agar tidak terjatuh.
Sedangkan gadis dibelakang Jasson dengan santai berjalan sambil tersenyum ramah kepada semua pelayan yang ada disana termasuk kepada Gita.
Seperti nya dia tidak mengingat ku. Bahkan tatapan dan wajahnya masih sama dengan kemarin saat melihatku.
Setelah sadar dari lamunan Segera Gita menuju lantai atas untuk menyimpan tas yang ia pegang.
Kemana dia? Tatapan Gita mencari sosok jasson di setiap sisi ruangan.
Padahal saat ini Jasson sedang berada di kamar sang mama.
"Mama. Jasson pulang."
Wanita itu membuka matanya lemas karena masih merasa ngantuk.
"Jasson. Jam berapa sekarang bukankah ini masih siang?"
"Ia ma. Jasson pulang karena gak ada kerjaan lagi di kantor. Mama, lihatlah aku bawa seorang untuk mu."
"Siapa Jas?"
"Yolan ma. Mama masih ingat kan?"
"Yolan? Mana?"
"Yolan disini tante." Yolan memegang tangan Monik. Monika sampai tidak bisa melihat Yolan karna ia masih setengah sadar.
"Ah, kamu benaran Yolanda? Astaga kamu sangat cantik sayang."
Monik serasa sadar sepenuhnya setelah melihat wajah ceria itu.
"Tante juga sangat cantik. Sudah lama ya tan. Aku ikut sedih saat mendengar kabar tante. Cepat sembuh ya tan. Biar kita bisa jalan jalan seperti dulu lagi."
"Tante juga sangat rindu dunia luar sayang. Tante bosan di Mansion terus."
"Ma, Yolan, kalian lanjut ya, aku mau ke kamar dulu." Yolan menggaguk sambil tersenyum.
Ceklek pintu kamar terbuka terlihat Gita dengan santai memegang Handphone hingga tidak merasakan ada seorang yang telah membuka pintu tersebut.
"Berani sekali dirimu bersantai disini! Apa kau sudah merasa berada di istana?"
Karena terkejut handphone itu terjatuh ke lantai.
Terlihat jelas senyuman gita yang tadinya sangat bahagia sekarang langsung berubah jadi lemas dan tidak berekspresi.
"Sudah puas?"
Jasson mendekat ke arah sofa yang diduduki oleh Gita.
" Apa kau tidak lihat aku sudah pulang? Bukannya mencari ku, kau malah asyik bersantai santai disini."
__ADS_1
Sebenarnya Gita sudah mencari Jasson di ruang utama, ruang makan, taman belakang, dan semua ruangan yang ada di kamarnya tapi Jasson tidak ada. Gita tidak berpikir panjang dia langsung menyediakan permandian untuk Jasson bagaimana pun Jasson pasti akan segera mandi.Setelah ia selsai dari kamar mandi ia duduk di sofa empuk itu.
Gita membuka handphonenya disana ada photo Ayah dan bundanya tertera seketika Gita bahagia walau hanya melihat itu. Senyuman indah terukir disana, baru satu menit ia duduk Jasson tiba tiba mengagetkan nya dan malah bicara yang tidak jelas.
"Berdiri!" Gita berdiri sambil menunduk menatap handphone yang berada di dekat kakinya. Jujur saja jika seseorang memarahinya atau berteriak kejam padanya ia tidak bisa melawan, tubuh nya serasa terkunci rapat jika menerima perlakuan mendadak seperti itu.
"Apa seperti ini kerjaan mu saat aku tidak di mansion? Jangan bilang mulai dari tadi pagi kau tidak menjaga mama ku dan malah nyantai bagaikan seorang tuan putri disini!"
Gita menggeleng gelengankan kepalanya.
"Apa saja yang kau lakukan sedari tadi huh!"
"Tadi pagi saya mencuci piring setelah itu menjaga Nyonya lalu saya..."
"Hei apa kau kira aku percaya dengan omong kosong mu? Lihat lah dirimu ini penuh dengan sandiwara." Jasson mendorong sisi bahu Gita.
Gita menunduk. Bukan kah tadi dia yang bertanya?
"Jika aku bicara tatap mataku! Jangan malah mengumpat ku dalam hati mu!"
Gita menatap mata itu takut.
"Bukan kah aku pernah mengingatkan padamu. Kalau kau tidak lebih dari seorang pelayan? Apa kau tidak takut padaku? Apa kau perlu dikasari lebih keras lagi agar kau mengerti huh!!"
Jasson mencentilkan jari telunjuk di kening Gita hingga ia sedikit terdorong kebelakang.
"Bukakan sepatu ku!" Jasson malas menatap wajah itu dan segera duduk di atas sofa.
Jasson memperhatikan Gita yang bergetar membukakan sepatunya.
Hanya di bentak sedikit saja langsung bergetar seperti ini. Apalagi jika aku melakukan kekerasan fisik. Mungkin dia akan mati di tempat. Jasson membayangkan Dia menendang Gita dan menampar pipi itu.
"Wanita lemah!" Jasson beranjak dari duduknya dia sengaja menyenggol gita hingga Gita tersentak dari posisi sebelumnya.
Ah, kenapa Gita sangat cengeng. Untuk apa dia mengeluarkan air mata itu.
Gita menghapus air matanya dan beranjak untuk mengambil pakaian Jasson dan segera keluar dari kamar itu.
Gita berjalan linglung entahlah dia berjalan ke arah mana dia berpikir sampai kapan dia dikurung di ruangan besar ini.
Brukkk
"Sorry sorry saya tidak sengaja." Gadis itu terlihat pucat dan cemas dia berlari dan tidak melihat Gita yang berjalan asal hingga membuat Gita terjatuh.
"Maaf kan saya," ujarnya sambil membantu Gita berdiri. Gadis itu segera buru buru pergi setelah menolong Gita.
Apa terjadi sesuatu pada Monik? karena jelas itu jalan menuju kamar Monika. Dengan cepat Gita berlari masuk kamar itu.
Ceklek. Suara nafas Gita memburu.
Monika yang duduk memejamkan matanya sambil membaringkan punggung nya di kepala kasur tersentak dan membuka matanya.
"Mama tidak apa apa kan? Mama baik baik saja." Gita berlari dan langsung memegang tangan Monik.
"Kamu kenapa Sayang?" Monika heran melihat tingkah Gita.
"Jawab Gita ma! Mama tidak apa apakan?" Cemas Gita.
"Mama baik baik saja apa kamu tidak lihat? Mama tidak apa apa. Kamu kenapa Sayang? Kenapa cemas seperti itu?"
"Aku pikir mama terluka."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Hem, Gak tau ma tiba tiba aja Gita khawatir."
Gita sengaja tidak menyebutkan gadis cantik itu. Entah kenapa Gita malas membahas soal gadis itu pada mertuanya.
"Terimakasih Gita sudah khwatir sama mama. Mama senang kalau kamu peduli sama mama."
Monik terharu dan membeli wajah Gita lembut.
Aku juga tidak tau ma, kenapa Gita se kahwatir ini. Mungkin karena Monik menyayangi Gita seperti anak sendiri.
Tok tok tok
Tidak ada jawaban.
Tok tok tok
"Tuan ini saya."
"Masuk!"
Melihat wajah tajam itu suasana yang tadinya damai berubah jadi tegang.
"Kenapa masih berdiri disana? Kemari!!"
__ADS_1
Sedikit berlari Gitta mendekati Jasson yang duduk di atas ranjang sambil mengeringkan rambutnya.
"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan?"
Jasson melempar handuk itu ke arah Gita.
Gita masih bengong tidak mengerti akan tatapan Jasson yang menyeramkan bagi Gita.
"Kenapa masih diam? Lakukan tugas mu!"
Mungkin kah Gita mengeringkan rambut itu? Atau menyimpan Handuk itu?
Gita berbalik dan hendak menuju kamar mandi.
"Hei. Apa kau tuli?"
Apa maksudnya? Bukankah aku disuruh menyimpan ini? Iya kan?
"Keringkan rambut ku!!'
Gita berjalan pelan dia takut menyentuh kepala itu. Nanti kalau ia dihukum bagaimana? Bukankah peraturannya Pihak kedua tidak diperbolehkan menyentuh pihak pertama?
"Maaf tuan tapi, peraturannya saya tidak boleh menyentuh Anda."
"Apa kau bodoh? Atau otak mu ada di lutut?"
Jasson menatap Gita malas.
Jadi apa maksudnya?
"Cepat keringkan rambut ku dengan handuk itu tampa menyentuh rambut ku menggunakan tangan kosong. Apa sekarang kau mengerti?"
Gita memutar otaknya. Oh mungkin maksud Jasson kalau menyentuh itu artinya menyentuh mengunakan tangan polos. Sedangakan kalau menggunakan handuk bukan Gita yang menyentuh melainkan handuk. Itulah dipikiran Gita.
Gita mulai mengeringkan rambut itu dengan lembut supaya Jasson tidak merasa sakit.
Memijat mijat kepala itu dengan Handuk.
Nyaman itu lah yang dirasakan Jasson. Namun seketika Jasson tersadar dari kenyamanan itu.
"Hentikan! Bahkan mengeringkan rambut saja kau tidak bisa." Jasson menarik handuk itu kasar dan berlalu pergi.
Jelas jelas dia nyaman malah mengatakan kebalikannya dasar Jasson.
Jasson menuruni tangga dia menuju kamar Monika. Dibukanya pintu itu pelan Monik tidur tenang dan Yolan. Dia dimana?
"Hei kemarilah!" Teriak Jasson kepada ketua pelayan yang berdiri di ujung sana.
Dengan cepat Pelayan itu berlari , ada rasa takut dihatinya tapi dia mencoba tetap tenang.
"Apa kau melihat Yolanda?"
"Nona Yolanda sudah pergi sejak tadi Tuan."
"Pergi?"
"Benar Tuan, Tadi Nona Yolan sepertinya buru buru. Saya tidak tau kemana Tuan."
"Pergilah lanjutkan kerja mu!"
Jasson kembali ke kamarnya.
Ceklek pintu terbuka.
Gita baru saja keluar dari ruang pakaian untuk mengambil bajunya. Namun Jasson tidak mempedulikan nya dan langsung menyambar handphone nya yang ada di nakas itu.
Namun belum lagi ia mengetik nama di kontak itu pesan sudah muncul duluan.
Yolanda
Jasson maafkan aku. Aku pergi tampa menemui mu dulu. Soalnya aku terlalu panik dan tampa berpikir sebelum pergi.Tadi aku dapat telpon dari ketua rumah sakit. Terjadi bencana besar disana sehingga menyebabkan banyak korban jiwa. Aku tidak mungkin tinggal diam saja Jas. Aku harus membantu menyelamatkan mereka. Sekarang aku sudah di bandara, sebentar lagi pesawat ku akan terbang. Jaga dirimu baik baik, Sampai jumpa di lain waktu.
Seharusnya aku yang mengatakan jaga dirimu baik baik, Yolan. Kamu tidak berubah masih saja lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri.
Baru sehari Yolan di negara ini ia sudah langsung pulang ke negara tempat ia bekerja.
Jasson meletakkan handphonenya lalu pergi keluar kamar itu. Tampa ia perhatikan sejak tadi Gita masih mematung di depan pintu pakaian menatap Jasson.
Kenapa wajah nya terlihat sedih saat melihat Ponselnya? Kenapa Gita harus peduli? Untuk apa ia menanyakan itu.
"Apa gara gara kekasihnya pergi tampa pamit?" Tebak Gita asal. Karena saat gadis itu pergi Jasson sedang berada di kamar mandi.
"Aah sudahlah untuk apa aku menebak nebak." Gita segera masuk ke dalam kamar mandi.
....
To be continued
__ADS_1
π Jangan lupa like and komen ya guys π