Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
67. Perhatian


__ADS_3

"Nyonya, sudah sampai." Ucap Supir berulang kali membangunkan Morisa yang sudah ketiduran.


"Nyonya." Ucap nya menekan bunyi klakson.


Hingga akhirnya Morisa terbangun.


"Sudah sampai?"


"Sudah Nyonya."


Morisa yang tidak sadar sepenuhnya sedikit oleng untuk keluar mobil.


"Morisa.." panggil Jasson dan segera menahan tubuh yang tidak seimbang.


Jasson yang baru keluar mobil itu segera memapah Morisa.


"Kamu dari mana malam malam begini?"


"menemui kak Yolan." Ucapnya dengan mata sipit yang mencoba membuka mata.


"Sekarang Yolan dimana?" Tanyanya tak melihat keberadaan Yolan.


"Lembur." Morisa mencoba melepas pegangan Jasson.


"Kak, biar aku sendiri aku tidak apa apa, hanya ngatuk saja. Kakak tumben pulang selarut ini, lembur juga?"


Tanya morisa yang sudah mulai sadar.


Jasson mengguk.


"Kakak akan antar sampai kamar kamu. Bagaimana jika nanti kau ketiduran di tengah jalan, itu akan malah menyusahkan" Jasson memegang lengan Morisa hingga tiba di kamar Morisa. Dengan cepat Moris berlari ke arah kasur menjatuhkan tubuhnya dan masuk ke alam mimpi.


Jasson hanya geleng-geleng ikut masuk, melepaskan tas morisa, meletakkannya di nakas, membuka sepatu pansus itu dan menyibak selimut untuk menutupi tubuh Morisa.


"Aku tau bagaimana sifat mu Mor, Sepertinya kau salah paham tentang si dia sama sepertiku. Kakak yakin setelah kau tau kau pasti sangat menyayanginya." Ucap Jasson dengan kata kata yang tak bisa di mengerti. Segera Jasson keluar, naik ke lantai atas menggunakan lift.


Ceklek... Pintu kamar besar itu terbuka. Jasson menutup pintu dan masih berdiri disana, mencari sosok Gita. Berjalan ke beberapa langkah ke depan dan baru bisa melihat jelas sosok wanita yang tengah tertidur acak di sofa. Laptop menyala buku dan berkas berantakan di meja dan lantai, Gita yang tidur dengan kaki selonjor ke lantai tubuh di sofa dengan buku yang sudah terlepas di dekat tangan.


"Sudah ku peringatkan agar tidak bekerja. Dasar keras kepala!" Jasson tak habis pikir saja menemukan Gita yang sangat terlihat lelah. Dia meletakkan Tas dan jas di sofa lainnya. Sedikit melonggarkan dasi.


Merapikan kertas yang berserakan agar tidak ke injak, menutup laptop. Berkas di meja di biarkan nya berantakan Jasson lebih dulu mendekat ke arah Gita Yang tidak lagi terhalang oleh kertas dan buku.


Memandangi wajah teduh itu.


"Cantik." Satu kata itu keluar dengan senyuman.


"Bagaimana mungkin kau pergi ke kantor dengan menunjukkan kecantikan ini seharian full, aku saja sebagai suami tidak bisa melihatmu selama itu." Ucap Jasson tak terima. menatao tubuh gita yang ternyata sangat seksi. Memikirkan membuatnya serasa kesal saja. Apalagi di tempat kerja Gita banyak cowok dari pada wanita nya. Jasaon sangat ingat dengan jelas saat dia menemani Gita dulu.


Jasson merapikan anak rambut yang sedikit menutup pipi kanan.


"Jika di lihat lama, ternyata kamu sangat imut." Jasson mengelus pipi itu. Tanpa sadar di mencium kening itu lumayan lama.


Tidak tau kapan, Sepertinya Jasson sudah mulai merubah sifat dan kebiasaan buruknya. Entahlah dia mendapatkan berita atau laporan dari sang asisten yang membuatnya berubah dalam sekejap.


Jasson menggakat tubuh itu berniat untuk memindahkan nya ke atas kasur.


Namun saat Jasaon baru mendapatkan tubuh itu dalam dekap, Gita tersentak merasakan gerakan.


"Sayang? Kau sudah pulang?" Ucapnya masih setengah sadar menatap Jasson dengan mata sipit.


Jujur saja sebutan itu membuat Jasson tersendir darahnya.


Manis saja pulang pulang ucapan Gita membangunkan hati.


Jasaon hanya tersenyum mulai melangkah mendekat ke arah kasur meletakkan Gita disana.


Gita yang merasa nyaman tidak terusik sedikit pun.


Dan masuk ke alam mimpi tanpa berucap. Padahal tadinya hampir saja dia mengigau di gendongan Jasson ingin mengatakan aku kahwatir, aku takut kau kenapa napa, aku menunggumu. Pasti saja jika ucapan itu keluar jasson akan senang dan mengejek Gita tentunya.


Menatap Gita yang sangat nyaman, menatap tubuh itu dengan piyama yang sedikit terbuka. Bagian perut nya.


Jasson merapikan nya.


Jujur saja dia seperti ingin menyentuh kulit mulus itu mengingatkan nya saat mereka melakukan hubungan dengan Gita.


"Kau menguji ku!" Ucap Jasaon yang segera menutup tubuh indah itu dengan selimut. Jujur saja piyama yang di gunakan Gita sedikit tipis dengan bagian dada yang agak turun.


Jasson menutup sampai leher.


Dia harus tahan. Walau melihat Gita menggunakan pakaian namun menatap bentuk nya dari balik piyama saja serasa melihat Gita telanjang.


Tidak mungkin dia melakukan itu dengan kondisi Gita yang sudah tidur, sekejam nya jasson dia itu bukanlah pria brengsek yang memegang wanita tanpa persetujuan.


Menghilangkan panas yang mulai menjalar. Jasaon tidak sengaja melihat bibir merah cery itu segera menciumnya sekilas. Anggap saja balasan dari Gita yang pernah Menciumnya saat hendak tidur dulu. Jasson terseyum.


"Tidur yang nyenyak. Besok kau akan mendapatkan balasan dari semua ini." mengelus kepala dengan lembut, Jasson segera memasuki kamar mandi. Dia melepaskan disana. Sungguh Gita menguji iman Jasson.


Setelah menggunakan pyima tidur Jasson menaiki kasur nya. Tidak lupa ia memeluk Gita. Rasanya nyaman apalagi aroma tubuh Gita yang fresh.


Tak terasa malam berganti pagi, Gita merasa tubuhnya sangat berat mencoba merilekskan otot tubuh menatap jasson yang memeluknya seperti bantal guling. Kepalaya saja bersandar pada bahu Gita.


Ah, sesak..


Gita mencoba melepaskan pelukan itu.


"Sayangggg" panggilnya.


"Badanku sakit semua... Sayang.. Lepaskan tangannmu!" Ucap Gita mencoba Bergerak.


Kenapa dia seperti lem yang sangat lengket.


Susah sekali Gita bergerak dibuatnya.


Gita terseyum. Sedikit merapatkan kepala pada punggung yang tidak berada jauh dari pandangannya. Gita menggigit bahu itu sekuat mungkin hingga pemilk merasakan gigitan tajam itu.


Benar saja Jasson segera melepaskan semua pelukannya. Memegang bahu yang sangat ngilut.

__ADS_1


"Apa kau Gila." Teriak Jasaon langsung. Sungguh segar!


"Salah sendiri, kenapa memelukku bak bantal guling." Sangat santai gita menjawab mantap, dia membangunkan badannya. Merapikan rambut yang sedikit acak.


Gita membelakangi Jasson yang masih menatap nya dengan wajah tak terima mendapatkan gigitan.


Gita mengambil jepit rambut di nakas menggulung rambut ke atas dan menjepitkan nya. Mata jasson langsung membolak menatap leher putih jenjang itu.


Senyum smirak di lontarkan. Baru saja Gita akan berdiri dari duduknya. Pinggang itu langsung di tarik oleh Jasson. Hingga Gita terbaring ke atas kasur.


"Aa. Apa yang kau lakukan?" Ucap Gita mencoba berdiri namun Jasaon malah semakin mendekatkannya. Saat ini posisi Gita membelakangi Jasson dengan kepala jasson sudah menghimpit dengan leher itu tidak lupa tangan itu melingkar di bagian perut.


"Pagi pagi begini, kau menggodaku. Kau harus tanggung jawab sekarang!"


"Aku tidak menggoda mu! Kau yang memeluk ku!"


Ucap gita sedikit geli di area leher.


Karena Jasson mulai mencium leher jenjang itu.


"Aku ingin mandi. Ini sudah pagi sayang!" Ucap Gita.


"Sepertinya kau sudah tidak janggal lagi dengan sebutan itu. Bagus, pertahankan!"


Jasson membalikkan badan gita agar menghadap dirinya.


Menatap Jasson yang seperti kelaparan Gita menelan salivanya. Bagaimana nasibnya pagi pagi begini sudah di hantam oleh Jasson.


"Bagaima jika aku mandi dulu!" Ucap Gita agar terlepas dari permainan pagi ini.


"Untuk apa mandi, lagian kau akan mandi setelah melakukannya."


"Ah, aku bau keringat tidur, mungkin itu akan menggagumu nanti!"


Elak gita mencoba berpikir lagi.


"Jika itu mau mu, terserah mu saja." Jasson melepaskan pelukannya.


Gita merasa puas turun dari kasur dengan pelan. Beranjak ke ruang pakaian lebih dulu. Dan memasuki kamar mandi.


"Ah, kamu ngapain disini?" Ucap Gita yang baru sadar bahwa Jasson ada di bathtub hanya menggunakan pakaian dalam.


"Sesuai permintaan mu! Kita akan mandi sayang!"


"Kenapa akhir-akhir ini dia jadi mesum sih!" Ucap Gita pelan.


"Aku tidak mesum. Aku ini suamimu! Jelas saja sudah jadi tugasmu untuk memberikan apa yang diinginkan oleh suamimu!"


Iya juga sih, tapi..


Ah, tidak peduli Gita menutup pintu kamar mandi.


Meletakkan pakaian di lemari kecil yang ada di kamar mandi itu.


"Ayo masuk. Jangan lupa buka bajumu! Tidak ada orang mandi menggunakan pakaian!"


"Shower rusak! Ayo cepat masuk!!"


"Rusak?"ucap Gita tak percaya soalnya kemarin Jasson masih menggunakannya.


"Akan ku periksa!" Ucap Gita hendak memastikan.


"Hitungan ketiga jika kau tidak masuk akan kupastikan kau tidak akan masuk kantor hari ini!"


Tidak boleh di tolak ucapan seperti ini harus di turuti jangan sampai membangunkan harimau yang tertidur.


Gita melepaskan pakaiannya asal sedikit menunduk dan masuk ke dalam bathtub yang besar itu.


Tidak ada yang tau apa yang mereka lakukan yang penting merasa senang disana Apalagi Jasaon yang sangat puas di dalam sana.


...


Gita duduk di sofa sedikit menggigil rambutnya masih basa dengan pakaian rumahan tak hentinya dia mengusap tangganya dan menghembuskan menggunakan nafasnya.


Terlihat Jasson baru keluar dari kamar mandi terlihat Fress dengan handuk melilit.


Pandangan mereka sempat bertemu namun Gita segera menepis nya.


Jasson terseyum dan malah berjalan mendekat ke arah sofa.


"Kenapa tadi kau lari?" Tanya Jasaon mengejek dan malah duduk dengan santai nya.


Gita mencoba menepis tatapan agar tidak bertemu.


Melakukan gerakan yang sama mengusap usap telapak tangan dan meniupnya.


"Dingin?" Jasaon menarik tangan Gita.


"Jangan lakukan lagi!" Ucap Gita.


Kejadian di kamar mandi saja membuatnya harus bertahan menerima permainan gila Jasaon.


"Kita belum melakukan intinya kan?"


"Tapi aku sudah kedinginan! "


"Sini." Ucap Jaaaon menarik Gita dalam pelukannya.


"Aku pernah baca jika kedinginan, sala satu cara menghangatkannya dengan berpelukan. Suhu tubu itu hangat jadi kamu bisa memelukku! Agar tubuh mu tidak dingin." Ucap Jasson. Gita meregangkan tangganya memeluk tubuh polos Jasson.


"Maafkan aku," ucap jasson pelan mengingat sikap nya tadi yang membuat Gita harus menemaninya hingga kedinginan seperti ini.


Gita mematung. Jasson minta maaf? Apa itu benar? Ini adalah kalimat yang sangat langkah! Pikir gita.


"Apa aku tidak salah dengar?" Ucap Gita melepaskan pelukan itu memastikan apa yang sudah dia dengarkan.


"Apa?" Tanya Jasson pura pura tidak mengerti.

__ADS_1


"Ah, mungkin aku salah dengar. Lebih baik kau menggunakan pakaian mu sayang, Apa kau tidak kedinginan? kamu akan masuk angin jika hanya menggunakan handuk itu."


"Tida akan! Soalnya jika di peluk olehmu semua baik baik saja!" Ucap Jasson terseyum.


"Kau tidak kedinginan lagi kan?" Tanya Jasaon.


"Sudah tidak lagi."


"Bagaimana jika..."


"Tidak sayang, ini sudah jam enam, kita akan berangkat bekerja." Ucap Gita seolah tau maksud pembicaraan Jasson.


"Emang aku ingin melakukan apa?"


Tanya Jasson.


"Tidak tahu!" Ucap Gita.


"Bukan aku yang mesum, tapi dirimu!" Ucap Jasson menarik hidung gita dan berlalu pergi.


Ih, emang benar kan! Pasti dia ingin melakukan yang itu!


"Sayang kemarilah!" Ucap Jasson.


Ha? Sayang? Aku tidak salah dengar lagi kan?


Jasson menatap Gita tajam yang sedang diam tak berkutik.


"Kemari!" Ucapnya lagi.


"I-iya." Ucap Gita sedikit berlari mendekat.


"Kau tidak akan mela-"


"Pakaikan Baju ku!" Ucap Jasson. menghentikan ucapan Gita.


Gita sedikit legah


Itu lebih baik sih, dari pada melakukan hal lebihnya.


"Baiklah." Ucap Gita.


"Tumben sekali kau tidak mengeluh untuk memakaikan pakaian ku?"


"Ini adalah tugas seorang isteri, melayani suami sebaik mungkin." Ucap Gita.


"Jika kau bisa mengatakan itu kenapa selama ini kau sangat susah?"


"Itu karena. Aku-"


"Sudahlah jangan bahas.


Nanti jangan pulang telat. Aku akan mengganti pagi tadi dengan malam nanti!"


Apa maksudnya mengatakan itu.


Gita menatap Jasson yang kini membantu Jasson mengenakan kemeja.


"Apa maksudnya?"


"Kau akan tau nanti."


Jangan jangan maksudnya-


"Itu kewajiban mu, jika kau melakukan itu kau akan mendapat lebih banyak berkat. Kau tau itu?" Dalam sebuah pernikahan hubungan suami istri memang sah sah saja. Bukan masalah atau dosa, karena itu sudah resmi di mata hukum dan agama. Manusia menikah juga gunanya untuk mencari keturunan. Dalam pernikahan membangun sebuah kehidupan/ keluarga baru. Dengan jalan pikiran yang searah.


"Aku tau. Aku akan mematuhi dan menghormati suamiku!" Ucap Gita menatap Jasson yang sudah rapi di hadapannya.


Jasson menunjuk bibirnya.


Gita mencoba tersenyum. Memegang kedua bahu Jasson. Sedikit berjinjit dan mencium bibir itu.


"Sudah." Ucap Gita.


"Kenapa hanya sebentar!"


"Tadi di dalam kau sudah melakukannya."


"Itu berbeda!"


Jasson menekan leher belakang gita dan ******* bibir itu dengan lembut.


"Manis." Ucap Jasson.


"Aku merasa kau berubah." Ucap Gita pelan, takut salah.


"Berubah?" Tanya Jasson menaikkan alisnya.


"Aku merasa, sekarang kau sangat baik, perhatian dan manis."


Tatap Gita serius.


"Apa kau tidak suka? Apa kau lebih menyukai aku marah marah?"


"Bukan itu. Tapi aneh saja!"


...


To be continued 🌷


🍁 Jangan lupa like and vote ya Beste 🀩🍁


.


.


.

__ADS_1


Sampai jumpa πŸƒ


__ADS_2