Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 45 Menemui Jihan


__ADS_3

"Aku baik baik saja!" ucap Juli dengan senyum kecil di bibirnya.


Setalah mengatakan hal itu Juli pun pergi dari hadapan polisi itu dengan langkah yang masih sempoyongan dan ia keluar dari rumah sakit.


Setelah ia keluar dari rumah sakit, Juli berjalan melewati lorong lorong rumah sakit dalam keadaan lemah tak berdaya, saat itu orang orang yang berpapasan dengan Juli terus memandangi Juli tanpa membantu Juli. Saat itu, polisi itu terlihat sangat khawatir dengan apa yang di lakukan oleh Juli. Namun Juli yang memang keras kepala ia tidak peduli dengan keadaannya dan memilih untuk tetap pergi dari rumah sakit untuk menemui Jihan. Sesampainya di rumah Ibu Juli, Juli menghubungi orang misterius yang mengawasi Ibu Juli. Ia menanyakan keberadaan ibunya, mendengar suara dari Juli. Orang misterius itu tampak sangat terkejut, ia tidak mengira kalau Juli sudah pulih. Setalah menyadari kalau orang yang menghubungi dirinya adalah Juli, orang itu langsung bergegas memberitahu keberadaannya. Saat Juli sudah mendapatkan berita tentang ibunya, Juli langsung mematikan panggilannya dan pergi menuju rumah. Saat ia menghubungi orang misterius itu, Juli tengah berada di dalam mobilnya yang di kendarai oleh polisi itu. Setalah menutup panggilannya ia mengenakan pakaian serba hitam dan keluar dari mobil. Beberapa saat kemudian, di susul oleh polisi dengan menggunakan pakaian berwarna senada seperti yang di pakai oleh Juli. Ia pun keluar dari mobil dan berdiri di samping Juli. Ia menatap rumah yang di tempati oleh Ibu Juli dengan kebingungan.


"Ada apa? Kenapa kita kemari?" tanya polisi itu kepada Juli.


Hari itu hari memang sudah sangat gelap, suasana sangat sunyi dan sepi, hanya semilir angin berhembus lirih menerpa tubuh kedua orang itu. Udara yang sangat dingin serasa sangat menusuk tubuh Juli, i merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa saat ia sudah keluar dari mobil, hal itu terjadi karena udara dingin hari itu.


"Kamu tidak papa?" tanya polisi itu kepada Juli yang terlihat kesakitan saat berada di luar mobil. Mendengar pertanyaan itu, Juli terlihat hanya menganggukkan kepalanya dengan salah satu tangan memang luka yang ada di perutnya. Menyadari Juli sangat tersakiti dengan luka itu, polisi itu mendekatkan tangannya ke arah perut Juli dan ia kemudian merapatkan tangannya ke arah tangan Juli yang memegang perut.

__ADS_1


"Dek!" panggil polisi itu dengan lirih kepada Juli, lalu ia berhenti beberapa saat. Juli yang mendengar panggilan itu hanya diam dan kemudian ia menatap polisi itu dengan tajam dan dengan nafas yang naik turun tidak beraturan, ia terus memandangi polisi itu. "Apa kamu yakin melakukan ini dalam keadaan kamu yang tengah sangat lemah seperti ini?" tanya lanjut polisi itu. "Cukup, Jihan yang pergi dari hidup ku, tidak dengan yang lain!."


Mendengar ucapan itu, Juli menarik nafas perlahan lalu ia menghela nafas itu secara perlahan.


"Tidak ada yang kehilangan sesuatu di antara kita. Aku tidak Jihan dan kamu juga tidak kehilangan dia, untuk masalah kehilangan aku. Jangan khawatir, selagi dendam ini masih belum usai, kematian ku tidak akan pernah datang. Dan aku juga yakin, kepergian Jihan tidak akan selamanya. Dia akan kembali aku bersumpah dengan hal itu," jawab Juli dengan nada serius dan lirih. Ia kemudian melepaskan tangan polisi itu dengan perlahan dari perutnya dan kemudian ia mengajak polisi itu untuk masuk ke dalam rumah ibunya untuk menemui Jihan secara diam diam.


Saat ia dan polisi itu sudah berhasil masuk ke dalam rumah, dengan langkah yang masih sempoyongan Juli menjelajahi setiap sudut rumah. Saat ia sudah berada di depan kamar nya, tiba tiba terlihat Juli meneteskan air mata entah apa yang membuat Juli meneteskan air matanya setelah melihat pintu kamarnya. Tidak ingin larut terlalu dalam dengan kesedihannya Juli pun akhirnya menghapus air matanya dan membuka pintu kamarnya. Ia merasa kalau Jihan berada di dalam kamarnya. Setelah ia membuka pintu kamarnya, ia melihat Jihan tengah tertidur pulas dengan memeluk foto Juli dan ibunya.


Menyadari Juli akan terjatuh ke lantai, polisi itu langsung bergegas menghampiri Juli dan memegangi kedua lengan Juli.


"Ada apa?" tanya polisi itu setalah memanggil tubuh Juli. Juli yang mendengar pertanyaan itu, dengan perlahan mengerakkan tangan nya dan menunjuk foto yang di peluk Jihan saat tertidur.

__ADS_1


Melihat telunjuk Juli mengarah ke tempat tidur Jihan, polisi itu langsung melihat ke arah tempat tidur yang di tempati Jihan. Ia melihat Jihan memeluk sebuah foto, dan foto itu memperlihatkan Juli dengan ibunya. Melihat hal itu, polisi itu langsung menarik foto itu hingga membuat Jihan terkejut dan ia terbangun dari tidur lelapnya. Jihan yang terkejut, langsung terbangun dan berteriak-teriak memanggil manggil polisi itu dengan sebutan maling.


Saat itu polisi terlihat sangat kesal dan marah, secara spontan setalah mendengar Jihan teriak maling ia langsung mencekik leher Jihan hingga membuat Jihan tidak bisa berkutik lagi.


"Kenapa kamu melakukan ini, hah? Kenapa?" bentak polisi itu dengan nada sangat marah dan kesal kepada Jihan.


Melihat adiknya yang mengalami cekikan dari polisi itu, Juli pun menguatkan dirinya dan mendekati polisi yang mencekik leher Jihan. Saat Juli sudah berada di dekat polisi itu, Juli memegangi tangan polisi itu, Jihan yang menyadari ada orang lain di ruangan itu. Ia hanya diam seribu bahasa dengan mata yang memandang ke arah tangan yang memegangi tangan polisi itu.


"Lepaskan dia!" pinta Juli dengan nada lirih dengan tangan kiri menekan perutnya dan tangan kanannya memegangi tangan si polisi itu. Mendengar suara itu, tatapan mata kedua orang itu langsung mengarah ke arah Juli, lalu dengan kasar dan kesal polisi itu melepaskan cekikan nya hingga membuat Jihan langsung terjatuh ke lantai dan mengalami batuk batuk.


Melihat hal itu, Juli pun membantu Jihan bangun dari terjatuhnya lalu ia memisahkan polisi itu dari Jihan dengan cara berdiri di depan si polisi itu. Jihan yang menyadari kalau kakaknya sudah pulih ia tampak sangat bahagia melihat kakaknya berdiri di hadapannya. Tanpa ragu, Jihan pun memeluk erat kakaknya dengan sesekali bersyukur kepada Tuhan karena kesembuhan kakaknya. Saat Jihan memeluk erat Juli, dengan lirih Juli berbisik di dekat telinga Jihan.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengkhianati Kakak?" tanya Juli. Jihan yang mendengar pertanyaan itu, dengan perlahan matanya tiba tiba memerah dan matanya di penuhi oleh air mata. Pelukan erat yang saat itu merekat di tubuh Juli, tiba tiba merenggang dan lepas secara perlahan. Saat itu Jihan tidak berani menatap mata Juli, ia hanya menundukkan kepalanya dengan air mata yang terus menetes dari mata Jihan. Waktu itu Jihan hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun kepada Juli. Juli yang melihat hal itu, ia hanya sedih matanya tiba tiba berkaca kaca namun saat itu air matanya tidak sampai menetes ke pipinya.


__ADS_2