Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
91. Apa yang harus kulakukan?


__ADS_3

Budayakan Like dan Komen ya BestekuπŸ˜—πŸ˜—


Happy reading🌟🌟🌟


Akhirnya mereka sampai dengan berlari Jasson mendekat ke arah jenazah yang sudah di balut dengan kain putih.


Dia menatap wajah itu.


Deg. Jantung nya tiba tiba berhenti beberapa detik. Matanya membulat.


...πŸ’—πŸ’—πŸ’—...


"Brigitta? Tidak mungkin. Ini bukan Gita ku! Istriku masih hidup! Ini pasti hanya mirip saja!"


Jasson berteriak sambil menagis.


"Tuan Jas, ini benar Gita. Kami turut berduka cita Tuan."


"Astaga Nyonya Gita?" Ucap sang supir yang biasa menemani Gita. Dia ikut menagis melihat mayat Tuannya.


Dan yang lainnya mereka juga ikut merasakan sedih. Sungguh ini kah akhirnya?


"Apa yang kalian katakan!" Teriak Jasson marah. Dia semakin mendekatkan wajahnya pada mayat itu.


"Ini bu bukan isteriku." Namun begitu Jasson mengelus pipi itu. Benar itu seperti Brigitta wajah nya sangat mirip tapi, hanya mirip bukan? Bukan sama?


Lihat rambutnya dibawah diberi cat warna blue. Gita punya rambut hitam semua tidak ada istilah warna pengecetan.


Jasson terdiam sesaat.


"Benar, ini bukan Gita. Aku masih ingat. Dia tidak menggunakan pakaian ini terakhir kali bertemu denganku. Dan dia juga nengenakan jam tangan. Dan coba cek apa dia tengah hamil? Isteri ku tengah mengandung. Jelas dia bukan Gitaku!"


Ucap Jasson mantap sekeliling sambil menatap mayat itu walau dalam hati masih terpukul dan sedikit bimbang.


"Tapi kan bos, mungkin saja pakaian ini di berikan oleh buronan itu. Dan jam tangan mungkin di Copet."


Jasson kali ini ragu lagi. Dia menggeleng kuat.


"Kita akan periksa apa dia tengah mengandung."


Akhirnya mereka membawa jenazah ke RS terdekat dan dilakukan pemeriksaan serta persiapan untuk pemakamannya.


Akhirnya Jasson bernafas lega.


Wanita itu bersih belum pernah hamil atau tengah hamil.


Aaaah, mungkin sangking merindukan Brigitta Jasson tadi sampai tidak mengenali isteri sendiri.


"Kemana Sayang, kemana lagi aku harus mencari mu?"


Jasson berjalan keluar area Rs menatap lalu lalang pasangan yang terlihat begitu romantis.


Semakin keluar Rs semakin banyak ia temui pasangan yang sangat serasi.


Dia tambah merindukan kebersamaan dan kedekatan nya bersama isterinya itu.


Dia tengah memasuki mobilnya namun tiba tiba tangan itu terhenti saat mendengar pertengkaran kecil dua pasangan di pinggir taman.


Jasson tersenyum pahit.


Entah kenapa hari ini dia seperti dipermainkan dunia. Kenapa banyak sekali hubungan pasangan yang dia lihat hari ini. Atau mungkin ini sudah biasa namun selama ini dia tidak pernah memperhatikannya?


Akhirnya tangganya beralih menrik handel pintu mobil.


Diam dan melamun menatap dari samping jendela kaca.


Jasson benar benar merindukan Gita. Bagaimana keadaannya sekarang?


Jujur akhir akhir ini jasson tidak peduli se berantakan apa dirinya.


...πŸ–€πŸ–€πŸ–€...


1 minggu benar benar usai begitu saja.


Brigitta belum juga ditemukan.


Selama ini Juga perusahaan terlihat kurang terjaga. Lico. Ya, dia yang menangani mengenai bisnis beserta rekan lainnya.


Jasson masih tetap kokoh ikut mencari keberadaan isterinya itu.


Disisi lain masalah ini juga terdengar di telinga Kevin. Selama ini ia tidak tau karena dia tengah mengikuti acara mafia dia negeri tetangga namun pulang pulang ia dapat info yang tidak kalah sakit dari Jasson. Terpukul. Apalagi mendapati berita bahwa kriss orang yang jadi musuh bebuyutan yang telah melarikan Gita.


Hari ini rombongan mafia besar besaran menyelidiki persembunyian kriss.


Mereka tau bangat bahwa kris pria licik. Yang dengan mudah mematikan koneksi tempatnya dari jangkauan orang lain. Maka alat apapun yang dugunakan untuk menangkap keberadaa posisinya akan zonk tak dapat hasil.


Tapi sekarang Kevin dengan geram menyusun strategi bersama pasukan. Bahwa hari ini dia dengan kokoh mengatakan bahwa Gita akan ketemu.


Instingnya tidak akan pernah meleset.


Setiap pasukannya sudah bergerak ketempat persembunyian Kriss.


Mereka sangat tau dimana saja tempat tempat itu.


Setengah hari akhir nya sukses.


Satu perumahan di kaki gunung. Dan lebih tepatnya di negara tetangga.


Kevin yang dengan jelas menatap Kris mengunakan teropong yang dia letakkan di matanya.

__ADS_1


Dari jarak jauh ini dia bisa melihat dekat. Interaksi kriss dengan seseorang pria dengan badan tegap.


.......


"Memencar kesekeling kita akan gunakan cara seperti yang tersusun."


Mereka serentak mengguk dan mulai bersebar.


Kevin tetap di tempat.


Merogo ponsel di sakunya.


Terlihat di ujung sana Kriss menatap ponsel.


Menyudahi pembicaraan bersama lawan bicaranya.


Ternyata kevin baru menyadari. Banyak pasukan yang berjaga disekeliling perumahan itu.


"Apa kau ingin mengajakku, tanding lagi? Atau kau sudah tau kekasihmu sedang dalam bahaya?" Kalimat pertama yang langsung terdengar di deru telinga Kevin.


Sebelah tangan masih menempelkan teropong dan sebelah memegang ponsel di telinga.


Dan giginya digertak. Tampak jelas kevin menggepal ponsel itu dengan kuat.


"Apa maumu?"


"Konyol! Kau mengatakan ini seolah kau sudah tau semua yang kuperbuat."


"Jangan sok pura pura dan memutar pembicaraan."


"Ouh,,, Ketua mafia ingin cepat cepat dapat info ya! Sangat sayang! Tidak semudah itu!" Sambungan terputus.


Kevin menatap Kriss dari teropong. Dengan mudahnya dia membanting ponsel itu hingga hancur.


Padahal tidak perlu, karena Kevin sudah tau dimana keberadaannya saat ini.


"Fine, kau yang bermain dengan salah Kriss. Aku ikuti permainan mu!"


........


Disisi kris yang sudah menghancurkan ponsel. Tidak terima begitu saja. Dia tidak ingin rencana yang ia susun akan hancur karena seorang Kevin? Oh no, ini tidak mungkin.


Kris memasuki perumahan itu.


Memasuki satu ruangan yang di jaga ketat oleh beberapa pasukannya.


Dia membuka pintu itu.


Menatap intens pada seorang wanita yang tengah terbaring di atas ranjang. Terlihat jelas ruangan itu tidak memiliki jendela satu pun. Hanya ada penagkar udara dari atas atap. Dan satu pintu yang kini ia pakai untuk memasuki ruangan itu.


Dia semakin mendekat dan duduk disisi ranjang.


Merasakan elusan di wajah, gita membuka matanya.


Mata yang merah dan sembab sudah jelas Gita baru saja menagis.


Dengan cepat ia bangkit dan duduk menyandarkan punggung di kepala ranjang.


"Kris kumohon lepaskan aku. Tolong antar aku pulang." Gita menatap kris dan memegag lengannya.


Kriss menggeleng.


"Aku tidak ingin kau pergi. Aku akn selalu bersamamu! Apa kau tidak bahagia jika aku berada di dekat mu?"


"Kriss jangan egois, aku sudah bersuami. Dan sekarang keluarga ku pasti mengkhawatirkan ku!"


Kris tersenyum.


"Aku tau sayang." Mengelus pipi gita yang dengan cepat di tepis oleh Gita.


"Kriss, tolong!"


"Kita akan pergi dari sini!" Ucap kriss.


Gita dengan senang hati Mendengarnya.


"Benarkah? Kau akan mengantarku pulang?"


"Apa punggungmu sudah lebih baik?" Tanya kriss mengalihkan pembicaraan.


"Kriss, jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu sudah cek sendiri tadi. Jika luka ku sudah kering."


Kris mengerutkan keningnya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu. Kita akan hidup bersama. Aku tidak akan membiarkanmu direbut orang lain."


Kris punya otak tidak? Bukankah terbalik? Oh kriss kau yang merebut Gita.


"Kris, jangan ngada ngada. Please kali ini beri aku jawaban yang benar. Selama ini kau selalu membual janji palsu. Dan sampai sekarang aku tidak tau tujuanmu hingga menculik dan ingin membunuh adek iparku."


"Kita akan pergi sekarang! Tidak ada waktu membahas itu Gi!"


"Aku tidak mau! Jika kau mau mmbawaku lebih jauh dari keluarga ku aku tidak mau!"


"Tapi kamu tidak ada hak mengatur ku sayang! Kekasih lama mu seperti nya sudah tau keberadaan kita saat ini. Dan aku! Tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi!"


"Brengsek kau kris! Jangan egois! Aku bukan milikmu! Dan sampai kapanpun tidak akan pernah!"


"Sayang!" Kris memegag pipi Gita lagi.

__ADS_1


"Jangan menyentuh ku brengsek!!"


"Apa? Sepertinya jiwa jiwa masa mudahmu dulu sudah kembali ya Gi!"


"Tutup mulutmu."


Gita bangkit dan turun dari Ranjang.


Dia dengan cepat berlari menuju pintu.


Namun langkahnya terhenti saat pintu itu terkunci.


Dengan santai Kris berbalik dan menatap Gita, posisi duduknya masih disisi ranjang.


"Mau kemana? Apa semudah itu?"


"Buka pintunya!" Gita bernafas tak beraturan. Matanya sudah berkaca kaca.


"Kriss, kumohon!! Lepaskan aku!"


Kris menggeleng dan mendekat ke arah Gita.


"Tidak akan pernah."


Kriss mengeluarkan kunci dari kantong celananya dan membuka pintu itu.


Dengan cepat dan trik cepat dia menutup pintu itu kembali tanpa membiarkan Gita ikut keluar.


Gita menggertak pintu itu.


"Buka kris buka!!!" Sialan selama 6 hari ini dia di tipu oleh janji kris. Seharusnya dia tidak percaya begitu saja. Saat kriss mengatakan ini tidak jauh dari kota. Dan kenyataan ini bukan negaranya.


Gita berbalik badan menatap sekeliling dengan gusar. Tidak ada cela sedikitpun untuk keluar bahkan jendela tidak ada disini. Gita berlari ke arah pintu yang ada disisi kamar.


"Sialan!" Teriak gita menendang tembok.


Ini hanya lukisan saja. Tidak ada pintu disana selain pintu masuk-keluar.


Gita dengan geram kembali mengedor pintu.


"Kris buka kris!!! Bajingan kau kriss, brengsek. Sialan!!"


Tidak ingin mengumpat, tapi sangking emosinya Gita tak tahan untuk mengeluarkan unek-uneknya.


Akhirnya pintu terbuka lebar, namun itu bukan kriss tapi dua orang kawal Kriss.


Mereka memegang kedua tangan Gita.


"Ayo ikut kami Bos Kriss sudah menunggu di luar."


"Tidak lepaskan!"


Tidak peduli sekeras apapun Gita berontak mereka terus menyeret Gita keluar Hingga berdiri diambang pintu.


"Kriss kau mau bawa aku kemana? Dan ini tempat apa ini?"


Selama disini Gita tidak pernah keluar sekali pin eh, tiba tiba keluar dia melihat tempat yang sepi dan daerah pegunungan yang rimbun akan pepohonan.


"Kita akan pergi jauh. Dan hidup bersama. Tidak akan ada satupun orang yang tau!"


"Tidak! Aku tidak mau tinggal bersamamu!"


"Bawa dia, masukkan ke dalam mobil!"


Ucap Kriss dengan lantang.


"Tidak... Aku tidak mau!"


Tiba tiba sebelum Gita lolos ke ambang pintu mobil suara gerakan kaki memenuhi tempat itu.


Dooorrrr satu tembakan mengisyaratkan lawan telah datang.


"Kris, kris,.." Kevin berdesis. sambil melangkahkan mendekat maju.


" kau sangat pengecut. Bajingan! Bisanya melarikan diri!"


Kevin berjalan dengan sebelah tangan disaku dan satu tangannya masih ada teleskop.


"Kevin? Tolong Vin, selamatkan aku! Tolong!"


Mata kevin tertuju pada netra mata itu.


"Jangan khawatir Gi, kau akan selamat!" Ucap Kevin menatap Gita dengan raut cemas.


"Lepaskan Gita Kris!"


"Hah," Kris menertawakan Kevin, dengan tatapan aneh.


"kau pikir semudah membalikkan telapak tangan? Jika kau ingin Gita langkah hi dulu mayatku!" Kris dengan cepat mengarah pada Gita dan menarik gita ke sisinya.


To be continued 🌷


"eh, eh, Gita masih hidup! Dan Author ikut senangπŸ˜—"


Btw Beste maaf ya kemarin gak jadi Up, 😒


nanti malam di usahain namba 1 bab lagi.


okeh sekian dulu.

__ADS_1


Bye bye 😘


__ADS_2