Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
6. Memulai Peraturan


__ADS_3

Brigitta keluar kamar mandi dengan lilitan handuk di kepala.


Brigitta mendekat ke ruangan tanpa Pintu disana terdapat meja rias. Dia menghidupkan handphone yang dua hari ini dalam keadaan off.


Ting ting ting


baru saja menyala sudah banyak notifikasi yang masuk. Gita menghiraukan dan menatap wajahnya di cermin.


Ting Tanda pesan masuk. karena terus bunyi akhirnya Gita memegang Handphone itu.


paling atas


Nomor yang tidak dikenal.


Gita membuka pesan karena penasaran.


+62..…..


Nyonya Tuan muda akan pulang pukul 18.00 jadi lakukan tugas nyonya.


Sekertaris Lico


Gita memandang jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Astaga kenapa dia memberitahunya sekarang." Pukul 17.50. dengan cepat Gita melepas handuk dari kepala dan mulai mengeringkan rambutnya.


5 menit berlalu rambutnya masih lembab tapi dia tidak peduli lagi dia segera turun untuk menyambut kepulangan suaminya.


Tepat mereka sampai bersamaan ketika mobil itu berhenti di depan mansion disaat itu pula Gita sampai di depan pintu yang sudah terbuka. Para pelayan sudah berbaris rapi untuk menyambut kepulangan Jasson.


Masih dengan nafas ngos-ngosan karena tadi Gita berlari supaya tidak telat.


Pintu mobil dibuka oleh seorang pelayan.


Jasson keluar sambil menenteng tas kerja di tangganya dengan cepat Gita mendekat


"Biar saya yang membawa tas anda Tuan." menerima tas tersebut sambil tunduk.


Tampa memandang wanita itu Jasson berjalan melewati setiap pelayan yang tertunduk dan berlalu memasuki kamar. Dengan cepat Gita mengikuti dari belakang.


Sampai di kamar Jasson duduk di sofa dekat jendela kaca itu.


Dengan cepat Gita berlutut di depan kaki itu.


"Maaf tuan Izinkan saya membukakan sepatu anda."


Tampa berkata Jasson meluruskan kakinya dan menyandarkan punggungnya di kepala sofa tersebut.


Gita yang mengerti langsung membuka sepatu itu dengan hati hati.


"Tuan Permandian anda sudah siap. Anda boleh mandi sekarang keburu air nya dingin!"


Jasson bangkit dari duduknya.


mencekam kedua pipi Gita


"Siapa kau berani memerintah ku?


Apa kau tidak lihat aku begitu lelah? Terserah diriku kapan aku akan mandi." Jasson kembali merebahkan dirinya di sofa.


Apa harus bertindak seperti itu?


Gita berlari kearah meja rias untung saja Jasson tidak melihat handuk yang tergeletak sembarang disana segera Gita menyimpannya.


Tak berapa lama Jasson memasuki kamar mandi.


Brigitta dengan segera mengambil pakaian untuk Jasson meletakkan nya di atas tempat tidur dan berlalu keluar kamar.


Baru saja dia menuruni anak tangga Lico datang mengejutkan nya.


"Nyonya. Tolong ikut saya sebentar!"


Dia mengejutkan ku lagi


"Nyonya."


"Hem."


"Mari..." Lico mulai mengambil jalan didepan dan di ikuti oleh Gita.


Lico membawa Gita ke kamar Monika. Setelah pintu terbuka Gita sedikit berlari menghampiri Monika.


"Mama.."


"Gita.. duduklah mama mau bicara dengan mu!"


Lico keluar kamar dan berjaga di balik pintu.


"Bagaimana dengan pernikahan mu? Baik baik saja kan? Apa ada masalah?"


"Semua baik ma tidak ada masalah sama sekali." Monik tidak tau saja bagaimana sikap Jasson yang sebenarnya.


"Mama sudah bilang Jasson itu anak yang baik kamu pasti bahagia."


Tersenyum paksa itulah Gita.


Apa mama Monik benar benar tidak tau bagaimana sikap putranya itu? Dari mata Monika tidak ada kebohongan dan karangan.


"Mama sudah makan? Apa perlu aku menyiapkan makanan untuk mama?"


Tawar Gita setelah suasana saat ini sudah mulai canggung.


"Tidak perlu sayang, nanti juga akan ada pelayan yang menyiapkan."


Semua kebutuhan Monika sudah disiapkan oleh asisten pribadi nya.


"Kamu pergilah layani suami kamu. Jasson sudah pulang bukan?"


"Hem ia ma. Kalau begitu Gita permisi nanti Gita datang lagi ya ma, apa boleh?"


"Kapan pun boleh pintu itu selalu terbuka untuk menantu mama."


Gita membuka pintu kali ini dia tidak terkejut adanya Lico disana.


"Nyonya waktunya Makan malam."


Lico berlalu pergi sambil menundukkan kepalanya.


Otak berputar, Gita langsung menuju meja makan. Benar saja disana sudah ada Jasson. Sepertinya baru saja duduk.

__ADS_1


"Dari mana kau?"


Kalimat pertama saat Gita sudah duduk di samping Jasson.


"Dari kamar Mama Tuan." Suara itu bergetar.


"Berani sekali kau menyebut mama pada mama ku."


"Maaf maksud saya dari kamar Nyonya besar Tuan."


Kini Gita benar benar tertunduk.


Jasson menggertak meja.


Segera Gita memandang wajah tajam itu.


Gita menatap satu pelayan dari ujung sana yang memberi kode padanya.


Dengan cepat Gita berdiri dan menyiapkan makanan untuk Jasson.


"Tuan mau lauk yang mana?"


Jasson menatap Gita.


Dengan hati hati ia memilih lauk untuk Jasson dia takut salah pilih segera dia meletakkan makanan itu di depan Jasson.


"Ini tuan makanan Anda."


Gita segera mengambil makanan untuk diri sendiri.


"Siapa yang menyuruh makan? Apa kau tak melihat aku sedang makan?"


Gita menghentikan gerakan tangannya dan duduk kembali sambil tertunduk.


Apa salahnya bukan kah tidak ada peraturan seperti itu?


Jasson menghentikan makannya dan menatap Gita.


"Apa yang kau bicarakan dengan mama ku? Apa kau mengadu soal peraturan yang ku buat?"


"Tidak tuan. Aku tidak mengadu."


Jasson langsung beranjak dari duduknya padahal makanan masih tersisa setengah di piringnya.


Apa sekarang aku boleh makan? Ah bodoh perutku sudah meronta ronta ingin diisi.


Secepat kilat Gita mengambil makanan dan segera menghabisi kan nya.


Pintu terbuka terlihat Monika baru saja selsai makan Asisten pribadinya hendak keluar membawa nampan yang berisi sisa makanan.


"Mama apa kau baik baik saja?"


"Seperti yang kamu lihat. Setelah kau menikah dan berada disini mama seperti nya semakin sehat."


Jasson tersenyum lalu duduk di kursi yang ada didekatnya.


"Apa wanita itu berbuat jahat pada mama?"


"Siapa yang kau bicarakan?"


"Brigitta, apa dia macam macam dengan mama?"


Wanita itu pandai bersandiwara.


"Ma aku ke kamar dulu. Mama istirahatlah."


Jasson mencium puncak kepala Monika dan berlalu.


Pintu terbuka melihat itu Gita langsung berdiri dari duduknya.


"Selamat malam Tuan apa ada yang bisa saya bantu?"


Jasson tidak menghiraukan dan malah menyenggol lengan Gita kasar.


Sabar Gita


Jasson memasuki ruangan kerja yang berada di dalam kamar itu.


Setelah tidak terlihat Gita kembali duduk di sofa Dan memainkan Handphonenya.


Sudah lama ia tidak membuka Handphone itu dan benar saja banyak pesan dan panggilan masuk.


Jeni


Gita hari ini kau tidak kerja?


Gita sudah dua hari kau tidak bekerja kau kemana?


Gita kenapa tiba tiba mengundurkan diri? Apa terjadi masalah? Kamu baik baik saja kan?


Gita Kau menikah?


Dengan siapa?


Gita Pak Efendi mencari mu. Tampaknya dia kecewa kau pergi begitu saja.


Aku juga kecewa ternyata kamu sudah punya kekasih.


Menikah pun tidak mengundang kami.


"Siapa yang punya kekasih? Aku menikah juga terpaksa."


Gita tidak tau dia harus balas apa dia membuka panggilan masuk banyak panggilan tak terjawab dari Efendi.


"Hei Kemari!!" Teriak Jasson dari ruangannya. Segera Gita berlari.


Apa dia memanggil ku?


"Hei! Apa kau punya telinga?" Jasson kembali berteriak.


"Iya Tuan"


Segera Gita berlari keruangan tanpa pintu itu tepatnya di samping ruangan meja rias.


"Tuan apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ambilkan map hijau di mobil."


"Baik Tuan." Gita segera berbalik namun suara itu terdengar kembali.

__ADS_1


"Sekalian bawakan teh untuk ku."


Gita berbalik, "Baik Tuan" ujarnya.


Kini gita berada dalam garasi mobil.


"Banyak sekali mobil ini, mana yang dia maksud astaga mobil ini mirip mirip semua." Caranya hanya satu memangil supir untuk membantunya.


"Ini nyonya mobil yang di gunakan Tuan tadi."


Dengan cepat Gita membuka pintu belakang untung saja map itu ada disana setelah mengucapkan terimakasih Gita berlalu ke dapur.


"Nyonya Gita, apa yang anda lakukan disini?"


"Membuat teh Bi."


"Kenapa Anda buru buru sekali? Apa teh itu untuk Tuan muda?"


Gita hanya mengangguk sambil mengaduk teh itu.


"Nyonya Tuan tidak minum teh itu. Sebentar saya buatkan."


"Teh hijau?"


"Ia Nyonya tuan minum teh ini."


"Baiklah Terimakasih Bi."


"Sama sama Nyonya."


Gita meletakkan teh itu di atas meja Jasson.


"Ini Tuan teh nya. Dan ini map yang anda butuhkan."


"Lama sekali! Apa kau mengelilingi mansion ini dulu baru mengambil map ini?"


"Tadi.."


"Sudahlah aku tidak butuh penjelasan mu. Sekarang pergilah aku tak ingin memandang wajah mu."


Padahal aku sudah lari lari. Apa dia tidak merasakan kalau aku sampai ngos-ngosan?


"Hei gadis bodoh!"


"Astaga aku bukan gadis bodoh." Baru saja Gita ingin duduk sudah dipanggil lagi.


"Ia tuan apa ada yang bisa saya bantu." Sambil tersenyum paksa menatap Jasson.


"Tidak usah tersenyum!"


Darimana ia tau matanya saja tertuju pada laptop. Dari suara juga bisa kali.


"Ambilkan semua buku ini dari ruang sebelah." Jasson memberikan secarik kertas disana tertulis judul-judul buku.


"10 menit"


what, apa yang dipikirkan nya 10 buku 10 menit satu buku berarti satu menit?


"Kenapa? Apa terlalu lama? Apa perlu aku kurangi?"


"Tidak tidak. Saya akan segera mengambil nya Tuan."


Sedikit berlari Gita langsung membuka pintu ruangan sebelah.


Astaga kupikir ruangan nya kecil. Besar sekali bagaimana aku mencari buku 10 menit di ruangan sebesar ini. Buku bukannya juga banyak sekali ini sudah seperti perpustakaan.


Segera Gita mencari buku sambil sesekali melirik pergelangan tangannya.


5 menit berlalu


"Cepat juga kupikir tadi akan sulit. Keberuntungan seperti nya memihak padaku." Tinggal 2 buku lagi 8 buku ia habiskan selama 5 menit.


"Nah ini dia. Satu lagi maka semua ini akan berakhir."


Waktu cepat berlalu


"Astaga apa benar ini judul bukunya. Kenapa tidak ada?"


Ting 10 menit


"Tuhan Bantu lah aku. Dimana bukunya?"


Gita berlari keluar ruangan.


"Ini tuan buku yang anda perlukan."


Jasson menatap buku buku yang diletakkan di samping nya.


Cepat juga nih anak kerja.


Jasson memeriksa satu persatu buku itu.


"Mana satu lagi?"


Kutarik kata kata ku. Dia sungguh ceroboh.


"Mm aku sudah mencari nya tapi tidak ada tuan. Juga waktu tidak cukup untuk mencari nya."


"Alasan! Cepat cari buku itu dalam 5 menit."


Tampa menjawab Gita langsung berlari menuju ruangan tadi.


Astaga astaga 5 menit. Buku kumohon muncul lah oh buku.


Masih terus mencari sesekali menatap ke rak atas terus mencari sampai ke rak yang ada di baliknya seterusnya sampai di rak barisan ketiga.


"Oh buku ini sudah hampir lima menit." Akhirnya buku itu dapat juga tapi masih dalam pandangan mata.


"Astaga kenapa tinggi sekali rak ini. Apa aku bisa panjat ini? Tidak akan jatuh kan?" Lagian rak nya besar tidak mungkin jatuh.


Segera Gita membuka sandalnya menginjak pinggir rak menaiki satu persatu cela hinga pada tingkat ke empat akhirnya sedikit berjinjit Gita mengambil buku itu.


Namun karna terlalu sedikit ruang pada pijakannya Gita terpleset dan terjatuh bersama beberapa buka yang tersenggol.


"Aaaawuuuw sakit!!!!"


To be continued


🍁Jangan lupa like and komen ya guys 🍁

__ADS_1


__ADS_2