Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 67 Jihan Celaka


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, akhirnya polisi itu pun sampai di rumah sakit yang biasanya ditempati oleh Juli ketika koma atau pun sedang sakit. Saat itu rumah sakit itu tiba tiba menolak Juli karena alasan ruangan full, melihat penolakan itu polisi itu terus meminta kepada dokter untuk menolong Juli namun dokter itu tetap menolak. Raut muka bingung terlihat bercampur aduk, di saat bersamaan Jihan yang berada di dalam rumah Juli terbangun dari tidurnya dan berusaha ingin keluar dari rumah Juli, saat itu ia merasa kalau rumah kakaknya aman dari penjaga orang misterius itu ataupun si polisi, melihat hal itu dengan perlahan ia membuka jendela kamarnya yang tidak terkunci dari luar. Menyadari hal itu, Jihan pun keluar dari rumah kakaknya untuk menuju ke rumah ibunya. Saat ia berhasil keluar dari rumah kakaknya dengan raut muka sedih ia melihat ke arah rumah kakaknya.


"Kak, maafkan aku bukan aku tidak menyayangi kakak. Aku hanya rindu dengan ibu dan aku ingin bersama dengan ibu," ucap Jihan dengan nada lirih dan sedih, saat ia berada di luar rumah tiba tiba ia mendengar anak buah Juli yang lain menerima panggilan dari si polisi kalau Juli dan diri nya kan segera sampai di rumah. Mendengar ucapan itu, Jihan tampak bahagia namun ia juga tidak bisa untuk tinggal dengan kakaknya lagi, ia hanya tetap berusaha untuk menemui ibunya yang berada di kantor polisi.


Dengan bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain akhirnya Johan pun sampai dan berhasil keluar dari rumah kakaknya tanpa ketahuan oleh anak buah Juli yang saat itu tengah berjaga. Namun, tanpa di sadari oleh Jihan orang misterius lain ternyata sudah melihat dirinya pergi dari rumah, bukan anak buah Juli namun orang itu orang lain karena saat itu anak buah Juli tengah tertidur di sofa.


Melihat Jihan sudah keluar dari rumah orang misterius itu pun masuk ke dalam mobil dan dengan tatapan mata serius serta tajam ia mengendarai mobilnya. Setelah itu dengan secepat kilat ia melajukan mobilnya untuk menabrak Jihan.


Saat itu Jihan terus berlari untuk menjauhi rumah kakaknya dengan sesekali melihat ke arah belakang. Saat itu ia tidak menyadari kalau mobil di arah depan nya melaju dengan kecepatan tinggi dan ingin menabrak dirinya.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara orang tertabrak mobil. Terlihat Jihan sudah tertabrak mobil, kepalanya membentur aspal jalan hingga membuat Jihan mengeluarkan banyak darah mengucur di kepalanya.

__ADS_1


Di saat bersamaan Juli yang saat itu tidak sadarkan diri, ia langsung terbangun dan memanggil nama Jihan dengan sangat keras hingga membuat Polisi itu sangat terkejut. Saat itu nafas Juli terlihat sangat tidak beraturan setelah terbangun dari tidurnya tersebut.


"Ada apa?" tanya polisi itu dengan terkejut sambil melihat ke arah Juli yang terlihat sangat bingung dan khawatir. Saat itu Juli tidak mengatakan sepatah katapun setelah mendengar pertanyaan itu.


Keadaan pun kembali ke tempat Jihan dimana saat itu matanya Jihan melihat ke arah rumah kakaknya, ia seakan ingin memanggil kakaknya namun ia sudah tidak berdaya. Tangannya seakan sudah mati rasa, ia berusaha ingin mengerakkan tangan kakaknya namun apalah daya, tangannya sudah tidak bisa di gerakkan dan dengan perlahan matanya tertutup. Di saat itu tidak ada satu orang pun yang membantu dirinya, ketika Johan sudah tidak sadarkan diri. Orang misterius itu pun pergi dari tempat itu dan meninggalkan Jihan begitu saja tanpa bertindak apa pun.


Beberapa saat kemudian, terlihat orang orang mulai berkerumun dan berusaha membantu Jihan, namun saat Jihan dibawa ke kantor polisi disaat bersamaan mobil yang di kendarai oleh polisi itu pun sampai dan melewati tempat kecelakaan itu.


Ketika Juli melewati kecelakaan itu, Juku pun meminta polisi itu untuk menghentikan mobilnya. Ketika mobil itu sudah berhenti dan Jihan sudah di masukkan ke dalam mobil ambulan. Juli pun turun dari mobil dan berusaha untuk menghampiri tempat kecelakaan itu. Saat itu langkah nya masih terlihat sempoyongan dan tertatih. Entah, apa yang di rasakan oleh nya namun ia merasa ada sesuatu yang membuat dirinya sedih setelah melihat darah yang berada di aspal tersebut. Kekhawatiran yang saat itu ada di raut mukanya tiba tiba berubah menjadi sebuah perasaan sedih yang tidak bisa ia ungkapkan.


Melihat Juli sedih melihat darah yang ada di aspal, polisi itu pun turun dan menghampiri Juli.

__ADS_1


"Ada apa? Apa semua baik baik saja?" tanya polisi itu kepada Juli.


Mendengar ucapan itu Juli pun dengan perlahan menggelengkan kepalanya dan tanpa mengatakan sepatah katapun apa yang di rasakan nya. Tapi tiba tiba, ia terjatuh dengan kedua kaki bertekuk lutut saat melihat darah itu. Air matanya tiba tiba menetes berderai dan tidak bisa terkendali. Di situlah Juli mengatakan apa yang di rasakan nya setelah melihat genangan darah di jalan tersebut.


"Entah, apa semua ini? Aku merasa kalau Jihan dalam bahaya dan sekarang dia sangat membutuhkan aku! Tapi, aku tidak tahu apa yang aku rasakan ini benar atau salah. Aku merasa Jihan dalam bahaya!" ucap Juli dengan air mata yang terus berderai membasahi pipi. Mendengar perkataan dari Juli, polisi itu pun terlihat juga ikut bersedih. Ia juga menatap darah itu dengan mata yang berkaca kaca. Saat itu Juli ingin menyentuh darah itu, namun polisi itu melarang Juli karena ia tidak ingin Juli terseret kasus ini juga. Akhirnya, dengan berusaha menguatkan dirinya sendiri, polisi itu membangunkan Juli dari duduknya dan mengajak Juli untuk pulang ke rumah.


Ketika Juli pergi menuju mobilnya, orang misterius yang menabrak Jihan pun keluar dari persembunyiannya yang tak lain berada di balik pohon dan saat itu terlihat orang misterius itu bahagia membuat Juli meneteskan air mata.


Di rumah sakit terlihat Jihan sudah berada di ruang operasi, tanpa meminta persetujuan dari keluarga dokter dan para suster langsung mengoperasi Jihan. Hal itu karena Jihan sudah kehilangan banyak darah dan jika tidak segera di selamatkan Jihan tidak akan terselamatkan.


Saat itu dokter dan suster terlihat sangat sibuk membersihkan luka yang ada di kepala Jihan. Saat itu keringat sebesar biji jagung terlihat mengucur dan satu demi satu jatuh membasahi kepala para dokter.

__ADS_1


Di rumah terlihat Juli baru sampai dan mobilnya baru saja di masukkan ke dalam rumah, namun tiba tiba orang misterius yang tidak lain adalah anak buah Juli datang dan memberi tahu Juli kalau Jihan tidak ada di kamarnya. Mendengar ucapan itu, Juli yang saat itu baru turun langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan meminta polisi itu untuk mencari keberadaan Jihan. Saat itu, Juli dan polisi itu berpikiran kalau Jihan pasti pergi ke rumah ibunya, mempunyai bayangan seperti itu akhirnya Juli dan polisi itu pun pergi menuju ke rumah ibunya.


__ADS_2