
Ketika Verdi sudah pergi, keadaan serasa lebih tenang namun saat itu kemarahan Juli masih terlihat jelas di raut mukanya.
Di tempat lain terlihat polisi yang khawatir dengan keadaan Juli tengah berusaha berjalan ke sana kemari dengan berusaha menghubungi ponsel Juli, namun saat itu ponsel Juli masih saja belum bisa di hubungi oleh si polisi itu. Saat itu polisi itu tengah berjalan ke sana kemari dengan raut muka khawatir dan televisi yang menyala, beberapa saat kemudian terlihat sebuah berita siaran langsung yang membuat pusat perhatian di hadapannya dimana dirinya melihat stasiun berita tersebut menyiarkan berita tentang kehadiran Juli di kantor polisi.
"Selama pagi pemirsa, kembali lagi dengan saya Nadira Ayu Kusuma di breaking news hari ini!. Seorang laki laki mudah yang bernama Jihan terlihat datang ke kantor polisi bersama ibunya!. Kejadian ini terjadi beberapa saat lalu di kantor polisi dan saat ini Jihan atau kembaran dari Juli yang simpang siur disebut sebagai korban pembunuhan dari keluarganya sendiri sudah di ungkapkan oleh Jihan secara langsung. Bagaimana kah berita break news hari ini, mari kita saksikan beritanya hari ini!."
Video kemarahan Juli pun di putar di layar tv, dan pengungkapan Juli tentang pembunuhannya pun secara langsung di ucapkan oleh Juli. Melihat hal itu polisi itu terlihat hanya diam dengan mata terbuka lebar yang memandang ke arah berita tersebut. Saat itu, ternyata Jihan juga menonton berita tersebut. Melihat hal itu ia hanya terlihat sedikit sedih atas apa yang di lihatnya, saat itu ia tidak bisa berkata kata ia hanya dapat membuka lebar matanya dengan di penuhi oleh air mata.
__ADS_1
"Kakak!" panggil Jihan kepada Juli yang menjadi pusat berita di beberapa stasiun televisi, mendengar suara dari Jihan, polisi itu pun langsung menghampiri Jihan dan memegangi Jihan yang seakan lemas tidak berdaya melihat kakaknya penuh darah di kantor polisi. Ia berusaha untuk memegangi Jihan.
"Ini tidak mungkin, tidak mungkin kakak melakukan ini. Apa yang sebenarnya terjadi hingga kakak bisa seperti ini?" ucap Jihan dengan raut muka sedih dan ia kemudian mengajak polisi itu untuk pergi ke kantor polisi, namun saat ia ingin pergi langkah Jihan di hentikan oleh polisi itu dengan memegangi salah satu tangannya. Jihan yang melihat hal itu, ia langsung mengehentikan langkahnya tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada si polisi. Ia hanya menatap si polisi itu dengan raut muka sedih bercampur heran terlihat di raut mukanya.
"Kamu tidak bisa pergi dengan mudah seperti itu! Aku tahu ada maksud dan penjelasan mengapa Juli melakukan ini. Aku tahu nama kamu jelek di hadapan semua orang, namun kamu tidak bisa menghentikan langkah Juli!" jawab polisi itu dengan tegas dan serius dengan tatapan tajam mengarah ke arah Jihan. Jihan yang melihat hal itu terlihat hanya diam, lalu ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh si polisi itu dengan tatapan mata yang tajam mengarah ke arah polisi itu.
"Aku tahu, bukan itu alasan kamu menghentikan aku. Aku tahu alasan kamu adalah ingin menyakiti aku dengan membiarkan Kak Juli mengatakan hal itu di depan semua orang. Kamu itu sudah tidak adil dengan aku," jawab Jihan dengan raut muka sedih dan berurai air mata, saat itu ia menatap tajam polisi itu selama beberapa saat. Setelah menatap mata polisi itu, Jihan pun langsung pergi menuju kamarnya. Melihat hal itu, Jihan tampak sangat kecewa dengan larangan yang di ucapkan oleh polisi itu kepadanya.
__ADS_1
Di kantor polisi, terlihat Verdi dan Juli sedang di bersihkan luka lukanya oleh suster yang di utus oleh pihak kantor polisi. Sedangkan Ibu Juli, ia terlihat khawatir dengan Verdi dan Juli yang ia anggap Jihan. Hal itu di perlihatkan ketika salah satu suster keluar dari rumah sakit ia langsung menghampiri suster tersebut untuk bertanya tentang keadaan Juli dan Verdi. Namun, saat itu suster tersebut tidak menjawab apa pun hal itu terjadi karena suster itu tengah terburu buru untuk mengambil Sempel darah yang sama dengan darah Juli, karena Juli kehilangan banyak darah akibat luka di kepala dan di perutnya.
Melihat suster itu tengah sibuk dengan Juli dan Verdi akhirnya Ibu Juli pun memilih untuk diam dan menunggu kedua anaknya di pulihkan.
Didalam ruangan yang di tempati Verdi dan Juli, terlihat Verdi dan Juli di tempatkan di dua tempat tidur rumah sakit yang berbeda, namun mereka saling berjajar satu dengan yang lain. Saat itu, Verdi terlihat sadar tidak separah Juli. Melihat Juli pingsan dan tidak sadarkan diri terlihat Verdi sedih namun ia tidak bisa mengungkapkan perasaan sedihnya, seakan perasaan sedih yang ia rasakan tertutupi oleh kebencian yang sangat dalam.
Saat itu Verdi sudah menyadari kalau orang yang ia pukulan adalah Juli bukannya Jihan. Saat itu ia benar benar juga tidak percaya kalau orang yang sudah ia anggap meninggal justru hidup lagi dengan berpura pura sebagai orang yang tidak ada atau yang di maksud Jihan. Dari awal kemunculan Jihan atau laki laki yang berwajah sama dengan Juli, ia memang sudah tidak percaya yang ia percaya kan hanyalah orang yang sama dan kembali hidup.
__ADS_1
Saat itu Verdi hanya melihat Juli dengan mata berkaca kaca dan mata yang seolah olah marah, ia melihat Juli tidak sadarkan diri dan di sekeliling tubuh Juli di kelilingi oleh beberapa dokter dan suster yang membersihkan lukanya.
"Aku tahu kamu adalah Juli dan bukan Jihan, aku juga tahu kamu adalah Jihan. Maksud ku, aku mengerti kalau kamu adalah Juli dan bukan Jihan, sebenarnya Jihan di dunia ini tidak ada. Jihan hanya lah rekayasa masa lalu, maafkan aku Juli.. kalau seandainya apa yang saya katakan adalah benar kamu adalah Juli, maka kamu harus siap sedia untuk mati untuk yang kedua kalinya!" ucap Verdi dalam hatinya dengan raut muka sedih diawal lalu ia mengubah wajahnya dengan wajah serius sambil melihat ke langit langit rumah sakit. Saat itu ia terlihat tersenyum jahat dan ia tidak mempedulikan Juli lagi.