Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
119. Sia sia


__ADS_3

🌟🌟🌟🌟🌟


"Masuk! Tidak ada istilah belanja. Lemari sudah full." Ucap Kevin dan lebih dulu masuk ke dalam mobil.


"Terserah! Jika kau belum lihat kenyataan bahwa isi dari lemari yang begitu besar dan banyak itu adalah pakaian seksi barulah kau mengerti. Itu pun jika kau peka!" yolan membuka pintu dan masuk dengan malas.


"Jika dulu kau suka atau sering belanja untuk menghamburkan uang mulai sekarang belajar lah untuk menyimpan dan bersedekah!"


"Kau tidak mengerti diriku." Bisik Yolan pelan.


Yolan adalah sala satu wanita yang tidak suka shopping, apalagi salon untuk perawatan dan lainnya. Sebab dirinya lebih banyak tinggal di RS. Bahkan dulu perlengkapan nya saja sudah di atur oleh asistennya.


"Kau mengumpat?" Tanya Kevin.


"Tidak, Jangan Ke PD an."


"Jika mau bicara kuatkan volume suaramu!"


"Hem..


...πŸ‘£πŸ‘£πŸ‘£...


"Sayang kau dimana? Lama sekali! Aku mau makan sekarang!"


"Astaga..Gi ini baru di tengah jalan, belum juga nyampe."


Ucap Jasson melalui sambungan telepon.


"Lama... Yaudah cepatan nanti gak mood lagi!"


Gita langsung mematikan sambungan secara sepihak.


Jasson harus bisa menahan sabar. Selama kehamilan Gita mengajarkannya untuk benar benar bersabar. Apalagi juga kan sampai permintaan Gita tidak dituruti siap siap aja di diamin dan gak dianggap ada.


4 jam kemudian.


Senja bahkan sudah menyinari dengan warna jingga yang memabukkan mata. Gita menatap dari atas balkon ke bawah tempatnya halamn depan. Mobil Jasson memasuki arena mansion yang megah itu.


Gita bahkan sudah bad mood. Sedari tadi agar tidak bosan dia membaca buku. Merapikan kamar mereka dan bahkan dia sudah satu jam yang lalu selsai mandi.


Ceklek..


Pintu terbuka dan suara itu terdengar sampai pada telinga Brigitta namun tidak membuatnya untuk langsung menghampiri suaminya itu. Dia masih kukuh duduk santai dari teras balkon di temani satu gelas susu hamil.


"Sayang..." Panggil Jasaon mencari.


"Ya.." sahut Gita males.


"Kamu? Ngapain disini?"


"Emang gak liat? Ini lagi nyanti, kamu lama berapa abad baru nyampe?"


"Baru juga beberapa jam." Bahkan tadi Jasaon berangkat menggunakan helikopter supaya terbebas dari kemacetan kota.


Jasson menghampiri Gita dan berjongkok di depan nya.


"Ini, yang kau inginkan? Untuk baby dan mama nya juga." Senyum Jasson.


Bahagia. Dengan ini pasti Gita akan kembali bahagia dan gak permasalahan kelambatan yang memang sudah wajar.


"Kamu beli empat? Untuk siapa?"


"Untuk mu lah sayang..."


"Itukan hanya ada lima gimana bisa kamu dapat empat!"


"Kenapa? Kamu lupa siapa suamimu ini??"


"Heum?"


"Kenapa? Ini sekarang buah yang kau inginkan kan kenapa gak senang? Mau aku kupas juga?"


Gita mengeleng.


"Sayang.. Baby nya gak selera lagi." Ucap Gita tanpa dosa.


"Apa?" Jasson meneguk ludahnya. Apa apaan ini sudah capek capek sekarang bilang gak selera.


"Soalnya kelamaan keburu gak suka lagi.."


"Tapi ini-"


"Sayang kamu yang makan ya! Kan sayang kalau dibuang!"


"A- Aku yang makan?" Tunjuk jasson pada diri sendiri menatap Gita tak percaya.


"Hemm." Gita menggaguk anggukkan kepala nya tersenyum.


"Jangan bercanda sayang. Ini asam.. belum matang sempurna.. gimana rasanya coba??"


"Gak tau. Tapi aku pengennya kamu yang makan sayang. Ini kan hasil keringat kamu. Udah capek capek kan? Sekarang ini untuk mu saja!" Gita menunjuk buah itu.


"Gimana kalu dibagi bagi aja ya!" Saran jasaon.


"Tidak... Aku mau kau yang makan.."


"Semua?"


"Hem."


"Ini, ada empat loh sayang! Bukan seperempat! Mana sanggup"

__ADS_1


"Aku tau! Tapi aku kan gak nyuruh kau habiskan sekarang! Kamu bisa makan satu untuk hari ini. Dan begitu juga hari selanjutnya sampai habis! Dan mungkin bertambah hari jadi matang sempurna dan manis ia kan?"


"Kamu benar benar.."


ingin rasanya Jasaon marah dan maki tapi ingat siapa di hadapannya? seorang bumil.. isteri orang yang dia cintai dan kata marah? itu tidak akan mungkin terjadi..


"Kenapa?"


Jasaon menggeleng pasrah.


"Yaudah, sekarang kamu mandi ya! Aku akan bersihkan dan kupas untuk mu!" Senyum Gita. Dan hendak berdiri.


"Gitu aja? Aku udah capek tapi gak diberi penghargaan?" Tanya jasson mengerutkan wajahnya memelas menatap kedua mata indah Istri nya.


"Iya, ini penghargaan nya kan? Biar aku bersihkan ya!" Gita mengangkat Buah Itu.


"Sayang.. ciumm.." ucap Jasson seperti anak kecil.


"Kamu belum mandi. Emang kamu mau anaknya sakit karena cium papanya yang belum mandi!"


"Jadi maksud kamu aku banyak kuman?"


"Bukan gitu. Tapi..


Sudahlah sayang lebih baik sekarang kamu bersih bersih, okeh!"


Jasaon menghela nafas panjang..


Pengorbanan yang serasa sia sia.


Lebih baik tadi beli seperempat aja. Astaga apakah hari hari Jasaon akan dihidupi oleh jeruk bali yang setengah matang itu dengan rasa asam yang tidak mengenakkan itu??


...


"Vin, makan malam udah siap. Makan yuk!" Ajak Yolan yang baru saja maauk ke dalam kamar memperhatikan Kevin yang asik dengan laptopnya.


"Kamu masak?"


"Maksud kamu sedari tadi aku di dapur lagi shopping huh?


Kita beli bahan untuk apa?


Ya masak lah, Astaga..!!"


Yolan berdecak menggeleng gelengan kepala nya.


"Gak usah ngegas biasa aja!" Tatap Kevin beralih pada Yolan.


Eitsss Sedikit terkejut sih lihat penampilan yolan yang seksi itu.


"Kamu suah gila!"


"Huh?" Aneh Yolan.


"Hem.. Kenapa kau gunakan pakaian begituan disini?"


"Ini?" Tunjuk Yolan pada gaun rumahan di atas lutut dan tali lengan satu jari dengan warna biru laut.


Kevin menatap Yolan meminta penjelasan.


Sedari tadi dia belum melihat Yolan karena berada di ruang baca tepatnya di ruang sebelah.


"Pakaian ini kenapa? Menurut ku biasa aja." Ucap Yolan mencoba biasa. Jujur dia juga aneh saat menggunakan pakaian itu. Bukan pilihannya namun mertuanya yang menyiapkan pakaian nya seksi semua.


"Lebih baik kamu ganti sekarang. Kamu pikir rumahku ini apaan?"


"Rumahku? Hello... Rumah kita woi!!" serkah Yolan.


"Ya ya.."


"Lagian supaya kamu tau baju ini adalah baju rumah yang ada dalm kata normal. Lihat saja di lemari banyak yang lebih terbuka. Lagian jangan sok polos. Kamu sering kan liat wanita yang lebih seksi dari ini! Jadi jangan sok syok, terkejut! Basi!"


Masalah nya.. Kevin juga pria normal...


Tinggal berdua di tempat besar tidak ada orang lain.. apa coba yang timbul nanti jika pemandangan hanya ada wanita seksi yang menggoda iman??


Kevin diam sejenak. Memijat pelipisnya yabg sedikit cenat cenut.


"Terserah.. Aku sudah lapar.." Kevin berdiri meletakkan Laptop di atas nakas. Dan berlalu melewati Yolan begitu saja. Yolanda dengan cepat berlari untuk mensejajarkan langkah mereka.


"Besok udah bisa masuk gak Vin?" Tanya Yolan disela sela jalan mereka.


"Belum. Seminggu libur! Kamu lupa?"


"Bukan lupa, tapi gak di beri tahu!"


Percakapan berakhir ketika keduanya sudah duduk di meja makan. Yolan dengan gesit menghidangkan makanan untuk Suaminya. Meski sudah jarang berada di dapur karena sibuk dengan pasien. Namun yolan masih taulah sedikit sedikit karena dulu pernah memasak. Dan sekali kali juga kalau malas beli makanan Yolan akan masak untuk dirinya sendiri.


"Gimana enak?" Tanya Yolan disela sela makan. Namun tak ada respon yang ia dengar.


"Vin, kamu budek? Enak gak?"


"Hem.." sautnya dan lanjut makan tanpa menatap Yolan.


"Di puji kek kalau enak! Kalau gak enak diberi komentar dan saran supaya bisa diperbaiki! Ini diam aja! Kenapa sih?"


Yolan memasukkan makanan ke dalam mulut.lagi dan kembali menatap Kevin yang masih fokus makan.


"Heh, kevin.. Vin.. dengar gak sih?"


"Kalau makan jangan bicara! Kalau makan ya makan aja! Udah?" Kevin meneguk air minumnya.

__ADS_1


"Kan hanya nanya Vin."


Ucap Yolan kesal!


"Biasa aja!"


"Biasa aja gimana? Apanya?"


"Makannya.." ucap Kevin sembari mengelap bibirnya dengan tisu.


"Komen.."


"No komen.." Kevin berdiri dari duduknya.


"Udah?"


"Hem.."


"Sarannya vin..."


".." Kevin sudah pergi.


"Jika no komen berarti enak!!" Teriak Yolan kencang dia yakin kevin akan dengar teriakannya.


"Biasa aja katanya? Lihat piringnya sisa sedikit begini! Dasar tukang gegsi!!!"


.


Yolan masuk ke kamar setelah urusan dapurnya selsai.


Dia menatap Kevin yang masih asik dengan Laptopnya.


"Ngapain?" Tanya Yolan ikut duduk di sofa kamar dengan dua dudukan itu.


"Gak liat?"


Yolan menatap kevin ingin rasanya dia cincang lalu goreng di kasih sambel. Setelahnya di kasih sama anjing peliharaan tetangga sebelah.


sungguh sangat menyebalkan.


"Vin.. kalau kita cuti seminggu, mau ngapain? Bosan dong dirumah. Gimana kalau besok masuk aja!"


Kevin meletakkan Laptop nya di atas meja lalu memiringkan posisinya menatap Yolan.


"Menurut mu pengantin bsru seminggu berdua dirumah mau ngapain?" Tanya Kevin dengan senyum jahilnya.


"Apaann..." Yolan denngan tegas memukul lengan Kevin dan jadi salting.


"Kenapa? Kamu mikir nya kemana?" Tanya Kevin lagi sambil menaik turunkan alisnya.


"Gak ada. Kamu aja yang aneh! Kenapa natap aku seperti itu huh?"


"Emang kenapa, ada yang salah?"


"Em, m salah lah! " Yolan menatap arah lain. Kenapa juga jadi canggung begini.


"Salah dimana?"


"Di mata kamu!"


"Mata aku kenapa?"


"Ih, udah yah!"


"Udah kenapa?"


"Vin..."


"Hem?" akhirnya kevin cengingisan.


"Kamu kenapa sih?"


"Bukan nya tadi kamu yang nanya kita ngapain seminggu cuti? Menurut kamu orang yang baru nikah dan diberi cuti ngapain?"


Tanya kevin kini dengan wajah yang tidak terbaca.


"Gak tau! Pikir aja sendiri. Udah ngantuk, aku mau tidur!" Yolan langsung berdiri dan beranjak untuk menganti pakaiannya.


Jelas terlihat kevin menarik sudut bibirnya ke atas.


.


Yolan menatap diri dicermin. Ini pakaian untuk malam ini lumayan tertutup walaupun celana nya jauh dari kata normal karena lebih dari setengah paha. Dulu memang bakhan pakaian beginian normal di mata Yolan. Tapi bukan dinegara ini melainkan di negara tempat ia kuliah dan tempat pertama ia digelar sebagai dokter.dan itu pun ia pake saat di rumah sendiri. Ya wajar dong. Siapa juga yang lihat. Hidup juga sendiri.


Yolan memang sudah terbiasa kalau tidur tidak pake dalaman. Tapi malam ini terpaksa ia harus menggunakan dalaman. Jika tidak apa pikirian kevin untuknya?


Setelah selsai berganti dia langsung naik ke atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dan tidur menyamping.


Kevin hanya melirik saja. Sejak Yolan keluar kamar dia sudah meneliti Yolan hingga tak terlihat lagi karena tenggelam oleh selimut tebal.


"Dasar aneh!" Kevin menggeleng gelengankan kepalanya dan lanjut bekerja.


Tapi jujur yolan tidak bisa tidur karena terasa dincekik dan tak bisa nafas. Bahkan dalamanya berteriak teriak di minta untuk dibuka.


Sesak apalagi menggunakan bra untuk tidur.


Astaga Yolan membuka telungkup di kepalanya. Sedikit melirik Kevin yang masih fokus pada layar laptop.


"Vin.. kamu gak tidur?"


"Heh?" Kevin sedikit Menatap Yolan. Perasaan sedari tadi Yolan sudah baringan tapi nyatanya masih belum tidur.

__ADS_1


To be continued 🌷


Berikan like ya Guys...❀️❀️❀️


__ADS_2