Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 55 Penasaran 3


__ADS_3

"Kenapa kamu meminta untuk aku untuk melepaskan dirinya? Dia sudah menyakiti kamu!" ucap polisi itu kepada Juli dengan nada serius dan tegas. Tatapan matanya, terlihat sangat sedih, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Dia seorang wanita, wanita tidak boleh di sakiti. Kita harus menjaganya," jawab Juli dengan nada santai dan mata yang terlihat sayup memandang wajah polisi itu.


Ketika Juli dan polisi itu tengah sibuk berdebat antara membela wanita itu dan tidak membela wanita itu. Dengan perlahan, wanita misterius itu terbangun dari jatuhnya. Saat ia sudah berhasil berdiri di dekat polisi, ia menatap tajam Juli yang berdiri di hadapan si polisi itu. Setelah itu, dengan perlahan wanita misterius itu mengeluarkan pisau yang ia sembunyikan di balik pakaiannya. Ia kemudian memegangi erat pisau itu bahkan sampai tangannya terlihat bergetar tidak terkontrol.


"Aaaaaaaaa," teriak wanita misterius itu lalu ia berusaha menyerang polisi itu, namun polisi itu di dorong Juli hingga terjatuh setelah Juli sadar kalau wanita misterius itu ingin menyerang si polisi.


Polisi yang menerima hal itu hanya terlihat terkejut, dirinya terkejut dengan dorongan yang di lakukan oleh Juli dan penyerangan yang akan di lakukan oleh wanita misterius itu.


Menyadari kalau pisaunya tidak mengenai si polisi itu, si wanita misterius itu terlihat sangat kesal dan marah di hadapan Juli. Juli yang melihat hal itu pun langsung naik fital dan langsung meraih leher wanita itu dan mencekiknya. Sesekali Juli membenturkan tubuh wanita itu ke dinding, saat itu terlihat Juli tidak mempedulikan lukanya ia hanya fokus kepada wanita misterius itu.

__ADS_1


"Kamu jangan macam macam dengan aku, dan kamu jangan pernah berusaha menyakiti aku ataupun keluarga ku. Oke, kamu memang punya dendam dengan aku. Tapi...., kamu harus tahu dan kamu harus ingat, kalau tanpa aku nyawa mu tidak akan selamat dari laki laki bajingan seperti dia!" ucap Juli dengan tegas dengan tatapan mata tajam melihat ke arah wanita misterius itu. Setalah mengatakan hal itu, Juli pun melepaskan cekikan nya. Ketika cekikan tangannya sudah Juli lepaskan dari leher wanita itu. Wanita itu seperti tidak bisa bernafas, ia terengah engah. Nafasnya naik turun tidak beraturan dengan kedua tangan memegang lehernya yang di cekik oleh Juli. Saat itu wanita itu menatap mata Juli yang terlihat sangat marah.


Beberapa saat kemudian, Juli kembali menghampiri wanita itu. Ia memegangi erat kedua lengan si wanita itu dengan sangat erat, dan tatapan mata yang serius.


"Jangan lagi kamu berusaha menyakiti keluarga ku ataupun aku. Kalau sampai kamu melakukan itu, kamu harus berhadapan dengan aku. Paham!!!" ucap Juli lalu ia mendorong wanita misterius itu dengan sangat kasar, lalu ia pergi dari hadapan wanita misterius itu dengan tangan kanannya memegangi perutnya yang terkena tusukan pisau itu. Beberapa saat kemudian, polisi itu mengikuti Juli pergi dari tempat itu. Melihat Juli pergi, wanita misterius itu tampak terus menerus memandangi Juli yang meninggalkan dirinya. Tatapan matanya seakan penuh dengan kemarahan dan hasrat untuk menyakiti.


Setelah Juli pergi, wanita itu tetap memandangi Juli dengan raut muka emosi dan penuh amarah, namun dirinya pun bergegas pergi juga setelah Juli pergi dari tempat itu.


Tak berselang lama, Juli pun sampai di dalam kamarnya, dengan ekspresi muka kesakitan Juli berjalan menuju ke tempat tidurnya, lalu ia duduk di atas tempat tidurnya dengan memegangi luka yang ada di perutnya. Saat itu, sesekali Juli mengerang kesakitan karena luka yang ada di perutnya.


"Kamu ingin kemana Jihan?" tanya ibunya dengan santai lalu ia menaruh makanan yang ada di atas nampan ke meja kecil yang tidak jauh dari dirinya. Ia kemudian duduk di samping Jihan dengan mata melihat ke arah Jihan.

__ADS_1


"Tidak ke mana mana Bu, Jihan hanya ingin jalan jalan saja!. Jihan ingin menenangkan diri Jihan!" jawab Jihan tanpa membuat ibunya curiga kalau dirinya ingin pergi ke rumah sakit menemui kakaknya.


"Baiklah, tapi nanti sebelum kamu pergi. Kamu harus habiskan makanan kamu dulu!" pinta Ibu Juli dengan baik dan sangat penuh perhatian dengan Jihan. Jihan yang mendengar ucapan itu, ia pun hanya diam dengan menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya sudah mengerti apa yang di ucapkan oleh ibunya.


Setelah melihat jawaban Jihan, tanpa curiga dan merasakan hal hal yang aneh. Ibu Juli pun pergi dari kamar yang di tempati oleh Jihan.


Ketika Ibu Juli sudah pergi, Jihan pun bergegas menghabiskan makanannya hingga membuat dirinya tersedak. Menyadari hal itu, Jihan pun langsung meminum air dan setelah merasa tersedak nya mereda, ia pun langsung bergegas keluar dari kamar itu dengan sangat tergesa-gesa.


Di saat bersamaan, Ibu Juli keluar dari kamarnya. Melihat hal itu, kecurigaan yang saat itu tidak muncul di benak ibunya tiba tiba muncul. Dimana saat itu, Ibu Juli berpikir kalau Jihan berbohong karena ia pergi dari kamarnya dengan nada tergesa gesa dan terburu buru.


" Kenapa Jihan pergi dengan terburu buru? Kemana dirinya akan pergi?" tanya Ibu Juli dengan kebingungan dan mulai curiga dengan apa yang di lakukan oleh Jihan. Ia pun langsung mengikuti Jihan yang pergi keluar rumah, ketika ia sudah berada di luar rumah ia terlihat terkejut, karena Ibu Juli tidak melihat ke arah mana Jihan pergi.

__ADS_1


"Kemana Jihan pergi? Kenapa dia bisa secepat itu?" ucap Ibu Juli dengan nada kebingungan bercampur dengan kesal tergambar di wajah ibunya. Ia kemudian pergi dari tempat itu, tanpa mengatakan sepatah kata pun namun ia hanya sedikit kesal dengan dirinya sendiri yang kehilangan Jejak Jihan. Ia kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya.


Di dalam rumahnya, Ibu Juli terlihat masih sangat marah dengan apa yang terjadi. Ia kemudian duduk di sofa ruang tamu dengan memikirkan kejadian beberapa saat yang lalu. Dimana dirinya keluar dari kamarnya dan melihat Jihan keluar dari kamarnya dengan terburu buru. Bayangan itu benar benar terus terngiang di benak ibunya, pertanyaan yang belum terpecahkan kini kembali di tambah dengan pertanyaan lainnya yang semakin membuat dirinya penasaran dengan sesosok Jihan yang sebenarnya. Merasa beberapa saat lalu Jihan sudah pergi, ia pun akhirnya berpikir kalau ia ingin masuk ke dalam kamar Jihan untuk mencari tahu tentang siapa Jihan yang sebenarnya dan siapa dirinya yang sebenarnya. Tanpa berpikir panjang dan merasa keadaan sudah aman, Ibu Juli pun akhirnya pergi dari ruang tamu untuk menuju ke kamar yang di tempati oleh Jihan.


__ADS_2