
Monika dan Janes saling pandang.
Mencoba bicara menggunakan kata isyarat.
"Sepertinya mereka sudah akrab." Menggoyangkan tanggannya.
"Mereka romantis sekali." Jawab monik pelan.
Apa dia, mencoba merayu kakak! Lihat, kakak pasti akan marah sebentar lagi!
"Aku roti dengan selai nenas sayang." Ucap Jasson dengan mudah.
Krang! gelas dalam pikiran Morisa sudah pecah. Apa apaan kak Jesson juga memanggil sayang.
Tentunya bukan hanya Morisa yang terkejut bahkan penghuni yang ada disana.
Dia membuat Gita gugup terlihat jelas saat ini Gita salah tingkah dan malu apalagi di depan martuanya.
Gita meletakkan roti itu dan duduk kembali pada kursinya.
Sarapan berlanjut tanpa ada suara sebagian bahagia dan diantaranya ada yang merasa tidak terima.
..
"Panggilan mu manis juga." Ucap Jasson yang kini berdiri di halaman depan.
Gita hanya tersenyum, dan menyalim tangan Jasson.
"Semoga hari mu menyenangkan." Ucap Gita tersenyum.
Jasaon menatap dari setiap sisi wajah itu.
"Jaga dirimu, dan jangan sampai kau kedapatan berdekatan dengan pria lain." Jasaon mengelus rambut itu dengan lembut yang membuat Gita terdiam beberapa saat.
Apa dia sakit. Sontak tangan Gita menyentuh kening dan pipih Jasson.
"Kamu baik baik saja kan?" Tanya Gita.
Jaaaon hanya memanggut.
"Kenapa tidak masuk sayang?" Gita menatap ke belakang Jasson, yang sudah jelas ada dua mobil yang berjejer.
"Aku akan masuk." Ucap Jasson dan segera melangkah menuju mobilnya.
Begitu juga denngan Gita berjalan menuju mobil belakang, sedikit tersenyum dan menutup pintu mobil itu.
..
"Sepertinya anda sangat bahagia Tuan." Ucap Lico yang melihat Jasson yang tengah duduk di kursi kebesarannya sambil tersenyum.
Tumben sekali pria itu menampakan wajah seperti itu.
"Apa itu salah?" Tanya Jasson menatap Lico.
"Tidak, hanya sedikit aneh saja." Seperti ada sesuatu yang kesanbet pikir Lico.
"Tidak ada yang aneh, lanjutkan tugasmu dan jangan bicara sembarang."
Apanya yang sembarangan sih?
Lico pamit dengan sopan.
" Wanita itu pasti sudah gila! Kenapa wajahnya selalu terlintas dimana mana." Jasson memegang sedikit kepalanya.
Namun tak bisa, dia akan selalu tersenyum. Mengingat tingkah laku Gita yang lucu.
..
"Gi, bagaimana dengan laporanmu! Apa sudah kau periksa?" Jeni dengan cepat menghampiri Gita.
"Sudah! Kamu tenang saja, ini aku ingin memberikan nya pada Pak Fandi."
"Semangat!" Ucap Jeni menggepal tangan.
Gita hanya tersenyum menggoyangkan kepalanya dan lanjut melangkah menuju ruangan Efendi.
"Selamat siang Pak. " Sapa Gita yang dibalas lembut Oleh Efendi.
"Ini laporan yang bapak inginkan."
"Terimakasih."
"Kalau begitu saya permisi Pak!"
"Tunggu,"Menghentikan langkah Gita.
"Ya Pak?"
"Kau sudah makan siang?"
"Belum, ini saya akan pergi bersama Jeni."
"Sayang sekali, padahal aku memesan dua bungkus makanan." Sesal Fendi sebal.
Gita hanya tersenyum dan berlalu tanpa menghiraukan kejadian yang terjadi.
"Untung aku cepat keluar, jika tidak akan ada masalah!" Melangkah menuju ruangannya.
Menurut gita masalah itu adalah membiarkan edendi berharap padanya. Dia tidak ingin itu terjadi.
..
" Tuan Nyonya Kecelakaan, sekarang nyonya berada di Rumah sakit J."
"Apa? Kenapa Bisa!!" Berdiri dan merasa syokk. Segera mematikan ponsel. Dan berlari keluar.
"Tuan anda mau kemana?"
"Antar aku ke rumah sakit J sekarang!!"
Butiran air itu tetap saja terjatuh walau sudah ia tahan.
"Apa yang terjadi Tuan?" Ucap asisten itu berhati hati.
Namun tak ada respon. Terlihat jelas pria Paru baya itu sangat khawatir.
__ADS_1
"Kamu harus kuat sayang, kamu tidak boleh kenapa napa! Aku tidak ingin kehilanganmu!" Menatap wajah cantik dalam sebuah foto di ponsel.
Dreeet..
"Halo Vin.." mencoba tidak terisak.
" Mama kecelakaan, pa?" Tanya nya, karena mendapat info dari sang asisten mama."
"Pa, kenapa diam saja! Mama tidak kenapa napa kan?" Suara sedikit gemetar.
"Papa tidak tau Vin, papa juga sedang dalam perjalanan kesana." mencoba suara biasa yang tengah di atur.
"Pa, kevin akan pulang! Aku juga ingin lihat kondisi mama."
"Apa kau yakin, tugas mu belum selsai disana Vin!"
"Tidak, ini tidak penting dari mama! Aku segera pulang Pa!" Mematikan ponsel, dia tidak ingin mendengarkan ocehan dari Aditya.
"Bagaimana dengan isteri saya?" Tanya Aditya kepada perawat yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat.
" Pasien atas nama Gresya akan segera menjalankan operasi Tuan, Kondisi pasien saat ini sangat kritis.
"Isteri saya akan selamat kan?"
"Saya tidak bisa memutuskan itu tuan, saya hanya seorang perawat. Yang membantu seorang dokter untuk menjalankan operasi."
"Dimana dokternya?"
"Dokter sebentar lagi akan keluar menemui keluarga!" Suster tersebut permisi dan berlalu pergi.
"Kenapa bisa seperti ini?" Tidak bisa bohong lagi, Aditya memang sangat frustasi.
"Keluarga dari Ibu Gresya!" Panggil seorang dokter.
Aditya yang sedang menelpon langsung mematikan dan berjalan cepat ke arah Dokter itu.
"Bagaimana dengan keaadann isteri saya?"
"Mari ikut saya Tuan, kita akan bicara diruangan saya." Ucapnya sambil menuntun jalan.
...
"Tolong lakukan yang terbaik dok." Ucapnya setelah mendengarkan banyak penuturan dari sang dokter.
"Kami akan berusaha Tuan." Ucapnya dan segera Aditya keluar. Mendengar penjelasan tadi dia tidak mampu berkata kata setelah kelauar dari sana.
Apa Gresya bisa selamat?
Kata kata itu selalu terbayang si benaknya.
Dia ingin sekali melarikan Gresya ke rumah sakit miliknya, namun melihat kondisi isterinya harus segera mendapat penagangan khusus dia tidak bisa beebuat selain meminta pertolongan pada yang maha kuasa.
Ruangan itu terbuka, beberapa perawat dan juga dokter keluar sambil mendorong branker itu. Aditya berjalan mendekat.
"Gres..." Teriaknya mendekat.
Menatap wajah yang penuh luka dan sebagian di perban. Sungguh sangat kacau.
"Gres, sayang..
Kamu harus kuat. Kamu harus bertahan. Kamu bisa gres.
Branker yang terdorong memasuki ruang operasa. Aditya mencium tangan itu dan terlepas. Pintu tertutup.
"Anda tidak boleh masuk.
Berdoalah untuk keselamatan isteri bapak."
Kenapa harus kamu yang merasakan ini. Biarkan saja aku yang ada disana. Aku tidak sanggup melihat mu dalam kondisi seperti itu. Aditya terjatuh memegang kepala yang sungguh sangat sakit.
"Aku mohon padaMu Tuhan, tolong selamatkan isteri ku." Menangis dan merasa tak berdaya itulah yang dirasakan aditya. Mencoba berdiri berjalan dan duduk di kursi tunggu.
Terus berdoa dan tak segan segan menangis.
Sudah lebih dari 6 Jam namun belum ada tanda tanda operasi berhasil.
Sedari tadi perawat hanya keluar masuk untuk mengambil obat dan berganti tugas .
Dan disaat itulah Aditya terus menanyakan isteri yang selalu di jawab masih dalam proses.
"Pa!!" Teriak Kevin berlari mendekat pada Aditya.
"Bagaimana dengan Mama, mama selamat kan Pa?"
"Mama masih dalam ruang Operasi Vin."
"Mama.." Kevin berjalan mendekat ke arah pintu, ingin sekali ia melihat keadaan Gresya saat ini. Namun tidak bisa terlihat. Apalagi penjaga ruang Operasi sangat ketat.
Terisak, baru kali ini ia benar benar merasa kehilangan sosok ibu, sangat cemas. dan sangat khawatir.
"Mama harus kuat okey? Kemarin kita baru ketemu. mama menciumku saat keberangkatan ku! mama bilang jaga diri baik baik. Ayo ma. berjuanglah!" Kevin terus menatap pintu operasi itu.
Aditya mendekat. meletakkan tangannya di bahu Kevin.
"Kamu harus percaya, mama orang yang kuat!"
"Pa." menatap Aditya, sungguh sulit menahan air yang sudah di bendung.
Aditya segera memeluknya.
"Pa, aku takut, jika mama kenapa napa bagaimana? Aku gak bisa hidup tanpa mama!"
"kamu tidak boleh bicara seperti itu! Mama pasti akan selamat."
melepaskan pelukannya.
"Kamu pasti lelah, istirahatlah dulu!"
"Aku tidak lelah, seharusnya papa, sedari tadi papa disini. Papa Istirahatlah, nanti jika ada berita terbaru. Kevin akan beri tahu."
"Baiklah, papa juga ingin berdoa. Kamu jaga mama. Papa pergi dulu."
menggaguk setuju.
Kevin duduk sebentar namun tak tenang berdiri dan sesekali mendekat ke arah pintu, ah, dia seperti orang linglung.
__ADS_1
"Tuhan, tolonglah!"
"Pintu terbuka lagi, Kini bukan sosok suster melainkan Dokter yang menggunakan maskernya.
"Keluarga Dari Ibu Gresya?" tanyanya.
Kevin segera berlari mendekat.
"Apa kamu anaknya?" Tanya dokter itu menyipitkan matanya.
"Ya, dok. Bagaimana dengan Mama saya?"
"Operasi berhasil. Ini sebuah Mujizat. Tadi detak jantungnya sempat tak berdetak lagi. Namun keajaiban itu terjadi pada Ibu anda. Sungguh Tuhan itu sangat Dahsyat!"
"Terimakasih God,
Terimakasih dok." Ucap nya terharu hingga meneteskan air mata.
"Tapi.." Kata kata ini sungguh membuat hati Kevin teriris.
"Pasien mengalami Koma. Tapi kamu tenang saja. Ini hanya efek dari operasi."
"Apa ini akan lama Dok?"
"Sepertinya tidak. Ibu anda sungguh berjuang keras."
Kevin sedikit tersenyum. Merasa semua baik. kekawatira nya sirnah begitu saja.
"Apa saya bisa melihat Mama saya?"
"Di dalam belum selsai. Kami akan pindahkan ke ruang rawat. Disana kamu boleh menjenguk nya." Dokter tersebut segera ingin pergi.
"Dokter terimakasih banyak. Saya tidak tau lagi Jika anda tidak membantu."
"Sudah jadi kewajiban kami!" ucapnya berbalik menatap Kevin. Kevin sempat menatap Tag name, segera dokter itu berlalu.
"Yolanda. Semoga kau selalu diberkati." Senyum Kevin dan beranjak mencari Aditya.
" Halo Pa, papa ada dimana?"
" Sedang di jalan. Papa sudah dekat, ada apa? apa sudah ada perkembangan?"
"Pa, Operasi nya berhasil! Mama selamat."
"Puji Tuhan. Papa senang mendengarnya."
telpon terputus.
"Tuan, Ibu Gresya sudah di pindahkan ke kamar no 23. Mari saya antar." ajak perawat itu.
Kevin mengunakannya dan mengikuti dari arah belakang.
"Kamu?" Tanya Biggung Kevin melihat seorang yang tak asing.
"Ibu kamu sudah lebih baik sekarang." Ucap Yolan. memeriksa alat pembantu pernapasan.
Kevin menatap aneh, melihat tag name.
Jadi dia dokter yang menyelamatkan Mama ku.
"Sepertinya kamu terkejut, Kenapa?"
"Tidak, kita pernah bertemu sebelumnya kan?"
"Ya, kamu menyelamatkan ku dulu." Senyum Yolan.
Kevin hanya memanggut dan tidak tau mau bilang apa lagi. dia mendekat ke arah Gresya, menatap intens mamanya.
"Ma, Kevin ada disini. Cepat bangun ya!"
mengelus rambut itu pelan.
Yolan hanya menatap dan segera berlalu.
"Dok, bagaimana keadaan Isteri saya?" tanya Aditya yang berpapasan degan dokter itu yang baru keluar dari ruang rawat.
"Sudah lebih baik Tuan. Sekarang anda boleh menjenguknya."
"Terimakasih banyak Dok."
"Sama sama." Ucap Yolan terseyum dan berlalu pergi.
Ceklek membuka pintu.
"Kevin. Bagaimana dengan Mama."
"Papa. Mama belum sadar. tadi kata dokter Mama belum bisa sadar sekarang karena pengaruh operasi besar tadi."
"Gres.. sayang.." Aditya mendekat.
Mengelus kepala Gresya lembut.
"Terimakasih sudah mau berjuang. Kamu cepat sadar ya, Bukankah kamu mau lihat Kevin menikah?" ucap Aditya sedikit bergetar.
Mendengar itu Kevin membulatkan matanya.
Aku tidak salah dengarkan? Baru kali ini Papa menyinggung tentang pernikahanku.
"Kevin ada disini. Bangunlah ma. Katakan Pada kevin, siapa wanita yang mama inginkan itu." Ucap Aditya tak berdosa.
Apa? Apa mama ingin menjodohkan ku?
Kevin mendekat.
"Apa maksud ucapan Papa!" Tanya Kevin serius.
"Bahas setelah Mama bangun!"
"Papa yang sudah membahasnya. Apa maksud papa?"
"Vin! Bisahkah kau tidak membesarkan suaramu? ini rumah sakit. Kau harus mengerti keadaan."
"Tadi papa hanya bercanda kan?" Tanya Kevin mencoba tersenyum.
"Tidak." Ucap Aditya sesantai mungkin.
__ADS_1
To be continued π·
π Jangan lupa like and vote ya π π