
Ting.
Suara ponsel Gita berbunyi tanda pesan masuk.
Lico
Nyonya, Tuan muda sudah menunggu anda di mobil.
"Vin, Aku balik duluan ya!" Ucap Gita sambil meletakkan gelas bekas sirup yang dia minum di atas meja di depannya.
"Kok tiba tiba? Ini baru setengah acara Bi."
"Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan sekarang Vin." Gita memasukkan ponsel kedalam tas dan hendak berdiri.
"Aku akan mengantarmu!" Kevin ikut berdiri dari kursi yang di balut kain putih itu.
"Tapi aku udah di jemput Vin. Lagian pestanya juga belum selsai. Kamu nikmati saja, aku tidak mau merepotkan mu."
" Merepotkan?? Sejak kapan kamu berpikir jika kamu merepotkan ku?" Kevin mengerutkan dahinya.
" A-aku. Mungkin karena aku sudah biasa melakukan semuanya sendiri Vin, apalagi kita sudah lama tidak bertemu. Kalau begitu aku pamit duluan ya. Terimakasih sudah menemaniku dan mendengarkan curhatan ku." Gita segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari kevin.
Bahkan dia berterima kasih? Bukankah sudah biasa ia bercerita kepadaku?
Kevin menatap kepergian Gita, dia ingin sekali mengejar tapi kata kata Gita sepertinya tidak bisa dihiraukan.
Setelah keluar dari Gedung itu Brigitta berlari menuju parkiran dan dengan cepat membuka pintu mobil.
"Maaf Tuan Anda menunggu lama." kata Gita masih berdiri di dekat pintu.
"Masuk!!" ucap jasson ketus namun matanya masih fokus pada layar ponselnya.
Dengan cepat Gita masuk dan menutup pintu itu.
"Lico. Keluar lah Aku ingin bicara dengan Wanita ini!!" Jasson sedikit melirik Gita dengan tatapan mengerikan.
Untuk apa dia menyuruhnya turun. Apa yang akan dia perbuat padaku?
Jasson membuka Jasnya dan meletakkannya di samping tempat dia duduk.
" Bagaimana, Apa menyenangkan?"
Jasson melipat lengan kemeja yang agak kendor.
Kenapa? untuk apa dia menanyakan pertanyaan ini?
"Hei apa kau tuli?" Kini Jasson menatap Gita tajam.
"Menyenangkan Tuan." Gita menelan salivanya sambil menunduk.
"Menyenangkan? Apanya yang menyenangkan? Pesta atau pelukannya?" Jasson tersenyum. Senyuman kali ini bukan senyum bahagia tapi seperti senyuman membunuh.
Gita mengangkat kepalanya menatap jasson. Dia terkejut akan peryataan yang dilontarkan padanya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Bukankah tadi kau melihat ku disana? "
Gita memutar matanya ke samping ia tidak tahan menatap Jasson yang begitu menyeramkan di mata Gita.
"Apa kau Puas dan merasa bahagia setelah di peluk laki laki? Bahkan kau merasa tenang saat di peluk! Apa kau lupa? Kau sudah menikah!!"
__ADS_1
Jasson menekan kata menikah entah apa maksudnya.
"Beraninya kau berpelukan dengan laki laki lain di depan mataku! Baru berdandan seperti ini saja Kau sudah tebar tebar pesona pada Laki laki lain. Dasar wanita tak tau malu."
Jasson mendorong dahi Gita menggunakan jari telunjuk.
" Bukankah tadi aku mengingatkan mu supaya tidak membuat masalah? Tapi sekarang kau membuat masalah lagi. Dan itu di depan mataku. Kau benar benar sudah Gila!"
"Maafkan saya Tuan. Tadi.."
"Siapa yang menyuruh mu bicara!!! Jangan sampai aku benar benar memukul mu sekarang!"
Gita menunduk lagi.
"Ingat!! sekarang kau sudah menikah. Jangan berulah di belakang ku. Jika pria tadi kekasihmu segera tinggalkan! Tidak ada orang yang sudah menikah malah berpacaran dengan laki laki lain. Sekarang Hidup mu aku yang mengatur jadi jangan sampai aku melihat mu lagi berpelukan dengan laki laki lain. Jangan membuat rumor beredar. Sudah banyak orang yang mengenalmu! " Gita hanya menganggukkan kepalanya.
Jasson mengetuk jendela kaca dua kali. Lico segera masuk dan melajukan mobil keluar dari area tempat pernikahan itu.
....
Kini Gita duduk di sofa. Dia sudah selsai membersihkan dirinya beberapa menit lalu setelah Jasson selesai.
"Tidur duluan. Aku masih banyak pekerjaan!" Ucap Jasson dari ruang kerjanya yang berhadapan langsung dengan Sofa ruang utama kamar itu.
Gita menatap Jasson yang masih asyik dengan laptopnya.
Kenapa Dia? Apa dia kesambet? Tumben sekali dia menyuruh ku Tidur duluan. Padahal jam masih menunjukkan pukul 21.05 saat ini.
"Kenapa? Apa kau tidak ingin tidur? Oh, apa kau mau tidur di balkon atau di teras mansion?"
Jasson masih fokus pada laptop nya, sedari tadi dia sesekali menatap Gita yang terus menguap dan mengusap matanya.
Baru saja Gita merebahkan tubuhnya di sofa Namun Ponsel yang ada di meja tepat disampingnya nya berdering.
Sontak mata Gita membulat sempurna saat melihat nama kontak yang memanggilnya.
Kevin
Tadi saat di pesta Kevin dan Gita bertukar nomor Hp karena No yang dulu sudah benar benar hilang saat kevin sudah pergi. Benar benar tidak ada komunikasi diantara mereka selama 5 tahun lebih.
Untuk apa Kevin meneleponku?"
Gita menatap ponsel itu.
ponsel itu berdering kembali.
"Apa kau sudah Gila!! Kenapa ribut sekali? Bukankah itu suara Handphone mu." Jasson menghentikan aktivitas sebentar dan menatap Gita.
" Kalau tidak mau angkat matikan saja. Berisik! kau sangat menggagu." Jasson kembali pada Laptopnya.
Ponsel itu berdering kembali. Dengan cepat Gita mengangkatnya dan berlari menuju balkon kamar itu. Dia menutup pintu kaca itu supaya Jasson tidak mendengar.
"Halo."
"Kenapa lama sekali? Apa kamu sudah tidur Bi?
tidak mungkin kan ini masih jam sembilan."
"Tidak, tadi aku hanya ada pekerjaan. Kamu menelpon ku untuk apa Vin?"
__ADS_1
"Ketus sekali, bahkan kamu belum menanyakan keadaanku."
"Aku masih ada pekerjaan Vin. Bisahkah lebih cepat sedikit?" Gita merasa khawatir jika Jasson datang, dia terus melirik pintu kaca itu.
"Hem, sepertinya Brigitta sekarang sudah sukses dan melupakan Kevin."
"Vin, tolong katakanlah apa yang ingin kamu sampaikan!"
"Apa besok kamu ada waktu? Aku ingin mengajak mu jalan jalan. Sudah lama kan kita tidak jalan berdua?"
"Maafkan aku Vin? sepertinya besok aku tidak Bisa."
"Kenapa? Kalau kamu besok kerja, aku akan menjemputmu setelah pulang."
"Bukan itu masalahnya. Tapi aku.."
"Kenapa? Gita, apa masih ada masalah yang belum kamu ceritakan? Kenapa Mulai dari awal suara mu seperti orang yang ketakutan. Apa terjadi sesuatu padamu?
"Tidak, aku baik baik saja Vin. Kalau Gitu aku tutup ya." Gita langsung memutuskan sambungan telepon nya.
" Maafkan aku Vin, sebenarnya aku ingin sekali jalan bersamamu. Tapi sekarang kondisinya sudah berbeda. Aku bukanlah Brigitta mu lagi." Ucap Gita pelan sambil menatap ponselnya.
"Kenapa Gita berubah seperti ini? Bukankah dia yang paling heboh kalau diajak jalan jalan? Apa yang dia rahasiakan dariku? Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku."
Tidak mungkin Gita berubah drastis jika tidak ada penyebabnya. Pikir Kevin.
"Siapa yang menelpon? Kenapa harus pergi ke balkon untuk menggakat nya? Bahkan kau menutup pintunya."
"Aku takut mengganggu ketenangan Anda Tuan."
"Benarkah? Apa jangan jangan Laki laki yang tadi di pesta menelpon mu?"
Gita terdiam. Dia takut kalau ia berbohong pasti akan ketahuan juga. lebih baik Dia diam saja.
"Tidurlah..
Sebelum aku berubah pikiran." Ucap Jasson. Entahlah hari ini dia merasa sangat malas untuk berdebat.
Dengan cepat Gita membaringkan tubuhnya di atas sofa dan menutup tubuhnya menggunakan selimut sampai Mengenai lehernya.
Tumben sekali dia tidak memperpanjang masalah.
Gita menutup matanya dan langsung terlelap.
Pagi nya Brigitta bangun dia langsung kaget setengah sadar saat mendapati kasur Jasson yang kosong.
Dia menatap Ruang kerja dan Nihil Jasson tidak ada. Gita menatap Jam yang ada di nakas.
"Masih jam 05.00. Dimana dia? Astaga kenapa dia selalu membuatku merasa khwatir seperti ini. Bagaimana jika ia akan melukai ku?"
Ceklek pintu kamar terbuka. Gita menatap ke arah pintu yang baru saja terbuka.
menampilkan sosok pria tampan yang sangat cool dengan body atletisnya yang membuat semua mata langsung tercuci bersih.
"Kenapa? Apa yang kau lihat? Apa kau terpesona?"
To be continued
Bonus satu bab🥰
__ADS_1
🍁 Jangan lupa like and komen ya guys 🍁