Reinkarnasi

Reinkarnasi
aku bukan Dinda!!!!!


__ADS_3

" Nona, bisakah anda berikan aku satu cup ice cream"? Pinta ku pada seorang pelayan.


Hari ini selepas pulang sekolah, key mengajak ku untuk bertemu di sebuah kafe yang cukup terkenal di kota ini.


Sejak dia datang ke rumah dan melamar ku pada kedua orang tuaku, aku berusaha untuk menjauhinya.


Entah lah, aku justru merasa ilfeel dengan sikapnya itu. Itu membuatku merasa tidak nyaman berada di dekatnya.


" Mau rasa apa nona" tanya pelayan itu dengan ramah.


" Rasa sianida ada tidak?" Jawabku dengan wajah serius, berniat untuk mencandainya.


" Maksut anda, anda ingin ice cream dengan varian rasa yang berbeda?. Tapi maaf, untuk saat ini varian rasa yang anda sebutkan tadi belum ada dalam daftar menu kami nona" ucap pelayan itu sambil menangkupkan tangan di depan dada.


" Bukan varian rasa sianida. Aku ingin kau membuat ice cream dari sianida!" Jawabku setengah berbisik.


" Sianida itu buah apa? Apakah itu termasuk jenis buah yang tumbuh di dataran Eropa? Namanya terasa asing nona." Ucap pelayan itu dengan wajah polosnya.


Aku hanya bisa terpukau dengan kepolosannya itu. Sungguh, baru kali ini aku bertemu dengan orang yang begitu b*d*h. Masa iya sianida saja ia tidak tahu.


" Hehe........nona, sebaiknya anda cari tahu saja di google. Pasti anda akan begitu senang setelah tahu sianida itu jenis buah apa" ucapku berbisik padanya.


" Setelah tahu, cepat cari aku ya" lanjutku, setelah itu aku cepat berlalu meninggalkan nya.


"Hah....." Aku mendesah pelan.


" Kenapa?" Bisik key yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang ku, dan berhasil membuatku terkejut. Akupun menoleh padanya.


" Apanya yang kenapa?" Tanya ku balik.


Dia tidak menjawab dan hanya mengangkat dagunya menunjuk ke wajahku.


" Ada apa dengan wajahku. Apa ada buah strawberry di sana sehingga begitu manis" jawabku dengan wajah nakal.


" Tidak" jawab key singkat. Kemudian berlalu meninggalkan ku. Aku pun mengekorinya dari belakang.


" Untuk apa mengajak ku bertemu?" Tanyaku begitu kami duduk. Key memberikan buku menu padaku.


" Kita bahas itu sambil minum" jawabnya singkat. Kemudian ia pun memesan coffe late untuknya, dan jus mangga untuk ku.


" Katakan, apa yang kau inginkan dari ku?" Tanya ku penuh curiga.


" Aku hanya ingin kau membantuku." Jawab key.


" Dalam hal apa?" Tanyaku penasaran.


" Menikahlah denganku!" Jawabnya sambil memandang lekat ke arah mataku.


Gila, tatapan nya begitu tajam dan sangat mengintimidasi.


Aku meneguk Saliva, karna merasa kerongkongan ku kering.

__ADS_1


" Kenapa aku harus menikah dengan mu. Hanya wanita b*d*h yang mau menikah dengan pria asing" jawab ku sinis.


" Karna kau tidak punya pilihan lain" jawabnya datar.


" Maksudmu.....?".


" Kau akan tahu nanti apa maksudku". Jawab key sambil mengedipkan sebelah matanya.


" Dasar buaya" batinku.


Seorang pelayan tiba-tiba berjalan menghampiri kami.


" Maaf nona, apakah tadi anda tidak salah dalam menyebutkan sianida?" Ucapnya begitu berdiri di hadapanku.


" Tidak..." Jawabku singkat.


" Tapi sianida itu bukan sejenis buah, melainkan......sebuah r*c*n" jawabnya polos.


" Apa anda yakin ingin aku membuatkannya untuk anda?" Lanjutnya.


Aku lihat key mengernyit kan kening.


" Buatkan saja, tapi bukan untuk ku" jawabku sekenanya.


" Berikan padanya...." Aku menunjuk ke arah key.


" Apa kau ingin membunuh pacarmu nona" ucap pelayan itu heran.


" Dia bukan pacarku. Dia pria asing yang selalu mengikuti dan mengganggu ku." Ucapku sambil melotot ke arah key.


" Sebenci itu kah kau padaku" tanya key tiba-tiba. Sorot matanya menyiratkan kesedihan.


" Tidak!. Aku hanya kesal karna kau selalu menggangguku" jawabku sambil memandang sinis ke arahnya.


" Tidak kah kau tahu kalau seorang gadis itu memiliki privasi?" Lanjutku.


Dia hanya tersenyum sinis.


" Kau tahu pernikahan tanpa cinta itu hanya akan mendatangkan penderitaan?" Ucapku pelan.


" Apa kau pernah kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu?" Aku melanjutkan sambil menerawang jauh.


" Pernah, dan itu sangat menyakitkan" ucap key kemudian menyesap coffe late yang di pesan nya tadi.


Aku hanya diam memperhatikannya, menelisik luka dalam hatinya yang tergambar jelas di mata indah itu.


Aku memang mulai mengagumi nya, meskipun sikapnya kasar tapi dia sopan. Tapi semua itu tidak berarti membuatku bersedia untuk menikah dengan nya.


" Ini...!" Key menyodorkan sebuah kertas padaku.


"Apa ini" jawabku sambil melirik kertas itu.

__ADS_1


" Kau bacalah" perintah key.


Aku mengambil kertas itu dan membaca nya sekilas. Kemudian melirik ke arah key.


" Kau mau mengancamku" tukasku.


" Maybe...." Jawabnya enteng.


" Jika tidak bisa mendapatkan mu secara baik-baik, maka terpaksa aku menggunakan cara kasar" lanjutnya.


" Apa kau akan bahagia setelah menikah denganku, tapi dengan menggunakan cara licik seperti ini" jawabku tegas, sambil memandang netranya.


" Setidaknya beri aku satu alasan kenapa aku harus menikah denganmu". Lanjutku


" Aku tidak perlu menjawab pertanyaan mu" ucapnya sambil berbalik menatapku.


" Apakah pria ini sakit?, Apa dia begitu terobsesi padaku sampai berbuat sejauh ini?" Batinku.


" Kau tidak berhak untuk memberikan keputusan, yang perlu kau lakukan hanyalah bersedia untuk menikah denganku" ucapnya tegas.


Awalnya, aku berfikir key hanya merasa kesal padaku karna kejadian di taman hari itu. Kemudian dia limpahkan kekesalan nya itu dengan mengejar dan memaksaku untuk menikah dengannya.


Tapi kenyataan hari ini menjelaskan, bahwa alasan yang sebenarnya bukan itu. Tapi apa yang membuat pria ini begitu terobsesi denganku?


Aku meremas kertas itu, kemudian melemparnya ke arah key.


" Aku rasa kau seorang psiko!" Ucapku, kemudian berdiri dan berjalan meninggalkannya.


Key tak bergeming, dan hanya menatap lurus ke depan.


" Aku pastikan kau akan menjadi milikku, Inara Larasati" ucapnya lantang.


"Dasar pria gila" ucapku, kemudian berlalu keluar dari kafe ini.


Aku berjalan menyusuri trotoar dengan perasaan yang hampa. Kertas yang di berikan oleh key tadi sangat menggangguku. Bagaimana bisa, 50% saham orang tua ku beralih menjadi miliknya.


Jika dia bergabung dengan pemilik saham lain dan gabungan saham mereka lebih dari 50% , maka akan dengan mudah baginya untuk mengakuisisi perusahan orang tuaku.


Hah, apa yang harus aku lakukan.


" Awww...." Pekikku saat tiba-tiba seseorang menabrakku. Orang itu terjatuh, tubuhnya terlihat renta.


Aku segera menghampiri dan menolongnya, membantunya berdiri.


" Kakek tidak apa-apa?" Tanyaku sambil berusaha menuntun nya duduk di kursi di pinggir trotoar.


" Tidak apa-apa. Jangan kawatir" jawabnya lalu mendongak menatapku.


Terlihat jelas kilat keterkejutan di mata nya...


" Din.....Dinda" serunya dengan mata yang terbelalak.

__ADS_1


Dinda? Dinda siapa?.....


Aku bukan Dinda.......!!!!!!


__ADS_2