Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
84. Kisa lampau (1)


__ADS_3

Morisa yang lalai di jalan tanpa sadar sedari tadi ada orang yang mengikuti nya dari belakang.


Jalan yang sepi itu jadi saksi. Seketika Mulut Morisa di bekap dengan sapu tangan yang sudah di tetesi bius. Hingga Morisa tak sadarkan diri.


Awalnya mencoba melawan, memukul mukul lengan yang membekap namun alhasil bius itu sungguh cepat bereaksi.


Dengan cepat Morisa di seret dimasukkan kedalam Mobil.


Hah, tanpa disadari orang orang itu ada satu sosok yang juga mengikuti dari arah belakang.


... 🌱🌱🌱...


Mobil itu melaju kencang membela ramainya jalan.


"Pak, cepat ikuti mobil itu!"


Seorang yang mengikuti dari arah belakang memainkan jari jarinya di pahanya sambil bergetar kahwatir.


Semakin jauh meninggalkan kota hingga tempat terkecil mobil itu memasuki hutan dengan pohon yang berjejer di pinggiran jalan.


Hingga tiba ditujuan dengan rumah terbuat dari kayu yang berdiri sangat besar disana.


Orang yang menggunakan mobil Jeep keluar dengan membopong gadis yang masih tak sadarkan diri. Ada 3 pria dengan tubuh tegap dengan penutup wajah seperti penculik handal.


Mereka secara asal mengangkat tubuh yang tak lain ialah tubuh morisa memasuki rumah besar itu.


Sedangkan diujung sana seorang yang masih khawatir mengintai dari jarak jauh memperhatikan setiap gerak gerik yang terjadi di depannya.


Sampai di dalam Morisa dilemparkan asal tangganya diikat begitu juga kakinya. Mulutnya di bekap menggunakan sapu tangan.


"Bos, tugas selesai. Gadis yang anda inginkan sudah ada di tempat biasa." Seorang itu memasukkan benda pipi ke kantong celananya.


Tak lama terdengar suara erangan dari Morisa.


"Ah.. icsscss hemmmm..... " Morisa membuka mata lebar ingin menggerakkan kakinya dan tangan sangat sulit. Mengeluarkan suara saja sangat payah.


"Hem, hekm mepm " morisa mencoba berteriak namun sangat sulit dia sudah menggerakkan badannya kekanan kekiri namun sangat sulit.


Menatap sekeliling yang kosong dan terlihat menyeramkan.


Aku dimana? Siapa yang berani membekapku? Astaga....


Siapapun tolong aku.. Morisa menahan sakit di pergelangan tangan yang mulai tergores akan tali yang mengikat.


Menangis dia gemetaran sangat takut.


Disebelahnya ada guci yang lumayan besar muncul ide di kepala nya, dia dengan berusaha keras menendang guci tersebut.


Bruakkkk


Guci tersebut berhasil pecah.


"Aaaaaaaaa," tanpa sengaja sebagian pecahan mengenai kaki mulus morisa yang langsung mengeluarkan darah segar.


Morisa menahan dengan air berlinang.


Tangganya dia coba mengambil pecahan yang terlempar ke arah belakang.


Sangat senang ketika menemukan satu pecahan runcing.


Morisa berusaha menggunakan pecahan guci untuk memotong tali tangannya. Walau sedikit sulit namun ia berusaha.


Tapi sayang sekali belum beberapa detik ia mencoba menggores pada tali kuat itu pintu ruangan terbuka dengan kasar. Dua orang pria menggunakan penutup wajah datang mendekat.


"Hei!!! Apa yang kau lakukan? Berani sekali kau!" Mereka mendekat. Sala seorang dari mereka menampar pipi morisa dengan kasar.

__ADS_1


Morisa mencoba berteriak merintih kesakitan dan menagis.


Apa salahku? Kenapa aku sampai diperlakukan kasar seperti ini. Kak Jasson... Papa tolong. Berteriak dalam hati sekuat tenaganya. Walau dia rasa itu hanyalah sebuah perjuangan yang sia sia tapi, apa daya dengan mulut yang dibekap.


"Sepertinya wanita ini berencana kabur lihat di tangannya dia mencoba memutuskan talinya."


"Bawa dia ke kursi ikat tubuhnya disana supaya tidak bisa bergerak. Bos akan datang sebentar lagi!"


Dengan cepat menyeret Morisa Kasar mendudukkan Morisa pada kursi yang menempel di tiang dinding mengikat tubuh serta kursi ke tiang besar.


Morisa meronta.


"Diam!! Jangan bergerak. Jika tidak akan aku beri seyatan di tubuh indah mu ini!"


Morisa berhenti meronta hingga ikatan yang sangat erat itu mengikat tubuhnya dengan sangat kuat.


Morisa menahan sakit matanya sudah sangat memerah dan sembab akan air mata.


"Siapapun tolong aku. Kumohon."


Saat menatap ke sudut jendela mata morisa membulat sempurna menatap sosok yang sangat familiar.


Seolah mengucapkan jangan kahwatir aku akan menyelamatkan mu.


Morisa tidak percaya.


"Apa dia gila?" Batin Morisa.


Jika seperti ini sama sanya menyerahkan dua nyawa sekaligus. Lebih baik jangan datang daripada menambah masalah!


Tapi, ah morisa sangat membutuhkan batuan.


Secepat kilat Morisa menepis pikiran buruknya.


Selamat kan aku. Cari bantuan lirihnya dengan tatapan dan gerakan kecil ke arah sosok di sudut sana.


Pria dengan tubuh tegap memasuki ruangan itu menatap intens wanita yang terlihat sangat menyedihkan dengan air mata yang membasahi pipinya.


Berjalan mendekat. Dan berjongkok di hadapan Morisa.


Membuka kasar penutup mulut itu


"Hei, manis.. Apa kabar? Masih ingat aku?"


Ucapnya sinis.


Morisa membukakan mata. Tangannya bergetar hebat. Takut satu kata itu menghiasi hidupnya saat ini.


"Kau? Pria bajingan!! Ke kenapa kau disini? " Morisa mencoba bersikap kuat dan menyembunyikan sifat takutnya.


"Huh, aku merindukan mu.." ucapnya sambil mengelus pipi Morisa yang langsung ditepis.


"Ha, jangan sok jual mahal! Sifatmu yang sombong ini selalu melekat dihatimu! Ternyata kau belum berubah!"


"Kenapa kau disini? Kenapa kau menangkap ku? Lepaskan aku! Jangan kurang ajar. Aku tidak akan memberi perhitungan pada dirimu! Kau mengenal keluarga ku bukan?"


" Kau pikir aku takut? Kau pasti berpikir aku masih berada di sel yang sangat pengap itu?"


"Kenapa, dasar bajingan kau pasti melarikan diri. Lepaskan aku kenapa kau mengukung ku? Huh? Apa kau tidak takut akan masuk sel lagi?"


" Karena aku akan membunuh siapapun yang melukai ku, apa kau masih ingat apa yang kau perbuat? Ingat dengan pria paru baya itu? Aku sudah membunuhnya sehabis aku keluar dari sel"


Ucapnya terseyum puas.


"Aa, apa? Ka kau?" Morisa jelas tidak percaya kekawatira nya berlipat kali ganda kali ini.

__ADS_1


"Kau akan mati ditanganku juga hari ini!"


Morisa merutuki dirinya. Harusnya dia bersuara saat pengadilan dulu! Harusnya dia meminta bajingan di hadapannya sekarang di penjara seumur hidupnya.


Flash On.


4 tahun yang lalu.


Pukul. 18.45


Morisa baru tiba di bandara. Dia baru saja menyelesaikan Sekolah Menengah Atas di kota yang jauh dari Tempat tinggalnya.


Hari itu tidak ada seorang pun yang menjemput nya dengan alasan sibuk dan alasan lainnya.


Sebenarnya hari itu supir akan menjemput namun sudah dua jam Morisa menunggu tapi tak kunjung datang.


Morisa akhirnya memilih pulang menggunakan taksi namun karena gelapnya malam dan terangnya jalan akan lampu kendaraan dan lampu jalan serta lampu dari tokoh pinggir jalan. Apalagi dengan taksi yang kunjung terisi karena padatnya kota. Hingga tak ada satu pun taksi yang kosong. rintikan gerimis membasahi Tubuh morisa.


Morisa berjalan di atas trotoar dengan menyeret koper besar dan tas selempang yang tergelantung di tubuhnya.


Pakaian yang lumayan minim itu membuatnya kedinginan akan tetesan gerimis. Morisa tidak hiraukan dan sangat malas untuk berteduh ia terus berjalan dan berharap ada taksi yang kosong atau minimal ojek saja.


Semakin jauh perjalanan semakin sepinya jalan hanya lampu jalan yang redup yang menerangi jalan nya.


Menatap ponselnya yang sudah off karena baterai lowbat.


Tiba tiba dari arah belakang ada mobil yang melaju sedikit ugal ugalan. Morisa yang tadinya mau menyebrang terkejut dan terjatuh karena Sangking syok nya.


"Aaah, Dasar gila! Bawa mobil ugal ugalan..." Morisa mencoba berdiri membersihkan lututnya yang sedikit lecet.


"Hei, gadis sinting. Apa kau tidak punya mata? Apa kau ingin mati? Jika mau mati sana berdiri di jalan tol. Jika tidak jatuhkan dirimu dari gedung pencakar langit."


Sangat terlihat jelas laki laki itu mabuk dengan jalan sempoyongan dia mendekat ke arah morisa.


Morisa mencium bau alkohol yang menyengat.


Dan sedikit mendorong tubuh laki laki itu.


"Hei, jangan macam macam."


Laki itu tersenyum seringai. Menatap morisa dari atas hingga bawah. Sungguh gitar spanyol. Sempurna dari atas sampai bawah.


"Ferfect." Ucapnya sambil menggoyangkan tangannya.


Morisa yang menatap mata keranjang itu menyilangkan dadanya. Dia menatap ke samping. Menatap keberadaan kopernya.


Morisa baru saja bergerak ingin melarikan diri namun tangannya di cekal dengan mudahnya dan ditarik dalam pelukannya.


"Jika dilihat lihat kau sangat manis, dan cantik. Tubuhmu sangat menggairahkan"


"Pria bajingan! Lepaskan aku! Aku akan meneriakimu dan mencoblosmu ke kantor polisi! Jangan kurang ajar!"


Morisa mengertak tubuhnya agar terlepas namun alhasil tubuh kecil yang berisi itu nyaris melekat erat dalam pelukan tubuh pria itu.


"Kau mengancam ku? Akan ku jelaskan aku." Menunjuk diri.


"Seorang mafia, aku memiliki banyak teman. Kau tau. Aku bisa membunuhmu sekarang juga disini! Atau bila perlu kami akan beramai ramai membunuhmu!"


Morisa menelan salivanya kasar. Pasti laki laki ini lagi membual untuk menakuti dirinya.


Morisa mencoba bersikap biasa.


"Aku tidak perduli siapa dirimu! Lepaskan aku! Kau tidak tau siapa diriku? Aku bisa saja mencobloskan kau serta pasukan mu ke dalam kantor polisi! Atau akan membunuhmu dengan tragis dengan sangat mudah!"


To be continued 🌷

__ADS_1


Next ya, jangan lupa Vote dan like nya cerita akan lanjut nih😃❤️❤️❤️


__ADS_2