
"Kakak....
Lihat!! Dia memelukmu! Dia tidak sopan kak!" Ucap Morisa sambil menggerakkan tangan hendak menampar Gita.
"Berhenti Morisa!!
Dia tidak salah! Yang tidak sopan itu adalah kamu! Apa yang ingin kau lakukan? Ingin menampar?"
Morisa diam tak bergeming baru kali ini Jasaon tidak membela nya, dan malah berteriak kasar padanya.
"Tapi kak! Dia menyentuh mu!" Morisa sangat tau betul, dulu saat ada wanita yang memegang tangan Kakaknya, wanita itu akan kena mental di buatnya. Bahkan wanita itu akan mengalami Trauma karena nya.
"Dia isteri ku! Dia pantas melakukan nya." Ucap Jasson menatap Gita.
"Wanita Gila!! Apa kau menghasut kakakku? Dia tidak pernah bersikap seperti ini! Kakak sadarlah dia wanita jahat! Kau tau yang membuat kakak koma adalah..." Ucap Morisa tergantung saat Janes tiba tiba datang.
"Morisa!!" Teriak Janes memanggil Moris.
Gita yang tadinya penasaran tak kalah ikut terkejut karena teriakan Janes.
"Terima hukuman mu dari papa!" Ucap Jasson datar menatap Morisa.
"Sayang ayo.." Ucap Jasson menarik tangan Gita menuju pintu lift.
Apa? Tadi dia panggil aku dengan sebutan apa?
Gita diam tak berkutik panggilan itu sukses membuat nya kehabisan ekspresi serta mati kata kata.
Ting pintu lift terbuka, masih dengan menggandeng Mereka memasuki kamar itu. Seperti ala pengantin baru saja..
Jasson melepaskan rangkulannya dan segera menghempaskan tubuhnya ke kasur besar.
"Suamiku..
Ganti pakaian dulu! Baru tidur!"
"Bantu aku! Apa kau bisa?" ucap jasaon meregangkan tubuhnya menatap Gita.
Kenapa manja sekali!
"Apa kamu tidak bisa sendiri suamiku?"
"Aku sungguh lelah. Ini semua karena dirimu! Jika kau tidak pergi melakukan pesta yang tidak jelas, pasti aku sudah berada di alam mimpi sekarang."
"Tapi, tadi aku tidak mengajak mu."
Jasson melototkan matanya.
"Jadi kau ingin bebas Huh? Kau ingin tertawa dan berpesta dengan laki laki sebanyak itu?" Jasson menegakkan tubuhnya duduk di kasur.
"Kenapa anda berpikir sejauh itu? Aku bukanlah tipe yang seperti itu suamiku!" Gita berjalan ke arah ruang pakaian. Dia tidak ingin jika sampai Jasson marah saat ini.
Mengganti pakaiannya dengan Piyama dan membawakan piyama Jasson.
"Ini pakaian mu." Gita memberikan piyama itu.
"Pakaian padaku!" Ucap Jasson.
Gita menghelah nafas. Lebih baik ganti saja dari pada berkelanjutan sampai abad pun Jasson pasti tidak akan menyerah.
Gita melepaskan Jaket itu melepaskan kaos itu. Matanya menatap dada bidang indah itu sebentar.
"Kau tidak ingin menyentuh nya?" Tanya Jasson mengejek karena Gita hanya memandang saja.
"Tidak, sudah ku katakan tadi tidak sengaja!" Ucap Gita segera memakaikan baju pada Jasson, mengancing satu persatu hingga selesai.
"Lebih baik anda berdiri. Agar lebih mudah!" Jasaon mengikut saja. Gita membuka celana itu dan memakai kan celana tidur itu pada Jasson.
"Sudah. Sekarang anda bisa tidur." Gita mengambil pakaian ganti Jasson dan menaruh nya di tempat pakaian kotor. Baru saja Gita ingin merebahkan diri di sofa namun...
"Kemarilah tidur disini!
Disini lebih nyaman!" Ya, dia tau kalau tidak ada peraturan lagi namun, jika tidur disana sungguh aneh saja, apalagi gita tidak terbiasa pikir Gita, apalagi dipikirannya terbayang bayang oleh kejadian silam yang panas itu.
"Aku tidak akan melakukan apa apa! Aku lelah ingin tidur! Jadi jangan memancing amarahku. Cepatlah kemari!" Gita meletakkan selimutnya dan berjalan ke arah Jasson.
Jasson merebahkan dirinya dan memberikan tempat pada Gita dengan sedikit menggeser tubuhnya.
"Ayo naik!" Jasson menepuk nepuk tempat yang kosong.
__ADS_1
Dengan segera Gita melepaskan sandalnya dan naik ke kasur. Menyibakkan selimut dan menutup tubuhnya sampai perut.
"Geser tubuhmu kesini! Kenapa kau jauh sekali! Jika kau jatuh bagaimana?"
"Tidak, aku sudah nyaman disini!"
"Kau berani membantah ku!" Gita segera bergeser.
"Sudah." Ucap Gita namun tak menatap Jasson.
Mecoba menutup mata. Tidur terlentang sungguh tidak nyaman ingin sekali ia menghadap samping namun, ah tidak mungkin menghadap jasaon akan sungguh memalukan, jika membelakangi terkesan tidak sopan.
Lebih baik terlentang saja. Gita memejam matanya.
Tak berapa lama terasa Jasson mendekat menggeser tubuh ke sebelahnya. Memeluk Gita tiba tiba.
Gita membuka matanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Ucap Gita mencoba melepaskan pelukannya.
"Jangan bergerak! Aku hanya ingin memeluk mu saja!" Jasson memeluk Gita dan menenggelamkan kepalanya di leher gita.
Aku tidak akan bisa tidur seperti ini. Hembusan nafas mu sungguh geli di leherku!
Jasson memang hanya diam saja. Namun cara tidur nya sungguh membuat Gita tidak nyaman.
Gita mencoba memejamkan matanya. Namun sungguh sulit. Dia menatap jam weker di samping nya.
Sudah 00.01 namun mata itu sangat sulit terpejam apalagi saat ini sebelah kaki Jasaon sudah naik ke atas kaki Gita.
Gita sudah seperti boneka saja saat ini. Gita mencoba melepaskan pelukan Jasaon. Mepaskan kakinya. Dan sedikit menjauh.
Uh, akhirnya..
Dia lelap sekali! Pasti kau sangat lelah! Gita menyamping kan badannya menatap Jasson dengan tidur sangat nyaman dan damai.
Gita mengecup pipi Jasson. Entahlah dorongan dari mana dia hanya berterimakasih karena Jasson tidak pernah sekejam dulu lagi pada Gita.
Dengan hati hati Gita memperbaiki Selimut Jasson dan ikut tertidur menuju alam mimpi masing masing.
..
Sebelumnya,
"Aku tidak melakukan apa apa pa! Maksud papa bisacara seperti ini apa?"
"Morisa jangan berbohong lagi. Kamu pikir disini tidak ada pelayan dan pejaga yang memata mata i Gita? Apa kau lupa siapa kakakmu Jasson?"
Morisa diam dia tidak lupa, tapi selama ini dia tidak merasa di awasi. Bahkan dia berpikir bahwa pelayan disini sungguh bodoh dan mudah di tipu. Ternyata semua pelayan diam diam melaporkan masalah pada Jassoan. Sungguh, Ingin rasanya Morisa berteriak!
"Papa tanya sekali lagi! Kenapa kau melakukan itu?"
Morisa menatap Janes.
"Apa itu sangat penting Pa? Kenapa papa lebih peduli padanya di banding anak sendiri?"
"Papa hanya bersikap adil. Jangan mengalihkan pembicaraan jawab pertanyaan papa!!"
"Aku membencinya mulai dari aku datang kesini!! Dan juga aku tidak sengaja mendengar Papa mengatakan kalau wanita itu punya kekasih di luar dan kekasihnya yang membuat Kak Jasson koma!"
Janes tampaknya tidak terkejut mendengar Ucapan Morisa. Sepertinya dia sudah tau jika meorisa mengetahui ini.
"Apa hanya mendengar kau langsung percaya? Kau tidak melihat dan mencari tau Morisa!" Ucap Janes menatap Morisa
"Untuk apa Pa. Papa sendiri yang mengatakan nya, untuk apa aku cari tau kebenaran yang sudah ada. Dia itu wanita matre, dia hanya memanfaatkan harta kakak, dia itu wanita murahan!"
Plak..
Satu tamparan tepat di pipi morisa.
"Jaga ucapan mu Morisa!"
Morisa memegang pipinya.
"Pa! Papa menamparku demi perempuan murahan itu?"
"Morisa!!!"
"Baru lakyi ini Papa menamparku hanya karena masalh yang tidak Jelas dan tidak penting!"
__ADS_1
"Papa tidak pernah mengajarkan mu, bicara tidak sopan seperti ini! Sejak kapan kau menuduh seseorang tanpa Bukti? Dimana Morisa yang biasanya seperti detektif yang mencari tau kepribadian seseorang?"
Morisa meneteskan air mata menahan panas di pipi. Ingin sekali ia lari ke kamar Brigitta dan menjambak rambutnya.
"Kau bahkan tidak mengenal kakak ipar mu kau malah menuduhnya yang tidak tidak! Apa perlu papa beritahu siapa Brigitta?"
Tanpa menjawab Morisa pergi dengan tangan di pipi.
Jujur saja Janes merasa bersalah namun, sikapa Morisa sudah sungguh keterlaluan bahkan ia pernah nekat ingin menjual Gita, ingin menghancurkan rumah tangga Gita dan juga Jasson. Bahkan ingin membunuh Gita? Astaga janes tidak tau lagi menghadapi sikap putri nya ini. Ingin sekali dia mengembalikan Morisa ke negara tetangga. Namun, Monika selalu melarang nya.
Dia percaya bahwa setelah Morisa mengenal Brigitta dia akan berubah sikap, mungkin saja Brigitta sendiri yang mengubahnya atau waktu yang terus berjalan dapat membuat Morisa menerima kenyataan.
"Awas saja kamu! Akan ku balas! Kau tidak mengenal aku siapa? Bisa bisanya wanita itu menghambil kepercayaan Papa dan juga kak Jas! Itu juga, pelayan sialan!!" Morisa menutup pintu kamarnya dengan kencangnya.
Tak terasa malam itu berlalu dengan cepat hingga pagi menyabut nya.
Dua insang dalam ruangan terlihat sangat rukun dan damai. Jelas saja mereka seperti pasangan termanis saat ini.
Gita dengan santai nya memeluk Jasson dan tenggelam pada dada itu sedangkan sebelah tanggan Jasson menjadi bantal untuk Gita.
Sebelah tangannya lagi memeluk Gita erat. Sungguh dekat hingga tak ada jarak.
Biasa dengan bangun pagi, Gita merasakan sesak saja di pagi hari seperti ini. Di pikir dia sedang terhanyut di badan Sofa yang biasa tempat tidur nya. Ternyata ini sebuah tubuh manusia dengan aroma maskulin.
Gita membuka matanya.
Aaaaa apa yang kulakukan.. Gita sedikit mendorong dan bergeser ke belakang.
Untung saja hal itu tidak membuat Jaaaon terganggu.
Gita menatap lekat wajah di hadapannya. Sungguh manis..
Gita memperbaiki tangan Jasaon yang pasti sudah pegal menjadi bantal nya. Memindahkan tangan ke bawah.
Ingin rasanya Gita menurunkan tangan yang melingkar di perutnya. Namun ia tidak berniat melakukan itu. Sungguh nyaman saja. Mungkin tadi karena sedikit terkejut saja dengan posisi aneh di pagi hari.
Gita menatap Jam weker 05.30
Menatap wajah Jasson, yang sama sekali tidak terasa tergangu. Padahal Gita sedikit mendorong tubuh yang tidak bisa di gerakkan itu.
"Dia sungguh tampan sekali.." Gita mengagumi setiap Inci wajah Jasson.
Mengelus pipi itu tersenyum.
Menunjuk hidung mancung itu dengan Jari telunjuk.
Jujur saja baru kali ini Gita berani menyentuh Jasaon dengan santai nya. Dia malah cengingisan memegangi Wajah Jasaon.
"Apa kau sebahagia itu memegangi wajahku? Sampai aku tak bisa bernafas di buat mu!" Suara berat itu membuat Gita melototkan matanya tangganya masih mimijit hidung itu yang membuat Jasson tak bisa menghirup oksigen.
"Kau sudah bangun?" Tanya Gita melepaskan tangganya cepat.
Lihat mata Jasson masih tertutup sempurna.
"Apa kau ingin membunuhku?" kali ini Jasaon membuka matanya dan malah mengeratkan pelukan yang longgar.
"Tidak, mana mungkin aku setega itu!" Ucap Gita menatap Jasson.
Jasson tersenyum memandangi bibir yang sedikit jutek, Jasson malah mencium bibir itu sekilas.
Gita mengerakkan bibirnya masuk kedalam. Dan menatap Jasson.
"Apa aku menggagu tidur mu?" Tanya Gita hati hati.
"Ya, kau harus tanggung jawab! Aku tidak bisa tidur lagi karena mu!" Ucap Jasson menutup matanya.
Sebenarnya Jasson tidak tergangu malahan sedari tadi dia sudah bangun dan membiarkan Gita mengagumi wajahnya.
"Aku ingin membersihkan diri." ucap Gita.
"Pergi saja!"
"em, tangan mu masih melingkar di tubuh ku!"
"itu artinya kau belum boleh pergi! Temani aku tidur. Aku masih ngantuk!" ucap Jasson mendekat pada Gita dan makin mengeratkan pelukannya.
Menghelah nafas dan membiarkan Jasson memeluknya. Sebenarnya Gita juga kasihan, pasti Jasaon sangat lelah.
Tanpa sadar Gita ikut memejamkan matanya dan malah ikut terlelap juga karena merasa nyaman saja berada di bawa selimut dengan pelukan hangat dari Jasaon.
__ADS_1
To be continued π·
π Jangan lupa like and vote ya Beste π€©π