
Keesokkan harinya, terlihat Verdi yang di jadikan tersangka atas kematian ayah tirinya, ternyata bisa bebas karena saat itu Verdi berusaha mencari keberadaan dari Amar dan adik adiknya.
Saat itu dengan di dampingi oleh Handi dan beberapa anak buah Handi, Verdi pun tengah berada di salah satu rumah yang tidak begitu besar namun sangat indah dengan di jaga oleh sebuah gerbang yang berdiri kokoh di hadapan rumah itu.
"Pak Handi, apa bapak yakin ini adalah rumah dari Amar?" tanya Verdi dengan nada rendah sambil sesekali dirinya melihat ke arah Handi.
"Iya, saya yakin!" jawab Handi lalu ia mencari bel di gerbang itu, namun saat itu ia tidak melihat tombol bel di ruangan itu. Melihat hal itu akhirnya Handi dan Verdi pun berusaha untuk meneriaki orang di dalam rumah itu.
Beberapa saat kemudian dari dalam rumah itu, keluarlah seorang perempuan paruh baya dengan wajah memelas dan rambut yang sehelai dua helai berwarna putih dengan pakaian sederhana menghampiri Handi dan Verdi.
Setelah ia berada di dekat gerbang rumah nya, wanita itu pun membuka setengah dari gerbang itu dengan perlahan.
Saat dirinya sudah membuka gerbang rumah itu, wanita itu pun memanggil nama Handi dengan penuh bahagia dan dirinya juga mempersiapkan masuk ke dalam rumah dengan raut muka bahagia.
Ketika ia sudah berada di dalam rumah, Handi pun menceritakan kepada wanita itu tentang tujuannya datang kemari.
"Nak Handi datang kemari pasti mau cari Amar, tapi maaf Nak. Beberapa hari ini Amar tidak pulang ke rumah, bahkan mungkin sudah ada satu bulan lebih dirinya tidak pulang ke rumah ini!" ucap wanita paruh baya itu yang tak lain adalah ibu kandung Amar.
__ADS_1
"Kalau tidak pulang kemari lalu dia kemana Bu?" jawab Handi di dekat Ibu Amar dengan nada baik dan sopan.
"Entahlah Nak," jawab Ibu Amar lalu ia bangun untuk membuatkan minuman, namun saat itu Handi menghentikan Ibu Amar dan tidak membiarkan dirinya bangun dari tempat duduknya.
Ketika Handi dan Ibu Amar sedang berbincang, Verdi pun berjalan jalan di sekitar tempat itu sambil melihat lihat. Saat itu dirinya tidak menyadari kalau ada salah satu foto antara Juli dan Amar di atas meja yang ia lihat lihat.
Menyadari kalau Verdi berjalan jalan di sekitar foto Amar, Ibu Amar pun tiba tiba pun langsung bangun dari duduknya dan ia melarang Verdi untuk melanjutkan melihat lihat foto.
"Tunggu, jangan melanjutkan langkah Anda Nak."
Verdi yang mendengar hal itu pun seketika langsung menghentikan langkahnya dan secara bersamaan Handi pun juga bangun dari duduknya dengan tatapan mata melihat ke arah Ibu Amar. Menyadari kalau Ibu Amar menghentikan dirinya, Verdi yang saat itu sudah menghentikan langkahnya pun berbalik dan melihat ke arah Ibu Amar.
Saat itu, Ibu Amar pun terlihat sangat marah dan kesal dengan Verdi. Verdi yang menyadari kalau Ibu Amar marah dengan dirinya, ia pun hanya menundukkan kepalanya dengan mengungkapkan maaf kepada Ibu Amar.
Ketika Verdi berjalan menjauhi foto foto Amar, entah di sadari oleh Handi atau tidak Ibu Amar menutup foto Amar dengan Juli agar Verdi atau pun Handi tidak mengetahui kalau Juli dan keluarga Amar memiliki sebuah hubungan yang masih tersembunyi.
Melihat kemarahan Ibu Amar, Handi pun ia menghampiri Ibu Amat dan dirinya meminta maaf atas kesalahan yang di lakukan oleh Verdi.
__ADS_1
"Saya minta maaf Bu, atas sikap teman saya yang sudah lancang!" ucap Handi dengan nada rendah di hadapan Ibu Amar.
"Saya kecewa Nak Handi... Saya kecewa dengan sikap teman kamu, saya tidak mau jika perbincangan kita di hadiri oleh dia. Maaf ya Nak, saya menyakiti kamu, tapi saya tidak suka dengan sikap kurang ajar kamu!" ucap Ibu Amar dengan sangat marah kepada Verdi.
Mendengar hal itu, Verdi pun hanya diam dengan menundukkan kepalanya. Menyadari kalau Ibu Amar tidak suka dengan dirinya, Handi pun meminta Verdi untuk keluar dari rumahnya dan menunggu Handi di luar rumah. Verdi yang menyadari hal itu ia pun mengangguk kepalanya dan keluar dari dalam rumah.
Ketika dirinya berada di luar rumah, Verdi pun duduk di kursi besi yang di taruh di luar rumah. Ketika ia tengah menunggu, tiba tiba ia menyadari kalau seseorang dengan penutup muka berdiri di depan gerbang dan tengah mengawasi rumah Amar. Menyadari hal itu, Verdi pun terbangun dari duduk ya setelah melihat orang misterius itu. Ia mengira kalau orang misterius itu adalah Amar, menyadari hal itu, Verdi pun berusaha mengejar orang misterius itu namun ketika Verdi berada di dekat gerbang dan orang misterius itu menghilang dari pandangan saat Verdi sudah di dekat gerbang.
"Siapa orang itu? Apa mungkin dia itu Amar? " tanya Verdi kepada dirinya sendiri dengan raut muka yang terlihat sangat kebingungan.
Ketika Verdi berdiri di dekat gerbang dengan memikirkan orang misterius yang ia lihat, Handi dan beberapa anak buahnya pun keluar dari rumah dan saat itu Handi terlihat mengajak anak buahnya untuk kembali ke kantor polisi setelah berbincang bincang dengan Handi di dalam rumah.
"Ibu, saya pamit pulang dulu. Saya mau melanjutkan bertugas," ucap Handi dengan nada rendah kepada Ibu Amar.
"Iya Nak, dan Ibu harap kamu segera menemukan Amar, karena saya juga sudah sangat rindu dengan Amar," jawab Ibu Amar dengan nada baik lalu ia melemparkan senyuman kecil di bibinya kepada Handi.
"Baik."
__ADS_1
Handi dan Verdi pun akhirnya pergi dari rumah Amar dan dirinya meninggalkan Ibu Amar di rumah itu. Setelah itu, mereka pun kembali mencari keberadaan Amar dan Juli di tempat lain.