
"Laki laki atau tidak? Maksud mama?"
"Mama berpikir saja, apa mungkin Jasson tertarik pada Lico. Mereka selalu bersama."
"Jelas dong ma mereka selalu bersama, karena Lico tangan kanan Jasson."
"Tetap saja. Mama tidak yakin. Jadi tolong bantu mama sayang. Oke!!"
"Gita akan coba ma." Ucap Gita lemas.
"Mama senang mendengarnya."
Kini Gita tengah menaiki anak tangga dengan bermalas malasan.
" Apa aku bisa? Bagaimana caranya?"
Tok tok tok.
Tidak ada jawaban.
Apa dia sudah tidur? Gita membuka pintu itu pelan. Dan benar saja Jasson sudah terbaring dan mebelakangi arah pintu itu. Gita menutup pintu pelan. Berjalan mendekat melihat Jasson, benar sudah tidur atau tidak dan ternyata sudah. Gita segera berjalan ke arah sofa terlihat jelas dari sana wajah Jasson yang damai. Tidak ada wajah menyeramkan disana.
Andai saja wajah itu seperti itu tiap detiknya. Mungkin aku tidak akan khawatir berada di dekatnya. Gita merebahkan badannya dia berbaring sambil menatap lurus pria yang jauh disana.
....
Pagi pun tiba seperti biasa Gita bagun lebih dulu. Dia segera membersihkan diri di kamar mandi. Setelah selesai dia langsung mengeringkan rambut itu. Kini Jasson sudah bangun tampa melihat sekeliling dia langsung memasuki kamar mandi itu.
"Apa yang harus ku lakukan? Aku mulai dari mana?" Seketika Gita mengingat percakapannya dengan Monik.
Gita melangkahkan kakinya menuju kasur dengan cepat ia merapikan tempat tidur itu.
Setelah selesai Gita menuju ruang pakaian, meletakkan pakaian di atas kasur.
Dia berjalan menuju jendela kaca yang masih tertutup oleh gorden segera ia membukanya.
Aneh sekali kenapa Gita tidak keluar kamar? Bukankah kalau Jasson sedang di kamar mandi Gita tidak boleh berada disana?
Gita dengan santainya merapikan ruang kerja Jasson.
Entah apa yang dipikirkan nya saat ini.
Ceklek pintu kamar mandi itu terbuka Jasson melangkahkan kakinya menuju kasur dengan handuk melilit di pinggang.
Gita menatap punggung jasson yang menuju ke arah kasur itu.
"Ekhemm" Gita sengaja berdehem agar jasson tidak menganti pakaiannya di dalam kamar itu.
Jasson segera berbalik badan saat mendengar deheman tiba tiba.
"Hei apa kau gila? " Ucap Jasson menatap Gita yang memegang kemoceng di tangganya.
"Maaf tuan, aku sedang membersihkan ruangan anda." Ucap Gita sambil melanjutkan aktivitasnya dan mengabaikan tatapan Jasson.
"Hei, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak bisa tidak membuat masalah?"
Maafkan aku. Aku terpaksa!
"Tidak Tuan, aku hanya merapikan ruangan anda aku tidak berniat untuk yang lainnya."
"Berani sekali kau menjawab?" Jasson segera menyambar pakaian yang terletak disana dia segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Huu, untung saja ia langsung pergi." Gita mengusap dadanya merasa aman.
"Apa aku kabur saja? Jangan sampai dia marah." Gita hendak melangkah namun niat itu diurungkan.
"Ah, tidak tidak. Aku belum melakukan sesuatu. Aku tidak boleh jadi pengecut." Gita berjalan ke arah sofa dia sedikit merapikan posisi sofa itu.
Tak lama Jasson keluar menggunakan kemeja putih menambah ketampanan seorang Jasson saja apalagi rambut itu masih sedikit berantakan.
Gita melangkah mendekat saat Jasson tengah memasuki ruang rias terlihat Jasson sedang menaikkan kerah baju untuk memasang dasinya.
"Tuan.." Gita mendekat.
"Jangan menggagu ku!!" Ucap Jasson ketus tanpa menatap Gita.
"Tuan kumohon jangan marah!" Gita sedikit menggeser badan Jasson agar memandangnya. Dengan cepat Gita berjinjit dan membantu memasang dasi itu.
"Apa yang kau lakukan." Ucap Jasson namun dia tidak menolak dan hanya diam pada posisinya.
"Sudah!!" Ucap Gita kini kaki berjinjit sudah rata.
Jasson menatap diri di cermin lalu menatap Gita.
"Tuan, saya tidak menyentuh anda saya menyentuh dasi saja. Dan maaf tadi aku sedikit menyentuh lengan untuk bergeser." Ucap Gita menunduk.
Entahlah kenapa bisa Jasson menarik sudut bibir itu keatas namun ketika Gita mengangkat wajahnya dengan cepat Jasson bersikap datar.
"Tidak terlalu buruk, sepertinya tugas mu bertambah!" Ucap Jasson sambil beralih mendekat meja rias.
"Kemari!"
Jasson duduk di kursi kecil itu.
"Sekalian rambut ku!!" Ucapnya datar.
__ADS_1
Gita sedikit tersenyum ia mengeringkan rambut itu dan merapikannya sebagus mungkin.
"Ambilkan Sepatu ku!"
Gita dengan cepat mengambil sepatu Jasson ia berjongkok untuk mengenakan sepatu itu di kaki jasson.
"Sekalian Jas ku,"yani
iapnya lagi.
Gita mengambil jas itu ia juga sekalian mengambil tas kerja Jasson agar tidak mondar mandir.
Jasson berdiri dan segera keluar dari kamar itu dan diikuti oleh Gita.
"Tuan ini sarapan anda." Ucap Gita tersenyum.
"Duduklah!" Ucap Jasson.
"Heh." Gita tidak mengerti.
"Makanlah. Jangan sampai kau pingsan dan menyusahkan ku!" Ucap Jasson sembari memasukkan makanan di mulut.
"Apa anda bercanda?" Ucap Gita sambil memandangi makanan enak di hadapannya.
" Hitungan ketiga. 1, 2." Gita dengan cepat duduk di samping Jasson. Mengambil makanan yang ia sukai.
Acara makan akhirnya selesai tampa ada pembicaraan.
Jasson melangkah menuju pintu depan Mansion yang diikuti oleh Gita.
Jasson mengulurkan tangannya meminta tas itu namun aneh nya bukan tas yang ia dapat namun tangan mungil gita.
Gita segera menyalim tangan itu dan mencium nya dengan cepat gita memberi tas itu dan melangkah sedikit mundur.
Terlihat jelas saat ini Gita takut setengah mati. Berani sekali dia melakukan itu.
Saat ini Jasson masih mematung dan tangganya masih pada posisi bergelantung. Dia menatap tajam gita tercengang.
Dia seolah meminta penjelasan!
"Apa yang kau lakukan!" Kata Jasson sudah menurunkan tangannya dan kembali bersikap normal.
"Maaf tuan tadi aku." Apa yang telah kulakukan astaga aku tidak percaya.
"Apa? Kau jelas jelas sudah melanggar aturan!"
"Maaf tuan tadi aku melihat papa Janes lewat. Aku hanya menunjukkan bahwa tidak ada masalah diantara hubungan ini."
"Benarkah?" Ucap Jasson sambil melangkah mendekat ke arah Gita.
"Kenapa kau berbohong. Kalau pun kau berbohong jelas lah sedikit! " Jasson mengatakan pelan tepat pada telinga Gita.
Jasson menegakkan badannya.
Dan segera memasuki mobil yang sudah terparkir sedari tadi disana.
"Dimana Papa Janes?" Ucap Gita pada penjaga pintu setelah mobil Jasson sudah berlalu.
"Tuan Janes sudah pergi beberapa jam yang lalu Nyonya!"
"Beberapa jam yang lalu?" Yang benar saja Gita sangat malu mengatakan kalimat tadi pada Jasson.
Gita berlalu sambil mengerutuki kebodohannya.
...
"Tuan apa anda sudah baca map kemarin?"
Ucap Lico yang tengah berdiri disamping Kursi kebesaran Jasson.
"Apa kau tidak salah informasi?"
Jasson melipat kedua tangganya dan menopang dagunya.
"Saya sudah memeriksa semuanya Tuan. Dan semua data itu benar."
" Hebat juga. Aku pikir dia pria biasa. Yang pasti kau harus mengawasi Wanita itu jangan sampai dia melakukan tindakan aneh."
"Maksud tuan, Nyonya Brigitta?" Jasson menatap Lico.
"Baik Tuan, saya mengerti."
Apa Tuan Jasson sudah mulai menyukai Nyonya Brigitta? Kenapa tingkah nya aneh sekali.
…
"Apa tadi kau sudah menjalankan tugasmu Gita?" Tanya monik yang memperhatikan Gita menyiram tanaman.
Gita berhenti dan mendekat pada Monik.
"Tadi Gita sudah mencoba sedikit ma." ucap gita pelan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Memasang dasi, merapikan rambut, dan mencium tangan Jasson saat berangkat kerja." Monika mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Bukankah Hal ini sudah biasa?"Sekarang Gita yang mengerutkan kening.
"Tidak ma, Gita baru pertama kali melakukan ini."
Monik berdeciss.
" Apa seburuk itu hubungan kalian?"
Gita hanya diam.
"Hem, baiklah mama mengerti, tapi lumayan ada peningkatan. Nanti siang pergilah ke kantor Jasson siapkan bekal untuk nya!"
"Ke kantornya? Tapi ma Gita."
"Mama yang menyuruh mu."
"Baik ma!"
...
Gita sekarang sudah berada di depan Gedung yang sangat besar.
"Apa nanti dia akan marah?" Gita melangkah kan kaki nya masuk. Kali ini dia masuk dengan aman. Karena penjaga itu sudah mengenal Gita.
Tok tok tok
Lico berjalan membuka pintu.
"Nyonya anda ngapain kesini?" ucap Lico yang benar benar tidak tau kalau Gita akan datang.
" Aku ingin memberikan bekal untuk suamiku." katanya pelan menerobos pintu.
Suami? jarang sekali.
Terlihat dari kejauhan Jasson masih asik dengan Laptopnya. Gita melangkah mendekat.
"Siapa co?" Tanya Jasson masih asik dengan benda di hadapannya.
"Tuan ini saya.."
Merasa suara aneh Jasson langsung menghentikan aktivitasnya.
Jasson menatap Gita dan juga Lico yang baru saja melangkah mendekat.
"Saya membawakan bekal untuk anda Tuan." ucap Gita sambil mengangkat benda yang ada ditangannya.
"Apa aku memintanya? Apa kau mulai lagi? Apa kau ingin melihat ku marah!"
Saat ini Gita sudah bergetar takut kakinya seolah tidak mampu berdiri.
"Kenapa kau keluar mansion? Apa kau sudah Izin denganku?"
Gita menggeleng.
"Ini perintah Nyonya besar tuan."
" Jangan berbohong. Apa kau sengaja? apa mungkin kau ingin bermain nanti diluar sana? jadi kau berpura pura untuk datang kesini setelah itu di tengah jalan kau menemui kekasihmu?"
Gita membulatkan matanya.
Kekasih? kenapa dia berpikir seperti itu.
"Aku jujur tuan. Kalau tuan tidak percaya anda bisa menelpon Nyonya. Aku juga datang bersama supir pribadi."
"Apa kau memerintah ku? Kau berani?"
"Maaf. Maaf Tuan." Gita menunduk.
"Pulanglah!!"
Gita hendak menaruh bekal itu di meja Jasson.
"Jangan tinggalkan itu. Bawa pulang juga!"
Apa dia sekejam itu aku sudah berusaha memasak khusus untuknya. Apa mungkin aku membawa nya pulang?
"Kenapa masih disini?"
"Baik, saya akan pergi Tuan."
Gita menatap Lico dia berpikir sejenak.
"Tuan Lico.."
Lico menaikkan kedua alisnya.
"Ini untuk anda, tadi saya memasaknya susah payah. Tidak mungkin saya membawa ini pulang." Ucap Gita sedikit menguatkan suara agar Jasson mendengar.
"Tolong jangan menolaknya. Hargai usaha saya!" Gita segera cepat keluar dia tidak mau jika Jasson memarahinya karena kata kata itu sedikit menyindir.
Nyonya berani sekali berkata seperti iyu di depan Tuan Jasson.
Dan benar saja saat ini Jasson menatap Lico tajam.
"Apa kau akan memakannya?"
__ADS_1
Lico mati kutu akibat tatapan Jasson yang aneh.
To be continued