Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
17. Demam


__ADS_3

"Hei, Bangun!!!"


Tidak ada jawaban.


Dengan malas Jasson sedikit membungkuk dan menggoyangkan badan itu.


"Bangun!!" Teriak Jasson.


Seketika tongkat Pel itu terjatuh. Mengenai kaki Jasson.


"Menjijikkan.." Jasson menepuk pipi itu pelan.


"Bagun kau Gadis bodoh!!"


Ada yang aneh kenapa pipinya sangat panas pikir Jasson.


Jasson memegang kening Gita dan benar saja kening itu seperti terbakar. Jasson spontan menarik tangganya karena panas.


"Hei, kau kenapa?" Jasson mencoba membangunkan Gita tapi nihil tidak ada jawaban.


Dengan cepat Jasson menggakat tubuh itu keluar dari ruang pakaian.


Jasson meletakkan Gita di atas kasur besar itu.


"Kenapa bisa dia seperti ini!" Jasson menekan tombol di dekat kasur itu untuk memanggil pelayan.


Tak lama kemudian ketukan pintu terdengar.


"Masuk!!"


"Apa ada yang perlu saya.."


"Apa kau tidak lihat dia!" Tunjuk Jasson pada Gita sambil mengeraskan rahangnya.


"Apa saja pekerjaan mu sedari tadi hu? Apa kau tidak memperhatikan nya?"


Pelayan itu masih tertunduk tak berkutik.


"Kenapa bisa di demam seperti ini!" Jasson mendekat ke arah Gita. Seraya dia lupa, dialah yang menyuruh Gita untuk tidak keluar kamar dan harus membersihkan ruang sebesar ini.


"Panggil asisten pribadi nya!" Ucap Jasson matanya masih tertuju pada Gita.


"Sekalian bawakan es untuk menurunkan demamnya!"


"Baik Tuan."


Pelayan itu segera berlalu.


"Wanita ini selalu saja membuat masalah!" Tatap Jasson melihat Wajah Gita yang terlihat pucat.


Tok tok tok.


"Masuk!!"


"Tuan Jasson ada apa? Apa yang terjadi pada Nyonya Gita!" Ucap Lico yang langsung berlari ke arah Jasson.


"Dimana dokternya?" Tanya jasson tanpa memperdulikan pertanyaan Lico.


"Sudah di jalan Tuan, sebentar lagi akan sampai." Tadi karena panik Jasson menelpon Lico setelahnya baru ia menekan tombol untuk memanggil ketua pelayan.


Tok tok tok


Ketukan pintu. Pelayan itu mengetuk walupun pintu itu terbuka.


"Tuan ini Es nya." pelayan itu memberikan es yang dimasukkan pada tempat yang elastis seperti karet. Berbentuk botol lebar.


Jasson mengambil nya dan meletakkan di kening Gita.


Baru saja Jasson meletakkan pada kening Gita seorang berjas putih langsung masuk menerobos pintu yang terbuka tanpa mengetuk.


"Jasson apa isteri mu terluka lagi?" Dokter Arya langsung mendekat ke samping Jasson. Suara itu membuat jasson menatap Arya tajam.


"Apa kau sudah kehilangan akal sehat? Bahkan kau tidak mengetuk pintu atau menyapa sebelum masuk!"


"Maafkan aku. Aku sangat panik!"


"Periksa dia! "


Arya melepaskan benda yang terletak pada kening Gita.


"Dia pucat sekali. Astaga kenapa panas sekali? Apa yang terjadi padanya Jas?"


"Kalau aku tau aku tidak akan memanggilmu!!"


Arya langsung memeriksa Gita. Mengecek beberapa bagian tubuh itu.


"Apa kau menelantarkan nya Jas?"


Arya melepaskan benda yang melekat di telinganya.


Jasson hanya mengerutkan keningnya.


"Dia tidak makan mulai dari pagi, perutnya kosong. Bahkan tubuhnya lemah sepertinya kecapean? Apa yang dilakukannya? Kenapa bisa seperti ini? "


Jasson hanya bisa diam dia berpikir mungkin ini salahnya. Tapi dia tidak melarangnya untuk makan. Kenapa Gita sangat bodoh memaksa diri bekerja sedangkan perut tidak di isi seharian, jelas sekarang sudah jam 18.20.


"Dan sepertinya pola makannya tidak teratur, itu membuatnya bisa seperti ini.

__ADS_1


Apa kau tidak mengijinkan dia makan jas?" Tanya Arya santai.


"Apa kau Gila? Cepat obati dia setelah itu pulang lah. Kau sangat cerewet!"


"Baik baiklah.." Dia juga menyuntikkan lengan Gita agar tubuh gita lebih kuat. Arya mengambil beberapa tablet obat dari tasnya dan meletakkannya di nakas.


"Obat ini di minum 3x sehari dan juga beri dia makan bubur dan sup saja jika dia sudah bangun. Jangan memberikan makanan lain dulu."


Arya merapikan alat alatnya.


"Jasson aku mengenalmu! Jaga isteri mu dengan baik. Jangan sampai dia sakit lagi." Arya tersenyum dan berlalu setelah menepuk pelan punggung Jasson.


Apa dia gila? Dia memerintah tuan Jasson? Batin liko ngeri.


Sedangkan jasson hanya diam saja menatap Gita.


"Siapkan bubur untuk Nyonya Gita!!" Ucap Lico pada pelayan yang masih mematung disana.


"Baik Tuan."


Lico mendekat kepada Jasson.


"Tuan, apa anda baik baik saja?" Tanya Lico yang melihat Jasson hanya diam saja.


"Apa matamu rabun? Siapa yang sakit? Kenapa kau menanyakanku? " Kan tidak mungkin Lico bertannya pada Gita jelas jelas Gita masih belum sadarkan diri.


"Lico. Kau tau apa yang sudah terjadi kan? Pelayan itu sungguh tidak berguna!!"


"Aku mengerti Tuan!"


Jasson memang seperti itu siapapun yang melakukan kesalahan baik kecil dan besar akan di hukum sampai benar benar tidak berkutik dan bertingkah lagi.


Lico berjalan turun dari kamar Jasson ia menghampiri asisten pribadi Gita.


"Ikut dengan saya!!" Lico menatap Asisten gita yang sedang berada di dapur itu. Asisten itu sudah pasrah. Dia sudah tau apa yang akan terjadi padanya.


Sampailah mereka di ruangan itu. Ruangan yang menjadi neraka buat semua pelayan di mansion itu. Jika sudah masuk kesana itu artinya hidup mereka sudah dalam bahaya besar.


"Apa kau tau apa kesalahan mu?" Lico mengencangkan suaranya.


"Maafkan saya Tuan."


"Kata maaf mu tidak ada gunanya sekarang. Apa kau tidak lihat tadi, kondisi Nyonya Gita seperti apa!"


Kini pelayanan itu meneteskan air matanya.


"Duduk!!" Pelayan itu segera berlutut di depan kaki Lico.


Segera Lico mengambil cambuk yang digantung di ruangan itu.


"Jika kau menginginkan pekerjaan ini, Lakukan tugasmu dengan baik, jangan sampai aku mengulangi pukulan ini di tubuhmu!" Lico keluar dari ruangan itu menyisahkan pelayan yang meringis kesakitan.


Dia ingin sekali mengundurkan diri tapi sebelumnya ia sudah menanda tangani kontrak kerja jika ia mengundurkan diri akan membayar denda sebesar 10M.


Sebulumnya dia fine saja karena bekerja di sini mendapatkan gaji yang fantastis tiap bulannya. Namun setelah ia masuk den merasakan semuanya ia jadi menyesal.


Begitu juga dengan beberapa pelayan di mansion itu.


..


"Apa yang kau lakukan. Kau mempermalukanku? Kenapa bisa kau kalah dengan anak itu huh?" Ucap Aditya yang membentak Kevin.


Kevin acuh tak acuh selama ini hidupnya selalu saja di atur oleh Aditya.


"Apa sudah selesai pa!" Tanya Kevin malas.


"Apa? Apa yang kau katakan! Bahkan kau tidak meminta maaf?"


"Kevin minta maaf Pa." Ucap Kevin asal.


"Anak kurang ajar! Meminta maaf saja kau tidak bisa. Apa yang bisa kau lakukan Hu?"


"Kenapa papa harus marah? Masih banyak diluar sana yang bisa bekerja sama dengan perusahaan kita!"


"Kamu benar benar tidak mengerti juga!! Papa menyuruh mu pulang untuk mengembangkan perusahan di negara ini tapi apa yang kau perbuat? Kau menghancurkan semuanya!!"


" Pa, bukankah baru sekali ini aku gagal? Apa harus seperti ini reaksi papa? Selama ini aku sudah melakukan yang terbaik! Jika ingin memenangkan kerjasama tadi kenapa tidak papa saja yang menanganinya? Kenapa harus kevin!!"


"Beraninya kau bicara berteriak?"


"Papa selalu saja memerintahkan ku melakukan ini itu. Apa papa tidak bosan menjadikanku seperti babu untuk bisnis papa ini. Kenapa papa sangat gila pada dunia bisnis ini? Dan tidak memperdulikan anak sendiri?"


Plaakkk


"Anak tidak tau di untung! Papa melakukan ini supaya kamu belajar bagaimana memimpin perusahaan kelak!"


"Papa menamparku? Hebat sekali!!"


Kevin segera keluar dari ruangan kerja papanya. Dan memasuki life menuju kamar nya.


Aditya mengacak rambutnya frustasi.


...


Jasson keluar kamar mandi dengan stell hitam putih. Terlihat cool and tampan.


Dia menatap wanita yang tengah berbaring di ranjangnya.

__ADS_1


Jasson mendekat menempelkan telapak tangannya di kening Gita.


Demamnya sudah turun. Tapi Gita kenapa tidak sadar juga?


Jasson melepaskan tangan itu dan hendak pergi namun tangganya di pegang oleh Gita. Jasson ingin marah namun suara itu membatalkan nya.


"Tuan, maafkan saya. tolong jangan sakiti saya.Tuan.." Gita menagis namun mata itu masih tertutup.


jasson mendekat dan duduk di pinggir kasur. melepaskan tangan itu pelan.


"Apa setakut itu kau padaku? Sampai kau bereaksi seperti ini?" Jasson mengusap kening Gita yang mengeluarkan keringat.


Gita membuka matanya perlahan. Orang yang pertama dia lihat Jasson dengan tangan di keningnya. Segera Jasson menarik tangan itu.


"Kau sudah bangun?"


Aku kenapa? kenapa badan ku tidak enak sekali? dan Kenapa aku disini?


Gita menatap sekeliling dia ingin sekali bangun tapi seluruh badannya sangat lemas. Bahkan untuk bicara saja dia enggan.


"Kenapa kau sangat bodoh!" Ucap Jasson menatap Gita, tatapan kali ini biasa biasa. Tidak ada kata menyerahkan.


"Kenapa melukai diri sendiri? Apa kau ingin menyusahkan ku?"


Tadi aku bukannya di ruang pakaian? Astaga aku lupa kalau seharian aku belum makan dan minum.


Jasson menekan tombol di dekat ranjang.


"Duduklah supaya kau makan!"


Gita menatap Jasson aneh.


"Kenapa dia sangat lembut?"


"Kenapa? Apa kau tidak bisa?" Jasson segera mendekatkan tubuhnya pada Gita.


"Tuan, apa yang akan anda lakukan!" Tanya Gita tanpa bergerak.


"Menurut mu aku mau ngapain?" Jasson membantu Gita mensandarkan punggung itu di bantal yang di letakkan Jasson di belakang badan Gita.


"Terimakasih Tuan."


Ucap Gita sedikit malu karena tadi berpikir aneh.


Tok tok tok


"Masuk!"


pelayan itu membawa nampan yang berisi bubur.


"Tuan ini makanan untuk Nyonya."


"Apa kau bisa makan sendiri?" Tanya Jasson menatap Gita.


"em bisa Tuan." Ucap Gita.


Jasson mengambil makanan itu dan memberikan pada Gita.


"Berikan tanganmu." kata jasson memberikan mangkuk yang berisi bubur itu.


"Au.. Panas.." Ucap Gita saat menyentuh mangkuk itu, padahal mangkuk itu hangat, entahlah mungkin pengaruh kondisi nya yang kurang baik.


"Hem, Bi bantu berikan Gita makan." Ucap jasson mengembalikan mangkuk itu di nampan.


Gita? Apa aku salah dengar? Tadi dia panggil dengan sebutan nama kan?


Pelayan itu meletakkan nampan di nakas, lalu memegang mangkuk hangat itu. dan duduk di samping Gita. Jasson segera pergi ke ruang kerjanya.


Gita menatap Jasson aneh sedikit senyum terukir disana.


"Nyonya.." pelayan wanita itu membuyarkan pandangan Gita.


"Ah, iya Bi." Ucapnya pelan.


Pelayan itu pun dengan sabar memberikan Gita makan karena Gita sangat pelan makanya.


...


"Bi, kenapa hari ini Brigitta tidak menemui saya?" Tanya monik pada asisten pribadinya.


"Em, Nyonya Gita demam, Nya." Ucap pelayan itu sedikit takut.


"Demam? Kenapa bisa? Aku ingin melihatnya! Hantarkan Aku kesan!"


"Tapi Nyonya, kondisi anda..."


"Aku baik baik saja. Ayo antar aku sekarang!"


.....


To be continued


๐Ÿ Jangan lupa like and vote ya guys ๐Ÿ


Dukungan kalian membuat Author lebih semangat. Yok vote segera, oke guys?๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ


Author sayang kalian semua๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š

__ADS_1


__ADS_2