Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 61 Terbalik


__ADS_3

"Kenapa ibu hanya menampar aku? Kenapa ibu tidak sekalian membunuh aku seperti ibu membunuh kakak?" tanya Juli dengan raut muka marah, setelah mengatakan hal itu Juli pun tersenyum bercampur dengan sedih.


"Kenapa?!" bentak Juli kepada ibunya yang berdiri di hadapan Juli. Ia kemudian menatap ibunya dengan tajam.


"Kamu ingin tahu kenapa ibu tidak membunuh kamu seperti ibu membunuh kakak kamu!" jawab ibunya lalu ia berhenti beberapa saat dan mendekatkan wajahnya ke wajah Juli "karena ibu masih membutuhkan kamu, bukan karena ibu menyayangi kamu. Tapi...., Tapi karena ibu ingin menukarkan kamu dengan Verdi. Karena ibu tahu, Verdi tidak salah atas pembunuhan ayah tirinya. Tapi kamu, kamu yang membunuh ayah tirinya Verdi, bukan Verdi."


Saat itu Ibu Juli mengatakan hal itu dengan nada bicara yang tinggi hingga membuat Juli hanya diam dengan tatapan mata yang tajam.


"Kalau memang aku yang membunuh orang itu, lalu kenapa ibu?" jawab Juli dengan nada bicara serius dan terlihat tidak memiliki ketakutan di raut mukanya. Melihat keberanian Juli mengahadapi dirinya, Ibu Juli terlihat sangat merah, tanpa berpikir panjang dan berpikir kalau orang yang ada di hadapannya adalah anaknya. Ibu Juli pun langsung mengambilnya balok kayu itu lagi dan kembali memukulkan balok kayu itu ke kepala Juli hingga Juli tidak dapat berkata kata dan hanya diam dengan kepalanya yang berlumur darah akibat dari pukulan itu


"Habisi aku sekali lagi ibu, habisi!. Berapa banyak lagi ibu ingin menyiksa aku? Berapa banyak lagi ibu ingin membunuh aku?" jawab Juli lalu ia tersenyum dengan jahat kepada ibunya.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Ibu Juli pun meraih wajah Juli yang sudah berlumur darah dan memegangi wajahnya dengan sangat erat. Ia kemudian menundukkan tubuh dengan tatapan tajam mengarah ke arah Juli.


"Aku tidak akan membunuh kamu Jihan, tidak akan pernah. Karena aku tidak sejahat kamu, aku hanya ingin kamu hidup dan kamu menggantikan posisi Verdi saat ini. Karena apa? Karena posisi ini tidak cocok untuk Verdi! Posisi ini lebih pantas untuk kamu, karena kamu sudah menghabisi banyak nyawa dengan tangan kamu!" ucap Ibu Juli dengan tegas dan serius setelah itu ia membuang wajah Juli dari tangannya.


"Jadi ini rencana ibu! Benarkah ibu tidak lebih kejam dari aku? Aku dan Verdi sama saja Ibu!" jawab Juli lalu ia berhenti beberapa saat dan ia kemudian melanjutkan "hanya saja, bedanya Verdi membunuh ayah angkatnya sendiri sedang aku.... Aku membunuh ayah tiri ku sendiri!."


Mendengar ucapan itu Ibu Juli tampak sangat terkejut, ia hanya diam diri dengan mata terbuka lebar dan nafas yang seakan sulit untuk di atur.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Ibu Juli dengan kebingungan.


Mendengar pertanyaan itu, Juli pun tertawa kecil di bibirnya dengan wajah yang tidak melihat ke arah Ibunya. Ia kemudian berusaha melepaskan dirinya sendiri dengan menggerakkan gerakan tali yang mengikat tangannya di kursi. Namun, entah bagaimana caranya tangan Juli yang terikat di kursi tiba tiba terlepas  dari tali yang mengikat tangannya. Setelah tangan Juli terlepas dari ikatan itu, ia bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan ibunya. Ibu Juli yang melihat hal itu sangat terkejut dan sangat kebingungan. Ia terlihat hanya diam, mematung dan tidak bisa mengatakan sepatah katapun kepada Juli.

__ADS_1


"Aku tidak ingin menyakiti kamu ibu, justru aku akan menuruti apa yang ibu pinta kepada ku!. Kalau ibu meminta aku untuk melakukan ini, maka aku akan melakukan apa yang ibu mau, tapi ibu juga harus menuruti apa yang aku mau!. Karena apa? Karena anak adalah cerminan dari ibunya atau ayahnya, jika ibunya mampu membuat rencana seperti ini, maka anaknya akan bisa lebih menghancurkan hidup ibunya!."


Juli pun mengatakan hal itu dengan sangat tegas kepada ibunya, ibunya yang melihat sikap Juli yang sebenarnya ia benar benar tidak bisa berkata kata. Saat itu ia kebingungan karena ia merasa orang yang berada di hadapannya bukan Juli melainkan orang lain, sedangkan jika dia berpikir kalau orang yang ada di hadapannya Juli itu sangat amat tidak mungkin karena Juli sudah mati dan ia tidak mungkin hidup lagi.


"Kenapa ibu? Apa ibu masih bingung  siapa aku yang sebenarnya?" ucap Juli lalu ia berhenti selama beberapa saat, setelah itu ia melanjutkan berkata "ibu tidak perlu bingung dengan hal ini, aku Jihan saudara kembar dari Juli anak yang kamu bunuh di gedung tua itu!."


Setelah mengatakan hal itu, Juli pun dengan langkah yang tertatih ia mendekati ibunya. Ketika ia sudah berada di dekat ibunya, ia memegangi perutnya yang terluka dengan sesekali mengerang kesakitan. Setalah ia berada sangat dekat dengan ibunya,  tiba tiba Juli mengeluarkan borgol dari balik bajunya yang berlumur darah. Ia kemudian mengikatkan borgol itu di salah satu tangannya, saat ia sudah memborgol salah satu tangan nya sendiri, Juli memborgol tangan ibunya. Ibu Juli yang melihat hal itu ia hanya diam, tapi saat ia ingin mengunci borgol itu. Ibu Juli tiba tiba menarik tangannya dan menjauhkan tangannya dari borgol itu.


Juli yang melihat hal itu langsung dengan paksa menarik tangan ibunya dan memborgol tangan ibunya, ia kemudian manarik tangan ibunya tanpa mempedulikan rasa sakit di perutnya dan di tangannya. Saat itu Ibu Juli selalu mengatakan kalau ia tidak ingin ikut dengan Juli yang ia anggap Jihan namun Juli tatapan memaksa ibunya untuk tetap pergi ke luar rumah. Dengan gagahnya Juli, ia menarik ibunya dengan borgol itu.


Ketika ia sudah berada di luar rumah penyekapan. Terlihat mobil hitam berada di luar rumah, melihat hal itu tanpa mempedulikan ibunya yang kesakitan Juli mengajak ibunya masuk dan memerintah kan supir itu untuk pergi ke kantor polisi. Mendengar ucapan itu, Ibu Juli justru terlihat sangat ketakutan, entah apa yang membuat dirinya sangat ketakutan dengan hal itu.

__ADS_1


"Kenapa ibu takut? Seharusnya ibu tidak takut untuk melakukan hal ini, bukannya ibu ingin menyakiti aku. Bukannya ibu ingin memasukkan aku ke kantor polisi untuk mengantikan posisi Verdi. Lalu kenapa ibu takut? Apa yang ibu takutkan?" ucap Juli dengan nada serius tanpa mempedulikan rasa sakitnya dan luka yang di deranya.


__ADS_2