
"Uh, kenapa aku sangat gelisah?" Gita terus saja keluar masuk balkon kamarnya. menatap dari atas balkon menunggu mobil Jasson memasuki Halaman besar itu.
Menatap pergelangan tangan pukul 22.11.
Dengan cepat Gita menuruni anak tangga.
"Bi, bi.." panggil Gita saat melihat pelayan yang lalu lalang.
"Iya Nyonya.."
" Tuan Jasson? Kenapa belum pulang?"
" Belum ada pemberitahuan Nyonya, jika Tuan pulang saya akan kabari Nyonya. Istirahat lah Nyonya ini sudah malam."
Bagaimana caraku istirahat jika dia belum pulang?
"Nyonya saya permisi." Pelayan itu segera pergi ke tempat peristirahatannya.
" Kenapa aku secemas ini? Aku belum pernah seperti ini sebelumnya." Gita menggigit ujung jari telunjuknya sambil sedikit menggoyangkan kakinya.
***
"Mati kau bajingan!!"
Kevin terus saja memukuli Jasson yang sudah lemas di tanah itu tak sesekali juga kevin memukul keras kepala Jasson.
Bukk
Salah seorang bodyguard Jasson menghantam Kevin hingga terhempas sedikit menjauh dari hadapan Jasson.
Karena Kevin juga sudah goyah sedari tadi, akhirnya dia tak sadarkan diri.
Dengan cepat bodyguard Jasson mengangkat Jasson memasuki mobil. Setelah melihat Tuannya lemah tak berdaya dan tidak sadar beberapa bodyguard itu menghentikan aksi dan berlari mendekat.
Begitu juga dengan beberapa mafia langsung berlari mendekat pada Kevin yang sudah tak sadarkan diri itu.
" Bos.. bos."
Seorang menggoyang pipi kevin.
Kevin hanya mengerang kesakitan dan segera mereka menggakat tubuh itu dan membawanya pergi.
Jasson dan Kevin berada di rumah sakit yang sama. Sebuah kebetulan namun rumah sakit itu bukanlah milik mereka.
Mereka membawa ke salah satu rumah sakit terdekat dari tempat kejadian.
" Dokter bagaimana dengan keadaan teman kami?"
" Untung saja kalian cepat membawanya kesini jika tidak ini akan menjadi masalah besar."
Terlihat seorang dokter paru baya bicara pada seorang pria dengan tatapan dingin itu.
" Terimakasih dok. Apa kami bisa melihatnya?"
Dokter melihat kebelakang pria itu, terlihat wajah mereka juga bonyok.
Apa yang terjadi? Mereka siapa? Dokter itu sedikit khwatir melihat beberapa wajah yang begitu menyeramkan.
"Tenanglah kami tidak akan membuat masalah disini. Kami hanya seorang pasien!"
"Baiklah, kalian boleh masuk satu persatu tidak boleh sekaligus. Dan sebaiknya kalian mengobati luka kalian dan membersihkan diri, jika tidak, kalian akan membawa kuman pada pasien di dalam!"
...
__ADS_1
Di ruang lain yang tidak terlalu jauh dari mafia itu ada juga beberapa bodyguard yang berkumpul di depan ruang IGD terlihat jelas beberapa sudah ada yang duduk lemas dan beberapa bonyok dan penuh darah.
Saat ini Jasson berada di ruang IGD, karena kondisi nya sangat tidak memungkinkan. Para suster tadi dengan cepat membawanya kesana karena tidak sanggup lagi melihat kondisi yang begitu parah.
"Apa yang harus kita katakan pada Tuan Janes?" Tanya seorang bodyguard.
Semua diam dan tertunduk lemas.
"Aaaaaahh Bodoh!!" Bodyguard itu berlalu sambil mengacak rambutnya.
***
"Nyonya..." Pelayan itu mengetuk pintu gelagapan.
"Bi, ada apa?" Tanya Gita heran setelah membuka pintu.
"Itu.. itu.. Tuan Janes memanggil Anda. Dia terlihat sangat Frustasi.."
" Kenapa? Dimana Bi?"
" Di bawah Nya, di halaman depan."
Gita dengan cepat berlari turun menghampiri Janes yang sedari tadi memikirkan banyak hal.
"Pa, ada apa?" Tanya Gita berlari mendekat ke arah Janes.
" Ayo ikut dengan papa, Papa akan jelaskan di mobil!"
Dengan Cepat Gita dan Janes membuka pintu belakang.
"Ada apa Pa?" Tanya Gita ikut Khawatir jantung nya kini berdetak tak tentu.
"Jasson.."
"Jasson kenapa pa?" Tanya Gita, kenapa Janes menampakkan wajah seperti itu? Gita semakin khawatir.
" Jasson masuk rumah sakit. Dia berada di IGD saat ini."
"Rumah sakit? IGD?" Apa yang terjadi? Kenapa dia masuk rumah sakit?
"Kenapa Bisa Pa?"
Janes menggeleng.
Tak lama mereka akhirnya sampai.
Dan dengan cepat mereka berlari dan di pintu masuk seorang bodyguard sudah menunggu mereka dan menghantar Janes dan Gita menuju Ruang IGD.
" Apa yang terjadi!! Kenapa wajah kalian bonyok semua?"
Semua tertunduk dan tak mampu berucap.
" Dimana Lico?" Saat ia tersadar assiten pribadi Jasson tidak ada.
" Lico juga sala satu korban Tuan. Dia dirawat di ruang inap."
Janes menekan sedikit pelipisnya.
" Kenapa ini terjadi? Kenapa kalian tidak bisa menjaga Jasson dengan baik!!"
" Maafkan kami Tuan! Kami sudah berusaha semampu kami!!"
" Kumpulkan data kronologi kejadian ini. Dan berikan secepatnya padaku! Jika terjadi sesuatu pada putraku kalian semua akan mati di tanganku!!"
__ADS_1
"Baik Tuan!!" Serempak menjawab dengan wajah ketakutan dan sebagian mereka pergi melakukan tugasnya dan sebagian lagi menunggu disana.
Sedangkan Gita sedari tadi mencoba mengintip dari kaca pintu itu sambil mondar mandir tidak jelas.
Kenapa aku setakut ini? Astaga untuk apa aku peduli padanya? Dia sangat kejam! Bukankah aku harusnya senang.
Pletak
Gita memukul dahinya.
Aku bicara apa? Astaga, maafkan hambaMu yang penuh dosa ini ya Tuhan.
Gita berjalan mondar mandir di depan pintu.
Ini memang benar, aku harus khwatir padanya, dia.. dia suamiku. Saat aku sakit dia peduli padaku. Kini giliran ku saat dia sakit aku juga harus peduli padanya! Gita berhenti dan menatap Janes yang berjalan mendekat padanya.
" Saya tau kamu pasti khawatir nak, banyak berdoa agar suamimu bisa bertahan." Janes meneteskan air mata itu.
" Maafkan Jasson, jika selama ini dia selalu kasar padamu. Papa tau bagaimana hubungan kalian selama ini. Tapi papa yakin kamu pasti memaafkannya."
"Pa, Aku yakin, Jasson akan baik baik saja." Ucap Gita melihat Janes berlinang air mata. Dia tak percaya akan melihat wajah Janes seperti saat ini, sangat rapuh. Apalagi jika Monika tau hal ini dia tidak tau bagaimana ekspresinya.
Pintu terbuka...
" Keluarga dari Jasson!" Tanya dokter.
"Saya keluarganya!" Ucap Janes.
Dokter paru baya itu sedikit terkejut namun dia tepiskan dulu.
" Maafkan kami Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik! Namun kondisi pasien begitu parah banyak bekas lebam di tubuh.
Yang menembus pada bagian dalam."
"Dokter tolong jangan bertele-tele katakan bagaimana keadaan putraku!"
" Dia Koma Tuan. Dia akan segera di bawa ke ruang ICU!"
" Koma?" Serempak Janes dan gita. Gita menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan.
" Tolong lakukan yang terbaik dok!" Ucap Janes.
Segera beberapa suster keluar mendorong branker.
Seorang pria menggunakan pakaian pasien, dan terbaring dengan banyak perban dan begitu pucat.
" Astaga!! Tuan Jasson." Ucap Gita spontan menutup mulut.
Janes yang tidak memperdulikan lainnya hanya menatap Jasson yang terus diiring, keruang ICU.
"Putraku. Bertahanlah, kau bisa melalui ini. Kau pria Kuat. Papa yakin kau bisa."
Janes ikut mendorong branker itu dan menatap Jasson sambil mengeluarkan air matanya.
Gita masih berdiri terpaku disana menutup mulut dengan telapak tangan.
Kakinya benar benar lemas saat ini.
" kenapa? Apa yang tadi? apa yang telah terjadi.. Astaga..
ya Tuhan selamatkan anakmu.."
Gita mulai melangkah pelan mengikuti suster itu dari kejauhan. Pikirannya masih melayang tak jelas arah...
__ADS_1
To be continued
π Vote dan beri hadiah beste π