Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
9. Syal Rajut


__ADS_3

"Yolan.." Jasson menunjukkan kotak itu dan tersenyum.


"Ah, aku pikir kotak itu akan hilang. Ternyata kau menyimpannya. Terimakasih Jasson." Ucap yolan sambil berjalan meraih kotak tersebut.


"Mana mungkin hilang. Selama benda itu ada di sekitar ku tidak akan pernah hilang." 5 tahun yang lalu Yolan tidak sengaja meletakkan Kotak itu di atas sofa ruangan kevin. Saat itu kevin baru memulai bisnis di kantor papanya.


Dan alhasil Yolan lupa akan kotak itu dan berlalu pergi Padahal besoknya dia akan berangkat ke negara B.


Yolan segera membuka kotak itu dia tersenyum dan segera mengenakan syall itu dilehernya.


"Apa aku cantik mengenakan ini?" Ucapnya sambil tersenyum kepada Jasson.


"Apa pun yang kau kenakan kau akan selalu terlihat cantik." Kini Jasson duduk di sofa itu.


Yolan membuka kembali syall itu dan duduk disamping Jasson.


"Lihatlah aku masih ingat jahitan ini." 'YOLANDA' nama itulah yang tercantum disana.


"Kenapa bisa aku hanya ingat pada Bunda dan semua kasih sayangnya padaku. Sedangkan yang lainnya aku sama sekali gak ingat sedikit pun. Sudah 12 tahun Jas tapi aku tidak ingat apa apa. Apa mungkin aku bisa mengingat keluarga ku?"


"Yolan aku tau sangat sulit bagimu. Tapi aku yakin suatu saat kamu pasti bertemu dengan keluarga mu." Jasson mengelus rambut Yolan.


"Jas, Apa kau masih ingat dulu nama ku saja aku tidak ingat. Untung saja saat itu kau melihat liontin ini." Yolan mengeluarkan Liontin yang tersembunyi dedalam bajunya. Liontin Love dan terukir nama Yolan disana.


"Lalu kau memberikan koper padaku yang jelas jelas aku tidak ingat aku memiliki nya. Dan didalam koper itu aku menyimpan syall ini saat itu aku tau namaku bukan hanya Yolan tapi Yolanda."


Yolan sedikit menghela nafas nya.


"Dan aku sangat berterimakasih saat kau datang dan mengaku ngaku sebagai temanmu. Padahal jelas jelas aku tidak tau siapa dirimu. Maafkan aku Jasson sampai sekarang aku belum mengingatmu dalam versi Yolanda dulu. Tapi aku mengenalmu di Yolanda yang sekarang." Ucap Yolan panjang.


Padahal kenyataan yang sebenarnya dulu Jasson tidak mengenal Yolan tapi agar bisa membantu Yolan. Jasson mengaku ngaku mengenal Yolan.


"Jangan pikirkan hal yang membuat mu jadi sedih. Sekarang lihat dirimu sudah menjadi seorang dokter yang hebat. Bukankah itu hal yang luar biasa?"


"Tapi Jass kalau bukan karna dirimu aku.."


Ssstt Jasson menempel jari telunjuk dibibir Yolan.


"Jangan pernah mengatakan itu. Ini semua karena usaha mu. Aku hanya membantu sedikit." Walaupun Yolan mengalami amnesia tapi seiring waktu dia terbiasa dengan kehidupan barunya. Dan di negara lain dia berjuang dan tak ada satu pun orang di sekelilingnya yang mengetahui jika dia mengalami amnesia dari cara nya bersikap.


Makanya dengan mudahnya dulu ia lolos saat seleksi masuk kedokteran.


"Yol, apa kau masih pernah merasakan kepalamu berdenyut dan muncul bayang bayang atau ingatan?" Tanya Jasson.


"Tidak. Selama disana hidupku benar benar baru. Tidak ada hal yang membuatku mengingat sesuatu disana. Aku hanya mengingat Bunda. Aku sangat merindukan Sosok itu." Yolan memegang syall itu dam membenamkan wajahnya disana.


Jasson hanya bisa memandangi Yolan dan membelai rambut panjang itu.


"Ah nyaman sekali." Wanita dengan rambut gelombang itu membaringkan tubuhnya di atas sofa besar itu sambil tersenyum senyum.


"Akhirnya aku akan bebas dari kurungan ini. Dan aku bisa bekerja dan berkarir seperti yang ku impikan selama ini. Ayah Bunda doain Gita dari atas, agar gita bisa membahagiakan Ayah Bunda. Ayah dan Bunda juga pasti senang jika Gita bisa bebas dan bisa melakukan sesuatu yang membuat Gita bahagia." Kini tampa sadar Gita tertidur di sofa. Padahal sepatu dan tas selempang nya masih melekat disana.


Tok tok tok. Suara pintu dari arah luar kamar Jasson. Tidak ada jawaban.


"Nyonya Brigitta.... Nyonya.."


Tok tok tok tidak ada jawaban akhirnya pelayan itu membuka pintu dengan hati hati.


"Astaga kenapa Nyonya tidur seperti ini?"


Pelayan itu membuka sepatu Gita dengan hati hati lalu mengangkat kaki itu keatas sofa dan perlahan ia mengambil tas yang melekat di tubuh Gita.


"Nyonya Brigitta cantik sekali jika tidur seperti ini. Tidak ada wajah murung dan sedih. sangat sejuk." Pelayan itu tidak enak hati membangunkan Gita dia segera keluar kamar.


"Jas, Aku dengar kamu sudah menikah ya! Kenapa tidak mengundang ku sih." Yolan menatap Jasson yang masih asik dengan laptopnya.


"Untuk apa? Aku tidak menginginkan pernikahan paksaan seperti ini." Tatapan Jasson masih ke laptop.


"Jas kalau ngomong. Kemarilah jangan memandang layar laptop itu! Apa kau bosan memandangku?"

__ADS_1


"Bukan karna mu. Tapi aku benar benar malas bahas pernikahan ku."


"Jasson!" Yolan sedikit menaikkan suaranya.


"Hem, baiklah." Jasson melangkah menuju sofa dengan segera duduk disana.


"Jasson apa kau tidak ingin menceritakan istri mu padaku?" Tanya Yolan sambil tersenyum.


"Apa yang harus ku ceritakan?" Jasson saja tidak pernah mengangap Gita sebagai istrinya.


"Ah, Jasson kenapa malah balik bertanya sih? Kau kan bisa cerita bagaimana parasnya sikapnya kelebihannya kelucuannya atau kenakalannya. Ayolah Jasson!"


"hem.. Aku." Jasson menatap Lico tajam seolah meminta bantuan.


"Nona Yolan, apa anda ingin makan sesuatu? Anda pasti capek dan lapar setelah penerbangan yang jauh." Kini Lico sudah berdiri di samping Yolan.


"Benar kata Lico Yol, kau perlu istirahat dan makan minum dulu. Lagian aku juga masih banyak pekerjaan. Kamu bisa keman.. maksudku ke apartemen ku!"


"Kenapa.. tadi aku bertanya Jasson!"


"Yolan kita bisa bicarakan ini kapan kapan, istirahatlah kamu pasti sangat lelah." Jasson menatap Lico.


"Nona ayo saya antar ke apartemen Tuan Jasson."


"kenapa Ke apartemen Jas, aku merindukan Om dan Tante. Apa aku bisa ke mansion?" Mana mungkin Jasson membiarkan Yolan ke mansion bisa jadi Gita tidak akan merasakan penindasan dari Jasson.


"Besok. ia besok aku akan menjemputmu. sekarang istirahatlah kau pasti sudah sangat lelah."


"mari nona." Yolan akhirnya keluar sambil membawa kotak tadi.


Disisi lain seorang wanita baru saja membuka matanya.


Uh, Kenapa aku bisa ketiduran disini?


wanita itu segera mengucek matanya dan berdiri dari tidurnya.


"Dimana sepatu, tas ku?" Wanita itu meraba badannya dan menatap ke bawah.


Tok tok tok


suara ketukan pintu terdengar kembali.


"Masuk!"


"Nyonya Anda sudah bangun?"


"Apa Bibi yang melepaskan Sepatu dan tasku?"


"Ia nyonya. Say tadi masuk, tapi nona tidur dengan posisi asal jadi saya membantu nona. Maaf nyonya jika saya lancang."


"Hem, tidak perlu minta maaf Bi. seharusnya Aku yang minta maaf sudah merepotkan Bibi."


"Tidak Nyonya. Ini sudah tugas kami."


Brigitta berjalan mendekat kearah kamar mandi.


"Bi, aku mandi dulu. Bibi boleh pergi melanjutkan tugas Bibi."


"Baik Nyonya. Saya juga sudah menyiapkan makanan untuk Anda, sejak pagi Nyonya belum makan."


Ah, Brigitta sampai lupa sarapan tadi pagi.


"Terimakasih Bi. Maaf selalu merepotkan Bibi."


Gita segera masuk kedalam kamar mandi yang super besar itu.


"Tuan Janes, Ini jadwal anda untuk minggu depan. Semuanya dilaksanakan di negara Z"


Ini artinya Janes akan meninggalkan Isterinya untuk beberapa minggu ini.

__ADS_1


"Baiklah, Atur semuanya. Hari ini aku akan pulang cepat. Jadi cancel semua meeting hari ini!"


"Baik Tuan." Alvaro segera membungkuk dan keluar dari ruangan Janes.


Jam sudah menunjukkan Pukul 18.00 Brigitta sudah siap menunggu kepulangan Jasson. Bersama dengan Pelayan lainnya.


Mobil hitam segera berhenti di depan pintu masuk Mansion.


Papa. Tumben sekali Papa pulang secepat ini.


Gita segera berjalan mendekat.


"Papa." Gita menyalim tangan Janes.


"Kenapa ada disini?"


"Aku menunggu Tuan.. Maksud ku aku menunggu Su-amiku Pa."


"Isteri yang baik." Janes tersenyum menatap Gita.


"Kalau begitu Papa masuk duluan."


"Baik Pa." Gita tersenyum dan sedikit menunduk kan kepala nya.


Setelah Janes pergi pelayan yang berbaris juga segera meninggalkan tempat itu.


Kenapa Pada bubar? Apa mereka tidak menyambut kepulangan Tuan Jasson?


Kini jam terus berputar namun Jasson belum kunjung datang.


"Pak, Apa Tuan Jasson tidak akan pulang?"


Tanya Gita pada dua pelayan yang berdiri di pinggiran pintu.


"Maaf nyonya, kami tidak tahu." Karena jika Jasson pulang akan ada pemberitahuan dari Lico.


ha, aneh sekali. Lico juga tidak mengirimkan ku pesan seperti kemarin.


"Jika Tuan Jasson akan Pulang bisahkah kalian memberitahu ku?"


"Tentu Nyonya." mereka sembarin menunduk hormat.


Gita segera berlalu dari tempat itu menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat seorang pelayan wanita memanggilnya.


"Nyonya Muda, Anda di panggil Tuan Janes. Sekarang Tuan ada di ruang utama." Kata pelayan itu sambil tertunduk.


Papa Janes mencari ku?


"Malam Pa, apa Papa mencari Brigitta?" Tanya Gita Sopan.


"Kemari nak. Papa mau bicara sebentar!"


"Iya Pa, ada Apa?" kata Gita setelah duduk di sofa yang berada di depan Janes.


"Begini, beberapa minggu ke depan Papa akan berangkat ke negara z untuk mengembangkan Bisnis Papa. Jadi bisahkah kamu bantu Papa?"


"Tentu, Pa!"


"Tolong sering sering ke kamar Mama. Perhatikan dia. Jasson sibuk bekerja jadi hanya kamu yang bisa lebih sering menjaganya. Apa kamu bisa?"


Gita mengangukkan kepalanya.


"Nanti Papa akan bahas ini nanti setelah kepulangan Jasson dari kantor. Jadi papa ke kamar dulu."


"Baik Pa."


ini artinya aku akan lebih dekat dengan mama. Kenapa tiba tiba aku sedih. Bukankah seharusnya seorang menantu bahagia bila dekat dengan mertuanya?


.....

__ADS_1


To be continued


🍁 Jangan lupa like and komen ya guys 🍁


__ADS_2