
Belum beberapa langkah yolan berhenti saat mendengar ucapan Aditya.
"Makanlah! Jika tidak kau akan sakit Vin. Jangan menyiksa diri seperti ini. Mulai dari semalam kau belum makan bukan?"
"Kevin tidak berselera pa! Papa makan saja, aku akan menunggu sampai mama bangun." memegang tangan Gresya dan menatap wajah teduh itu.
"Kenapa kamu keras kepala, jika seandainya mama sudah bangun dan malah kamu yang sakit bagaima?"
"Tidak akan, kevin tidak lapar. Kevin akan baik baik saja."
"Papa sudah belikan makanan, Sana makanlah! Papa yang akan menjaga mama."
Kevin diam saja mengabaikan ucapan Aditya yang dijadikan sebagai angin lewat.
"Sus, kamu duluan. Aku akan menyusul nanti!" Ucap Yolan terseyum pada suster.
"Baik dok, permisi!" Ucapnya berlalu lebih dulu. Yolan berbalik dan berjalan ke tempat nya tadi.
"Dokter? Kenapa balik lagi?" Tanya Aditya yang tidak menyadari bahwa Yolan masih di ujung sana sedari tadi.
"Aku ingin bicara sesuatu dengan anak Tuan." Ucap Yolan menatap intens pada sosok pria yang masih diam menatap mamanya namun mendengar ucapan Yolan, kevin yang segera menatap nya penuh tanya.
"Bicara apa?" Tanya Kevin.
"Tidak disini. Mari ikut saya." Ajak Yolan.
"Disini saja, aku malas keluar!" Ucap kevin.
"Jika tidak keluar saya tidak bisa bicara." Yolan melangkah lebih dulu. Dengan berat hati akhirnya Kevin ngikut juga, dia penasaran apa yang akan di katakan Oleh Yolanda.
"Bicara apa?" Tanya Kevin yang baru memasuki ruangan itu.
Menatap ke arah gerakan Yolan dengan santainya duduk di sofa.
"Tidak mungkin aku bicara dan kau berdiri disana. Duduklah!"
Kevin berjalan mendekat dan duduk disana.
"Apa berhubungan dengan Mamaku?"
Tanya Kevin.
Tok tok tok.
Pintu terbuka seorang pelayan rumah sakit mengantarkan makanan seperti biasanya.
"Disini saja Bu. Biar saya yang akan memindahkan nya!" Ucap Yolan. Palayan itu meletakkan plastik yang berisikan makanan.
"Saya permisi dok."
"Terimakasih Bu." Ucap Yolan menarik benda di depannya dan mengeluarkan kotak makanan.
"Bukannya kau ingin bicara? Kenapa diam saja?"
"Sepertinya aku sudah lapar. Ini memang jam istirahat ku. Biarkan aku makan dulu. Apa kau mau juga?" Tawar yolan.
"Tidak!" Kevin menepis tatapannya dan menatap arah lain.
"Kenapa? Makanannya enak loh!" Ucap Yolan membuka kotak itu. Menampakan makanan yang sangat mengiurkan.
Yolan menggeser tubuhnya.
"Lihat, makanan ini sungguh lezat. Apa kau tidak mau?" Ucap Yolan menyodorkan makanan.
Kevin menatap sebentar, sangat kebetulan makanan itu adalah makanan pavorirt nya. Tapi dia terlalu gengsi jika ia minat.
"Tidak, kau makan saja. Aku sudah makan." Ucapnya yang jelas jelas Yolan tau tadi dia saja sampai berdebat soal makanan dengan Aditya.
"Benarkah? Tapi aku mendengar suara gemuru dari arah perut mu!" Ejek Yolan.
__ADS_1
Kevin berdeciss seperti nya Yolan sengaja membuatnya terlur menelan air liurnya.
"Kau benar tidak mau? Kalau kau tidak ingin, ya aku akan memakannya. Tapi jangan salahkan aku jika setelah makan aku pasti tidak bisa bicara lagi. Soalnya makanan ini sangat banyak melebihi porsiku!"
Ucapnya seraya memojokkan mengancam tidak ingin bicara.
Jika Kevin tidak mau yang pasti dia tidak akan mendengarkan apa yang akan di ucapkan wanita di sampingnya ini.
"Ok baiklah jika kau tidak mau.
Aku akan makan." Setelah berdoa Yolan hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya namun belum sempat masuk Kevin menarik tangan itu mengarahkan pada mulutnya, hap.
Makanan masuk dalam mulut Kevin.
Yolan membolak. Senekat itu?
Yolan melepaskan pegangan kevin.
"Katanya tidak mau. Nih habisin aja, aku bisa pesan lagi!" Ucap Yolan memberikan kotak makanan pada Kevin.
"Kau yang memaksa! Aku tidak menyukai makanan ini hanya saja kau yang memaksaku untuk memakannya!"
"Aku tidak menayakan kau menyukai makanan ini." Ucap Yolan.
Kevin gagap ketauan bangat sebenarnya sedari tadi dia memang sangat menginginkan makanan itu.
"Jika mau lagi katakan saja! Jelas bangat sih seperti gak pernah makan" Ucap Yolan terseyum melihat Kevin yang acuh dan malah seperti menikmati makanan itu.
Huk huk huk. Kevin tersendak.
Dengan cekatan Yolan memberikan minum.
"Makanya kalau makan pelan pelan."
Ejek Yolan.
"Kau tidak lapar?" Tanya Kevin di sela sela makannya.
Kevin mengarah kan kotak itu pada Yolan.
"Tidak, kau makan saja. Ya, kali aku makan bekas kamu."
"Udah kosong. Aku hanya bilang sudah habis ." Kevin merendahkan kotak itu menunjukkan pada Yolan bahwa kotak itu sudah ludes.
Yolan terkejut dibuatnya, secepat itu?
"Kau benar benar memakan semuanya?"
Kevin mengangguk meletakkan kotak itu dan minum.
"Lihatlah kau sampai belepotan." Yolan replex membersihkan sudut bibir itu.
Sedikit terkejut untuk Kevin, menatap dekat wajah Yolan yang santai dan terseyum.
Yolan menarik kembali tangganya dan menatap Kevin.
"Kenapa? Apa masih kurang kenyang?" Tannya nya menatap Kevin yang terlihat bengong.
"Tidak. Aku-"
Tok tok tok.
Mata mereka secara bersama menatap ke arah ketukan pintu.
Pintu teebuka.
Pelayan itu mengantarkan makanan lagi dan meletakkan di meja dan berlalu pergi.
"Aku sudah kenyang!" Ucap Kevin.
__ADS_1
Yolan manaikkan alisnya binggung.
"Jadi?" Tanyya Yolan heran.
"Aku tidak mau kagi." Ucapnya menatap Makanan di atas meja.
"Bukan untuk mu kali, ini aku pesan untuk ku sendiri, saat tadi kau sedang makan."
"Oh." Ucap Kevin kikuk dan merasa malu sudah berpikir bahwa Yolan mengira dia masih kelaparan.
"Kau akan cerita atau makan dulu?"
"Maafkan aku, sebenarnya aku hanya mengajak mu untuk makan. Jangan marah aku tidak bermaksud menipumu aku hanya membantu sedikit."
Kevin terdiam, sejujurnya di tidak marah hanya aneh saja. Untuk apa juga yolan peduli padanya.
"kenapa?" tanya Kevin binggung.
"Aku hanya merasa senang membantu orang lain. Ini bukan untuk mu saja, aku sudah terbiasa melakukan itu untuk orang orang apalagi mogok makan karena terpuruk. Atau melampiaskan kesedihan yang tanpa sadar malah melukai diri sendiri."
Jujur saja Kevin tidak merasa jika yolan tadi membujuknya untuk makan. Dia memang menyukai makanan itu. Tapi benar cara yolan tadi memang berhasil, buktinya kevin malah menghabiskan makanan itu.
"Terimakasih, tapi aku tidak suka dikasihani. Jangan peduli padaku. Jika kau memng sudah teebiasa bersikap baik pada orang lain, jangan lakukan yang sama untuk ku. Aku bisa menjalani hidup ku tanpa harus di kasihani." Kevin berdiri dan hendak berjalan.
"Tapi aku bukanlah tipe orang yang membiarkan orang lain menghadapi kesedihan sendiri. Aku tidak bisa menutup mata dan telinga untuk tidak melihat dan mendengarnya."
Baik, memang kau sangat baik, tapi aku tidak bisa menerima sikap lebih, dari orang yang tidak ku kenal.
"Sekali lagi terimakasih." Kevin berlalu tanpa berbalik hanya untuk menatap sekilas saja tidak.
"Kenapa dia seperti itu? Aku kan hanya melakukan hal biasa saja. Kenapa dia malah membesarkannya hingga terlihat seperti masalah?"
Tanpa berpikir lagi. Karena kesal yolan membuka asal kotak makan itu. Menatap makanan di depannya membuat kesalnya lenyap seketika.
"Uah, kenapa makanan ini sangat lezat." Ucapnya sanbil terus mengunyah makanan itu.
...
Dalam kamar besar dua insan yang tengah sibuk pada aktivitas masing masing. Gita duduk bersandar di sofa tengah asik mengetik ponselnya dengan sesekali tersenyum.
Sedangkan Jasson asyik dengan layar laptop nya. Sesekali ia risih menatap Gita yang tersenyum senyum di ujung sana.
"Kau sudah izin untuk tidak masuk Kantor kan?"
"Iya, sudah." Ucap Gita tanpa melirik ke arah Jasson dan masih sibuk dengan layar ponselnya. Tanpa Gita sadari dia sudah duduk asal di sofa itu mengambil posisi sebarang hingga gaun tidur itu sedikit tersibak ke atas.
Jasson yang baru menyadari setelah berjalan mendekat hanya bisa menelan salivanya melihat paha mulus itu.
Apa dia sedang menggodaku?
Jasson seraya lupa dengan apa maksud kedatangan nya.
Tersadar saat gita merapikan pakaiannya yang tersa terangkat karena hembusan angin malam soalnya jendela kaca itu masih terbuka.
Jasson berjalan mendekat dan menarik ponsel itu.
"Apa yang kau lihat?" Gita teronggok kaget dan segera merapikan posisi duduknya. Dia sampai tidak menyadari keberadaan Jasson sangking asik bergelut dengan ponsel.
"Berikan ponsel itu." Gita berdiri mencoba merampas ponselnya.
Jasson mengotak atik ponsel Mikik Gita, namun tidak ada yang lucu, tapi kenapa Gita tersenyum senyum sampai terpatung hanya menatap ponsel ini?
"Apa yang lucu? Kenapa sedari tadi kau mengabaikan ku?"
Gita menatap Jasson. Mengabaikan? sejak kapan?
To be continued π·
lanjutan nya nanti ya Guys..
__ADS_1
soalnya ada halangan ππ
Bye bye π