
"Jawab aku Jihan, kenapa kamu bisa melakukan ini kepada Juli? Apa alasan kamu melakukan ini, hah?" tanya Amar dengan nada marah dan kesal kepada Jihan.
Melihat masih belum menjawab dirinya, Amar pun langsung memegangi kedua tangan Jihan dengan sangat erat dan tatapan mata yang tajam melihat ke arah mata Jihan yang tampak sedih.
"Dia melakukan ini karena kamu Amar!" sahut Juli saat dirinya mendengar ucapan dari Amar. Mendengar pernyataan Juli, Amar pun terlihat terkejut ia langsung berbalik dan melihat ke arah Juli.
"Apa maksudnya?" jawab Amar setalah ia mendengar perkataan Juli. Ia kemudian mendekatkan dirinya kepada Juli dengan raut muka kebingungan.
"Dia ingin tahu rahasia kamu!" ucap Juli dengan nada serius tanpa melihat ke arah Jihan. Dan ia kemudian berhenti selama beberapa saat. Setalah itu, ia melanjutkan berkata "dia ingin tahu tentang kamu dan hubungan kita."
Di saat Juli, menjelaskan tujuan Jihan merencanakan hal ini. Raut muka Jihan terlihat terkejut mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Juli.
Berbeda dengan Jihan yang tampak terkejut, Amar pun berbalik dan melihat ke arah Jihan dengan tatapan mata yang masih terlihat tajam melihat ke arah Jihan.
Ia kemudian berjalan menghampiri Jihan dengan perlahan. Saat ia sudah berada di dekat Jihan, Amar memegangi kedua lengan Jihan dengan erat dan menunjukkan raut muka serius.
"Kalau kamu ingin tahu rahasia ku dan Juli, tidak sepatutnya kamu melakukan hal ini Jihan. Apa kamu tidak berpikir ini akan membahayakan nyawa Juli, hah?" ucap Amar dengan nada serius dan tegas.
"Ya, aku memang tidak berpikir melakukan hal ini kepada kakak. Aku cemburu dengan kamu, kamu selalu menjadi prioritas di hidup kakak, kamu seperti orang yang sangat spesial di hidup kakak, berbeda dengan aku. Aku tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh kakak," jawab Jihan dengan nada tinggi kepada Amar. Ia kemari menghentikan ucapannya beberapa saat setelah itu ia melepaskan kedua tangan Amar yang memegangi lengannya dengan erat. "Aku cemburu dengan kamu, kakak menurut apa pun yang kamu inginkan dan kamu bisa melakukan apa pun yang aku ingin kan, tapi aku.... Kakak tidak pernah membiarkan aku melakukan apa yang aku inginkan!."
Mendengar hal itu, Juli pun meninggikan kepalanya dan dirinya menghampiri Jihan. Saat ia sudah berada di dekat Jihan, Juli melihat Jihan dengan serius dan ia kemudian memegangi tangan Jihan dengan baik dan penuh perhatian sebagai seorang kakak.
"Apa kamu ingin bersama ibu?" tanya Juli kepada Jihan, hingga membuat Jihan langsung terdiam.
__ADS_1
"Pergilah. Pergilah dan tinggal lah bersama dengan ibu yang kamu sayang itu," ucap Juli dengan nada rendah.
Mendengar hal itu, Amar terlihat sangat terkejut dan dirinya berusaha mengerti Juli, namun saat Amar ingin membantah keputusan Juli, Juli memberi sebuah kode agar Amar tidak ikut campur dengan keputusan nya.
Melihat kode tersebut dari Juli, Amar pun akhirnya diam dirinya tidak membantah Juli.
"Kami berpikir kalau aku hanya memprioritaskan Kak Amar bukan? Maka pergilah, pergilah untuk bersama ibu yang kamu sayangi itu."
"Kak Amar?" sahut Jihan dengan heran saat Juli menyebut Amar dengan sebutan Kakak. "Apa maksudnya?"
"Amar adalah Kakak kita Jihan, dia adalah kakak kandung kita."
Mendengar jawaban dari Juli, Ibu Juli, Verdi dan Jihan pun terlihat terkejut dan ia tidak percaya dengan saya di ucapkan oleh Juli.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin anak ayah hanya aku, sista dan kalian berdua. Amar tidak mungkin anak ayah juga," sahut Verdi dengan tidak percaya marah dan kesal kepada Juli telah menyebut Amar saudara tirinya. Saat itu, Verdi yang tidak percaya dengan Juli pun ia langsung menghampiri Juli dan memegangi kerah baju yang di pakai oleh Juli. Setalah ia berhasil memegangi kerah baju Juli, dengan penuh emosi ia langsung mendorong Juli dan menghantamkan tubuh Juli ke dinding yang berada tidak jauh dari tempat ia berdiri.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi yang jelas itu adalah kenyataannya!" jawab Juli lalu ia kembali berhenti beberapa saat dan setalah itu ia melanjutkan "sejak kapan kamu memanggil laki laki itu dengan sebutan ayah? Bukannya kamu hanya peduli dengan hartanya?"
Mendengar ucapan itu, Verdi yang saat itu emosi tiba tiba ia melepaskan tangannya dan berjalan mundur menjauhi Juli.
"Aku jelaskan kepada kamu Verdi, aku dan kamu itu hanya sebatas keluarga tiri. Aku berjuang keras untuk balas dendam ini agar ayah ku, yang sudah meninggal bisa tenang. Karena aku tahu... Kematian ayah tidak secara alami, aku tahu ada campur tangan keluarga kamu dan juga kamu."
Mendengar ucapan itu, Verdi terlihat khawatir dan ia terlihat gelisah karena apa yang kelurganya sembunyikan akan segera terungkap.
__ADS_1
Saat itu Juli hanya menatap tajam laki laki itu dengan raut muka yang benar benar tidak marah dan di penuhi oleh kekecewaan di hatinya.
Selain itu, pada waktu itu Ibu Juli yang merasa kalau Juli mengetahui semua hal yang di sembunyikan di masa lalu. Ia pun langsung mendekati Juli dan tiba tiba ia duduk bertekuk lutut di hadapan Juli dengan derai air mata.
"Ibu minta maaf Juli, ibu benar benar minta maaf. Tolong, tolong maafkan ibu, tolong jangan ungkap lagi kebenaran kebenaran yang tersembunyi," ucap Ibu Juli dengan sedih dan menangis di hadapan Juli.
Melihat hal itu, Juli pun menunduk kan kepalanya dan dirinya berkata kepada ibunya dengan nada serius.
"Kenapa? Kenapa ibu melarang aku mengatakan kebenaran kepada semua orang? Rahasia apa lagi yang menurut ibu aku ketahui?" jawab Juli lalu ia menjauhi ibunya dengan senyuman Jahat di mulutnya. "Ibu, ibu, ibu. Terimakasih sudah membesarkan aku, tapi maaf aku tidak bisa membalas ibu dengan baik. Aku minta maaf sudah membunuh anak kandung ibu bernama Sista. Aku benar benar minta maaf, kali ini aku juga harus melakukan nya lagi."
Mendengar hal itu, Ibu Juli yang saat itu tengah menundukkan kepalanya langsung ia meninggikan kepalanya dan melihat ke arah Juli dengan tatapan mata yang terlihat sedih bercampur marah.
Melihat hal itu, Juli pun tersenyum dengan melihat ke arah Verdi.
"Ibu... Sudah cukup. Cukup anda menjadi wanita bermuka dua, jangan menjadi berusaha menjadi peri di hadapan ku, kalau iblis masih ada di dalam diri mu!."
"Apa yang ingin kamu lakukan? Apa kamu ingin membunuh Verdi juga, sepeti kamu membunuh Sista dan suami ku?" jawab Ibu Juli dengan tegas dan dirinya berdiri di hadapan Juli dengan terlihat sangat marah.
Jihan, Verdi dan Amar yang melihat hak itu pun hanya diam. Mereka hanya melihat kedua orang itu saling berhadapan hadapan.
"Tentu, mengapa tidak?" jawab Juli di hadapan semua orang. Verdi yang mendengar Juli mengatakan hal itu, ia terlihat terkejut dan dirinya tidak bisa berkata kata.
"Jangan lakukan itu, ini salah ibu bukan salah dari Verdi, kalau kamu ingin membunuh seseorang maka bunuh aku, bukannya Verdi!."
__ADS_1
"Baiklah," jawab Juli lalu ia mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan di balik baju nya. Ia kemudian mengarahkan pistol itu ke arah ibunya dengan tidak ragu.
Jihan yang melihat hal itu berusaha menghentikan Juli dengan mengancam Juli kalau dirinya akan bunuh diri jika Juli menembak Ibunya.