Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
16. Jasson vs Kevin


__ADS_3

"Kenapa? Apa yang kau lihat? Apa kau terpesona?"


Jasson berjalan mendekat ke arah sofa. Kini Gita segera berdiri sambil tertunduk takut.


"Kenapa? Apa kau tidak mau menatap wajah ku lagi?"


Jasson mengangkat dagu Gita supaya menatapnya.


Gita diam tak berkutik.


Jasson memang sangat tampan saat ini wajahnya sedikit sejuk entahlah kenapa bisa!


"Apa tuan tidak bekerja hari ini?" Tanya Gita agar ia tidak terlalu tegang apalagi Jasson menatap nya sangat aneh.


"Menurut mu?" Tanya Jasson, kini ia melepaskan tangannya dari dagu Gita.


"Aku akan menyiapkan air hangat untuk Anda tuan." Jasson bangun cepat itu artinya hari ini dia akan bekerja. Gita hendak melangkah namun sebelah tangan itu di tahan oleh Jasson.


"Hari ini.." Jason menghentikan ucapannya setelah mengingat sesuatu kini wajah itu berubah drastis.


"Hari ini kau tidak boleh keluar kamar! Bersihkan semua ruang yang ada dalam kamar ini! Jangan sampai ada debu yang menempel!!" Jasson melepaskan tangan itu dan berlalu pergi.


Aneh sekali, tadi sikapnya sangat sejuk tapi sekarang dia jadi menyeramkan. Ada apa dengannya?


"Tuan Kevin...


Hari ini adalah Pertemuan dengan lawan bisnis kita. Semua berkas sudah saya siapkan. Semoga meeting hari ini kita menang lagi," ujar asisten kevin sambil tersenyum.


"Lakukan sebagus mungkin. Aku percaya padamu!"


Karena setiap ada pertemuan untuk pengajuan kerja sama Kevin selalu memenangkannya. Tidak ada satu pun perusahan yang menolaknya. Dia yakin kalau meeting nanti pasti dia akan menang.


"Baiklah Tuan saya permisi." Ucap sang asisten sekaligus sekertaris Kevin.


Kevin menatap layar Ponselnya sambil duduk di sofa dalam kamarnya.


"Brigitta Aku sudah pulang. Apa masih mungkin kita bisa bersama seperti dulu lagi? Kenapa setiap bicara denganmu aku sangat takut. Aku takut tidak bisa memiliki mu.."


Kevin mengusap foto di ponselnya, di sana tertera foto dua insan yang saling merangkul menggunakan pakaian SMA Sambil terseyum bahagia.


"Tuan ini sarapan Anda." Gita meletakkan makanan itu di atas meja di hadapan Jasson. Hari ini Janes tidak makan bersama begitu juga dengan Monika.


Tanpa banyak komplen Jasson segera menghabiskan sarapan itu dan segera meneguk segelas susu.


"Ingat tugasmu! Bersihkan kamar itu. Jika aku mendapati debu, maka jangan harap kau baik baik saja!"


"Tuan apa boleh aku keluar kamar untuk melihat Nyonya besar?"


"Tidak!! Bukankah sudah kukatakan, kau tidak boleh keluar kamar? Bersihkan saja semua, karena aku akan pulang cepat!"


"Ba- Baik Tuan."


Jasson segera berlalu dan diikuti oleh Gita membawa tas kerja Jasson.


Tok tok tok


Ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Kevin.


"Masuk!"


"Tuan sarapan anda sudah siap. Nyonya dan Tuan besar sudah menunggu Tuan di bawah."


"Tuan besar? Papa ada di Mansion Bi? Kapan Papa pulang?"


"Benar Tuan, Tuan besar sampai di mansion Jam 04.00 subuh tadi."


Kevin menampakkan wajah malas. Dengan segera ia mengenakan Jas yang diletakkan di sampingnya, lalu segera Turun menggunakan life menuju lantai bawah.


Kamar Kevin terletak di lantai 3.


"Kevin...


Kemari sayang kita makan sama sama. Papa juga disini loh! Papa pulang tadi pagi."


Ucap Gresya Mama kevin.


"Kevin sarapan di kantor ma. Kevin buru buru soalnya." Kevin segera berlalu tanpa menatap pria paruh baya yang tengah menatapnya.


"Kevin dimana sopan santun mu? Apa kau tidak melihat papa baru saja tiba di negara ini? Bahkan kau tidak menyapa!"


"Apa itu perlu Pa? Bukankah kita sering bertemu?"


Kevin yang tadinya sudah berjalan malah berhenti dan menatap wajah Papanya.


"Kevin banyak pekerjaan. Jadi kevin pergi duluan Pa, ma." Kevin berlalu dengan gaya cool nya.


"Dasar anak kurang ajar," Ujar Aditya setelah kevin tak terlihat lagi.


"Sabar Pa, jangan emosi. Papa tau sendiri apa yang kevin rasakan saat ini. Mungkin kevin belum bisa menerima semua ini Pa." Ucap Gresya, sambil mengelus tangan suaminya itu, Aditya.


"Tuan Jasson Ini semua berkas untuk meeting nanti. Saya sudah perbaiki saat anda mengkoreksi dua hari yang lalu. Anda bisa periksa sekarang karena meeting akan dilaksanakan Pukul 10 nanti."


"Letakkan di sini. Aku akan memeriksa nya nanti!"


Kata Jasson sambil menatap laptop di hadapannya.


"Akhirnya!!" Jasson menatap Laptop tersenyum.


Lico yang masih berdiri disana sedikit melirik ke laptop.

__ADS_1


"Tuan, benarkah ini?" Lico mendekatkan wajahnya melihat layar laptop.


"Sampai kapan matamu besar seperti itu?" Lico segera memperbaiki posisinya.


"Tuan anda memang sangat hebat. Bahkan hal besar seperti ini bisa anda selseaikan dalam sekejap."


Jasson tersenyum melihat pencapaian luar biasa. Sekarang perusaahan yang ia bangun sudah menyebar luas di negara negara maju. Kini perusahan Jasson grup menduduki Peringkat ke-3 di Asia.


Sedangkan Peringkat pertama masih tetap diduduki oleh Lakeswara grup. Yaitu perusahaan sang papa.


"Selamat Tuan Jasson di usia Anda yang masih terbilang mudah ini, Tuan Jasson sudah sehebat ini. Bahkan Anda menduduki peringkat ke-3. Sangat langkah seorang CEO Muda sudah menjabat setinggi ini. Anda luar biasa."


"Sudahlah, hentikan pujian mu. Aku tidak haus pujian!" Jasson Menutup laptopnya dan mulai memeriksa berkas yang diberikan oleh Lico.


Waktu begitu cepat berjalan Saat ini Jasson dan Asisten Lico sedang berjalan menuju tempat meeting kali ini.


"Selamat datang Tuan Jasson." Seorang Pemimpin perusaahan itu menyambut Jasson ramah. Sedangkan Jasson hanya tersenyum.


Belum juga Jasson duduk. Seorang Pria yang tidak kalah tampan nya juga segera memasuki ruang meeting besar itu bersama sang Asisten.


"Selamat datang Tuan Kevin." Kini Pemimpin itu juga menyambut Kevin Ramah dan di balas senyuman oleh Kevin. Jasson menatap pria di depannya. Mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu. Karena wajah itu seperti tidak asing baginya.


"Tuan Jasson?" Kevin menatap Jasson sambil menaikkan Alisnya.


Jasson hanya tersenyum singkat.


"Senang bertemu dengan Anda." Kevin menjulurkan tangannya.


Jasson segera menerima uluran itu sambil menatap Kevin sedetail mungkin.


Bukankah ini laki laki yang kulihat kemarin?


Jasson masih menatap Kevin.


Kevin segera melepaskan jabatan tangannya. Sambil mencoba tersenyum pada Jasson yang saat ini menatapnya sungguh aneh.


"Tuan Jasson, Tuan Kevin, ayo duduk. Kita akan segera memulainya."


Di ruangan tersebut sudah berdatangan juga beberapa ketua divisi dan derektur dari beberapa bagian.


Saat ini Kevin tengah mempersentasikan hasil kerjanya.


Jasson menatap sambil menyimak semua yang di terangkan Oleh Kevin.


Kerjanya lumayan bagus


batin kevin sambil menatap layar infokus. Baru kali ini dia memuji lawan bisnisnya.


Setelah Kevin selesai sekarang Jasson memulai persentase nya. Sangat santai semua kata kata yang di ucapkan Jasson sangat jelas.


Waow, baru kali ini sainganku terlihat sangat hebat. Bahkan dia sangat santai sekali. Tapi aku harus yakin pada usahaku. Batin kevin sambil tersenyum, menyemangati diri sendiri agar tidak langsung merendah dengan apa yang ia telah lakukan.


Namun walaupun kalian masing masing sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi hanya satu yang akan terpilih. Jadi saya akan memberikan jawaban setelah kami berdiskusi."


Pemimpin perusahaan tersebut beserta dewan perusahan yang ikut menyaksikan segera memasuki ruang diskusi.


Kini di ruang besar itu tinggallah Jasson, Lico, beserta anggota perusahaan Jasson.


Dan juga Kevin bersama asisten dan anggota perusahaannya.


Jasson menatap kevin sesekali pandangan mereka beetemu.


"Apa ada yang ingin anda sampaikan tuan jasson?" Tanya Kevin mencoba tersenyum.


Jujur saja dia tidak tau banyak siapa Jasson.


"Tidak!" Jawab Jasson ketus.


Kevin hanya mengangguk pelan.


Selang waktu tak berapa lama Pemimpin tadi masuk ke dalam ruang besar itu.


"Baiklah kami sudah putuskan dan kami sudah membuat pilihan." Saat ini kevin sedikit khawatir. Baru kali ini ia takut tidak terpilih. Karena sala satu alasan pulang ke negara ini adalah untuk memenangkan kerjasama dengan sala satu perusahaan terbesar di negara ini.


Sedangkan Jasson sangat terlihat santai. Toh tidak ada masalah. Bekerja sama atau tidak dengan perusaahan ini tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Hanya saja Harga diri, sangat Janggal bukan hanya untuk merekrut perusahan yang berada dibawahnya dia kalah bukankah itu memalukan?


Kini pemimpin tadi memasuki ruangan itu.


"Baik. Kami sudah putuskan. Yang dapat bekerja sama dengan perusahaan kami adalah Perusahaan Tuan Jasson." Singkat jelas padat. Semua di ruangan bertepuk tangan.


Jelas saja dia terpilih persentase nya sangat hebat itulah yang dipikirkan oleh orang orang yang berada di ruangan itu.


"Maaf Tuan Kevin, mungkin untuk sekarang kita tidak membangun bisnis bersama mungkin di lain waktu ada kesempatan untuk kita bekerja sama."


Kevin hanya bisa tersenyum.


"Selamat Tuan Jasson. Saya sangat menyukai Persentase anda." Kevin mengulurkan tangannya. Jasson melihat wajah kevin yang tersenyum. Walau kalah tapi tidak ada sedikit pun terlihat kesedihan dan kekalahan di mata itu.


Jasson segera menerima uluran tangan itu.


"Terimakasih. Persentase anda juga sangat bagus. Mungkin kita bisa bekerja sama dalam bidang lainnya.." Ucap Jasson.


Kevin hanya tersenyum dan sedikit terkekeh. Dia pikir Jasson hanya bercanda.


"Saya serius!" Ucap Jasson lagi.


Kini Kevin menatap Jasson.


"Terimakasih atas tawaran anda."

__ADS_1


...


"Tuan apa anda tidak apa apa?" Tanya asisten kevin yang kini mereka berada di dalam mobil.


"Emangnya aku kenapa?"


Jelas jelas terlihat di wajah kevin sedikit frustasi, bagaimana caranya


dia menjelaskan masalah ini kepada Papanya.


"Anda terlihat kurang bersemangat Tuan."


"Aku kecapean. Jangan bertanya lagi! Fokus saja pada jalanya."


Kini Asisten kevin diam dan fokus pada jalan di depannya.


...


"Lico. Apa masih ada meeting? Atau pertemuan lainnya?"


Tanya Jasson yang saat ini sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Tidak ada tuan. Hanya ada beberapa berkas yang perlu Tuan tanda tangani."


Jasson merebahkan kepalanya di badan Kursinya dan memejamkan mata.


"Siapa Pria yang jadi lawan kita tadi?" Tanya Jasson matanya masih terpejam.


"Pria itu anak dari Tuan Aditya Yudayana."


"Yudayana?" Jasson membenarkan posisi duduknya.


"Pengusaha sukses yang menduduki peringkat ke-2. Hebat juga. Apa Kevin bekerja di perusahaan Orangtuanya atau bisnis sendiri?"


"Dari yang saya tau. Tuan Kevin bekerja di perusahaan Orangtuanya. Dia akan menggantikan posisi Tuan Aditya jika ia benar benar sudah mapan."


Dan pastinya jika ingin mewarisi itu Kevin harus menikah dulu. Seperti yang


diperintahkan Aditya kepadanya.


"Apa dia memiliki kekasih?" Pertanyaan ini sukses membuat Lico gagal paham.


"Maksud Tuan?"


"Apa pertanyaan ini aneh? Saya hanya bertannya apa dia sudah punya kekasih? Atau pasangan hidup!!"


Apa tuan menyukai Tuan kevin? Pikir Lico.


"Apa, Kenapa tidak menjawab?"


"Kalau tentang kekasih saya tidak tahu Tuan. Tapi yang Jelas Tuan Kevin belum menikah."


Lico menatap Jasson, terlihat jelas Lico tidak mengerti apa yang di pikirkan Jasson, wajah nya sangat aneh.


..


"Uh, lelah sekali. Kenapa kamar ini besar sekali sih!" Gita merebahkan tubuhnya di sofa ruangan pakaian.


Dia sudah selsai membersihkan, ruang utama kamar itu, kamar mandi, ruang rias, ruang buku, dan sekarang ia harus membersihkan ruang pakaian ini. Padahal semua ruangan yang ia bersihkan tidak kotor kotor amat, hanya ada sedikit debu yang menempel. Tapi karena menyapu dan mengepel semua lantainya ia sudah hampir kewalahan karena besarnya ruangan itu.


"Dia benar benar sangat kejam. Bahkan aku harus menyelesaikan ini dengan cepat? Ah, dia tidak punya perasaan. Apa dia tidak lihat kamar ini sudah seperti rumah besar?"


Karena nyamannya sofa, Gita sampai tidak sadar dan tidur disana sambil memegang tali kain pel itu.


Jam terus berputar namun Wanita itu masih diam dalam tidurnya.


Jasson bersama asistennya Lico baru saja menuruni mobil itu para pelayan mansion dengan sigap tunduk memberikan hormat kepada Jasson.


"Dimana wanita itu?" Tanya Jasson yang tidak melihat Gita menyambutnya.


Para pelayan salin pandang siapa yang dimaksud oleh Tuannya.


"Mulai dari pagi saya tidak melihat Nyonya Muda tuan." Kata seorang pelayan yang menjadi asisten pribadi Gita. Dia tau benar siapa yang dimaksud oleh Jasson.


Jasson melangkahkan kaki menuju kamarnya. Lico hendak melangkah. Dia ingin ikut mencari Nyonya mudanya.


"Lico, kembali lah. Aku bisa mengurusnya!" Kata Jasson saat mendengar langkah kaki mengikutinya.


Dengan segera Jasson berbalik dan berlalu pergi.


Ceklek pintu kamar terbuka. Bersih dan rapi tapi tidak ada penghuninya.


"Hei gadis bodoh dimana kau?" Jasson sedikit berteriak namun tidak ada jawaban.


Jasson mengetuk kamar mandi tapi tidak ada jawaban. Ia membukanya tapi kosong. Dia berjalan ke arah ruang buku mungkin saja Gita terjatuh dan malah pingsan disana pikir jasson, namun hasilnya nihil tidak ada siapapun disana. Sekarang ia membuka ruang pakaian.


Dan benar saja di ujung sana ada seorang yang tengah berbaring sambil memeluk tongkat pel.


"Apa yang dilakukannya disana?" Jasson melangkahkan kakinya mendekat ke arah Gita.


"Hei, Bagun!!"


....


To be continued


🍁Jangan lupa like and vote ya guys🍁


Dukungan dari kalian sangat membantu Author agar tetap semangat 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2