
Aku tidak ingin mati sekarang!!
Benar benar tidak ada respon dari Jasson.
Kelajuan mobil itu sudah melebihi batas normal.
Bagaimana caraku memberhentikan nya!
Gita tidak menatap arah depan...
Sangat ngeri. Baru kali ini dia memasuki mobil dengan kecepatan se laju ini.
" Tolong berhentilah.. Aku tidak kuat lagi!" Kini Gita menutup mata sedikit terisak.
" Suamiku maafkan aku..
Jangan seperti ini." Masih menutup mata dengan posisi menyandar di kursi menghadap depan dan memegang sabuk pengaman di dadanya.
Jasson menatap Gita. Menurunkan kecepatan mobil dan meminggirkan mobilnya.
Gita membuka mata. Saat mobil itu berhenti.
Tangan dan kaki Gita gemetar.
Menatap Jasson takut.
"Apa yang sudah kau lakukan? Kenapa kau membohongiku? Kau bilang kau ingin ziarah?"
"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud, saya benar benar dari makam tadi!"
Menatap Jasson hati hati.
" Kenapa kau bersama nya? Apa kau masih ingin berbohong? Aku sudah jelas melihat dengan mataku!"
Gita memalingkan wajahnya. Dia tidak berani menatap mata itu.
" saya benar benar minta maaf."
"Berhentilah minta maaf.
Sudah berapa kali aku mengingat kan mu agar tidak macam macam di luar sana. Tapi kau? Dengan nyamannya di pegang oleh laki laki lain! Jika ada yang melihat mu tadi, bagaimana? Kau ingin mempermalukan ku??"
Jasson memukul setir mobil.
" Jawab aku dengan jujur! Seberapa sering kau bertemu dengannya?"
"Tidak sering!"
Tunduk sedikit terisak.
"Jujur! Aku sangat tidak suka dengan kebohongan!"
" Saya jujur,,,"
" Lihat mataku! Jangan coba coba berbohong!"
Gita mengangkat wajahnya menatap Jasson lekat.
Gita melepas sabuk pengaman.
" Aku harus bisa."
" Su-amiku...
Tolong jangan biarkan emosi menguasai dirimu. Tenangkan hati mu ini."
Gita memegang dada Jasson.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Jasson saat Gita semakin mendekat.
Dengan hati hati gita memeluk Jasson. Menopang kepalanya di bahu Jasson.
" Aku benar benar jujur, Aku sudah katakan padamu saat kau koma aku hanya bertemu dua kali, itu terjadi tidak sengaja dan sejak kau sadar baru kali ini aku bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya bukan bermaksud untuk bermesraan. Aku mengangap nya sebatas teman saja."
Jasson diam. Entah kenapa sikap Gita yang seperti ini bisa menyihir nya.
Lepaskan aku!
Mulut terucap namun tubuh itu melawan.
"Tidak, saya tidak akan melepasnya sebelum anda meredakan emosi dan memaafkan ku."
Jasson memegang kedua tangan gita yang memeluknya. Terlepas.
"Jangan kurang ajar!" Jasaon membenarkan posisi duduknya dan mulai memajukan mobilnya.
" Jantung ini. Kenapa tiba tiba berdetak aneh. Jika sampai tadi dia mendengarkannya,,"
"Kenapa saya kurang ajar? Bukankah saya ini isteri anda?"
Jasson diam, fokus pada jalanan.
" Anda tidak menyukaiku memeluk orang lain. Tapi kenapa anda juga tidak mau dipeluk? Jadi saya memeluk siapa lagi?" Jasson tetap fokus dan menghiraukan Gita.
Saat aku sedih dan ingin bercerita aku hanya punya batu nisan dan juga kevin.
Tapi sekarang kau benar benar memutuskan tali di antara kami.
Gita menatap Jasson. wajah nya sedikit memerah.
Kenapa wajah nya merah seperti itu?
Gita menatap lebam di wajah Jasson.
__ADS_1
Ingin sekali dia menyentuh dan mengobati nya.
"Berhentilah menatap ku!!" Suara berat Jasson.
Gita semakin menatap Jasson, mengabaikan ucapannya dan mendekat.
Tanpa sadar Gita memegang lebam itu.
sssttttt
mobil itu merem mendadak.
Dengan cepat tangan Jasson menahan tubuh Gita yang miring dan hampir terbentur.
Gita terseyum.
Manis sekali, dia menyentuh ku seperti di filim filim
" Apa kau sudah tidak waras? kau melihat ku mengemudi, dan melihat ini luka memar, kenapa malah menekannya?"
" Saya refleks ingin memegang, eh malah ketekan kuat. Maaf kan saya. Apa sangat sakit?"
Jasson menatap Gita.
melepaskan tangganya yang memegang lengan Gita.
"Sebentar, Jangan jalan dulu!" Gita membuka laci yang ada di sampingnya ada kotak P3K kecil disana.
"Kau mau ngapain?" Mengerutkan kening.
"Sabar," Gita membuka kotak itu mengambil beberapa yang di perlukan."
"Tahan ini pasti peri." Ucap Gita memegang pipi Jasson yang kena bogeman.
Diam, tidak menolak. Jasson membiarkan Gita mengobati nya.
Menatap Lekat Wajah dekat itu. Jantungnya kembali berdetak tak beraturan.
Kenapa saat dia bertingkah seperti ini jantung ku tidak normal. Dasar Jantung kurang ajar
"Sudah!" Gita memasang plester di akhir.
Jasson masih diam membisu. Entah sejak kapan dia mulai tersihir oleh Gita.
"Suamiku...
Hello..." Gita memainkan tangganya di depan wajah Jasson.
Jasson menangkap tangan itu.
menurunkannya dan mendekatkan wajahnya pada Gita.
Apa yang akan dilakukan nya? Gita bagaikan Es yang membeku saat ini.
tet tet suara klakson mobil dibelakang menyadarkan aksi Jasson.
Gita menelan salivanya.
Menatap Jasson yang memandang arah belakang Mobil.
"Brisik!!" Jasson mulai menjalankan mobilnya.
Astaga tadi dia benar benar ingin mencium ku?
Gita menatap Jasson masih pada posisi yang sama.
"Berhentilah menatap ku!!" Tersadar dan segera membenarkan duduknya.
Kenapa perasaan aneh ini muncul lagi?
Gita menatap lurus jalanan, kecepatan mobil normal, dia memegang dadanya. Perasaan yang aneh.
Mobil tiba di Mansion.
Jasson keluar lebih dulu dan memasuki mansion.
Gita hanya bisa menghela nafasnya.
Pernikahan macam apa yang sedang kujalani ini. Sungguh, aku benar benar muak!
Tidak ada cinta dan kasih sayang!
Memegang dada yang sedikit nyeri.
"Kenapa sakit sekali jika dia mengabaikan ku begitu saja." Baru kali ini dia merasa sakit saat Jasson mengabaikan nya.
" Uh, aku sampai lupa. Aku belum mengatakan kejelasan pada Kevin."
Tok tok tok
Ketukan pada kaca mobil.
"Ahh, mengagetkan saja!"
Gita membuka pintu mobil.
Tanpa merespon dan mendengar ucapan supir itu Gita memasuki mansion dengan sangat malas.
"Nyonya.." panggil pelayan pribadi Gita.
Gita berhenti dan menatap pelayan itu.
"Tuan Janes menyuruh anda keruangannya."
__ADS_1
"Ada apa?"
" Saya tidak tahu Nyonya."
"Baiklah, terimakasih." Gita berbalik arah menuju ruangan Janes.
Tok tok tok
Setelah menerima jawaban Gita masuk dan dipersilahkan duduk di kursi itu.
"Papa ingin bicara apa pada Gita?" Tanya Gita yang tengah duduk berhadapan dengan Janes.
" Papa ingin menanyakan sesuatu."
Gita menggaguk namun kekawatira ada disana.
" Kalian dan Jasson sudah menikah hampir setengah tahun. Apa sudah ada tanda tanda calon keluarga baru?"
Gita mengerutkan keningnya.
" Maksud papa? Em, Gita tidak mengerti."
" Apa ada Jasson kecil dalam rahim mu?"
Hikk gita tiba tiba cegukan mendengar pertanyaan yang sungguh aneh.
"Kenapa papa tiba tiba menayakan ku hal ini?"
" Apa masih belum?" Tanya Janes to the point.
Gita menggeleng.
Bagaimana mungkin ada calon manusia baru di dalam rahimnya, Jasaon saja tidak pernah menyentuhnya.
" Apa kau sudah periksa kedokter? Mungkin saja ada kesalahan di dalam tubuh mu, atau di tubuh Jasson. Atau papa perlu menyuruh Arya untuk memeriksa mu. Siapa tau saja kamu sedang mengandung." Janes takut jika Gita mengambil tindakan yang sama seperti kebanyakan orang. Saat hamil tidak memberitahu pada keluarga dan malah pergi setelah hamil. Janes takut saja kejadian seperti itu terjadi. Apalagi melihat Jasson dan Gita tidak pernah mesra dihadapan keluarga nya. Sangat terlihat jelas Jasson cuek saja.
Hikk cegukan lagi.
Jangan sampai jangan sampai.
"Kenapa Gita, kamu tidak papah kan?"
Janes menyodorkan air putih pada Gita.
"Minumlah."
"Terimakasih pa." Menelan air itu dengan kasar.
Entahlah hawa ruangan ini sungguh panas, Gita inginn cepat cepat keluar. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan seperti ini sangat memalukan jika Janes tau, kalau Jasson belum melakukan sesuatu pada Gita.
" Pa, mungkin belum rejeki. Jika sudah waktunya Tuhan akan berikan itu pada Gita. Gita sehat kok Pa, tidak ada masalh. Mungkin belum saatnya Gita mengandung. Tidak perlu ada pemeriksaan Pa. Gita tidak merasakan ada tanda tanda Ibu hamil dalam tubuh Gita" Ucap Gita berpikir positif.
Mana mungkin dia melakukan pemeriksaan Kandungan, itu sungguh sangat konyol pikir Gita.
" Papa tidak sabar ingin menimang cucu. Papa juga ingin Jasson yang memegang kendali bisnis Papa. Mungkin papa terlalu cepat berharap." Janes tertawa kecil namun terlihat dari wajahnya sunggu kecewa.
" Dulu mama monik dua bulan pernikahan sudah mengandung Jasson. Mungkin karena itu Papa berharap kamu juga sama.
Mungkin sebentar lagi. Siapa yang tau kan?"
Ucap Janes tersenyum.
Mungkin juga tidak akan Pa. Dia tidak menyukai Gita. Mungkin saja sebentar lagi Pernikahan ini akan kandas karena tidak jelas.
"Brigitta..
Hubunganmu dengan Jasson baik baik saja kan?" Janes mencoba tersenyum.
Hikkk
Gita menutup mulut.
Entah kenapa dia cegukan terus, sudah tiga kali.
"Baik Pa. Hubungan kami baik baik saja. " ucap Gita menatap arah lain.
" Baguslah! Papa akan menunggu calon baby. Semoga kau di berkati dan cepat mendapatkan momongan." Senyum Janes.
Janes berjalan mendekat pada Gita.
Mengelus kepala itu.
"Papa tau bagaimana perasaan mu, tapi jika tentang ini, tidak mungkin kan Jason cuek? Papa yakin setelah baby kecil tumbuh. Kamu akan merasakan perbedaan. Mungkin saja Jasson yang kurang perhatian akan lebih menyayangi mu."
Gita berdiri.
Dan memeluk janes.
"Terimakasih Pa, sudah mengerti Gita."
To be continued
...❤️❤️❤️...
🍁 Jangan lupa like and Vote ya Beste🍁
.
.
.
Sampai jumpa 🍃
__ADS_1