
Di dalam rumah, Ibu Juli terlihat bersikap normal saat itu ia tengah memasak untuk Verdi. Saat dirinya tengah memasak, entah karena di sengaja atau tidak ia melukai jarinya dengan pisau hingga membuat Verdi sangat terkejut dan langsung mengambil kotak obat untuk mengobati luka ibunya. Ia terlihat sangat khawatir dengan ibunya dan menggantikan ibunya memasak.
Hari terlihat sudah pagi, beberapa hari ini Verdi jarang masuk ke rumah sakitnya karena ia lebih memilih menjaga ibunya semenjak si supir meninggalkan. Hari itu Verdi ingin pergi ke rumah sakit dan di saat bersamaan Ibu Juli menghidupkan televisi, entah ini kebetulan atau apa di saat Ibu Juli menghidupkan televisi. Telivisi justru memperlihatkan tentang penemuan mayat yang di bungkus kain dengan wajah yang rusak. Menyadari dan mendengar berita itu Verdi yang saat itu ingin keluar rumah langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah televisi. Ia terlihat sangat terkejut atas penemuan mayat itu.
Menyadari Verdi belum pergi dan masih melihat ke arah televisi, Ibu Juli terlihat kebingungan ia kemudian mengira kalau apa yang di tayangkan di televisi itu benar. Ia mengira kalau mayat itu adalah mayat si supir yang di buang oleh Verdi ke sungai.
"Verdi!" panggil ibunya dengan berdiri dan mendekati Verdi, namun saat itu Verdi terlihat masih melihat berita yang di tayangkan di tv tersebut.
"Verdi!" panggil ibunya dengan semakin keras hingga membuat Verdi terkejut dan ia melihat ke arah ibunya.
"Iya Ma, ada apa?" jawab Verdi dengan melihat ke arah ibunya.
"Kenapa kamu melihat berita itu dengan sangat serius? Apa mayat Tuan kamu buang di tempat yang sama, seperti yang di beritakan di tv?" tanya Ibu Juli dengan nada tegas dan serius kepada Verdi.
Verdi yang mendengar pertanyaan itu, ia langsung terlihat gugup dan panik. Saat itu ia masih menutupi segala sesuatu yang ia lakukan kepada si supir.
"Ibu tanya lagi sama kamu, apa kamu membuang Tuan di tempat yang sama, seperti yang di tanyakan di tv?" tanya Ibu Juli lagi dengan nada masih tegas.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Verdi pun akhirnya memutuskan untuk mengatakan kejujuran dan menceritakan di mana dirinya menemukan si supir itu. Ia menceritakan kalau dirinya menerima sebuah surat dari seseorang dengan foto si supir yang sudah berlumur darah. Ia menjelaskan semua kronologi kejadian hingga ia sampai di gedung tua tempat mereka membunuh Juli. Dan ia juga menceritakan tentang keadaan si supir yang terjatuh dari atas gedung dan menimpa mobilnya. Saat itu Ibu Juli hanya mendengar cerita dari Verdi, ia terlihat ingin melaporkan Verdi namun ia percaya dan ia juga tidak ingin kehilangan Verdi akhirnya ia pun meminta untuk Verdi tetap berada di rumah dan tidak keluar rumah agar polisi tidak mencari dirinya.
Ia kemudian meminta sekertaris rumah sakitnya untuk membuat surat keluar negeri bersama dengan keluarganya. Mendengar perintah itu, sekertaris dari Verdi pun menuruti apa yang di inginkan oleh Verdi.
Di saat Verdi dan ibunya panik dengan kasus penemuan mayat si supir oleh polisi, kepanikan bertambah ketika salah satu stasiun televisi menayangkan berita tentang pembunuhan Juli yang di angkat lagi ke tv.
Melihat kedua rahasia mereka sudah di angkat di tv dan menjadi perbincangan semua orang dan stasiun berita. Mereka berdua justru benar benar terjebak dan tidak bisa keluar dari rumah karena Ibu Juli tidak ingin Verdi tertangkap oleh polisi begitu pula dirinya.
"Ibu bagaimana bisa kita seperti ini? Kalau ibu melarang aku keluar dan tetap di sini yang ada polisi akan curiga dengan kita!" ucap Verdi yang melihat ibunya yang terlihat sangat tidak ingin kehilangan Verdi.
"Ibu mohon jangan keluar, ibu tidak ingin kehilangan kamu!" jawab Ibu Juli dengan sedih dan berurai air mata.
Suara tepukan tangan terdengar dari kedua belakang orang itu. Mendengar ada sebuah tepukan tangan, Ibu Juli dan Verdi pun langsung melihat ke arah suara itu. Saat mereka melihat ke arah orang itu ia sangat terkejut karena melihat orang yang mirip dengan Juli berdiri di belakang mereka dengan wajah yang sudah terbuka tanpa ada rahasia apapun.
"Begitu sayangnya kah Ibu dengan Kak Verdi?" tanya orang yang mirip Juli dengan nada lirih. "Hingga Ibu saja tidak ingin kehilangan Kak Verdi!."
"Juli!" panggil ibunya dengan lirih lalu ia melepaskan Verdi dan mendekati orang yang mirip dengan Juli.
__ADS_1
"Juli, bukan maksud ibu, ibu tidak cinta dengan kamu. Ibu minta maaf dengan kamu, karena ibu sudah melukai kamu dengan sangat fatal!."
"Apa baru saat ini Ibu sadar, kalau ibu sangat menyakiti aku? Lalu, bagaimana dengan hari yang hari lalu? Bagaimana!?" jawab Juki dengan nada membentak ke arah ibunya. Mendengar Juli membentak ibunya Verdi pun berbalik membentak Juli dengan nada yang sama tingginya.
"Kenapa, hah? Apa kamu tidak suka kalau aku membentak ibu kamu?" jawab orang yang mirip dengan Juli dengan nada masih tinggi.
"Jelas tidak suka, karena apa.... Karena kamu adalah anak yang paling dia sayangi!."
Pada awalnya, Ibu Juli masih tidak menyadari siapa orang itu. Apakah benar dia Juli atau bukan, namun saat dirinya melihat tanda lahir di tangannya dan melihat kalung tidak di pakai oleh orang yang mirip dengan Juli. Ibu Juli menyadari dan mengetahui siapa orang yang selama ini meneror mereka berdua. Ia mengetahui kalau dia bukan lah Juli melalaikan orang lain.
Di saat kemarahan orang yang mirip dengan Juli semakin memuncak dan perdebatan antara Verdi dengan orang itu semakin sengit. Ibu Juli tiba tiba meneteskan air mata lalu dengan nada lirih dan penuh kasih sayang, Ibu Juli memanggil orang itu dengan nama Jihan.
"Jihan" panggil Ibu Juli kepada orang yang mirip dengan Juli. Mendengar ucapan itu kemarahan orang yang mirip dengan Juli seketika mereda sedangkan Verdi terlihat kebingungan dengan nama Jihan.
"Ibu siapa Jihan?" tanya Verdi setelah berada di dekat ibunya.
Mendengar ibunya memanggil nama orang yang mirip Juli dengan nama Jihan. Orang itu terlihat berkaca kaca dan meneteskan air mata, di situ Ibu Juli pun percaya kalau orang yang selama ini meneror dirinya dan Verdi adalah Jihan.
__ADS_1
"Jihan, maafkan ibu!" ucap Ibu Juli dengan berlari dan menghampiri orang mirip dengan Juli atau Jihan. Ia kemudian memeluk erat Jihan dengan penuh kasih satu. Jihan yang saat itu membawa pisaunya ia pun akhirnya memilih untuk menjatuhkan pisaunya dengan lemas tak berdaya. Melihat Ibu Juli memeluk Jihan, Verdi terlihat bertanya tanya dan kebingungan dengan sesosok yang bernama Jihan. Ia masih yakin kalau orang yang di peluk ibunya adalah Juli, hal itu ia lakukan karena wajahnya yang sangat mirip dengan Juli. Saat itu Verdi hanya terlihat memandangi ibunya yang memeluk erat laki laki yang mirip dengan Juli tersebut.