Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
93. Dapat pelukan


__ADS_3

Dengan senjata Kriss, Bisma yang sudah gila melayangkan satu peluruh tepat pada dada kiri Kriss. Dan itu adalah akhir dari hidup Kriss.


"Selamat Tinggal Bajingan Gila!!' kalimat terakhir yang didengar Kriss dari Bisma.


...🌱🌱🌱🌱...


"Bereskan semua!!" Teriak Jasson.


Dengan segera rombongannya mengambil tugas masing masing.


"Gi kau tidak apa apa?" Tanya Bisma yang berlari ke arah Gita.


Jasson yang mendengar dan pergerakan Bisma yang berlari dari samping, matanya beralih menatap ke sumber suara.


Dia menatap intens Gita dalam pelukan Kevin.


Mata keduanya bertemu. Dan segera Gita menjawab.


"Gita baik baik saja Kak!"Gita dengan cepat berhambur dalam pelukan Bisma.


Jasson berjalan mendekat.


Disaat bersamaan Gita melepaskan pelukannya dan menatap Jasson sayu.


Laki laki yang dalam satu minggu ini ia rindukn, yang selalu berharap Jasson dengan cepat mejemputnya dan membawa ia pulang.


Seketika menatap netra coklat mata Jasson membuat Gita meneteskan air matanya.


Dengan lebih cepat Jasson berlari dan menangkap Tubuh Gita dalam pelukannya.


Memeluk erat tubuh mungil itu.


Gita terisak.


"Kau darimana saja?" Tanya Gita sambil memukul punggung jasson yang ia peluk erat.


"Maafkan aku sayang! Maafkan aku! Aku benar benar berusaha mencari mu!"


"Aku merindukanmu! " Ucap Gita disela tangisnya.


"Aku juga, aku lebih dan lebih merindukan dirimu! Aku takut kehilanganmu!" Jasson melepaskan pelukannya dan menatap Gita.


Menciumi wajah itu sambil menghapus air mata Gita.


"Dimana yang sakit?" Tanya jasson mengotak atik wajah gita dan tangannya.


"Aku baik baik saja!" Ucapnya namun ketika jasson mengagkat tangannya.


"Aaaaaauuu." Gita meringgis. Pergelangan tangganya memar dan lengannya merasa peri. Mungkin karena cekraman orang orangnya Kriss yang sangat brutal.


"Aah, sakit!"


"Maafkan aku!" Ucap Jasson sambil meniup tangan Gita lembut.


Dengan replex tiba tiba tubuh Gita melayang. Ah, dia kini berada dalam gendongan Jasson. Dengan hati hati Gita memeluk jasson dengan sebelah tangan.


"Kenapa jadi digendong? Aku bisa jalan sayang!"


"Bukannya tadi sakit?"


"Tangan, bukan kaki!"


"Biarkan saja. Aku suka mengendong mu!"


"Iiihh, tapi malu," ucap Gita yang melirik Kevin dan Bisma yang menatap interaksi keduanya.


"Malu?" Tanya Jasson dia tau. Maksud Gita namun ia pura pura dan terus melanjutkan jalannya melewati kedua insan yang diam saja.


Jasson dengan lembut memasukkan Gita ke dalam mobil.


Bisma dan Kevin saling tatap.


Dan keduanya secara bersama mengagkat kedua bahu.


Setelah Jasson memasukkan Gita kedalam mobil ia menutupnya perlahan dan mendekat ke arah Bisma dan Kevin.


"Kamu tau dari mana Gita disini?" Tanya Kevin lebih dulu buka suara.


Jasson menatap Bisma.


Kevin mengerti dan hanya menggaguk.


"Terimakasih untuk bantuan kalian. Aku tidak tau lagi jika kalian tidak datang lebih dulu. Mungkin Isteri ku akan dibawa pergi lebih jauh lagi!"


"Kau tidak perlu berterimakasih, itu sudah kewajiban kami. Bukan hanya kamu yang khawatir akan Gita. Kita juga!" Ucap Kevin antusias.


Jasson menghelah nafas.


"Aku tau, tapi yang lebih wajib akan Brigitta adalah suaminya dan itu aku!"


Bisma hanya geleng geleng saja.


"Terimakasih sekali lagi! Dan ya! Aku lupa masih ada pasukan Kriss di sekeliling ini jadi lebih baik kita pulang sekarang sebelum mereka menghambat jalan kita!" Ucap Jasson Seolah melupakan siapa Kevin dalam hidupnya.


Kevin menghela nafas mendengar ucapan terimakasih.


Namun begitu juga Kevin dan Bisma beralih pada mobil yang sudah datang dan terparkir di hadapan mereka.

__ADS_1


Akhirnya mereka pergi lebih dulu. Sedangkan pasukannya masih mengamankan tempat dan membereskan para bajingan yang kurang ajar.


"Auuu.." ucap Jasson saat isterinya tengah membersihkan luka di pipinya.


"Cengeng bangat sih! Gini aja sakit!" Ucap Gita meledek!


"Apa? Gini aja?" Mata Jasson menatap Gita.


Gita akhirnya tersenyum.


"Iya deh," Brigitta melepaskan tangannya setelah ia selsai.


"Terimakasih." Ucap Gita menatap Jasson lekat.


"Untuk?" Tanya jasaon menatap Gita.


"Untuk semuanya,"Gita memeluk jasson.


Jasson terseyum, akhirnya isteri yang ia rindukan dan ia cari seminggu ini kini berada dalam pelukannya.


"Sudah jadi tugasku untuk melindungimu!"


"Aaahh." Ucap Gita saat merasakn perutnya sedikit berguncang.


"Kenapa?" Tanya Jasson dan segera melepaskan pelukannya.


Jasson menatap Gita yang tengah memegag perutnya.


" Apa Kamu baik baik saja. Bagaimana keadaannya apa dia baik baik saja?" Jasson ikut memegag perut Gita khawatir.


"Dia?" Gita menatap Jasson.


"Kau tau? Darimana? Aku kan belum-"


"Aku tau, saat melihat cek hamil di wastafel."


Ucap Jasson tersenyum.


Gita tersenyum, perutnya tiba tiba nyaman saat Jasson ikut pegang.


"Dia baik baik saja." Ucap Gita.


Kriss juga memberitahunya jika saat itu kandungannya lemah. Sungguh Gita bahagia sekali saat kriss memberitahukan nya kabar yang begitu indah, dia tengah mengandung? Namun ucapan kriss diakhir membuat dia takut. Dia tidak ingin kehilangan baby nya. Dan selama seminggu ini Gita terus di rawat oleh kriss dengan baik hingga kandungannya benar benar kembali sehat.


"Kita sebentar lagi jadi orangtua sayang!" Ucap Gita mengelus perutnya.


Jasson menarik kembali tubuh itu.


"Terimakasih kau sudah jaga dia, dan mempertahankan diri. Aku sangat bangga sama kamu!"


"Sayang seperti nya baby kita nyaman deh sama papanya, benaran deh."


"Iiih, aku serius sayang!"


"Iyah, aku percaya." Ucap Jasson.


"Sayang?" Panggil Gita.


Jasson melepaskan pelukannya.


"Bagaimana keadaan Morisa?"


"Baik, em dia baik baik saja."


"Kenapa? Kenapa ucapanmu kayak ragu gitu?"


"Dia terus menyalahkan diri sendiri karena kau tak kunjung di temukan.


Akhir akhir ini Morisa yang selalu heboh lenyap Gi!"


"Kamu udah hubungi dia?"


Jasson menggaguk.


"Dia sangat senang. Dan sekarang pasti dia lagi nunggu Kita!" Ucap Jasaon sembari mengelus rambut Gita.


"Kak Yolan Gimana? Mama? Papa? Bagaimana?"


"Mereka baik. Dan Yolan dia-"


Dengan cepat Gita menyelah.


"Kak Yolan kenapa Sayang?"


"Kamu kok jadi heboh gini!"


Gita mengerucutkan bibirnya.


"Kak yolan kenapa?"


"Dia sudah ingat semuanya!" Ucap Jasson tersenyum.


"Kak yolan ingat aku?"


"Hem," senyum Jasson.


"Benaran kan kamu gak lagi bohongi aku?"

__ADS_1


"Kapan aku bohongi kamu?"


"Em, jawab!"


"Enggak Gita sayang! Aku gak bohong!"


"Iiiihhh, benaran... Astaga aku ingin cepat cepat ketemu kak yolan..." Ucap Gita senangnya histeris.


Jasson hanya bisa geleng geleng saja.


Ia merapikan duduknya dan menghadap depan.


Menarik Gita supaya terdiam dalam pelukannya.


Gita dengan senang menerima pelukan Gita.


"Kamu istirahat, perjalan kita masih jauh!"


Ucap Jasson sembari mengecup rambut Gita.


Mereka harus menuju kota dan terjun ke bandara, menggunakan peesawat pribadi setelahnya terbang menuju negara asal.


8 jam mereka habiskan di perjalanan.


Kini mereka tengah sampai di depan mansion.


Gita yang masih tidur sejak turun dari pesawat tadi. Hingga saat ini Jasson dengan senang hati mengendong gita memasuki mansion besarnya.


"Kak Gi-" teriakan Morisa berhenti saat dengan cepat Jasson mengisyaratkan untuk diam.


"Gimna keadaan kak Gita?" Ucap Morisa berbisik.


"Dia baik baik saja! Kamu tenang saja." Ucap Jasson dan berjalan memasuki lift.


Membaringkan tubuh gita dalam kasur yang sudah dibersihkan pelayan yang satu minggu ini tidak ada menempati.


Jasson melepaskam sepatu Gita dan menyelimuti tubuh itu dan mencium keningnya.


"Kak Jas, kak gita-"


Jasson berdiri dan membekap mulut Morisa yang cempreng.


"Kita bicara diluar!" Ucapnya.


Jasson dengan pelan menutup pintu kamar.


"Kakak.. bisa tidak janngan asal bekap? Tangan kakak bau tau gak?"


"Bau? Enak aja kalau ngomong!"


"Gimana kak Brigitta? Dia baik baik aja kan? dia gak diapa apain kan sama bajingan itu?"


"Bukannya udah liat? Em?" Jasaon mengerutkan keningnya.


Morisa udah berubah aja! Padahal beberapa hari lalu saat bertemu morisa sangat pendiam dan seperti tidak ada nyawa.


"Aaah, aku gak sakit." Morisa menghempaskan tangan jasson yang memegag dahinya.


"Kakak mau peluk dulu!" Ucap Jasson membentang kan tangannya.


"Gak mau! Kak jasson bau!"


"Ihj, biasanya juga dengan senang hati!"


"Ia dulu, sekarang beda cerita! Kak jasson bau keringat!" Morisa memperhatikan merasa bau dengan menutup hidungnya.


"Iyah deh, kakak mau mandi aja dulu!"


"Kak jas!!!!


Tadi katanya mau cerita!"


"Gak di peluk soalya!" Ucap Jasaon hendak membuka pintu.


"Ia ia deh!" Morisa dengan cepat memeluk Jasson. Sudah lama sekali ia merindukan pelukan hangat seperti ini. Jesson mengecup kepala adiknya itu.


Jujur saja sebenarnya Jasson gak bau wanginya masih dapat membuat kaum hawa berteriak jika berada di dekatnya. Morisa aja yang asal ngomong.


"Bau gak? Kenapa lama bangat peluk kakaknya?" Tanya Jasaon meledek.


"Ih!" Morisa memukul lengan jasaon.


"Gimana keadaan kak Gita. Dia diapain sama bajingan itu?"


...


To be continued 🌷


"Gimana nih perasaannya Gita udah amanπŸ˜—!"


.


.


.


.

__ADS_1


Okeh masih lanjut yah? emm, sebelum lanjut Like dulu, komen dan jangan lupa Vote ya besteku. Eh bentar dulu. Laura minta bantuan kalian untuk like 10 komen dari bab mana aja, soalnya Laura sangat butuh. udah gitu aja jangan lupa ya besteπŸ™πŸ™


Bye bye 😘


__ADS_2