
Astaga dia masih tidur?
Gita masuk dan menutup pintu itu pelan.
Jam sudah menunjukan 06.30.
Kenapa dia masih tidur, apa dia tidak pergi bekerja? Gita berjalan mendekat ke arah gorden kaca. Ia menyibaknya ke samping kiri dan kanan. Matahari pagi itu langsung lolos masuk ke dalam kamar.
Astaga kenapa dia tidak bangun juga. Bahkan sinar itu mengenai wajah nya.
Bukankah itu menggagu?
Gita berjalan mendekat siapa tau saja jasson tidur dengan banyak mimpi hingga ia terlalu lelap dan lupa waktu.
"Tuan. Bagun, sudah pagi. Apa anda tidak pergi bekerja?" Gita masih berdiri di samping ranjang itu sambil menatap wajah jasson dengan nyamannya tidur di kasur itu.
"Tuan.." panggil gita lagi.
"Tuan apa anda tidak bekerja.." gita mulai menaikkan volume suaranya.
"Tuan.." Jasson mulai bergerak.
"Mati, dia bangun. Apa dia akan marah dibangun tidurnya ini?"
Jasson hanya bergerak sedikit setelah itu ia tidur dengan tenangnya.
"Astaga."
"Tuan.. bagun.. sudah pagi.." Gita mendekat kan suaranya supaya jasson mendengar.
"Gila!!!" Jasson Menutup telinganya. Gita segera mengambil posisi sedikit menjauh jangan sampai Jasson mendorongnya.
"Apa kau mau cari mati? Atau kau sudah bosan hidup!!" Jasson menyibakkan selimutnya dan berdiri mendekat ke arah Gita.
"Ya, God. Selamat kan aku dari harimau yang sudah mengeluarkan taringnya ini."
Gita berjalan mundur.
"Kenapa kau berteriak-teriak di telingaku huh? Apa kau tidak melihat ku masih tidur? Kenapa menggagu!!! Kau selalu saja mengusik ketenangan ku. Apa kau mau mati sekarang!!" Jasson terus melangkah mendekat ke arah Gita.
Gita yang berjalan mundur yang sesekali melirik belakang kini tidak sengaja menabrak tangan sofa dibelakangnya dan terjatuh ke dalam sofa.
Kini kaki kita bergelantung di tangan sofa dan badannya terbaring di atas sofa empuk itu. Baru saja ia hendak menarik kakinya namun Jasson sudah keburu mengunci kaki itu dengan tangannya.
"Mau lari kemana?
Apa kau sudah siap mati hari ini?"
Gita mengeleng gelengankan kepalanya. Dalam hati sudah semua kata kata mutiara ia keluarkan untuk menenangkan diri.
"Hei, wanita Gila.." Jasson menaruh tangganya tepat di leher Gita.
Sadarlah hei Tuan Jasson. Setan apa yang merasuki anda? Jasson mulai memekik leher itu kuat.
"Tu tu an lepaskan saya. Sa saya mohon." Gita benar benar terkunci tangan Jasson sangat kuat mencekram kakinya dan tangan kanan itu mencekik leher kecil Gita hingga gita kesusahan berbicara.
"Tuan sadarlah. Jangan seperti ini."
"Aku sadar. Apa kau tidak lihat? Mata ku bahkan tampak berseri menyaksikan pertunjukan di pagi hari!"
"Aaaaa, ak ak. Tu tuan." Gita memukul mukul tangan yang memekik lehernya dan mencoba sekuat tenaga melawan cengkraman pada kaki itu.
Brukkkk... Karena kerasnya Gita meronta dia sampai terlempar dari sofa ke lantai.
"Kuat juga tenaga dari tubuh kecil mu itu!"
Jasson melangkah kan kakinya mendekati Gita yang tersungkur di lantai.
Gita menyeret badannya menjauh.
"Tuan kumohon. Ampuni saya. Saya hanya berniat membangun kan Anda karena sekarang sudah jam 7." Lirik Gita pada pergelangan tangannya.
"Apa ada aturan kau membangunkan ku? Emang siapa dirimu?"
"Aku hanya takut saja jika anda terlambat." Maka aku juga yang akan kena imbasnya.
"Apa kau lupa siapa aku? Kapan pun dan jam berapa aku mau pergi, itu terserah ku!!"
Gita terus merosot menjauh, sedangkan Jasson sudah mulai dekat dengan langkah dan tatapan menyeramkan.
Gita langsung berdiri. Dan hendak lari ke arah pintu yang berjarak dua langkah lagi dari posisi ia berdiri.
Namun tangan Jasson lebih dulu menarik tangan itu.
"Mau kabur kemana!!"
__ADS_1
"Tuan kumohon maafkan aku." Gita memandang wajah itu dengan penuh syahdu.
Jasson mulai menggakat tangganya mengenai leher Gita.
Belum lagi ia memperkuat pegangannya.
Tok tok tok
Suara pintu langsung menggagalkan aksinya.
Gita menatap Jasson.
"Kenapa menatap ku? Buka pintu itu!!"
Seketika Gita merasa sangat lega.
" Selamat pagi Nyonya. Tuan besar akan sarapan pagi di mansion."
"Baik. Terimakasih."
Segera pelayan laki laki itu membungkuk dan berlalu pergi.
Sudah biasa jika Janes makan di mansion itu artinya akan ada acara makan bersama keluarga.
Gita menutup pintu itu lalu membalikkan tubuhnya perlahan.
"Uh, untung saja ia sudah pergi." Gita melangkah kan kakinya menuju ruang pakaian. Dia menggambil pakaian kerja untuk Jasson lalu meletakkan nya di atas kasur dan berlalu keluar ruangan.
Apa dia sudah Gila. Dia hampir membunuhku. Untung saja pelayan itu datang jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Gita membantu para pelayan menyiapkan makanan ke atas meja. Disana belum tampak sosok Janes mungkin lagi beres beres pikir Gita.
Setelah menyiapkan makanan Gita hendak berjalan ke arah kamar Monik namun langkah itu terhenti saat pelayan memanggil nya.
"Nyonya, Anda dicari Tuan muda di kamarnya." Pelayan laki-laki itu tertunduk menunggu respon Gita.
Untuk apa ia mencari ku? Astaga apa dia mau lanjutkan aksi bunuh nya?
"Nyonya," ujar nya lagi.
"Terimakasih!" Gita segera pergi menuju kamar.
Tok tok tok.
"Ini saya Tuan."
Apa yang dia lakukan! kenapa belum memakai pakaiannya? Untuk apa ia mengenakan handuk itu dan membiarkan ku masuk?
Tampak dada bidang mulus Jasson yang terlihat kekar dan seperti belahan roti.
Gita segera menundukkan kepalanya jangan sampai mata itu menjelajahi setiap sisi pada bagian badan Jasson.
"Ganti pakaian ku!" Katanya sambil memandang pakaian style kantor di atas kasur.
Gita langsung menaikkan wajahnya cepat.
Apa? Ganti pakaian? Dia Gila?
"Kenapa. Apa kau mau di cekik lagi! Cepat ambilkan pakaian baru!! Aku tidak bekerja hari ini!" Seketika Gita merasakan kelegaan di dadanya.
Gita segera mengambil pakaian di atas kasur dan segera memasuki ruangan pakaian.
Gita berjalan mendekat ke arah Jasson.
"Mengambil pakaian saja lama!" Jasson merampas pakaian itu dan masuk kedalam kamar mandi.
"Uh, untung saja kupikir tadi aku...
Ah, pikiran ku benar benar Gila!"
Gita menekan pelepis sambil menutup mata.
Saat ini mereka tengah berkumpul di ruang makan. Di sana ada Monika yang ikut duduk di samping Janes. Sudah dua minggu terakhir ini Monika ikut makan bersama di ruangan itu.
Dengan cekatan Gita mengisi setiap piring kosong yang ada dihadapan masing masing insan yang duduk disana.
Mereka makan dengan hening tidak ada ucapan hanya ada bunyi nyaring dari sendok yang beradu dengan piring. dan sesekali suara 'aaaa' karena Janes menyuapi Monik makan.
Jasson hanya bersikap biasa saja begitu juga dengan Gita.
"Jas, hari ini kau tidak bekerja?" Kata Janes lalu meneguk segelas susu. Dia baru memperhatikan pakaian Jasson yang mengenakan pakaian rumah.
"Iya, Pa hari ini Jasson Libur." Ucap jasson sambil mengusap mulutnya menggunakan sapu tangan yang ada pada pangkuannya.
Pantasan saja dia tidur dengan lelapnya. Batin Gita sambil memasukkan suapan terakhir ke mulutnya.
__ADS_1
"Kalau Gitu Papa kerja dulu ya ma." Ucap Janes sambil mencium kening istrinya itu. Monik juga tidak lupa mencium punggung tangan jasson. Semua itu disaksikan oleh kedua mata Gita dan juga Jasson.
Andai saja rumah tangga yang kujalani seharmonis itu.
"Jasson, Gita, papa pergi kerja dulu." Ucap Janes tersenyum dan berlalu pergi dari meja itu. Gita mengangukkan kepalanya sambil tersenyum sedangkan Jasson hanya menganguk singkat.
"Gita…"
"Iya ma." Ucap Gita.
Dia sekarang sudah berani mengucapkan mama di depan Jasson. Tidak ada masalah bagi Jasson asalkan jangan panggil mama saat mereka sedang berdua.
"Antar mama ke lantai atas mama ingin keruang baca."
Gita menatap Jasson, tapi tidak ada respon dari Jasson.
"Gita.."
"Iya ma," ucap Gita sambil berlari ke arah posisi duduk Monik yang berhadapan dengannya.
Gita mendorong Kursi roda itu pelan.
Jasson menatap punggung Gita yang semakin menjauh. Tanpa menunggu punggung itu tak terlihat Dia lebih dulu beranjak menuju kamarnya.
Gita dan Monik memasuki life menuju lantai atas tepatnya di lantai 3.
Sampai disana ada beberapa pelayan yang membersihkan lantai itu setiap ruangan disana juga dibersihkan agar tidak ada satupun debu yang lengket.
Jika sampai itu terjadi siap siap saja menyambut pelayan baru.
"Ma, mama mau baca buku apa?"
"Mama mau liat liat dulu sayang."
Ruang baca itu sudah seperti perpustakaan di mansion ini. Jika ada perpustakaan kenapa Jasson membuat perpustakaan juga di kamarnya?
"Selamat datang Tuan di negara kita. Selamat datang kembali di Mansion ini" Ucap ketua pelayan dan diikuti sikap hormat dari setiap pelayan yang berbaris menyambut sang Tuan Muda.
"Terimakasih," ucap suara bariton itu memasuki mansion dengan gagahnya.
"Kevin anak mama..." Wanita paru baya itu dengan semangatnya berlari dan langsung memeluk tubuh kekar anaknya.
"Aku merindukan mama."
"Uuu, mama juga merindukan anak mama yang tampan ini. Lihat lah kau sudah sangat besar. Dan terlihat sangat Dewasa." Wanita itu memegang kedua pipi anak itu sambil berjinjit lalu mencium pipinya.
"Gak mungkin kan ma Kevin tumbuh kecil terus." Ucapnya kembali memposisikan badannya yang tadinya sedikit membungkuk.
"Mama sangat merindukanmu. Sudah hampir enam tahun kau pergi meninggalkan mama. Bagaimana perasaan mu?"
"Yang jelas Kevin sangat, sangat merindukan mama." Katanya memeluk punggung mamanya menggunakan tangan kanan sambil melangkahkan kakinya.
"Nyonya!" Pelayan wanita itu sedikit berteriak.
"Astaga Bi! Kau menggaetkan ku!"
Habisnya gita melamun sambil berjalan. Kalau kesanbet bagaimana?
"Nyonya ikutlah dengan saya!"
"Kemana Bi?"
"Ikutlah Nyonya. Nanti anda akan tahu."
Saat ini Gita telah berada di dalam sebuah kamar.
"Bi kita ngapain disini?"
"Nyonya tunggulah, mereka akan segera sampai."
"Siapa Bi?"
Belum lagi pelayan itu menjawab. Pintu itu sudah terbuka.
Ada 3 orang wanita yang memegang koper dan juga tas.
"Bi mereka..."
"Ia Nyonya mereka dari salon kecantikan. Mereka akan mendandani nyonya."
"Untuk apa aku di dandan Bi?"
"Ini perintah dari Tuan muda Nyonya.."
.....
__ADS_1
To be continued
🍁 Jangan lupa like and komen ya guys 🍁