
teman dekat Carol yang merasa di fitnah kini sedih. karna dia tidak pernah ada niatan untuk memanfaatkan kesempatan hanya untuk nya.
Carol yang sadar hal itu hanya terdiam dan ikut sedih melihat nya. sebagai teman dekat nya, Carol malah melakukan hal begitu.
karna merasa bersalah, Carol pun datang kepada nya dengan tatapan bersalah....
"maaf kan aku, aku tidak tau kenapa ponsel itu bisa ada di dalam tas mu. padahal jelas-jelas waktu itu aku lah yang menaruh ponsel itu didalam tas Lin shi. bahkan saat itu tidak ada seorang pun yang tau, apalagi diri mu, aku tidak pernah berniat ingin kamu kena masalah hanya karna ulah ku. kau adalah sahabat terbaik ku, bagaimana mungkin aku tega melakukan itu. ya benar, aku dulu pernah berbuat curang terhadap Yuan, tapi itu kepada nya. aku tidak akan berani berbuat buruk kepada mu, kau satu-satunya orang yang peduli terhadap ku, dimana pun kapan pun itu kamu tetap ada untukku." ujar Carol yang berjalan duduk di dekat teman nya.
teman dekat nya pun tersenyum tipis dan menghela nafas....
"sudah ku duga, semua ini hanya rencana mu lagi. aku memberi tau sesuatu kepada mu, nampak nya Lin shi tau segala hal yang kita lakukan. jika kau benar-benar ingin menjatuhkan dia, maka rencana kan semua itu dengan baik-baik." ujar teman dekat Carol dengan serius.
"maksud mu aku harus punya rencana matang-matang untuk hal ini." ujar Carol dengan wajah ragu-ragu.
"betul, lihat lah, kamu sering kan berbuat hal tidak baik dengan nya, tapi semua itu malah berbalik. Lin shi begitu hebat menebak, aku takut dia seperti nya punya kemampuan lain." ujar teman dekat Carol yang lalu membuat Carol tertawa terbahak-bahak.
"hahaha...Lin shi punya kemampuan lain?." ujar Carol yang tertawa.
disisi lain lagi, Lin shi yang mendengar itu hanya ikut tertawa dan memandangi tempat mereka berada.
"mereka berdua sungguh teman baik, bahkan Carol masih sempat-sempatnya meminta maaf kepada nya. aku heran teman dekat nya ini sebenarnya siapa?." ujar Lin shi yang lalu di buat kaget oleh Yuan.
"dorrrr!!!!." ujar Yuan sambil tertawa.
Lin shi kaget hanya mengatur nafas sambil memegang jantung nya.
"untung jantung saya baik-baik saja, btw Yuan ada yang ingin aku tanyakan." ujar Lin shi yang tadi nya bercanda berubah menjadi serius.
__ADS_1
"tanya saja." ujar Yuan dengan simpel.
setelah nya baru memulai omongan tiba-tiba sesosok bayangan hitam kembali mengganggu Lin shi. dia malah sengaja menabrakkan diri nya hingga akhir nya gelas air Lin shi jatuh.
gelas itu pun pecah, hingga terdengar ke semua orang-orang. mereka ikut kaget mendengar suara itu.
Lin shi yang tau itu segera turun kebawah untuk mengambil potongan gelas dan membuang nya. sedang kan sesosok itu malah semakin menjadi-jadi.
dia malah menyiram punggung Lin shi hingga akhir nya Lin shi kesal...
dia pun tidak sengaja keceplosan dan berkata...
"berhenti mengganggu ku, pergi lah sekarang atau aku yang harus membuat mu pergi." ujar Lin shi yang tanpa sengaja keceplosan.
setelah nya dia sadar dan lalu menutup mulut nya dengan kuat-kuat, dia merasa malu karna keceplosan berkata seperti itu.
semua orang yang mendengar perkataan Lin shi itu segera kaget dan terbingung mendengar nya.
"aku tidak tau, tapi sepertinya ada hal aneh yang terjadi dengan nya." jawab berbisik teman yang ada di sebelah nya.
Lin shi yang sadar akan omongan itu dengan segera duduk dengan wajah malu. teman-teman nya yang melihat itu sadar, apalagi Revan, dia sudah tau pasti yang sebenarnya.
"Lin shi siapa?." tanya Revan yang lalu di geleng oleh Lin shi.
"aku tidak tau, dia tampak asing. tapi sekilas aku seperti mengenal nya, tapi dimana ya, apa jangan-jangan dia yang pernah menyenggol ku waktu aku latihan?." ujar Lin shi yang mengagetkan mereka.
"jangan bilang dia mau bales dendam ke kamu Lin." ujar Yuan yang lalu di geleng lagi oleh Lin shi.
__ADS_1
"bukan, dia nampak mengganggu, bukan lagi...dia nampak memberi isyarat yang tidak aku ketahui." ujar Lin shi yang membuat mereka penasaran.
"isyarat bagaimana Lin?." tanya Yuan yang lalu di jawab oleh Lin shi.
"sebenarnya dia menyenggol ku lagi bukan karna apa, dia nampak sudah tau bahwa aku memiliki kemampuan itu. sedangkan dia menyiramku lagi, dia bermaksud ingin berbicara dengan ku secara langsung. aku pergi ke lapangan, kalian jangan ikut, aku takut kalian kenapa-napa nanti nya." ujar Lin shi yang berlari menuju lapangan basket.
menit ke menit telah berlalu, kini dia sudah sampai di lapangan, dengan segera sesosok itu datang dan menampilkan wajah asli nya.
ya dia adalah seorang pria muda yang tersenyum ramah kepada nya, sebelum memulai percakapan dia mula-mula menghela nafas.
"hah... apa kabar?." tanya sesosok itu sambil mengacungkan tangan.
"baik, ada apa?." tanya balik Lin shi dengan wajah penasaran.
"kau wanita yang cukup terus terang, aku ingin bertanya bagaimana cara mu bisa berada di tubuh ini?." tanya sesosok itu dengan ramah.
"aku tidak tau, aku sudah tiada lebih dari 1 tahun. jika di tanya soal tubuh, aku tidak tau pasti bagaimana cerita nya. inti nya sekarang aku adalah dia yang baru." jawab Lin shi yang membuat dia tersenyum tipis.
"salam kenal, nama aku Kenny, aku dulu nya seorang siswa di sekolah ini. tapi 10 tahun yang lalu aku tiada karna terjatuh dari jurang." ujar sesosok itu dengan nama Kenny.
"salam kenal kembali, nama lama ku adalah Lusi, tapi sekarang nama baru ku adalah Lin shi. sesuai dengan tubuh ini, nama pemilik nya adalah Lin shi. dia adalah sahabat ku juga." jawab Lusi yang ikut tersenyum.
Kenny pun membalas dengan senyuman, dia tak menyangka akan bertemu dengan orang yang mampu melihat nya seperti ini.
"Kenny kamu sebenarnya kenapa?, aku lihat seperti nya kamu berbeda dari sesosok lain." ujar Lusi yang lalu di jawab oleh nya.
"sejujurnya waktu itu aku jatuh dari jurang karna seseorang mendorong ku hingga aku terjatuh dan ya bisa di bilang dari situ aku kehilangan nyawa." jawab Kenny yang mampu membuat Lusi sadar.
__ADS_1
"siapa orang itu?, dan kamu tau dia siapa?." tanya Lusi yang lalu di jawab lagi oleh nya.
"sangat tau, dia adalah sahabat ku, dia tega memb*nuh ku demi bisa bersama dengan pacar ku. ternyata selama ini mereka berdua bermain di belakang ku." jawab Kenny dengan suara tangisan.