Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 37 Juli kembali terluka parah


__ADS_3

"Verdi!" bentak Ibu Juli setalah ia melihat Verdi memukul kepala Juli dengan vas bunga.


"Anak seperti dia pantas mendapatkan hal ini Ibu," jawab Verdi dengan nada tinggi dan marah.


Mendengar ucapan Verdi, Ibu Juli terlihat menatap tajam Verdi dan tak berselang lama.


Plak....


Suara tamparan tangan terdengar di ruangan itu. Saat itu, Verdi yang merasakan tamparan keras dari ibunya. Ia hanya diam dan memalingkan wajahnya dengan tatapan mata yang tajam ia menatap ibunya dengan salah satu tangan Verdi memegangi pipinya yang di tampar oleh Ibu Juli.


Setelah menampar Verdi, Ibu Juli terlihat sangat khawatir dengan keadaan Juli yang ia kira Jihan. Ia mendekati Juli dan membantu Juli, namun saat itu Juli tidak sadarkan diri. Merasa kalau orang yang terbaring di lantai adalah Jihan dan bukan Juli, Ibu Juli pun menghampiri Juli dan berusaha membantu Juli. Ia membersihkan darah yang ada di kepala Juli.


"Jihan, bangun Jihan. Ibu mohon dengan kamu tolong bangun, jangan seperti ini!" ucap Ibu Juli dengan membaringkan Juli di pangkuannya lalu dengan perlahan ia memukul mukul pipi Juli dengan. Tak berselang lama, Juli pun perlahan lahan membuka matanya, menyadari hal itu Ibu Juli terlihat sangat bahagia karena anaknya masih hidup dan dapat bangun.


"Jihan kamu baik baik saja, kita ke rumah sakit ya. Ibu mohon sama kamu," ucap Ibu Juli dengan melihat ke arah Juli dan sesekali membelai wajah Juli. Pada awalnya Juli yang setengah sadar ia baik baik saja saat di sentuh oleh ibunya, namun saat ia menyadari kalau dirinya sudah di sentuh oleh ibunya Juli, Juli pun langsung menatap tajam wajah ibunya yang berada di hadapannya lalu dengan sangat erat Juli memang tangan ibunya yang membelai pipinya.

__ADS_1


Menyadari hal itu, Ibu Juli hanya diam, menahan rasa sakit karena hal yang di lakukan oleh Juli, lama kelamaan ia mulai mengerang kesakitan dan menunjukkan ekspresi muka tidak dapat menahan rasa sakit tangannya.


Melihat ibunya di sakiti oleh Juli, Verdi pun langsung bergegas menghampiri Juli dan membangunkan Juli hingga membuat genggam erat tangan Juli yang di lakukan kepada ibunya terlepas karena tarikan yang di lakukan oleh Verdi . Saat Verdi sudah membangunkan Juli, Verdi menatap tajam mata Juli. Ia memegangi kerah baju Juli dengan sangat erat dan mencekik Juli. Juli yang saat itu lemas karena mengeluarkan darah dari perut dan kepalanya. Ia hanya tersenyum melihat tindakan dari Verdi.


"Dengarkan aku, entah kamu Juli ataupun Jihan aku tidak peduli dengan hal itu. Yang terpenting, tindakan kamu ke Ibu itu tidak pantas dan kamu pantas mendapatkan hukum seperti itu!" ucap Verdi dengan tegas kepada Juli yang saat itu terlihat lemas.


Mendengar ucapan dari Verdi, Juli terlihat tersenyum kepada Verdi lalu ia melepaskan tangan Verdi yang memegangi kerah baju nya hingga membuat Juli terjatuh ke lantai dengan keadaan kedua kaki duduk bertekuk lutut di hadapan Verdi. Juli yang merasakan hal itu pun perlahan bangkit dan tak ingin lama lama duduk bertekuk lutut di hadapan Verdi. Dengan langkah yang sempoyongan, Juli terbangun dan saling berhadapan hadapan dengan Verdi. Juli menatap tajam mata Verdi dan Verdi pun membalas tatapan mata itu dengan tajam.


"Untuk apa? Untuk apa kamu berani ketika aku dalam keadaan lemah seperti ini? Kamu itu seorang pengecut Verdi, ketika aku sedang baik baik saja kamu tidak punya keberanian untuk menyerang aku lalu kenapa? Kenapa ketika aku sedang dalam keadaan sekarat seperti ini kamu justru menyerang aku?" jawab Juli dengan serius dan sesekali terlihat kesakitan di perutnya.


Mendengar ucapan itu, Ibu Juli terlihat sangat terkejut. Bagaimana tidak, ia merasa laki laki yang ada di hadapannya adalah Jihan bukan Juli. Ia merasa tidak percaya kalau orang yang ada di hadapannya adalah Juli.


Mendengar perkataan itu, Ibu Juli pun langsung menghampiri Juli yang ia kira Jihan. Ia kemudian memeluk erat Juli dengan mengatakan kalau dirinya adalah Jihan bukan lah Juli. Menerima pelukan dari wanita yang sudah membunuh hati dan hidupnya, Juli pun langsung memegangi kedua lengan ibunya dengan sangat erat dan ia kemudian melepaskan pelukannya ibunya dengan sangat kasar. Ia mendorong ibunya hingga terdorong beberapa langkah menjauhi Juli.


"Jangan berpura pura sedih, aku tahu kalau kamu tidak pernah menyayangi aku. Dan kalau pun aku Juli ataupun Jihan, kenapa? Apa kamu ingin membunuh aku lagi seperti kamu membunuh Juli di gedung tua waktu itu, iya?" jawab Juli dengan nada serius.

__ADS_1


Di saat itu, Ibu Juli benar benar sedih dengan apa yang terjadi di hidup Juli maupun Jihan. Ia meminta maaf atas kesalahan yang ia pernah buat di hidup Juli. Juli yang mendengar ucapan itu hanya tersenyum kecil di bibirnya dengan menahan rasa sakit yang sangat luar biasa dari perutnya.


Ibu Juli pun berusaha untuk membujuk Juli agar ia mau masuk di ajak ke rumah sakit. Namun, saat itu Juli tetap bersikukuh dan memilih untuk tetap membiarkan luka di perutnya. Saat permasalahan semakin memuncak seorang misterius tiba tiba masuk ke dalam rumah dengan melalui jendela rumah. Lalu, orang misterius itu terlihat menyemprotkan sebuah gas beracun sementara untuk membuat Verdi dan ibunya pingsan. Setalah menyemprotkan gas beracun ke ruang itu, dengan perlahan gas itu menyebar ke seluruh ruangan. Di saat bersamaan, Verdi dan ibunya mulai batuk batuk karena menghirup gas itu. Tak berselang lama, orang misterius itu pun langsung bergegas menuju ke arah Juli yang juga mulai batuk batuk. Orang misterius itu membawa Juli dengan menggendongnya di bahu karena saat itu keadaan Juli sangat memprihatikan.


Dalam sekejap mata, orang misterius itu pun membawa Juli pergi dari rumah itu. Sedangkan Verdi dan ibunya terlihat terbaring di lantai tak sadarkan diri.


Ketika sudah berhasil keluar dari rumah itu, orang itu membawa Juli masuk ke dalam mobil yang ternyata mobil itu sudah berisi Jihan dan salah satu anak buah dari Juli.


Melihat keadaan Juli semakin parah setelah menerima tendangan dari Verdi, Jihan terlihat sangat sedih dan sangat terpukul ia tidak ingin kehilangan seorang kakak yang baik seperti Juli di hidupnya.


Saat itu, Jihan tengah duduk di kursi belakang dengan membaringkan tubuh Juli dan meletakkan kepala Juli di pangkuannya. Saat itu ia terlihat sangat sedih karena ia melihat keadaan Juli.


"Kak aku mohon dengan Kakak, tolong jangan tinggalkan aku. Aku mohon Kakak bertahan, kita akan pergi ke rumah sakit!" ucap Jihan dengan sedih dan air mata yang sesekali menetes jatuh ke arah muka Juli.


"Jihan kamu yang sabar ya, aku yakin Juli akan baik baik saja," sahut si polisi yang saat itu tengah mengemudikan mobilnya. Mendengar ucapan itu, Jihan pun hanya mengangguk dengan air mata yang terus menetes.

__ADS_1


__ADS_2