
Waktu berlalu begitu cepat, Jihan pun di bawa ke rumah Amar untuk di makamkan. Saat itu, wajah sedih dan hancur di rasakan oleh Juli melihat adik yang ia sayangi terbaring lemah tidak dak berdaya di atas tempat tidurnya. Saat itu ia berada di dalam ambulans, bersama dengan Amar dan Ibu Juli.
Di sepanjang perjalanan Juli tidak mengatakan sepatah katapun kepada Amar atau pun ibunya, ia hanya diam dengan pandangan mata yang terus mengarah ke arah Jihan yang sudah terbungkus oleh kain kafan.
Beberapa saat kemudian, Amar, Juli dan Ibu Juli sampai di rumah Amar. Di saat itu, Ibu Amar yang tidak tahu tentang kabar Jihan, ia terlihat terkejut ketika sebuah mobil ambulans masuk dalam halaman rumah nya.
"Ada apa ini Pak?" tanya Ibu Amar kepada tukang supir ambulans itu.
"Kami membawa mayat Bu, ke rumah ini!" sahut tukang supir ambulans itu.
Mendengar ucapan dari si supir itu, Ibu Amar terlihat terkejut dan dirinya tiba tiba sedih. Saat itu ia berpikir kalau mayat yang di maksud oleh supir itu antara Juli dan Amar.
Beberapa saat kemudian, pintu belakang ambulans pun di buka oleh supir. Lalu, terlihat sebuah kaki baru saja turun dari mobil ambulan dan ia baru saja menginjakkan kakinya di atas tanah. Melihat hal itu, Ibu Amar pun hanya diam dan dirinya tidak mengatakan sepatah katapun. Saat itu langkah yang baru saja turun dari mobil adalah kaki Juli. melihat kalau Juli keluar dari mobil ambulan dengan tatapan mata yang kosong. Ibu Amar pun langsung menghampiri Juli dan bertanya keberadaan Amar, namun saat itu Juli tidak menjawab dan di saat bersamaan dirinya melihat Amar berdiri dengan tegap di belakang Juli dengan sedih.
"Kalau Juli ada di sini dan Amar juga ada di sini. Lalu siapa yang meninggal?" tanya Ibu Amar dengan kebingungan hal itu terjadi karena ia tidak tahu kalau Jihan lah yang meninggal.
Menaruh penasaran yang sangat luar biasa di hatinya, Ibu Amar pun akhirnya membuka perlahan penutup muka dari mayat itu, saat ia sudah membuka nya. Raut muka terkejut terlihat jelas di raut muka Ibu Amar, hal itu karena ia melihat dua wajah yang sama di dua raga yang berbeda.
Saat itu ia terlihat terkejut, hak itu terjadi karena ia tidak tahu menahu tentang siapa Jihan, yang ia lihat hanya Juli selama ini.
Melihat hal itu, ia tidak bisa berkata kata. Melihat hal itu, Amar pun menarik ibunya menjauhi mayat Jihan.
"Ikut aku sekarang Bu," ucap Amar dengan tegas lalu ia menarik menjauhi mayat Jihan dan tak berselang lama beberapa orang membawa Jihan masuk ke dalam rumah dan kemudian di ikuti oleh Juli dengan tatapan mata yang kosong.
__ADS_1
"Kenapa ibu melakukan nya? Kenapa ibu memberi tahu Handi tentang keberadaan ku dan Juli?" tanya Amat dengan nada tegas dan serius kepada ibunya.
"Tidak Amar, ibu tidak memberi tahu apapun kepada Handi!" jawab Ibu Amar dengan membantah tuduhan yang di ucapkan oleh Amar.
Mendengar jawaban ibunya yang menolak di tuduh, Amar pun menjelaskan kepada ibunya tentang siapa yang meninggal itu.
"Asal Ibu tahu, Ibu sudah membuat kesalahan besar ibu. Dia..... Dia laki laki yang sudah menjadi mayat itu, namanya adalah Jihan dan dia adalah adik kandung ku juga Bu!" jawab Amar dengan nada tegas di hadapan ibunya.
Mendengar ucapan itu Ibu Amar terlihat sangat terkejut, tiba tiba matanya di penuhi oleh air mata.
"Apa maksudnya.... Dia adalah Ji.... Jihan!."
Mendengar ucapan itu, dengan sedih amar mengangguk kan kepalanya. Melihat Amar mengangguk kan kepalanya, Ibu Amar pun langsung lemas tidak berdaya. Air matanya pun pecah dan ia tidak bisa mengendalikan kesedihan nya.
Setelah mengatakan hal itu, Ibu Amar langsung bergegas berlari menuju ke rumah dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Ketika ia berada di dalam rumah, ia melihat Juli hanya diam dan Ibu Juli pun hanya bersedih. Saat itu Ibu Amar hanya diam selama beberapa dengan air mata memenuhi matanya.
Setalah itu, Ibu Amar pun langsung menghampiri mayat Jihan yang sudah terbaring tidak berdaya dengan menggunakan pakaian putih, dan sudah di kafani.
"Maafkan Ibu Nak, ibu tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Jihan, maafkan ibu, seharusnya ibu tidak memberi tahu Handi keberadaan kalian, mungkin semua ini tidak akan terjadi!."
Mendengarkan ucapan itu, Juli yang saat itu menyadari kalau Ibu Amar yang memberi tahu Handi, ia pun mendekati Ibu Amar.
__ADS_1
"Ibu, ini bukan salah ibu. Mungkin, kalau aku tidak menaruh dendam kepadanya keluarga Verdi, semua ini tidak akan mungkin terjadi. Mungkin, kita tidak akan kehilangan Ayah dan Jihan!."
Mendengar jawaban dari Juli, Ibu Amar hanya diam dengan sedih. Melihat kedekatan Ibu Amar dengan Juli, Ibu Juli terlihat cemburu dan kesal.
Beberapa saat kemudian, Amar datang dengan Verdi dan orang orang.
Saat itu hari sudah sore, akhirnya Juli pun meminta orang orang untuk memakan kan Jihan esok hari saja.
Mendengar keputusan Juli, orang orang pun menuruti perintah nya dan mereka pun hanya melakukan tahlil untuk Jihan sebelum Jihan di makam kan.
Ketika, semua orang yang ikut tahlilan sudah pulang. Juli terus berjaga malam dengan mata yang terus melihat Jihan yang sudah berada di dalam keranda.
Melihat hal itu, Amar dan Ibu Amar pun datang menghampiri Juli, dan setelah itu Ibu Amar memegangi salah satu bahu dari Juli. Juli yang menyadari hal itu, ia pun melihat ke arah Ibu Amar dan memegangi tangan Ibu Amar.
"Maafkan Ibu Juli, ibu sudah membuat kesalahan!" ucap Ibu Amar di dekat Juli. Mendengar hal itu, tiba tiba air matanya menetes.
"Ini bukan kesalahan ibu, tidak papa!."
Jawab Juli lalu ia melepaskan tangan Ibu Amar dan bangun dari duduknya dan menuju ke kamarnya untuk sendiri.
Menyadari hal itu, Ibu Amar dan Amar pun hanya terlihat sedih.
"Ibu, mungkin kali ini Juli memang ingin sendiri terlebih dahulu. Lebih baik, kita biarkan dia dulu. Kita di sini saja menjaga Jihan," jawab Amar lalu ia mengajak Ibunya untuk duduk di dekat Jihan. Dan saat itu, mereka berdua tengah mendoakan Jihan di dunia dan di akhirat.
__ADS_1