
Di kantor polisi, Verdi terlihat terbaring di lantai dengan keadaan tubuh di penuhi oleh memar dimana mana. Beberapa saat kemudian, polisi wanita yang membantu Verdi mengobati wajahnya datang dengan membawa sebuah nampan yang berisi segelas air dan sepiring makanan. Ia kemudian memberi makanan itu kepada Verdi, dengan baik. Sesekali matanya menatap ke arah Verdi seperti tidak bersalah.
"Terimakasih," ucap Verdi kepada wanita polisi itu. Mendengar ucapan terimakasih dari Verdi wanita polisi itu menatap tajam Verdi. Waktu itu, Verdi menatap wanita itu dengan sedih, melihat tatapan mata Verdi, wanita itu tiba tiba sedih tapi ia tidak sampai meneteskan air mata.
"Aku memperlakukan seorang penjahat itu sama, tidak membeda bedakan antara penjahat satu dengan penjahat yang lainnya. Jadi kamu jangan harap mendapatkan cinta ku," ucap wanita itu dengan serius dan tegas kepada Verdi. Ia memegangi erat pipi Verdi yang terbaring di lantai. Verdi yang merasakan hal itu ia hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Pandangan matanya mengarah ke arah wanita polisi itu, ia seakan tidak berdaya dengan apa yang yang terjadi kepada dirinya.
Setalah mengatakan hal itu, wanita polisi itu melepaskan pipi Verdi dengan seseorang yang seperti membuang sesuatu. Ia kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Verdi, namun saat baru beberapa langkah dari Verdi, Verdi memberanikan dirinya untuk meninggikan kepalanya keadaan lemas tak berdaya.
"Ibu boleh tidak percaya dengan aku saat ini, namun setelah ibu masuk ke kehidupan ku ibu akan tahu siapa pelaku yang sebenarnya!. Bukannya aku ingin membuat hidup ibu dalam masalah besar, namun aku hanya ingin membuktikan kalau diri ku sedikitpun tidak bersalah."
Mendengar ucapan itu, wanita polisi itu pun langsung menghentikan langkahnya. Ia terlihat terkejut dengan ucapan itu, namun ia berusaha tidak mempedulikan apapun yang di katakan oleh Verdi. Ia hanya berbalik dengan raut muka kesal dan marah, ia berbalik selama beberapa saat lalu ia kembali memutar tubuhnya dan meninggalkan Verdi serta tidak mempedulikan dirinya lagi.
Melihat hal itu, dengan tatapan mata yang tajam dan berkaca kaca ia melihat ke arah wanita itu.
__ADS_1
Malam hari pun tiba, di rumah terlihat Ibu Juli masih saja termenung sedih dengan semua yang terjadi dengan anaknya. Tak berselang lama, Jihan datang menghampiri ibunya dengan santai, lalu ia memegangi salah satu bahu ibunya dengan lembut. Lalu dengan suara lirih dan penuh kasih sayang, ia memanggil ibunya.
"Ibu...., Ada apa?" tanya Jihan kepada ibunya yang sedih di dalam kamarnya dengan memegangi salah satu bahunya dengan lembut.
Merasakan ada seseorang memegangi bahunya, Ibu Juli pun langsung melihat ke arah orang itu dengan air mata memenuhi matanya. Menyadari kalau Jihan yang memegangi bahunya, Ibu Juli pun hanya diam. Ia kemudian memeluk erat Jihan.
"Apa yang harus di ceritakan lagi? Kamu tahu kalau penderitaan yang ibu rasakan, ibu jauh dari anak anak ibu. Pertama, ibu kehilangan suami, lalu kehilangan Juli, kemudian kehilangan Sista dan setelah itu ibu juga kehilangan suami ibu lagi. Ibu juga jauh dari Verdi, lalu apa lagi alasan ibu untuk tidak sedih!."
"Ibu merasa sendirian?" tanya Jihan dengan nada serius kepada ibunya. Ia terlihat kesal dengan apa yang di ucapkan oleh ibunya, karena ia merasa ibunya tidak menganggap kehadiran nya. Saat itu ia masih bisa menahan kemarahannya dan emosinya, walaupun ia merasa sangat marah dengan sikap ibunya yang seakan menganggap dirinya tidak ada. Mendengar ucapan itu, tatapan mata ibunya langsung mengarah ke arah mata Jihan. Ia merasa tidak enak dengan ucapannya kepada Jihan kerena ucapannya seolah olah menganggap kalau Jihan tidak ada di hidupnya.
Mendengar ucapan itu, Jihan yang sangat sayang dengan ibunya. Ia pun langsung memeluk erat ibunya, lalu dengan perlahan matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata menetes di pipi nya.
Setelah itu, mata ibunya yang saat itu di penuhi oleh air mata. Tiba tiba matanya berubah menjadi tatapan penuh kekesalan dan kemarahan, air mata yang saat itu mengalir membasahi pipinya berhenti seketika dan seolah di hidupnya hanya ada kebencian, kebencian dan kebencian.
__ADS_1
"Kalau memang itu kenyataan yang ibu katakan, maafkan aku sudah berpikir buruk dengan ibu. Aku tidak berniat untuk menyakiti hati ibu," ucap Jihan dengan nada sedih dan raut muka sedih di hadapan ibunya.
Mendengar Jihan mengatakan hal itu, wajah ibunya kembali sedih. Setalah itu, ibunya melepaskan pelukannya dan Jihan pun pergi dari kamar ibunya.
Setelah Jihan pergi, ibunya menghapus air mata kepalsuan yang ia berderai di matanya dengan perlahan.
"Dasar sungguh bodohnya anak itu, mudahnya dia tertipu dengan air mata kepalsuan yang menetes dari mata ini," ucap Ibu Juli dan kemudian ia tersenyum dengan jahat. Tanpa ia sadari, orang dengan pakaian serba hitam berdiri di dekat jendela kamar Ibu Juli. Ia terlihat kesal dengan sangat marah mendengar ucapan itu. Ia kemudian pergi dari jendela itu.
Di luar kamar Ibu Juli, Jihan tengah duduk di sofa dengan memikirkan ucapan dari ibunya. Selain itu, ia juga memikirkan keadaan kakaknya yang tengah di rumah sakit. Ketika ia tengah memikirkan kedua hak itu, tiba tiba secara diam diam dan polisi yang menjadi anak buah Juli masuk ke rumah Ibu Juli. Saat itu ia berjalan mengendap endap seperti seorang pencuri, keadaan berubah saat ia mengetahui kalau Jihan berada di sofa. Ia langsung mendekap Jihan di tempat dan langsung menarik Jihan menjauhi rumah. Saat ia sudah berada jauh dari rumah dengan paksa Jihan melepaskan dirinya dengan paksa.
"Kamu?!" ucap Jihan dengan marah dan kesal setalah melihat bahwa orang yang mendekap dirinya adalah si polisi itu. "Kenapa kamu melakukan hal itu, hah? Apa kamu pikir ini adalah sebuah lelucon yang lucu, iya?" tanya Jihan dengan marah dan kesal kepada si polisi itu.
"Kenapa kamu melakukan ini? Apa kamu tidak peduli lagi dengan keadaan Juli?" tanya polisi itu dengan berbalik marah dengan Jihan. Saat itu ia memegangi salah satu lengan Jihan dengan erat.
__ADS_1
Merasakan hal itu, Jihan pun hanya berusaha melepaskan tangannya dengan kasar dan ia hanya mengerang kesakitan, karena tangan polisi itu.
"Bukan urusan kamu, lebih baik kamu pergi dari hidup ku. Untuk kepedulian ku kepada kakak, itu hanya lah urusan ku bukan urusan kamu!" jawab Jihan dengan nada tegas dan kesal kepada polisi. Ia kemudian melepaskan tangan si polisi itu dengan kasar dan tatapan mata yang mengarah ke arah mata polisi itu.