
"Apa kau tidak merasa aneh dengan tatapan orang orang?" Tanya Gita berbisik.
"Abaikan saja, anggap saja mereka tidak ada. Dan jangan menunduk. Aku tidak suka kau menunduk seperti itu!" Ucap Jasson menatap ke samping.
"Gita menatap Jasson dan terseyum." Akhirnya mereka sampai di depan mobil.
"Sayang, Ini kan acara di selenggarakan oleh perusahaan mu, apa tidak masalah jika kita pulang duluan? Apa lebih baik aku duluan saja?"
" Karena ini acara ku, aku bebas pergi kapanpun . Lagian pesta ini hanya hiburan semata meningkatkan kan sosialisasi antara pembisnis saja agar semakin mudah berinteraksi. Papa Janes ada di dalam. Dia yang akan menangani. Ada lico dan juga yang lainnya."
"Maafkan aku jika mungkin menggagu acaramu. Jika kamu masih ingin berpesta silahkan saja sayang. Aku bisa pulang bersama supir. aku baik baik saja, hanya saja aku sudah ngantuk, aku ingin segera istirahat."
"Darimana kau tau aku ingin berlama lama di pesta. Jangan mengada Ngada, cepat masuk! Semakin hari kamu sepertinya semakin leluasa berpikir dan berpendapat padaku!" Jasson membuka pintu dan memegang kedua bahu Gita agar masuk ke dalam mobil. Supaya menghentikan ucapan ucapan dari Gita.
"Jalan!" Ucap Jasson setelah menutup mobil.
Didalam mobil Gita hanya diam saja. Jika dipikir pikir memang benar juga. Akhir akhir ini gita seperti nya banyak bicara pada Jasson. Tapi bukankah itu lebih baik? Seharusnya hal yang umum untuk sepasang suami istri.
"Jika kau sangat lelah kau bisa menggunakan nya." Jasson menepuk pundak nya.
"Tidak aku seperti ini saja!" ucap Gita gugup.
Perasan tadi baik baik saja kenapa dia terlihat tegang? dan apa itu dia memerah?
batin Jasson.
"Kau baik baik saja? Kenapa pipimu memerah?" Jasson mengusap pipi Gita.
Kenapa rasanya aneh begini? Kenapa terasa panas seperti ini? batin Gita.
"A, aku baik baik saja." Gita memalingkan wajahnya dan hal itu membuat tangan Jasson juga terlepas.
Kenapa dia sangat menggemaskan malu malu begini?
Jasson tersenyum.
Perjalanan menuju mansion memang sedikit Panjang karena Gita yang sudah sangat ngantuk akhirnya tanpa sadar menjatuhkan kepalanya di bahu Jasson. tadinya Gita tidur dengan menyandarkan kepalanya ke bangku bagian belakangnya namun karena gerakan mobil membuatnya menjatuhkan kepalanya ke arah Jasson.
Jasson yang tadinya memaninkan handphone tersentak merasakan benda yang menimpah bahunya.
Dengan tersenyum, Jasson memasukkan ponselnya ke dalam saku celanan.
"Dasar keras kepala! Untung saja jatuhnya di bahuku."
Jika sampai terbentur ke kaca dan meninggalkan benjolan yang pada akhirnya membuat sakit, kan tidak bagus sekali!
Jasson membenarkan sandaran Gita, membuka Jasnya dengan perlahan, hingga jas tersebut berpindah tempat kini menutupi badan Gita.
Jasson memeluk erat tubuh kecil itu.
sesekali ia mengecup Ubun ubun Gita.
"Turunkan kecepatan mobilnya, dan pilih jalan yang rata. Jangan sampai kau mengusik tidur isteri ku!" Ucap Jasson menekan.
"Baik tuan!" Ucap supir tersebut.
Entah kenapa dia ingin berlama lama dalam posisi ini. Ingin sekali rasanya waktu berhenti agar Jasson selalu dalam dekapan Gita.
Hangat dan sangat nyaman perasaan itu yang dirasakan Jasson. Bahkan Gita terlihat sangat nyenyak sangking nyamannya dipeluk oleh Jasson.
π¦·π¦·π¦·
__ADS_1
Setelah menyanyikan lagu itu Pandangan kevin yang sedari tadi ke gita sudah menghilang akibat telpon dari anak buahnya yang membuat ia turun dari panggung dan berlalu ke ruangan lain agar tidak terganggu saat menerima telpon.
"Rencana akan tetap berlanjut, tidak ada yang bisa menghentikan ku melakukan apa yang ku mau!"
Setelah Kevin selasai mengatakan itu segera ia menutup telpon dan berbalik ingin masuk kembali ke ruang pesta namun saat membalikkan badan Morisa yang entah kapan disana diam bagaikan patung.
"Hei, kamu sejak kapan disini?" Tanya Kevin mencoba santai walau dalam hati sangat khwatir jika obrolan nya sampai didengarkan oleh orang lain.
"Baru saja. Apa lagu mu itu untuk perempuan yang kau maksud?" Kevin menghela nafas pelan. Dia pikir wanita di depannya ini akan menanyakan soal obrolannya.
sepertinya dia tidak dengar ucapan ku barusan.
"Hello? aku sedang bicara, kenapa kamu diam saja?"
"Uh? iya. maksudku lagu itu untuknya."
"Jadi dia ada di pesta ini? em, apa aku boleh kenalan dengannya?"
"Bukan aku tidak mau, kau bebas bicara dengannya dia bukan milikku! Tapi sayangnya sepertinya dia sudah pulang, dan aku juga ada urusan. Aku akan pulang duluan. Sampai jumpa."
Kevin terseyum dan segera berlalu pergi.
Morisa menghelah nafas panjang.
"Kenapa dia tidak melirik ku sedikit saja, kenapa dia tidak tertarik denganku. Jika wanitanya bukan lagi miliknya kenapa dia tidak mencari wanita baru, seperti aku contohnya." ucap Morisa dengan sangat percaya diri.
Sebenarnya siapa sih wanita itu? kenapa aku ingin sekali mengenalnya?
π¦·π¦·π¦·
Malam itu Kevin bersama pasukannya melakukan aksinya di perbatasan kota tersebut. Akan ada pertumpahan dara yang jelas Pasukannya akan melayangkan beberapa nyawa disana.
"Apa tim kita sudah siap?"
"Bagus, setelah aba aba dariku lakukan aksinya jangan sampai orang orang itu kabur!"
"Siap Bos" Dengan hormat Max segera berlari menuju tim nya.
"Siapkan senjata, kurung jebakan dan layangkan perangkat, Sekarang!!!"
Suara tembakan tiga kali ke atas langit langit pasukan markas lawan segera keluar dari persembunyiannya untuk menyelamatkan diri masing masing.
Dengan segera perangkat dan jebakan segera berfungsi untuk sebagian yang melewati nya sebagian tertebak dan langsung mati di tempat.
Tak dapat melawan dengan serangan dadakan pihak lawan melemparkan beberapa bom ke arah tim. Dengan rencana yang dari awal sudah disiapkan secara matang Meraka dengan cepat menghindarinya dan menyelamatkan diri serata tim masing masing.
"Sial!! Tidak ada pilihan selain keluar dari tempat aman.
Akhirnya yang di nantikan Kevin keluar juga.
"Hentikan!!" Suara dengan bantuan penguat suara menghentikan serangan ganas dari tim mafia Kevin.
"Akhirnya.." Kevin tersenyum dan bangun dari duduknya yang sedari tadi hanya menyaksikan perlawanan timnya.
"Kau menyerah juga ternyata. Apa kau senang melihat anak buah mu mati semua barulah kau keluar?" senyum sinis Kevin.
"Aku tidak pernah mencari masalah denganmu! Kenapa kau selalu mengusikku? Kau pikir kau hebat dengan anak buahmu? Pikir lah dengan baik tanpa mereka kau sama saja dengan kerikil kecil yang hanya di injak akan tertanam ke dalam tanah!"
"Kau menantang ku?"
"Aku hanya membenarkan faktanya agar kau bisa bercermin, karena sepertinya kau tidak memiliki cermin di rumah mu! Apa aku perlu membelikan nya untuk mu?"
__ADS_1
Kevin tersenyum seringai ini kata kata yang tak oantas untuk nya namun sebaliknya.
" Sepertinya kau tidak tau berlawanan dengan siapa Kriss?"
"Wah, suatu kebanggaan bagiku kau bisa menyebutkan namaku! Aku sangat mengenalmu Kau ketua mafia, dunia tau itu. Tapi sayang sekali aku tidak percaya dengan omong kosong, sedari tadi aku melihatmu hanya duduk menyaksikan semuanya!"
"Bagaimana denganMu? Bukankah lebih baik duduk disini memperhatikan Timku? Daripada dirimu yang pengecut bersembunyi di dalam gelap sana? Apa aku perlu membelikan cermin untuk mu? Sepertinya kau sendiri yang tak pernah bercermin!!!"
"Kau kira aku takut denganmu? Oh.. tentu tidak." Kriss segera Melayangkan Pukulan mendadak yang mengenai pipi kanan Kevin.
"Dasar pecundang!!" Bukkk Kevin membalas tinjuan tepat di pipi Kanan. Dengan segera Kevin menahan tangan kiri di bahu Kris dan mulai memukul bagian perut kanan kris dengan sangat kuat hingga tergeletak di tanah.
"Hanya ini kemampuan mu? Ayo bangun!! Kau hanya pecundang yang bisa menyerang dadakan tak berani menyerang dengan baik! ha ha ha. Dasar gila!!" Kevin naik ke atas tubuh Kriss yang masih terletak di tanah dengan menarik kera baju Kris segera melayangkan beberapa Bogeman kuat pada pipi itu.
"Lakukan saja sepuas mu! Jika kau berani bunuh saja aku! Tapi satu hal yang perlu kau ketahui. Keberadaan gurumu hanya aku yang tahu! Jika kau membunuhku sampai kapanpun kau tidak akan pernah bertemu dengannya. Dia berada dalam pengawasan ku! Aku tau kau pasti mengetahui ini dari anak buahmu!".
Kevin mengendorkan gepalan tangannya di kera kriss.
"Dimana guruku berada?"
"Kau pikir kau siapa? Enak sekali jika aku memberi tahunmu dengan cuma cuma. Kau pikir aku sebodoh itu?"
"Apa yang kau inginkan?"
"Seharusnya kau tidak bertanya lagi kau sudah pasti tau apa yang ku inginkan!" Tersenyum seringai.
"Apa, apa yang kau inginkan?" Tanya Kevin antusias
"Kekasihmu! Aku menginginkan Brigitta! Lepaskan dia padaku. Maka kau akan bertemu dengan Gurumu!"
"Kau gila? Dasar brengsek!!" Kevin kembali memukul Pipi itu berkali kali.
"Sampai kapanpun Kau tidak akan pernah bisa menyentuh nya! Jangan membawa bawa Namanya dalam urusan ini! Jangan sangkut pautkan dirinya!"
"Aku menyukainya sejak pertama kali bertemu. Dan aku hanya menginginkan!" Ucap Kris walau babak belur namun sepertinya pukulan itu tidak ada apa apanya baginya. malahan kris tersenyum pada Kevin.
"Dia bukan lagi kekasihku! Dan dia sudah terikat dengan pria lain! dan jelasnya kau tidak akan pernah memiliki nya!" Kevin tau sangat Kris memang sangat menyukai Gita sejak duduk di bangku SMA dulu.
Yap!! Kris adalah sala satu teman satu kelas untuk Kevin dan Gita. Namun sejak dulu Kris dan Kevin tidak pernah akur selalu berantam dan saling gebukan. tak jarang mereka jadi bulan-bulanan guru BK.
Apalagi dengan jelasnya Kris terang terangan menyatakan menyukai Gita di depan lapangan sekolah dulu. Dengan penuh Keromantisan dia mengungkapkan perasaan cinta untuk Brigitta. Namun sayangnya Gita tak pernah menggap nya lebih dari sekedar teman biasa. Saat itu juga Kevin dan Gita sudah jadian. tidak mungkin sekali Kriss menyatakan cinta. namun kriss tak pernah menyerah dia lakukan semua yang terbaik untuk Gita. Bahakan tak jarang Kevin dan kris berantam hanya karena berebut untuk memiliki Gita.
"Kau tidak perlu berbohong dan mengarang cerita. Lebih baik kau serahkan Brigitta untuk ku dan aku serahkan Gurumu padamu!"
"Kau pikir dia barang yang bisa diserahkan? Sudah ku katakan Dia sudah terikat dengan Pria lain."
"Jangan menebar kebohongan aku tau bagaimana sikap licukmu! Cepat serahkan dia padaku!"
"Aku tidak bisa dan aku tidak mengarang cerita. Sebaiknya kau beri tahu dimana guru sekarang? Aku akan benar benar membunuh mu jika kau tidak segera memberitahuku!!"
"Lakukan saja." Ucapnya sesantai mungkin namun dalam hatinya sangat kalut ketakutan dia tidak ingin mati sekarang. Dia harus mengancam dengan membawa bawa guru pelatih Kevin.
"Sekarang kau bebas! Bersyukurlah sebab kau tidak mati sekarang! Aku akan mencari tau sendiri jika kau tidak ingin memberitahu ku! Akan kupastikan kau akan mati setelah aku menemukan guruku!" Kevin berdiri menggakat tangganya tanda untuk menyuruh tim agar kembali.
"Ini untuk balasan karena kau sudah melakukan kesalahan di perbatasan ini. Untuk masalah guruku akan kulanjutkan setelah bertemu dengannya."
Kevin dengan cepat berbalik badan menuju mobilnya. menatap sekeliling yang dipenuhi bayak darah serta makluk yang tak lain pasukan Kriss sudah gugur 70%.
To be continued π·
πππ Maaf sekali baru Up π’πππ
__ADS_1
Tolong beri komentar yang paling bagusuntuk menyemangati Authorπ πππ