Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
45. Tidak Pulang


__ADS_3

Gita terjaga dari tidurnya menatap jam yang menempel di dinding. 05.00


Semalaman dia tidak bisa tidur hanya untuk menunggu Jasson yang tidak pulang pulang.


"Astaga, apa dia benar benar tidak pulang?" Gita bangun dari sofa yang sudah menjadi tempatnya tidur.


Berjalan membuka satu persatu ruangan yang ada di kamar itu.


"Astaga! Kemana dia pergi? Bahkan dia tidak pulang?" Gita sedikit khawatir, berjalan dan menyambar Handphonenya.


Tanpa ragu dia menelepon Jasson. Semalaman dia sudah terus mengubungi namun tak ada jawaban.


"Angkat angkat!!"


Gita berjalan bolak balik terlihat jelas kegelisahan dihatinya, apalagi Jasson tidak pernah seperti ini sebelumnya.


"Apa jangan jangan dia, benar benar melakukan hal hal sembrono?" Gita menggigit ujung jarinya.


Sudah berapa kali ia mencoba menelpon namun tak ada jawaban. Malahan sekarang ponsel yang dihubungi tidak aktif lagii.


Akhirnya Gita memutuskan untuk membersihkan diri dan segera turun dari kamarnya.


"Uh, iya. Lico, sepertinya dia tau kemana Jasson pergi!"


.


"Ahch, sama saja! Kenapa mereka tidak bisa dihubungi?"Gita melanjutkan jalannya dan tidak sengaja menyenggol Morisa.


"Kau! Kalau jalan lihat lihat dong!" Morisa menatap Gita dari atas sampai bawah. Sudah terlihat segar padahal ini masih pagi sekali menurut Morisa.


"Aku tidak sengaja!" Ucap Gita hendak berlalu.


" Tidak sengaja apanya, Kau sengaja kan?"


Tidak ada jawaban Gita terus berjalan dipikiran Gita saat ini adalah Jasson.


"Dasar wanita gila. awas saja kau nanti!!"


***


"Tuan, lihatlah banyak sekali panggilan tak terjawab dari Nyonya Gita!"


"Kau dihubungi? Untuk apa dia menghubungi mu!" Ucap Jasson tidak suka sambil memakai jaket yang dia letakkan di sofa.


Semalam dia ketiduran di apartemen Lico.


Kenap dengan Tuan Jasson, wajahnya tampak tak suka, apa dia pikir yang lain lain.


"Tuan, Nyonya Brigitta menghubungi saya pasti karena dia mencari anda. Lihatlah sampai sepuluh panggilan tak terjawab. Menurut saya, Nyonya pasti mengkahwatirkan anda." Lico meletakkan handphonenya dan mengenakan kemejanya. Terlihat tampaknya dia baru saja membersihkan diri.


"Jika dia khawatir, kenapa tidak menghubungi ku saja!"


"Apa anda sudah mengecek handphone? Menurut saya Nyonya juga pasti menghubungi and Tuan!


Merapikan dasinya.


"Handphoneku lobet." Jasson menyambar handphone yang berada di nakas dan memasukkan pada saku celana.


"Apa anda akan segera pulang? Apa anda tidak mandi dulu Tuan?"


"Aku langsung pulang saja!"


" Saya akan menghantarkan anda!" Lico mengambil Jas yang sudah ia letakkan di kepala sofa.


"Tidak, Kau langsung ke kantor saja! Aku akan menyusul nanti!"


Jasson berlalu dengan tangan di masukkan ke saku Jaketnya. Ah, benar benar tampan. Walaupun baru bangun tidur, ketampanan Jasson masih dalam kata sempurna.


Jasson memasuki halaman mansion dengan mobil sport keluaran terbaru yang mahalnya tidak ketulungan.


Jasson melempar kunci mobil kepada sala satu supir yang dengan cepat berlari ke arah kedatangan Jasson.


"Selamat pagi Tuan.." Ucap beberapa pelayan yang ada disana.


Tanpa basa basi Jasson segera masuk ke dalam mansion.


Terlihat sepi.


Hanya ada beberapa pelayan saja, di setiap ruangan yang dilewati Jasson.


Ceklek.


Jasson membuka pintu kamarnya.


Terlihat Gita juga baru keluar dari ruang pakaian tampak ia menutup pintu masih membelakangi Jasson.


Jasson berjalan mendekat tanpa Gita sadari.


Gita berbalik dan terkejut setengah mati dibuatnya.


"Uh, suamiku.." Gita mengelus dadanya. Yang menatap Jasson entah dari mana datangnya. Jasson masih terus berjalan mendekat.


"Suamiku anda dari mana? Kenapa anda tidak pulang semalam?"


Gita bertanya masih menatap Jasson pada posisi membelakangi pintu ruang pakaian.


" Apa kau mengkahwatir kan ku?" Kini Jasson berhenti tepat di depan Gita.


Gita mendekat kan kepala pada tubuh Jasson seperti ada bau bau tidak enak di penciuman Gita.


"Apa yang anda lakukan semalam? Kenapa anda bau alkohol?" Wajah Gita tampak tidak suka dan memerah.


"Apa ada masalah?"


"Jelas! Anda sudah menikah, kenapa anda tega mencari wanita di luar sana?" Entah keberanian dari mana, namun Gita tampak kecewa dengan Pikiran nya sudah dipenuhi hal hal negatif menatap Jasson.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Jasson menaikkan kedua alisnya.


"Kenapa anda harus menyentuh wanita lain. Saya memang salah tidak memberikannya pada anda, tapi tidak seharusnya anda melampiaskan kemarahan dengan menyentuh wanita lain!" Dipikiran Gita sudah banyak bayang bayangan Jasson yang berada di klub malam minum minum dan mabuk lalu melakukan... Uh, pikiran Gita terlalu jauh kesana.


Jasson berpikir sebentar.

__ADS_1


"Apa kau cemburu?" Katanya tersenyum mengejek.


Gita tersadar.


"Tidak! Aku hanya tidak suka saja dipermainkan. Jika anda memang tidak menginginkan ku, lebih baik ceraikan saja aku!"


"Itu semua salah mu! Kenapa kau tidak memberikan sesuatu yang sudah jadi hak ku! Sekarang kau malah seperti seorang isteri yang sangat baik menceramahi tentang sesuatu yang menurut mu baik pada hubungan. "


"Tapi tidak seharusnya anda!"


"Sejak kapan kau berani bicara tidak sopan padaku!" Ucap nya tajam. Gita menciut.


" Maafkan saya, tapi saya ..."


"Tidak siap? Kau hanya bisa mengatakan itu! Daripada menunggumu lebih baik aku mencari wanita lain. Kau tau diluar sana banyak wanita yang jauh lebih baik darimu. Semalam saja aku sampai tidak pulang karena melayani mereka!" Ucap jasson menatap Gita. Tampak senyuman terlintas disana menatap Gita sepertinya marah.


Mendengar itu ingin rasanya Gita memukul Jasson dan memakainya.


Namun saat ini Gita tidak bisa. Dia lebih memilih diam saja. Walau terlihat jelas dia menggepalkan tangan dengan wajah marah yang ia tahan.


Lucu sekali pikir jasson. Sepertinya kebohongan nya bisa membuat Gita diam dan sangat imut seperti ini.


Jasson berjalan ke kamar mandi.


Mencium aroma tubuh yang ia tidak sadari memang sangat bau alkohol. Semalam karena sangat penat dan sangat kecewa akhirnya mereka minum minum dengan Lico sambil menceritakan kisah masing masih dan sampai ketiduran deh.


"Dia benar benar tega. Berarti dia tidak Gay dong! Apa selama ini tampa diketahui orang dia sering melakukan hal ini?" Gita berdiri masih menatap pintu kamar mandi.


"Kenapa aku harus marah, apa aku benar benar cemburu! Mana mungkin! Aku bersikap seperti ini. Karena aku adalah istrinya, istri mana yang bahagia melihat suaminya selingkuh dengan wanita lain. Itu tidak ada!"


Uh, apa yang dia lakukan semalam. Apa saja yang dia perbuat. Gita masih memikirkan tentang Jasson..


Sambil memilih pakaian kerja di ruang pakaian itu.


Berjalan keluar setelah meletakkan Pakaian di atas kasur.


"Pagi Nyonya!" Ucap pelayan pribadi Gita yang menunggu di depan pintu kamar.


"Pagi Bik"


"Apa ada yang perlu saya bantu Nyonya?"


"Tidak ada Bi. Apa sarapan pagi udah di siapkan?" Ucap Gita sambil berjalan dan diikuti pelayan itu dari belakang.


"Sudah Nyonya!"


Gita hanya menggaguk mengerti.


***


Morisa menggepalkan tangannya, marahnya sudah di puncak sekarang.


Bisa bisanya dia mendengarkan berita seperti ini di pagi hari.


Morisa saat ini tengah berdiri di balik pintu kerja Janes, ia tidak sengaja mendengar percakapan papanya dengan Asisten Alvaro.


Mereka membicarakan Kevin yang adalah mantan kekasih Brigitta.


Tampak jelas raut wajah Morisa.


"Pa..


Benarkah semua ini?


Sudah ku katakan pada Papa dia itu perempuan tidak baik baik. Pasti dia bersekongkol dengan pacarnya untuk merencanakan ini Pa. Pasti.."


"Morisa! Apa yang kau bicarakan?" Janes berdiri dari duduknya sambil menatap Alvaro.


"Apa? Papa mau bela dia juga? Sudah jelas jelas ini semua terjadi pasti karena ulahnya!"


"Jangan asal tuduh Morisa!"


"Aku tidak asal tuduh Pacarnya sudah melukai kakakku! Mana mungkin aku diam saja!"


"Mantan Morisa, bukan Pacar. Bedakan itu. Papa tau ini bukan salah Gita! Gita tidak mungkin ada niatan menyakiti Jasson!"


"Astaga Papa!!! Apa tidak puas Papa membelanya?"


"Papa tidak sembarangan Morisa! Kau tau Brigitta tidak sekejam itu. Papa bicara bukan tanpa bukti. Papa ada bukti dan masukan lainnya. Papa tau jelas kenapa masalah ini bisa terjadi. Jadi jangan asal bicara Morisa. Kau bisa saja menyakiti hati seorang jika kau menfitah tanpa ada nya bukti yang Jelas!"


"Pa, Jangan membelahnya! Dia itu perempuan ular, Dia hanya bersandiwara di depan Papa!"


"Cukup morisa! Brigitta itu kakak Ipar mu! Kau tidak boleh menjelekkan nya!!"


"Papa... Kau memarahiku? Demi wanita tidak jelas itu!!! Papa tega!" Morisa berlari keluar dengan tarikan pintu yang kuat hingga menggemah di ruangan itu.


"Tuan bagaimana dengan Nyonya?" Tanya Alvaro menatap pintu.


"Biarkan saja! Paling sebentar lagi dia akan baikan lagi."


**


Setelah melakukan tugas di bawah Gita memasuki kamarnya.


Membuka pintu pelan menatap Jasson yang mengancingkan kemeja di depan cermin.


Gita berjalan mendekat.


" Saya akan membantu!" Ucap Gita mengambil ahli gerakan Jasson.


Jasson hanya diam saja menatap Gita dengan wajah biasa.


" Apa semalam kau tidur nyenyak?" Entahlah mulut Jasson ingin membuka pembicaraan ditengah keheningan ini.


Bagaimana tidur nyenyak, aku sangat menghawatirkan anda semalam.


"Kenapa diam saja? Apa kau tidak bisa tidur tanpa aku?" Tanya Jasson terseyum mengejek.


"Tidak! Aku tidur nyenyak suamiku!"


Gita menaikkan kera baju Jasson dan meletakkan dasi itu disana.

__ADS_1


"Kau benar benar tidak mencari ku?" Tatapan Jasson berubah.


Gita menggakat kepalanya sebentar menatap Jasson karena mendengar suara yang aneh.


Gita diam dan melanjutkan memasang dasi itu.


"Kenapa tidak menjawab! Apa kau benar benar cemburu karena aku.."


"Tidak, jangan lanjutkan lagi!" Gita merapikan kera baju itu. Dia tidak ingin mendengarkan hal menjijikkan pikir Gita.


Gita hendak berbalik namun tubuh itu segera di tarik oleh Jasson dengan melingkarkan tangan di pinggang.


Spontan tangan Gita memegang dada Jasson.


Mendekat kan wajah pada Gita.


" Apa yang kau lakukan!" Gita sedikit mendorong dan mengusap bibirnya.


" Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan? Kenapa mendorong ku dan mengusap Bibir mu! Apa kau tidak menyukai ciumanku? "


Ah, Jasson sepertinya mulai candu mencium Gita.


"Bukankah semalam Anda bersama wanita? Berarti anda juga menciumnya kan? Saya tidak sudih." Mana mungkin aku menempelkan bibir tepat pada wanita semalam yang dia ajak! Sungguh!!


"Apa kau bodoh! Kau benar benar cemburu ya! Hingga otak mu tidak berfungsi lagi!!" Jasson mencentilkan jari pada kening Gita dan segera mengambil Jas di atas kasur dan keluar kamar!


Apa maksudnya? Apa aku salah bicara? Kenapa dia marah? Harusnya aku yang marah bukan malah dia!! Gita mengusap kening yang sedikit panas karena ulah Jasson.


...


"Lihat saja nanti! Kau akan segera keluar dari mansion ini!" Ditengah sarapan itu Morisa terus saja menatap Gita. Hingga Gita merasa risih karenanya.


kenapa dia menatapku seperti itu.


Gita mencoba tidak peduli dan melanjutkan makannya.


"Jangan berani keluar mansion, jika kau pergi kau harus izin dariku!" Jasson sedikit menekan kata katanya. Dan menerima tas kerja dari Gita.


Sebelum mendapatkan tas itu, Gita lebih dulu mencium punggung tangan Jasson lalu memberikan tas itu sambil tersenyum.


Tak ada jawaban Jasson segera memasuki mobil hitam itu.


Morisa yang sudah sedari tadi mengintip terseyum senang setelah Papa dan juga kakaknya sudah pergi.


Gita berjalan masuk dan Bukk


Kaki Morisa yang sengaja disana membuat Gita tersandung dan terjatuh.


Aaauhh...


"Sakit? Ini baru awal. Sampai jumpa nanti?" Morisa tersenyum menggoyangkan tanggannya meninggalkan Gita yang masih berdiam di lantai itu menatap kepergian Morisa.


"Bocah kurang ajar!" Gita berdiri dan merapikan pakaiannya.


Gita berjalan ke arah taman belakang!


Namun entah kenapa Lantai itu licin hingga ia terpleset kesakitan.


"Aaa pinggang ku. Kenapa ada minyak disini?"


"Ha ha ha ha." Tawaaan jahat itu membuat Gita geram.


Gita berdiri berjalan hati hati mendekat pada Morisa.


"Enak? Mampus loh!"


"Apa yang kau lakukan!" Tanya Gita yang kini berdiri di hadapan Morisa.


"Ini belum seberapa!" Morisa hendak pergi namun tangganya di cekal oleh Gita.


"Apa maksud mu!"


Hah.. Morisa menatap Gita tak suka.


"Kau bisa saja menipu keluarga ku, tapi tidak denganku! Aku tau kau sebenarnya merencanakan sesuatu untuk menghancurkan kakakku kan. Kau yang membuat kakak sampai koma! Tidak tau diri!" Morisa melepaskan kuat pegangan Gita. Dan berlalu pergi.


"Apa maksudnya, kenapa dia menuduhku?"


Gita bertannya tanya menatap kepergian Morisa.


**


"Lico apa kau sudah ada rencana untuk membalas pria kurang ajar itu?"


" Saya sedang mencari kelemahannya, Tuan!


"Cari tau secepatnya, jangan sampai dia bertindak duluan!"


"Baik Tuan."


Jasson menyalakan ponselnya yang baru di lepas dari cas.


Tersenyum.


Lico yang masih berdiri menatap tuannya aneh.


"Apa ada yang lucu tuan dari kata kata saya?"


Tanya Lico hati hati.


"Lihatlah, teryata dia menghubungi juga.."


Jasson cengingisan.


Emang apanya yang lucu pikir Lico.


To be continued


...❤️❤️❤️...


udah hampir 2000 kata ya Beste🌝

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak nya.


Aku sayang kalian 😚😚😚


__ADS_2