Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
52. Rencana


__ADS_3

"Kenapa lama sekali! Dimana dia malam malam Begini?" ucap Jasson sambil menatap ke arah CCTV yang kosong tampa penghuni.


Terlihat dari CCTV lagi Gita masuk kamar dengan bantuan Morisa ke arah sofa.


Jasson tambah mengerutkan keningnya.


Aneh sekali kenapa mereka sangat dekat? biasanya akan ada pertengkaran diantara mereka. Ingat Jasson beberapa minggu lalu mereka selalu bertengkar.


"Kak ponsel kakak bunyi tuh! sebentar ya biar Moris ambil!"


Morisa beranjak mengambil Ponsel yang terletak di meja rias


Menatap ponsel nama yang sungguh aneh.


Orang Hutan. Nama kontak yang tertera disana.


"Orang Hutan?"


"Halo, apa ini orang hutan?" Tanya Morisa polos.


"Apa kau gila! Aku ini kakakmu! Berani sekali kau!"


"Ah, kakak maafkan aku! Tapi disini.."


"Berikan ponsel itu pada pemiliknya!" Ucap Jasson menghentikan ucapan Morisa. Jasson masih menatap kamera cctv.


"Morisa, siapa?" teriak Gita.


Morisa sedikit berlari menghampiri Gita.


"Dari kak Jasson!" Morisa memberikan ponsel pada Gita.


"Halo?"


"Darimana kau? kenapa kaki mu di perban?"


Gita menatap Morisa.


Darimana dia tau kalau kaki ku diperban?


"Aku dari lantai atas."


"Kaki mu kenapa bisa diperban? Apa kau keluar dari mansion?"


"Tidak, aku tidak keluar. Tadi aku tidak sengaja terjatuh dari tangga saat turun!"


"Ceroboh! Jalan saja kau minus!"


Gita menatap Morisa.


Morisa hanya diam saja sambil bertanya tanya apa yang dikatakan Jasson. Karena tidak kedengaran, dia lupa mengaktifkan lospekernya. Dia juga binggung berani sekali Gita memberi nama kontak yang sangat aneh seperti itu.


" Aku tidak Papah. Hanya terkilir sedikit! Besok juga akan baikan."


"Sudah, Istirahatlah! sudah malam seperti ini belum tidur juga!" Jelas saja saat ini di tempat jasson sudah pukul 01.10 dan di tempat Gita pukul 11.10.


"Anda juga istirahat bukankah disana masih sangat subuh. Jaga kesehatan anda, jangan sampai anda sakit. Selamat istirahat." Gita menutup ponselnya lebih dulu.


Sedangkan Jasson masih diam biasanya tidak akan ada yang mengatakan ini padanya namun sekarang ada seorang yang mengingatkan nya tentang kesehatan.

__ADS_1


Sedikit tersenyum masih menatap layar di hadapannya dan segera menutup nya.


Dia jadi lupa menanyakan yang membuatnya emosi tadi.


"Kakak... Apa boleh aku bertanya sesuatu?"


"yah?" ucap Gita menatap Arah Morisa.


"Kenapa kakak tidur di sofa? dan kakak sangat formal sekali bicara dengan Kak Jas! Dan juga kenapa kakak memberi nama kontak yang sangat aneh pada kakak ku!"


Gita menatap Gita lekat. Kenapa nge gas sih.


"Tidak, aku hanya malas saja tidur di ranjang sendirian. dan aku memanggilnya dengan Anda. mungkin karena sudah terbiasa." ucap Gita terseyum.


Bilang saja jika kak Jasson tidak menggapmu. oh sungguh kasihan. Seringai morisa terseyum.


"Dan nama kontak itu! Kenapa membuat nama nya Orang Hutan? Emang nya kak Jasson orang hutan? Dia pria tampan bukan orang hutan!"


"Uh, itu. Aku tidak sengaja. Mungkin salah buat nama. Nanti akan ku ganti!"


Morisa hanya menatap tak percaya. Mana mungkin dia percaya begitu saja.


"Kakak, istirahatlah aku juga ingin beristirahat."


Morisa terseyum dan berlalu.


"Terimakasih Morisa." Sedikit berteriak.


namun Morisa mengabaikannya dan terus melangkah hingga pintu itu tertutup kembali.


Gita menatap ponsel. Melihat log panggilan dari Jasson. Tertera nama Krang Hutan disana. Sedikit tersenyum


Gita jadi teringat sosok yang dia pikir ialah kekasih Jasson.


"Apa gadis cantik yang pernah datang kesini adalh kekasihnya? Tapi kenapa mama mengatakan kalao jasson tidak pernah pacaran? Sebenarnya siapa gadis itu?"


Uh, untuk apa aku peduli! Lebih baik aku istirahat itu lebih baik!


Gita merebahkan tubuhnya di sofa dengan sangat nyamannya.


.


Pagi ini segala makluk sangat sibuk dengan urusan nya beberapa hari ini Gita tinggal sendiri di kamar besar itu. Membuatnya terasa Janggal biasa dia akan melakukan aktivitas di kamar itu namun sekarang dia sudah seperti tuan putri yang sangat santai tanpa melakukan apa-apa. Apalagi saat kakinya sakit dia lebih sering rebahan sambil membaca buku.


Namun hari ini


Terlihat jelas Gita tengah beres beres dan terlihat sangat rapi. Dia duduk di depan cermin mengoleskan sedikit bedak di pipi.


"Aku tidak pernah berpikir bisa bekerja lagi!" Gita terseyum, berdiri dan sedikit merapikan pakaiannya.


Setelah kakinya sembuh dia menghubungi Jeni dan mau menerima tawarannya.


Apalagi Morisa yang sangat antusias untuk membantu.


"Kakak, kenapa wajahmu tegang?" Tanya Morisa si ruang utama mansion.


"Aku takut saja, jika Jasson akan marah!


Apa aku harus menghubungi nya sekarang ya?"

__ADS_1


"Tidak perlu kak. Aku sudah menghubungi kakak. Lagian sekarang kakak sedang bekerja jika menghubunginya akan mengganggu. Bisa bisa kakak nanti akan marah!"


Benar juga. Nanti kalau kerjaannya bermasalah aku juga yang kena!


"Baiklah masalah ini aku serahkan padamu. Tolong jangan mengecewakan ku!" Gita memegang lengan Morisa.


"Kakak tenang saja!


Kak ayo aku antar kakak ke depan. Aku yang akan mengatakan pada pelayan yang di sana!"


Seperti yang dikatakan morisa saat ini mereka sedang cekcok di halaman depan mansion.


"Maaf nona, tapi tuan Jasson tidak mengizinkan Nyonya Brigitta untuk keluar dari mansion."


"Aku sudah izin. Kenapa kalian tidak percaya! Lagian kakak pergi bersama supir, bukan sendiri! Jadi cepat antar dia. Jika tidak dia akan terlambat!"


"Tapi nona, kami tidak bisa! Ini sudah tugas kami."


"Aku sudah izin pada bos kalian dia mengizinkan nya! Apa aku lapor saja pada kakak agar kalian di pecat! Saya juga punya hak. Karena ini adalah kediaman saya!"


Pelayan itu berpikir sebentar.


"Jika tuan Jasaon mengizinkan Nyonya pergi , seharusnya tuan Jasson akan menghubungi kami. Namun tidak ada nona!"


"I itu karena. Ya, karena kakak sibuk. Kau tau kan kakak tidak akan sempat menelpon untuk hal seperti ini!"


"Tapi nona ini sudah peraturan dari Jasson!"


"Apa kau berani membantah perintahku! Apa kalian mau aku melaporkan ini pada papa! Agar kalian dipecat sekarang!"


"Tidak nona, jangan!" Astaga pelayan itu sungguh sulit untuk memutuskan. Apalagi saat tahu jasson orang kejam. Dan tidak bedah jauh juga dengan Janes pria terlihat lembut namun sebenarnya dia juga pria kejam.


Akhirnya Pelayan itu memutuskan untuk mengizinkan pergi dengan supir pribadi Gita.


"Kakak semangat okeh!! Semoga berhasil!"


"Terimakasih Mor.."


Senyum Gita yang dibalas oleh Morisa.


Mobil itu berlalu dari pekarangan mansion. Morisa langsung memanggil supir pribadi untuk ikut pergi membuntuti Gita dari belakang.


"Kita lihat apa saja yang dia lakukan! Aku tau pasti dia sangat buruk di luar sana! Mana mungkin dia sehebat itu. Sampai sampai perusahan membutuhkan nya."


Morisa menatap Gita yang baru keluar mobil dengan sedikit berlari.


"Apa sepenting itu?" Morisa hendak membuka pintu.


"Jangan pergi jauh, disekitar sini saja. Dan juga jangan sampai kau ketahuan jika tidak kau akan ku pecat!" Morisa turun segera menutup pintu. Berjalan masuk menggunakan masker dan juga topi.


Tidak ada yang tau apa yang direncanakan gadis imut namun sungguh mengkahwatirkan dari gerak geriknya saja sangat membahayakan.


To be continued


Nanti disambung lagi ya guys....


tunggu kelanjutannya.


🍁 Jangan lupa like and vote 🍁

__ADS_1


__ADS_2