
Saat berada di dalam kamar kakaknya raut muka sedih terlihat di wajah Jihan, saat itu ia hanya menundukkan kepalanya dengan menatap menunduk tanpa berani melihat Juli.
Ia terlihat sedih dengan keadaan Juli yang masih tersiksa dengan luka itu, saat itu ia mengganti perban Juli dengan mata yang berlinang air mata.
"Kenapa Kakak berbohong?" tanya Jihan kepada Juli yang hanya diam saat perban yang membungkus lukanya di ganti oleh Jihan.
Mendengar ucapan dari Jihan, Juli terlihat kebingungan dengan apa yang di ucapkan oleh Jihan. Ia merasa tidak melakukan kebohongan apapun namun justru Jihan menuduh dirinya melakukan kebohongan kepada dirinya.
"Kebohongan apa Jihan?" jawab Juli dengan sesekali mengerang kesakitan di hadapan Jihan. Mendengar jawaban dari sang kakak Jihan pun menatap tajam mata Juli dengan mata yang di penuhi oleh air mata.
"Kenapa Kakak berbohong kalau luka kakak baik baik saja, sedangkan yang sebenarnya darah terus keluar dari perut kakak bahkan tanpa henti terus keluar seperti ini," ucap Jihan dengan air mata yang sudah tidak bisa terbendung lagi. "Kakak tau, sekarang aku hanya punya Kakak. Tapi kenapa Kak... Kenapa Kakak justru membohongi aku seperti ini? Kenapa Kakak menutupi kalau luka kakak masih belum sembuh?" lanjut Jihan dengan air mata terus mengalir.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu Juli pun membangunkan Jihan dan ia mendudukkan Jihan di sampingnya dengan senyum kecil di bibir Juli.
"Dengarkan Kak, Kakak baik-baik saja kamu jangan khawatir. Sebenarnya, kamu betul kalau Kakak berbohong tentang kesehatan Kakak. Tapi kamu harus ingat janji Kakak, Kakak tidak akan mati sebelum balas dendam atas kematian kakak berakhir. Kakak akan selalu menjaga kamu dan berusaha melindungi kau dari orang orang yang ingin menjauhkan kamu dari ku, walaupun itu harus merenggut nyawa kakak, maka kakak akan lakukan!."
Juli pun mengatakan hal itu tanpa ragu di hadapan Jihan, Jihan yang mendengar itu seakan takut kehilangan kakaknya yang menemukan dia pertama kali di panti asuhan tempat Ayah Juli menitipkan Jihan. Setelah perban dari Juli sudah di ganti, Juli meminta Jihan untuk mencuci tangannya dan ia mengajak Jihan keluar dari kamar. Setelah ia berada di luar kamar Juli mengajak Jihan untuk makan, namun saat itu Jihan menolak dan memilih untuk pergi ke kamarnya.
Juli yang mendengar ucapan itu pun terlihat baik dan tidak memaksa Jihan untuk makan dengan dirinya. Saat Jihan berada di dalam kamarnya, ia terlihat duduk di atas tempat tidurnya dengan memegangi foto yang di sembunyikan di bawah kasur tepat tidur. Foto itu adalah foto dari Ibu Juli, ternyata selama ini secara diam diam Jihan sering kali mencium dan mengatakan hal hal yang penuh dengan kasih sayang kepada foto ibunya.
Saat itu Jihan terlihat menangis di hadapan foto itu, dengan mengatakan kalau dirinya menyayangi orang di foto itu. Tak berselang lama, Juli dengan membawa sebuah nampan berjalan mendekati kamar Jihan, namun saat berada di dekat kamar Jihan ia mendengar Jihan menangis dan mengatakan sayang kepada orang yang ada di foto itu. Juli mengira kalau ucapan itu di tujukan oleh foto nya atau foto ayahnya. Ia tidak mengetahui siapa orang yang ada di foto itu.
Mendengar ucapan dari Jihan, Juli yang saat itu bahagia dan tersenyum senyum sendiri karena ia mengira kalau ucapan itu di tujukan kepada dirinya dan ayahnya. Ia langsung berubah dan tersulut oleh emosi yang mendalam. Dengan perlahan ia menaruh nampan makanan itu di atas meja lalu ia bergegas masuk ke dalam kamar Jihan dan menyahut foto yang di bawa oleh Jihan. Menyadari kalau Juli sudah mengetahui rahasia yang disembunyikannya selama ini, Jihan terlihat berusaha meminta foto itu dari Juli dan berusaha melindungi foto itu. Juli yang saat itu sangat marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya langsung membanting foto itu ke lantai hingga hancur berkeping keping.
__ADS_1
"Selama ini kakak percaya dengan kamu, selama ini kakak yakin dengan kamu. Kalau ada banyak kebencian di hati kamu kepada wanita itu, tapi kakak salah. Dan ini adalah kesalahan yang besar, aku salah sudah percaya dengan kamu," ucap Juli dengan sangat marah, bahkan ia tidak mempedulikan luka yang di dera nya. Ia kemudian mencekik leher Jihan dan membenturkan tubuh Jihan ke tembok yang tidak jauh dari mereka.
"Kakak sangat menyayangi kamu, tapi apakah ini balasan kamu untuk Kakak, hah?" tanya Juli dengan sangat marah dan mata yang berkaca kaca dengan tangan memegang erat leher Jihan. Jihan yang merasakan cekikikan itu, ia tidak bisa apa apa. Ia terlihat hanya sedih dan berusaha melepaskan tangan Juli sambil mengatakan maaf kepada Juli.
"Aku minta maaf Kak, aku benar benar minta maaf dengan Kakak," jawab Jihan dengan mata yang juga berkaca kaca. Mendengar permintaan maaf dari adiknya Juli pun akhirnya melepaskan cekikan itu dan berbalik meninggalkan Jihan, namun saat ia baru beberapa langkah dari Jihan. Juli kembali berbalik dan bergegas memeluk Jihan dengan erat sambil mengatakan maaf kepada Jihan.
"Maafkan Kakak Jihan, Kakak hanya tidak mau nantinya kamu terperangkap dalam cinta palsu dari ibu, aku tidak mau itu. Maafkan Kakak menyiksa kamu seperti ini," ucap Juli dengan sedih dan air mata yang berderai membasahi pipinya.
Di saat itu pula, Jihan menyadari kalau perut Juli kembali mengeluarkan darah.
"Kak.... Darah kembali keluar dari perut Kakak!" ucap Jihan sambil melihat ke arah tangannya yang terkena noda darah. Menyadari hal itu Juli pun melepaskan pelukannya dan ia kemudian melihat ke arah perutnya yang sudah terlihat noda darah. Saat itu ia merasakan kesakitan yang sangat luar biasa. Melihat kakaknya sangat kesakitan Jihan pun merasa sangat menyesal, dan ia kemudian meminta bantuan anak buah Juli yang lain lainnya untuk membawa Juli ke rumah sakit namun saat Juli akan di angkat oleh anak buahnya Juli tidak ingin pergi ke rumah sakit dan ingin tetap berada di rumah. Ia kemudian bangun dan menjauhi Jihan dengan langkah sempoyongan dan tertatih, kesakitan.
__ADS_1
Melihat hal itu, Jihan benar benar menyesal karena ia merasa semua itu terjadi karena tindakannya.
"Maafkan aku Kak, aku tahu ini semua karena kesalahan ku. Seharusnya, aku tidak melakukannya kepada Kakak!" ucap Jihan dalam hati ya dengan pandangan mata terus menatap ke arah Juli yang pergi dari kamarnya dengan sempoyongan.