
"Verdi, kita pergi sekarang dari sini!" ucap Ibu Juli dengan tegas dan kesal.
Verdi yang saat itu tengah duduk di sofa dan menikmati seduhan kopi ia terlihat sangat terkejut dan langsung terbangun dari duduknya.
"Ada apa Ibu? Kenapa Ibu tiba tiba seperti ini?" jawab Verdi dengan terlihat kebingungan dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi kepada ibu nya.
Tiba tiba Ibu Amar datang dari kamarnya dan menyahut ucapan dari Verdi.
"Iya, ada apa? Apa kamu tidak peduli dengan Juli, hingga kamu ingin meninggalkan Juli?" sahut Ibu Amar.
Di saat bersamaan, dari dalam kamar terdengar suara seperti keributan di luar yang ditempati oleh Juli. Melihat hal itu, Amar pun keluar dari kamar dan memeriksa keadaan di luar. Saat ia baru membuka ia melihat Ibu Juli akan pergi dan langkahnya di hentikan oleh Ibu Amar.
Melihat hal itu, Amar hanya sedih dan dirinya tidak mengatakan sepatah katapun kepada Ibu Juli. Melihat hal itu, Amar pun keluar dari kamar dan menghampiri ketiga orang itu. Ketika ia sudah di dekat ketiga orang itu, Ibu Juki terlihat melihat ke arah Amat dengan semakin kesal dan ia menatap wajah Amar dengan sinis.
"Maafkan saya Tante, saya mohon Tante tetap di sini!" pinta Amar kepada Ibu Juli yang saat itu ingin pergi. Melihat hal itu, Ibu Juli pun berusaha untuk tenang dan menuruti apa yang di inginkan oleh Amar.
Setelah apa yang di inginkan oleh terjadi, Ibu Amar dan Verdi terlihat bahagia.
__ADS_1
"Aaaaaaa" suara teriakan dari kamar Juli pun terdengar, mendengar hal itu semua orang langsung bergegas menghampiri kamar Juli dan memeriksa keadaan Juli. Saat itu, ke empat orang itu sudah berada di dalam kamar. Juki terlihat ketakutan dan keringat sebesar biji jagung keluar bercucuran dari tubuh Juli. Melihat kedatangan Amar dan yang lainnya, Juli pun langsung memeluk erat tubuh Amar.
Melihat hal itu Amar pun berusaha menenangkan Juli dan dirinya berusaha untuk bertanya kepada Juli apa yang terjadi, namun saat itu tidak ada respon dari Juli. Ia hanya ketakutan, ketakutan dan ketakutan.
Melihat hal itu, Ibu Amar pun mengambil segelas air putih untuk Juli, agar Juli lebih tenang. Ketika ia sudah mengambilkan air putih, ia memberikan air putih itu kepada Juli dan meminta agar Juli meminum air putih itu agar Juli lebih tenang.
Ketika Juli sudah tenang, dengan nada bicara yang masih terbata bata dan ketakutan ia menjelaskan kepada Amar tentang mimpi buruk yang ia alami beberapa saat lalu.
Setelah panjang lebar menceritakan dan menjelaskan tentang mimpinya. Juli terlihat sudah mulai tenang dan dirinya sudah bisa mengendalikan emosinya.
Melihat Juli sudah tenang, Amar mendudukkan Juli di atas tempat tidur dan ia kemudian duduk di samping Juli.
Melihat hal itu, Ibu Juli pun bertanya kabar Juli setelah dirinya sadar. Juli yang dulu membenci ibunya ia kini berubah dan bersikap baik kepada ibunya. Ia menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh ibunya dan selain itu ia juga menerima pelukan dari ibunya.
Melihat perbedaan sikap Juki yang dulu dan sekarang, ibu Juli terlihat sangat bahagia dengan perubahan itu.
"Terimakasih karena kamu sudah mau menerima pelukan dari ibu, Nak," ucap Ibu Juli dengan baik dan bernada rendah namun saat itu Juli tidak mengatakan sepatah katapun kepada ibunya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Amar pun hanya bisa melihat ke arah Ibu Juli dan dirinya tidak bisa berkata kata dengan apa yang terjadi antara Ibu Juli dan Juli.
Setalah hal itu, tak berselang lama Ibu Juli pun pergi menjauhi Juli dan kini Ibu Amar yang mendekati Juli dan memeluk Juli dengan sangat erat. Menyadari pelukan itu dari Ibu Amar, Juli pun juga melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan oleh dirinya kepada Ibu Juli.
Menyadari kalau Juli tidak membalas pelukan dari Ibu Amar, Amar sempat heran namun ia masih saja diam dan tidak mengatakan sepatah katapun kepada ibunya.
Saat itu Ibu Amar terlihat sedih dengan sikap Juli, matanya tiba tiba berkaca kaca dan di penuhi oleh air mata. Ia kemudian pergi dari kamar Juki setalah dirinya melepaskan pelukan dari Juli.
"Ibu pasti sedih dengan perubahan sikap Juli kepada dirinya," ucap Amar dalam hatinya dengan sesekali melihat ke arah Juli. Namun, saat itu Juli masih diam dan tidak mengatakan apa-apa kepada Amar.
Melihat Ibu Amar keluar dari kamar yang di tempati oleh Juli dengan sedih, Ibu Juli pun mengikuti Ibu Amar dan menghampiri Ibu amar yang saat itu berdiri di dekat foto ayah Juli dengan menangis tersedu-sedu.
"Ada apa?" tanya Ibu Juli dengan baik kepada Ibu Amar.
Menyadari kehadiran dari Ibu Juli, Ibu Amar pun langsung menghapus air matanya dengan salah satu jari tangan nya dan ia kemudian berhenti menangis dan ia kemudian berbalik melihat ke arah Ibu Juli dengan baik.
"Tidak ada papa, saya baik baik saja. Saya hanya sedih, sekarang anak kandung saya membenci saya, lalu apa yang harus saya lakukan jika tidak menangis!. Dulu, kita terpisah namun sekarang kita terpisah lagi, aku merasa aku dan Juli tidak akan bisa menjadi anak dan ibu. Aku adalah ibu yang jahat," ucap Ibu Amar dengan deraian air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Mendengar ucapan itu, Ibu Juli hanya membelai halus Ibu Amar dan ia juga berusaha menenangkan ibu Amar yang terus menerus terlihat sedih.
__ADS_1
"Tidak, jangan berbicara seperti itu, Juli tidak mungkin melakukan hal itu aku percaya Juli akan segera berubah!."
Mendengar jawaban itu Ibu Juli pun tersenyum kecil di bibirnya.