
Hari ini Brigitta dan Jasson akan pergi Honaymoon ke tempat yang sudah di tentukan. Setelah rayuan manis Jasson tentunya, Gita akhirnya memutuskan akan ikut. Lagian sebenarnya dia juga ingin karena setelah menikah mereka tidak pernah honeymoon ke tempat yang benar benar khusus.
"Sayang, cepat! Gak usah bawa apa apa. Disana udah ada lengkap!" Ucap Jasson yang masih menunggu Gita Menganti pakaian.
"Iya, iya. Siapa yang bawa juga. Dari semalam kamu udah ngomong. Aku masih mudah kali sayang, masih belum pikun!"
"Emang kamu mau pikun?"
"Gak juga sih, ha ha.." Gita berjalan memasuki ruang rias. Dia mengeringkan rambutnya dan setelah nya memoles bedak natural di wajahnya.
Jasson mengikuti Gita dan menarik kurisi sebelahnya. Dan ikut duduk menatap aktivitas Gita.
"Makin hari isteri ku makin cantik " senyum jasaon dan masih pada wajah Gita yang sedang memoles liptin di bibirnya.
Setelah selsai Gita menatap hasil dandanan nya. Cantik, ya satu kata itu menggambarkan wajahnya pada saat ini.
Jasson memutar kursi Gita menghadap padanya hingga kedua kaki Gita sudah terapit di antara paha Jasaon.
"Mau apa? Jangan aneh aneh! Katanya tadi mau cepat! Sekarang ayo!"
"Sebentar, aku ingin memandangi wajah isteri cantik ku. Aku bersyukur memiliki mu." Jasson perlahan mengelus pipi itu.
"Aku juga bersyukur. dan bahagia memiliki mu."
"Benarkah? Maafkan aku."
"kenapa?" tanya Gita binggung dan kini dia yang memegang pipi jasson yang terlihat murung.
"Dulu aku sangat kasar padamu, bahkan ak-"
"sssttt.. jangan dibahas lagi. Masa lalu biarlah berlalu. Apalagi jika itu hal yang buruk, jangan diingat lagi. Biarlah itu tinggal di belakang, dan dijadikan sebagai pelajaran. Sekarang kita sudah ada di titik ini. Lebih baik berpikir untuk masa depan. kebahagiaan kita bersama anak kita nanti." Ucap Gita sembari melepaskan elusan nya yang membiarkan tangan itu meepinda tepat di perut buncitnya dan menatap Jasson terseyum.
"Kamu memang yang terbaik. Terimakasih, sudah mau menuntunku dan menemaniku hingga saat ini. Aku mencintaimu." Jasaon juga ikut memegang dan mengelus perut Gita.
"Aku juga mencintai mu." Balas Gita.
Kini jasson mengelus pipi Gita, sungguh ia sangat bersyukur memiliki isteri sebaik Gita.
"Geli sayang." Ucap Gita sambil menaikkan sebelah bahunya karena jasson sampai mengelus leher jenjang itu.
Dan cup, satu kecupan itu membuat keduanya terseyum. Melihat Gita yang tersenyum Jasson semakin menjadi.
Menempel kan kembali bibir itu hingga kini melum*at bibir Gita dalam. Gita yang merasa nyaman membalas ciuman itu tanpa sadar. Gita melingkar tangan di leher jasson. Jasson memeluk punggung Gita hingga kini Gita sudah berada dalam pangkuan Jasson.
Semakin dalam hingga jasson mengecup leher jenjang Gita bergantian.
Aaah... De*sahan tanpa sadar mulus keluar dari bibir Gita.
"Sayang.." ucap gita memelas.
Hingga akhirnya Jasson sadar segera melepaskan ciuman itu dan menyatukan kedua kening mereka.
Terasa nafas keduanya memburu.
"Kau sangat mengoda sayang." Ucap Jasson. Masih pada posisi dekat itu. Gita yang masih menutup matanya membuka perlahan. Kening mereka masih menempel.
Sadarlah Gi! Pikirannya hingga Gita lebih dulu melepaskan pelukannya dileher Jasson hingga kening itu tidak menempel lagi.
Gugup, ya. Tadi sepertinya Gita sangat buas membalas ciumam jasson.
"Kita gak jadi berangkat?" Tanya Gita menatap Jasson yang masih memeluknya dan menatap dengan lekat.
"Kenapa? Kamu gak sabar?"
"Iih, kenapa jadi membalikkan sih, kan kamu yang bilang tadi!"
Jasaon terseyum dan mengecup pipi Gita yang merona itu.
"Ayo!" Jasson menurunkan Gita perlahan dan menggengam tangan itu erat dan mulai berjalan keluar kamar.
Semalam juga Jasson sudah izin pada kedua orangtuanya tentunya Morisa yang tidak sengaja mendengar hanya bisa menertawakan kakaknya itu. Kenapa ketinggalam kereta itulah ucapnya. Tapi jasson hanya acuh saja. Biarkan saja, yang penting bahagia.
...
"Aaaaaaaaa.." Kevin dengan cepat membekap mulut Yolan yang berteriak di kamarnya. Dengan segera juga Yolan menutup matanya.
"Mmpppp" suara Yolan jadi tertahan. Dia memberontak agar di lepaskan.
"Diamlah! Kau gila ya! Jangan berteriak jika ada yang dengar bagaimana bodoh!"
Kevin membuka dekapannya.
Yolan segera menutup mata dan berbalik badan.
"Kau Gila ya! Kenapa kau aaaah!"
Yolan menutup wajahnya frustasi.
"Pakai pakaian mu sekarang!"
"Kenapa? Bukankah kau yang bodoh? Kenapa tidak mengetuk pintu sebelum masuk? Lagian ngapain ke kamar ku pagi pagi begini huh?"
__ADS_1
"Kau yang tuli! Aku sudah mengetuk bahkan berkali kali! Makanya kalau nyalain musik jangan volume full dong! Jadi tuli kan!" Ucap Yolan yang masih menutup matanya dan di sisi nakas Kevin memang ada suara musik dari ponsel yang diputar dengan volume full dan tentunya hanya kencang di pendengaran Kevin saja karena berada dekat. Jadi dia tidak mendengar kan ketukan dari luar.
"Ngapain juga kau menutup matamu? Bukankah kau bilang kau sudah sering melihat beginian? Bahkan lebih dari ini kau juga pasti sudah lihat!"
"Dasar Gila, kau pikir_" ucap Yolan tanpa sadar membuka telapak tangannya dan eh-
"Kevin!!!!! Kau-" kevin kembali menutup mulut Yolan.
"Mmmppp"
"Jangan berisik dodol."
"Lepeskan!" Yolan mendorong tubuh Kevin menjauh.
"Dasar sinting!! Gak waras!!" Yolan dengan cepat berlari keluar dari kamar Kevin.
"Salah sendiri." Ucap Kevin tersenyum.
Setelah pintu itu tertutup. Kevin melirik kebawah. Oh, astaga, sitt!!.
Dia hanya menggunakan CD warna gelap. Tanpa sadar Kevin menggaruk leher nya yang tidak gatal.
"Memalukan!" Ucapnya dan berjalan ke arah ranjang dia tadi meletakkan handuk disana. Untung saja ia sudah menggunakan CD itu jika tidak akan lebih malu jika dia telanjang polos.
Tadinya dia asik bernyanyi dan mencari pakaian di lemari tapi dia mendengar suara yang lebih keras dari arah pintu melihat itu Kevin berlari ke arah Yolan dan membekap mulut itu.
Dia sampai lupa, Harusnya dia lebih dulu memakai handuk lalu berlari tapi suara Yolan begitu melengking yang membuat ia reflex berlari.
Bisa bisa pelayan bahkan mamanya akan datang ke kamarnya kan malu juga jika Mereka semua datang dan melihat kondisi kevin yang hanya menggunakan CD?
.
"Yolan, udah?" Tanya Gresya.
"Ah?" Yolan menatap Gresya. Astaga dia sampai lupa tujuannya ke kamar Kevin.
"Belum Tan, tadi Kevin mengunci kamarnya sepertinya dia masih mandi aku mendengar suara keran tadi.
"Oh, baiklah. Kalau Gitu Tante pergi dulu. Nanti jangan lupa kasih tau kevin ya."
Yolanda menggaguk dan mencium tangan Calon mertuanya itu.
Ya, pagi ini mertuanya akan pergi ke kantor sudah beberapa minggu karena kondisi yang kurang sempurna jadi dia berdiam di rumahnya. Namun saat ini dia sudah jauh lebih baik. Apalagi ada sedikit masalah yang membuat ia harus mencek kondisi SPA nya.
"Hati hati Tan." Senyum Yolan. Yang hanya diangguki serta senyum yang melekat disana.
Yolan menghelah nafas. Hari ini dia tidak ada jadwal karena hari Sabtu jadi dia free. Mungkin Kevin juga tidak pergi tapi entahlah Yolan tidak tau. Karena dia memang gak mau tau hihi.
Kini di meja makan yang besar itu hanya ada Yolan dan kevin. Dilihat dari pakaian yang dikenakan sepertinya dia juga tidak ke kantor.
Di tengah makan sesekali Yolan melirik Kevin yang sangat fokus pada sarapannya itu.
Cih, tenang sekali dia. Apa dia tidak malu? Jujur saja Yolan jadi canggung sekarang akibat masalh tadi.
"Kalau makan itu jangan liatin wajahku! Aku tau aku ganteng tapi masih ada waktu lain. Kalau makan, fokus aja. Takutnya kamu malah makan duri nanti!" Ucap Kevin yang masih fokus menikmati makannya.
Mendengar itu Yolan jadi gagal fokus. Astaga dia ternyata sadar? Yolan meneguk susu di sebelahnya.
"Aku sudah selsai, aku duluan." Ucap Yolan.
"Mubazir Yol, lihat masih banyak! Jangan ke baperan!"
Iiiiihhh ke baperan? siapa yang baper?
"Aku udah kenyang!"
"Duduk! Habisin makananmu! Aku tau kamu masih lapar!" Orang Yolan makanan hanya beberapa sendok.
Dengan berat hati Yolan yang sebenarnya masih lapar langsung duduk kembali.
Soal Gresya? Tadi Yolan udah cerita. Juga ada benda yang dititipkan Gres. Tentu Yolan tidak tau benda apa itu. Tapi dia hanya menjalankan tugas saja. Tanpa banyak bicara.
Setelah makanan di piring itu sudah habis Kevin mulai mengangkat bicara.
"Hari ini gak ke RS kan?"
Yolan menggeleng dan mengelap bibirnya dengan tisu.
"Nanti ikut aku ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Nanti kamu juga tau. Sekarang siap siap lah. Aku tunggu dua puluh menit. Jika lama aku tinggal!"
" Apaan? Kalau aku gak mau gimna?"
" Mama yang nyuruh! Jadi siap siap lah! Tidak ada acara menolak!" Kevin dengan cepat meninggalkan ruang makan itu dan tentunya masuk ke kamarnya.
"Inih nih, aku paling gak suka di atur atur plush di paksa. Apa salahnya bicara itu yang lembut. 'yolan, temani aku ya ke..' gitu lek!" Ucap Yolan memperagakan kata kata lembut.
Tapi walau begitu dia juga melakukan apa yang disuruh kevin bahkan ia lebih cepat dari waktu yang ditentukan oleh calon suaminya itu.
__ADS_1
Hanya Sepuluh menit. Yah, tidak perlu memilih langsung ambil pakainan dan gunakan polesan mekup yang tipis dah rambutnya sisir rapi ranpa ada alat memperindah rambut. No, rambutnya udah bagus.
Kevin yang menatap Yolan sudah turun tanpa basa basi langsung memasuki mobilnya.
"Ampun tuh anak! Kalau bukan calon suami sudah aku tendang!" Ucap Yolan sambil menghentakkan kaki. Dia membuka pintu mobil itu cepat dan duduk.
"Pasang seat belt mu!"
Dengan ogah ogahan Yolan pasang.
"Kenapa?"
"Jalan!"
"Huh?" Kevin mengerutkan keningnya, kenapa? Apa yolam kesanbet? kenapa jadi dia yang memerintah?
"Kenapa begong? Aku tau aku cantik tapi tau tempat juga liatin nya. Sekarang fokuslah! Bukannya kita mau pergi?" Ucap Yolan menyindir seperti mengulangi ucapan Kevin beberapa menit yang lalu.
Cih, Kevin membuang muka malas dan mulai menyalakan mobilnya.
"Kepedan."
"Apa? Gak ngaku?" Tanya Yolan menatap Kevin.
"Dasar cowok, emang begitu gak mau mengakui apa yang udah diperbuat!"
"Diamlah! Kau menggagu konsentrasi ku!"
"Sebenarnya kita mau kemana?"
Tidak ada jawaban.
"Dih, gak jelas bangat sih! Kamu jangan macam macam ya!"
"Siapa juga yang macam macam?"
Kevin mengeleng gelengankan kepalanya.
Setelah itu setiap perkataan yang keluar dari mulut Yolan tidak di gubris sampai tiba di suatu tempat yang lumayan luas.
"Panti asuhan?" Ucap Yolan menatap plakat dan melirik Kevin.
"Kita ngapain kesini Vin?"
"Turunlah! Nanti juga kau akan tau!"
"Kamu ya! Bisa gak jawab aja?"
"Gak bisa." Tanpa dosa Kevin langsung keluar lebih dulu dan membawa paperbag yang diberikan oleh mamanya tadi. Ya, sebenarnya semalam dia sudah membicarakan tentang ini antara mama dan papanya.
Yolan hanya bisa menghela nafas dan turun dari mobil itu.
Luas, halaman Panti itu sangat luas. Banyak anak anak yang bermain disana. Gedung pantinya juga lumayan lah.
"Nak kevin.."
"Bu,." Balas kevin yang langsung mencium punggung wanita paru baya itu.
Wanita paru baya itu mengelus punggung kevin dan memegang pipinya.
"Kamu sudah besar, dan sangat tampan." Ucapnya.
"Ibu indah juga tambah cantik." Ucao Kevin terseyum.
"Ini, bu. Hadiah dari mama untuk Ibu."
"Aduh, kenapa repot repot begini? Dengan hadirnya kamu disini sudah jadi Hadiah yang paling mahal untuk kami disini Vin."
"Itu dari mama Bu. So, ibu terima aja." Senyum Kevin. Dan mungkin karena rindu berat mereka berpelukan, seperti ibu dan anak yang terpisah setengah abad.
Anak ini, ternyata bermuka dua ya. Tadi wajah nya dingin dan datar ini. Lihat lah dia bahkan tersenyum lebar.
Yolan tercengang dan menggeleng gelengan kepala nya.
"Wah, kamu sudah menikah Vin? Isteri kamu cantik pisan, namanya siapa?" Bu indah menatap Yolan tersenyum tulus.
Yolan tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan wanita paru baya itu.
"Yolan, tante."
Lirihnya. Yolan langsung gelagapan saat tiba tiba Bu indah juga memeluknya. Namun begitu Yolan malah menerima dan merasa hangat akan pelukan tulus itu.
"Masuk, masuk lah dulu. Tidak enak jika ngobrol sambil berdiri dan diteras pula."
To be continued 🌷
Percaya cinta??
Huh... Ini udah panjang buangat ya, karena kemaren gak sempat Up hehe maafin author lagi ya🥺🥺🥺
Eitsss,,, sebelum lanjut like dan komen dulu dong sayang...❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Bye bye 😘