
Di rumah Ibu Juli, terlihat Jihan tengah duduk di sofa dengan memikirkan apa yang di ucapkan oleh polisi itu. Ia memikirkan rahasia yang di sembunyikan oleh kakaknya di saat dirinya tengah berpikir tentang masalah itu, Ibu Juli datang dan dirinya menghampiri Jihan yang saat itu tengah duduk sendiri di sofa.
Saat ia berada di dekat Jihan ia menghentikan langkahnya, dengan berdiri di belakang Jihan selama beberapa saat, ia kemudian membayangkan beberapa saat lalu saat dirinya melihat Jihan menemui seseorang di luar rumah.
Keadaan tiba tiba berubah, tiba tiba terlihat Jihan berada di luar rumah dan berdiri di hadapan seorang laki laki yang tidak tampak jelas wajahnya. Saat itu Ibu Juli tengah berdiri di dekat jendela dengan mata yang memandang ke arah mereka.
Beberapa saat kemudian, keadaan berubah. Dimana tiba tiba keadaan kembali seperti di saat dirinya berdiri di belakang Jihan dengan tatapan mata mengarah kepada Jihan. Wajahnya terlihat bertanya tanya dengan siapa yang di temui Jihan di halaman beberapa saat yang lalu. Ia kemudian berjalan mendekati Jihan dan memegangi salah satu bahu Jihan hingga membuat Jihan terkejut dan langsung menatap ke arah orang yang memegangi bahunya.
"Ibu!" panggil Jihan dengan tatapan mata yang tajam dan suara yang lirih di ucapkan oleh Jihan ketika dirinya menyadari kalau ada seseorang yang memegangi bahunya. Setalah menyadari kalau Jihan melihat dirinya, Ibu Juli pun menghampiri dirinya dan duduk di samping Jihan. Dengan penuh kasih sayang, Ibu Juli memegangi salah satu tangan Jihan.
"Ada apa Jihan?" tanya Ibu Juli dengan nada rendah dan penuh kasih sayang dengan salah satu tangannya memegangi salah satu tangan Jihan.
Mendengar pertanyaan itu, Jihan pun membalas pegangan tangan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Tidak ada Bu, aku tidak papa!" jawab Jihan lalu ia melemparkan senyuman kepada ibunya.
Melihat hal itu, Ibu Juli pun berbalik melemparkan sebuah senyuman kepada Jihan namun saat itu dirinya melemparkan senyuman tersebut dengan paksa.
"Tidak akan ku biarkan kamu menutupnya Jihan!" ucap Ibu Juli di dalam hatinya untuk berusaha menggali informasi yang lebih dalam lagi tentang pertemuan Jihan dengan laki laki tersebut. "Huh, kalau memang sudah seperti itu. Maka, ibu akan pergi. Ingat ya, ini sudah malam. Kamu harus segera tidur," pinta ibunya dengan lembut lalu ia bangun dari duduknya.
Mendengar hal itu, Jihan pun tersenyum dan mengiyakan apa yang di ucapkan oleh ibunya. Setalah mendengar jawaban ibunya, Ibu Juli pun bangun dari duduknya dan berjalan menjauhi Jihan. Ketika ia ingin bangun tanpa di sadari oleh Jihan ibu Juli menaruh ponselnya dengan sengaja untuk merekam percakapan Jihan. Ketika Ibu Juli merasa Jihan sudah lengah, ia menghentikan langkahnya dan menghentikan langkahnya dengan berdiri di belakang Jihan.
"Ibu!" panggil Jihan terlihat kesal dan heran menjadi satu karena ia melihat ibunya yang berdiri di belakang Jihan dengan gelagat seperti orang yang tengah menguping pembicaraan seseorang. Melihat Jihan menyadari kalau dirinya tengah menguping pembicaraan Jihan. Ibu Juli pun terlihat tidak enak dan ia memasang wajah seperti orang tidak mendengar apa pun yang di katakan oleh Jihan.
"Ibu hanya ingin mengambil ponsel ibu yang ketinggalan di atas meja," jawab Ibu Juli lalu ia tersenyum kepada Jihan dan menghampiri Jihan untuk mengambil ponsel nya yang berada di atas meja. Setelah ia mengambil ponsel itu, Ibu Juli pun kembali pergi dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
"Aku harap itu tidak dengar ucapan ku!" ucap Jihan dalam hatinya dengan pandangan mata melihat ke arah ibunya yang pergi menjauh dari hadapannya.
__ADS_1
Ketika Ibu Juli sudah berada di dalam kamarnya, ia langsung bergegas menutup pintu kamarnya. Setalah itu ia menghampiri tempat tidurnya dan duduk di tempat tidurnya dengan memikirkan apa yang di ucapkan oleh Jihan. Ia selalu terngiang dengan perkata Jihan yang menyebut kata *kakak dan sebuah rahasia.*
"Apa maksud dari Jihan? Kenapa dia menyebut kakak dan rahasia? Siapa yang di maksud Jihan dengan sebutan kakak?" ucap ibunya dengan ekspresi muka yang kebingungan terlihat jelas di matanya. Ia kemudian menghentikan ucapannya sambil sesekali dirinya memikirkan dengan keras ucapan Jihan. "Kalau yang di maksud kakak oleh Jihan adalah Juli, itu sangat lah tidak mungkin, karena aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kalau Juli memang sudah mati. Lalu....., Siapa orang yang di maksud oleh Jihan?" tanya Ibu Juli dengan ekspresi kebingungan.
Pertanyaan besar pun tertanam di benak Ibu Juli, terutama setelah mendengarkan perkataan itu. Lalu, secara tiba tiba terlintas di benaknya, kalau suami pertamanya memiliki pasangan lain dan juga sudah memiliki anak. Ia pun akhirnya berpikiran untuk mencari tahu rahasia yang di maksud oleh Jihan. Ia mengira kalau akan menemukan sebuah rahasia yang di sembunyikan oleh almarhum suaminya di kamarnya. Karena hatinya yang sangat amat penasaran dengan hal itu, ia pun terlihat sangat kebingungan di mana dirinya berusaha mencari kunci kamar suaminya namun ia tidak dapat menemukan kunci itu. Ia sudah berusaha mencari kunci itu ke dalam lemari, laci dan yang lain lainnya namun ia tidak menemukan kunci itu. Ketika ia sudah menemukan segerombolan kunci yang di jadi kan satu, ia pun terlihat bergegas keluar dari kamarnya untuk membuka pintu kamar suaminya.
Saat ia sudah berada di dekat pintu, ia membuka perlahan pintu kamarnya dan ia melihat ke sana kemari untuk melihat keadaan sekitar. Ia berpikir saat itu Jihan masih berada di luar kamarnya dan duduk di sofa namun setelah ia melihat keluar kamar, ia tidak melihat Jihan. Ia tidak melihat siapapun di luar kamar itu.
Merasa keadaan aman untuk dia melancarkan niatnya, Ibu Juli pun keluar dari kamar dan pergi ke kamar suaminya dengan membawa kunci itu dan berjalan mengendap-endap dan sesekali dirinya melihat ke sana kemari.
Ketika ia sudah berada di luar kamar suaminya, ia pun mencoba membuka pintu kamar suaminya dengan mencoba satu demi satu kunci tersebut, namun ketika ia sudah mencoba kunci ke lima, tidak ada satu kunci yang cocok di ruangan suaminya. Ketika ia mencoba kunci terakhir, ia terlihat sangat berharap agar kunci tersebut dapat membuka pintu kamar suaminya. Namun, Tuhan berkehendak lain diman kunci itu ternyata juga tidak dapat membuka pintu kamar suaminya. Ibu Juli yang melihat hal itu tampak sangat kesal dan marah.
"Mana sih sebenarnya kuncinya, kenapa tidak ada satu kunci pun yang cocok untuk membuka kamar ini?" ucap Ibu Juli dengan kesal dengan raut muka yang tambak sangat garang.
__ADS_1